7cloud.asia – Untuk mewujudkan konsep slow city dibutuhkan visi baru untuk kota. Seperti yang ditanyakan Carlos Pardo dalam presentasinya di UN Habitat pada tahun 2017:
“Mengapa kita tidak mulai berpikir tentang kecepatan sebagai masalah daripada sebagai solusi?” tanyanya.
Banyak kota yang telah melakukan apa yang disoroti Carlos Pardo itu. Elemen-elemen slow city telah berhasil diimplementasikan kota-kota di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir
Contohnya termasuk Oslo dan Helsinki, Paris dan Bogotá. Kota-kota ini, dan banyak lainnya, telah menurunkan kecepatan lalu lintas kendaraan bermotor dan meningkatkan perjalanan aktif.
Pontevedra di Spanyol menunjukkan bagaimana memperlambat transportasi di seluruh kota bermanfaat bagi semua jenis kesehatan.
Setelah kota tersebut menurunkan batas kecepatan menjadi 30 kilometer/jam, aktivitas fisik dan koneksi sosial meningkat karena lebih banyak orang berjalan kaki.
Dari tahun 2011 hingga 2018, tidak ada satu pun kematian akibat kecelakaan lalu lintas di kota itu.
Emisi karbondioksida juga turun sebesar 70 persem. Sedangkan peningkatan pendapatan bisnis sebesar 30 persen di pusat kota menunjukkan bukti ekonomi yang kuat untuk kota lambat.
Apakah ini berarti kita semua perlu tinggal di lingkungan perkotaan “Eropa” yang padat penduduk, dengan jalan-jalan sempit dan tujuan wisata yang dekat, untuk menuai manfaat dari kecepatan yang lambat? Pandangan ini tidak tepat.
Sudah ada daerah pinggiran kota – misalnya di Jepang – yang berfungsi sebagai slow city, dengan banyak fasilitas berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum, serta kecepatan lalu lintas yang relatif rendah.
Memperlambat kota bukan berarti harus meninggalkan daerah pinggiran kota. “Perbaikan perluasan kota”, “jalan bermain”, dan “jalan lambat” dapat menghasilkan manfaat bahkan di kota-kota yang didominasi mobil seperti di Amerika Utara dan Australasia.
Dividen kota lambat
Pada abad ke-21, berbagai “gerakan lambat” – “makanan lambat”, “pengasuhan anak lambat”, “pariwisata lambat” – telah mendapatkan daya tarik.
Oleh karena itu, “memperlambat kota” mungkin merupakan konsep yang lebih layak dan menarik bagi perencana dan penduduk kota daripada “mendorong perjalanan aktif” atau “membatasi penggunaan mobil”.
Covid-19 telah membantu kita memikirkan penggunaan alternatif untuk jalan-jalan di kota. Ruang-ruang lokal yang lambat dan “mirip taman” telah diciptakan dari jalur lalu lintas yang dialokasikan ulang, menciptakan ruang aman bagi orang-orang daripada untuk kecepatan.
Meskipun obsesi budaya kita terhadap kecepatan mungkin mendorong sebagian orang untuk mempertanyakan atau bahkan mengejek “kelambatan”, ada baiknya mempertimbangkan manfaat konsep slow city
Kota-kota lambat memiliki ketidaksetaraan yang lebih rendah, polusi udara yang lebih rendah, trauma jalan yang lebih sedikit, dan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah. Kota-kota ini lebih kompetitif dalam ekonomi global, dengan hasil pajak dan PDB yang lebih tinggi.
Manifesto baru kami untuk Kota Lambat Abad ke-21 dimaksudkan untuk membimbing para politisi, praktisi, dan warga negara progresif dalam upaya mengakhiri budaya kecepatan yang merusak di kota.
Memperlambat kota mungkin merupakan pengobatan yang efektif untuk banyak kondisi perkotaan yang melemahkan.
Jika Anda ingin kota Anda menjadi lebih sehat, lebih bahagia, lebih aman, lebih makmur, lebih sedikit kesenjangan, dan lebih ramah anak serta tangguh, cukup perlambatlah lajunya.
Artikel ini diterjemahkan dari The Conversation edisi bahasa Inggris, baca artikel asli di sini.

Leave a Reply