Tag: sampah

  • ECOTON: Pembakaran Plastik Jadi Sumber Utama Polusi Mikroplastik di Udara

    ECOTON: Pembakaran Plastik Jadi Sumber Utama Polusi Mikroplastik di Udara

    7cloud.asia – Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) meneliti kontaminasi mikroplastik di udara ambien di 18 kota/kabupaten di Indonesia.

    Hasil penelitian ini dilansir di laman resmi ECOTON pada akhir Oktober lalu.

    Berdasarkan hasil identifikasi polimer mikroplastik di udara dari 18 kota yang diteliti, diketahui bahwa pembakaran sampah plastik menjadi sumber aktivitas yang paling dominan memicu polusi mikroplastik, terdeteksi di 55,6 persen kota yang diteliti.

    Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik pembakaran sampah terbuka menjadi permasalahan serius di kawasan perkotaan Indonesia, terutama di daerah padat penduduk, kawasan industri, dan lingkungan perumahan yang tidak memiliki sistem pengelolaan sampah yang memadai.

    Baca: Penelitian ECOTON dan SIEJ ungkap paparan mikroplastik di 18 kota

    Proses pembakaran menghasilkan partikel mikroplastik jenis polyolefin termasuk PE (Polyethylene), PP (Polypropylene) dan PB (polybutene), PTFE, dan polyester yang terdispersi di udara melalui jelaga dan abu ringan.

    Aktivitas rumah tangga dan penggunaan kemasan plastik sekali pakai juga memberikan kontribusi besar (33,3 persen), terutama di kota-kota dengan konsumsi tinggi produk plastik seperti Jakarta, Denpasar, dan Sidoarjo.

    Hal ini memperlihatkan keterkaitan langsung antara perilaku konsumsi masyarakat dan peningkatan beban mikroplastik di atmosfer.

    Selanjutnya, aktivitas industri dan konstruksi berkontribusi sebesar 27,8 persen, terutama di kota dengan kawasan industri besar seperti Bandung, Surabaya, Palembang, dan Pontianak.

    Emisi mikroplastik dari sektor ini berasal dari penggunaan resin sintetis, cat berbasis polimer, serta bahan bangunan yang mengandung plastik.

    Baca: Temuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta harus jadi peringatan

    Sumber dari laundry dan tekstil domestik (22,2 persen) menunjukkan bahwa pelepasan serat sintetis dari pakaian selama proses pencucian, pengeringan, dan penjemuran berperan signifikan dalam pencemaran udara mikroplastik di lingkungan domestik.

    Sementara itu, aktivitas transportasi seperti gesekan ban, aspal, dan rel KRL menyumbang sekitar 16,7 persen, mencerminkan hubungan antara kepadatan lalu lintas dengan peningkatan emisi mikroplastik ke atmosfer.

    Aktivitas pariwisata (11,1 persen), perikanan dan pesisir (5,6 persen), serta pertanian (5,6 persen) turut menjadi sumber spesifik di wilayah tertentu.

    Di kawasan wisata seperti Denpasar dan Gianyar, penggunaan kemasan sekali pakai dan laundry hotel meningkatkan emisi mikroplastik.

    Di wilayah pesisir seperti Bulukumba dan Sumbawa, aktivitas perikanan dan penggunaan plastik pertanian (mulsa) berkontribusi terhadap pelepasan partikel mikroplastik ke udara melalui pembakaran terbuka dan angin permukaan.

    Baca: Pasar Tanah Abang jadi titik dengan kontaminasi mikroplastik tertinggi

  • Pramono Anung Perintahkan Commisioning RDF Rorotan Dihentikan Sementara

    Pramono Anung Perintahkan Commisioning RDF Rorotan Dihentikan Sementara

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menginstruksikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk menghentikan sementara proses commisioning (uji coba persiapan) fasilitas Refuse Derived Fuel Plant atau RDF Rorotan di Jakarta Utara.

    Penghentian sementara commisioning RDF Rorotan dilakukan hingga adanya truk yang lebih compact untuk mengangkut sampah.

    Sebelumnya diberitakan, warga Perumahan Jakarta Garden City (JGC), Jakarta Timur, menolak pengoperasian RDF Rorotan karena memicu bau tak sedap.

    Dalam uji coba kedua fasilitas pengolahan sampah tersebut, warga mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari proses pembakaran sampah, dan bahkan sekitar 20 anak dilaporkan jatuh sakit.

    Baca: Commisioning RDF Rorotan picu bau tak sedap

    “Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk sementara commissioning-nya dihentikan terlebih dahulu, dipersiapkan sampai dengan adanya truk yang compact yang bisa membawa sampah ke Rorotan,” ujar Pramono seperti dikutip beritajakarta.id, Selasa (4/11/2025).

    Ia menjelaskan, berdasarkan pendalaman yang dilakukan beberapa hari terakhir, keluhan yang disampaikan masyarakat bukan terhadap proses commisioning yang dilakukan di RDF Plant Rorotan, melainkan pada proses pengangkutan sampah yang menyebabkan adanya tumpahan air lindi (cairan sampah).

    Kondisi tersebut menyebabkan adanya bau yang menganggu masyarakat di sekitar lokasi RDF Rorotan.

    “Kurang lebih dua, tiga hari terakhir ketika curah hujannya tinggi, sampahnya kemudian mengalami lebih basah dan angkutannya, air lindinya tumpah ke mana-mana,” ungkap Pram.

    Baca: Upaya DLH Jakarta agar RDF Rorotan tetap ramah lingkungan

    Sebelumnya, Pramono menyampaikan, sampah yang digunakan di fasilitas RDF Rorotan seharusnya tidak lebih dari dua sampai lima hari sehingga tidak menimbukan bau.

    Selain itu, proses pengangkutannya juga bermasalah hingga menyebabkan air lindi yang berasal dari tumpukan sampah mengalir selama perjalanan ke RDF Rorotan.

    Untuk menindaklanjuti keluhan warga, dalam waktu dekat Pramono berencana menemui warga sekitar RDF Rorotan yang mengeluhkan adanya bau. Ia memastikan Pemprov DKI Jakarta akan menyelesaikan permasalahan ini sehingga RDF Plant Rorotan bisa beroperasi.

    “Dalam waktu dekat saya akan ke lapangan dan saya juga akan menerima warga yang mengeluh tentang RDF Rorotan. Karena RDF Rorotan apapun harus diselesaikan,” tandas Pramono.

  • Industri Daur Ulang Kekurangan Bahan Baku Berkualitas, DPR Dorong Edukasi Pemilahan Sampah

    Industri Daur Ulang Kekurangan Bahan Baku Berkualitas, DPR Dorong Edukasi Pemilahan Sampah

    7cloud.asia – Sektor daur ulang plastik terus didorong pemerintah. Sektor ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan pajak, tetapi juga membantu pengurangan emisi karbon serta volume sampah nasional.

    Sayangnya, industri daur ulang plastik masih menghadapi masalah kualitas impuritas bahan baku lokal yang rendah, sekitar 30-70 persen, sementara bahan impor hanya sekitar 2 persen.

    Anggota Komisi VII DPR Samuel Wattimena menilai, rendahnya kualitas bahan baku daur ulang di dalam negeri berkaitan erat dengan lemahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah.

    “Kita punya banyak tempat sampah terpisah di ruang publik, tapi praktiknya masyarakat tetap mencampur sampah di satu wadah. Sosialisasi dan edukasi di tingkat RT, RW, hingga PKK masih lemah,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII dengan Dirjen IKFT Kementerian Perindustrian dan Asosiasi-Asosiasi di Jakarta, Rabu (12/11/2025).

    Untuk mengatasi hal tersebut, Samuel mendorong kolaborasi antara Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), pemerintah daerah, dan kementerian terkait, terutama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), guna memperkuat edukasi publik mengenai pengelolaan sampah.

    Baca: Warga Jakarta didorong untuk memilah sampah dari rumah

    “ADUPI sudah bekerja keras di 20 daerah dari 38 provinsi, tapi ini bukan tugas yang bisa mereka pikul sendiri. Diperlukan dukungan dan sinergi dari semua pihak,” tegasnya.

    Legislator dari Dapil Jawa Tengah 1 ini menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran dan edukasi masyarakat dalam pemilahan sampah sebagai langkah nyata menuju penerapan green industry atau industri ramah lingkungan di Indonesia.

    Ia juga mengapresiasi kinerja sektor industri daur ulang yang dinilainya telah memberikan kontribusi positif terhadap ekonomi nasional.

    “Kalau kita bicara mengenai green industry, apa yang dilakukan ADUPI) ini bisa menjadi awal bagi seluruh industri di Indonesia untuk bertransformasi menuju industri yang lebih ramah lingkungan,” ujar Samuel

    Baca: Upaya Pemprov DKI Jakarta membangun budaya memilah sampah

    Politisi PDI Perjuangan ini juga menyoroti pentingnya inovasi teknologi dalam pengumpulan sampah plastik. Ia mencontohkan beberapa daerah yang telah menerapkan mesin penukar botol plastik dengan insentif seperti tiket atau voucher.

    “Alat semacam ini memang tidak murah, tapi bisa menjadi langkah efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dan memperbaiki kualitas bahan daur ulang,” ujarnya.

    Samuel mengaku turut menghadapi persoalan serupa di wilayahnya, seperti di Semarang dan Kendal. Ia berharap isu daur ulang plastik dan pengelolaan sampah dapat menjadi bagian integral dari strategi besar pengembangan industri hijau nasional.

    Informasi tentang jenis plastik yang bisa atau tidak bisa didaur ulang saja masih banyak yang belum diketahui masyarakat. Padahal, pemahaman ini penting agar gerakan green industry benar-benar tumbuh dari kesadaran publik.

    “Saya berharap langkah ADUPI ini bisa menjadi cikal bakal bagi seluruh industri di Indonesia menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan,” pungkasnya.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

  • Salah Itungan Sejak Awal, PLTSA Putri Cempo Mandek Beroperasi

    Salah Itungan Sejak Awal, PLTSA Putri Cempo Mandek Beroperasi

    7cloud.asia – Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo Surakarta yang dibangun di era Joko Widodo merupakan satu dari 12 proyek PLTSa yang diinisiasi pemerintah pusat sejak awal 2010-an.

    Namun, PLTSa yang digadang-gadang menjadi percontohan waste to energy (pegolahan sampah menjadi energi listrik) itu tak pernah mencapai performa optimal dan kini malah mandek.

    Wakil Ketua Komisi XII DPR, Sugeng Suparwoto menjelaskan bahwa mandeknya operasional PLTSa Putri Cempo karena dua aspek utama, yaitu keekonomian proyek dan kesiapan teknis.

    Pertama, adanya perubahan tarif jual listrik menjadi pukulan berat bagi operator PLTSa Putri Cempo. 

    “Semula diputuskan 18,5 sen dolar per kWh. Setelah ada Perpres 2018, tarif turun menjadi 13,5 sen dolar. Dengan penurunan lima sen dolar itu, proyek ini menjadi tidak ekonomis,” katanya saat memimpin kunjungan kerja spesifik Panitia Kerja (Panja) Lingkungan Hidup Komisi XII ke Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025).

    Baca: Pemerintah targetkan bangun 33 PLTSa di sejumlah kota di Indonesia

    Kedua, proyek tidak didukung pemberian tipping fee dari pemerintah daerah—insentif yang lazim diberikan untuk menutup biaya pengolahan sampah. Model “beli putus” membuat PT Putri Cempo menanggung seluruh risiko operasional.

    “Di Surabaya memang tidak optimal, tetapi mereka masih punya tipping fee sehingga operator bisa bernapas. Di sini tidak ada,” ujar Sugeng.

    Salah hitungan di hulu
    Panja juga mencatat kegagalan studi kelayakan awal dalam memprediksi komposisi sampah Kota Solo. PLTSa membutuhkan 500 ton refuse derived fuel (RDF) per hari, namun suplai itu tidak terpenuhi.

    “Lebih dari 70 persen sampah adalah sampah rumah tangga yang organik dan belum melalui pemilahan. Bahan bakunya tidak sesuai kebutuhan mesin,” ucap Sugeng.

    Salah hitung itu berdampak langsung pada terhentinya operasional PLTSa dan akumulasi sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo.

    Baca: Mengintip kinerja PLTSa Benowo Surabaya

    Pembangunan PLTSA Putri Cempo sejak awal dikritisi masyarakat sipil. WALHI Jawa Tengah dan Yayasan Gita Pertiwi yang tergabung dalam Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menyatakan sikap tetap menolak proyek PLTSa Putri Cempo.

    Proyek ini baik dari segi pembiayaan maupun teknis, berlawanan dengan prinsip pengelolaan sampah sebagai sumber daya material secara berkelanjutan.

    Menurut WALHI, Kota Surakarta sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Sampah dan sedang dilakukan revisi untuk menambahkan aturan mengenai pelarangan penggunaan plastik sekali pakai.

    Keberadaan PLTSa Putri Cempo bertentangan dengan semangat pengurangan sampah karena memerlukan jumlah sampah yang besar untuk diolah dan dikonversikan menjadi listrik, sementara Perda tersebut mendorong upaya signifikan dalam pengurangan sampah.

    PLTSa Putri Cempo direncanakan menggunakan metode gasifikasi yang termasuk dalam teknologi termal. Terdapat potensi pelepasan emosi dioksin dan furan yang bersifat karsinogenik serta menghasilkan limbah padat berupa fly ash dan bottom ash (FABA).

    Baca: DKI Jakarta akan bangun sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

    Residu hasil pembakaran ini termasuk limbah B3 yang membutuhkan penanganan khusus lebih lanjut agar tidak mencemari lingkungan.

    Sementara menurut Komisi III DPRD Kota Surakarta, abu terbang dan abu kerak (FABA) sisa pembakaran sampah akan diolah secara langsung menjadi bahan paving tanpa mempertimbangkan aspek kekhususan penanganan limbah B3.

    Selain penggunaan teknologi yang tidak ramah lingkungan, proses penyusunan dokumen lingkungan proyek tersebut belum selesai dan masih dalam tahap revisi, meskipun PLTSa Putri Cempo ditargetkan akan selesai pada April 2022.

    Seharusnya dokumen kajian lingkungan harus diselesaikan terlebih dahulu agar dapat menjadi bahan bacaan potensi. Ketiadaan dokumen lingkungan memperlihatkan pemerintah kota Surakarta abai terhadap potensi dampak yang ditimbulkan dari proyek berskala besar.

    Baca: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah: solusi atau masalah baru dalam pengelolaan sampah?

     

     

  • Indonesia Darurat Sampah: Hanya 40 Persen Sampah yang Terkelola dengan Baik

    Indonesia Darurat Sampah: Hanya 40 Persen Sampah yang Terkelola dengan Baik

    7cloud.asia – Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto menegaskan bahwa percepatan penyelesaian persoalan sampah menjadi prioritas strategis nasional.

    Pernyataan itu ia sampaikan saat memimpin kunjungan kerja spesifik Panitia Kerja (Panja) Lingkungan Hidup Komisi XII ke Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025).

    Di hadapan jajaran mitra kerja Komisi XII wilayah kerja Kota Surakarta dan Jawa Tengah, PLN, serta manajemen PT Putri Cempo, Sugeng menyebut bahwa pembenahan sistem pengelolaan sampah harus dilakukan segera.

    Pengelolaan sampah itu harus menjawab dua mandat Presiden Prabowo Subianto, yaitu penyelesaian persoalan sampah nasional pada 2029, serta penghentian praktik open dumping pada 2027.

    “Kita semua concern betul bagaimana mengatasi problem sampah. Targetnya jelas, dua tahun lagi open dumping harus selesai,” ujar Sugeng.

    Baca: Penutupan pengelolaan sampah secara open dumping

    Sugeng mengingatkan, saat ini Indonesia bisa dikatakan dalam situasi darurat sampah, karena tidak seimbangnya produksi dan pengelolaan sampah.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan Indonesia menghasilkan hampir 60 juta ton sampah per tahun.

    Hanya sekitar 40 persen yang terkelola dengan baik, dan sebagian besar pengelolaan sampah masih menggunakan metode open dumping.

    Lebih mengkhawatirkan, 350 ribu ton di antaranya merupakan sampah plastik yang tidak dapat diurai dan mencemari lingkungan.

    Indonesia juga tercatat sebagai salah satu dari tiga negara penyumbang sampah laut terbesar di dunia (UNEP, 2024).

    Baca: 306 TPA layak ditutup karena masih terapkan open dumping

     

    “Pertumbuhan sampah kita deret ukur, sementara kemampuan pengelolaan deret hitung. Tidak imbang,” ujar Sugeng.

    Ia menegaskan persoalan sampah harus dipandang bukan hanya sebagai urusan kebersihan kota, tetapi juga komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca seperti yang dituangkan dalam Nationally Determined Contribution (NDC).

    Sugeng mengatakan Panja membuka opsi perubahan skema nasional untuk percepatan pembangunan PLTSa. Salah satunya dengan membuka lelang internasional.

    “Negara mana atau teknologi mana yang efisien dan ramah lingkungan, itu yang kita pilih. Biarkan dunia ikut peduli,” ungkapnya.

    Baca: Mayoritas kota di Indonesia masih terapkan sistem open dumping

    Selain waste to energy, ia juga menekankan pentingnya konversi sampah organik menjadi pupuk. Ini dapat membantu atasi tingginya harga pupuk anorganik yang bergantung pada impor gas, kalium, dan bahan baku dari negara seperti Belarus dan Kanada.

    Menutup kunjungan, Sugeng menegaskan bahwa Komisi XII melalui Panja Lingkungan Hidup akan menyampaikan rekomendasi komprehensif kepada pemerintah.

    Ia menyebut bahwa penyelesaian persoalan sampah adalah momentum satu kali kesempatan. “No or never. Sekarang atau tidak sama sekali. Kalau tidak, persoalan sampah ini akan merusak kita,” katanya.

    Menurutnya, agenda besar pemerintah—swasembada pangan dan energi—tidak akan pernah tercapai tanpa manajemen sampah yang modern, terukur, dan didukung skema investasi yang sehat.

  • Kota Yogyakarta Bakal Buat 60 Biopori Jumbo untuk Mengantisipasi Penutupan TPA Piyungan

    Kota Yogyakarta Bakal Buat 60 Biopori Jumbo untuk Mengantisipasi Penutupan TPA Piyungan

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta terus menyiapkan langkah antisipasi menjelang rencana penutupan penuh Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Piyungan tahun depan.

    Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat memberikan pengarahannya menegaskan bahwa seluruh transporter harus memperkuat upaya pengurangan sampah sebelum masuk depo.

    Ia meminta agar sampah yang dibawa ke depo hanya berupa sampah residu, hasil dari proses pemilahan yang dilakukan, baik oleh warga maupun transporter itu sendiri.

    “Pemilahan sampah harus menjadi budaya. Yang masuk ke depo hanyalah residu. Untuk organik dan anorganik harus selesai di wilayah,” tegasnya.

     

    Baca: Pemkot Yogyakarta gandeng BRIN untuk atasi masalah sampah

    Untuk mendukung penanganan sampah organik, Wali Kota mengungkapkan rencana pembangunan biopori jumbo di wilayah yang sampahnya dibuang ke Depo Mandalakrida dan Depo Kebun Raya/Gembira Loka.

    “Kami menargetkan pembuatan sekitar 60 biopori jumbo. Biopori jumbo ini akan
    ditempatkan yang dekat dengan transporter sehingga dapat meringankan beban kerja transporter,” ungkapnya.

    Selain itu, Pemkot juga akan terus melanjutkan program pemberian galon bekas air mineral sebagai sarana pemilahan. Galon-galon tersebut dipakai untuk memisahkan sampah organik basah mentah dan sampah organik basah matang.

    Sementara untuk sampah anorganik, Hasto menegaskan bahwa tidak boleh lagi dibawa ke depo. Sampah anorganik harus dimaksimalkan penyerapannya melalui bank sampah atau melalui jaringan perosok yang selama ini menjadi mitra transporter di lapangan.

    Baca: Pemerintah kota Yogyakarta dorong warga memilah sampah

    Dengan mekanisme ini, volume sampah yang dibawa ke depo bisa berkurang signifikan.

    Pada kesempatan tersebut Hasto juga meminta para Mantri Pamong Praja dan lurah untuk aktif mendampingi para transporter untuk memastikan proses pemilahan berjalan, dan segera merespons apabila transporter di lapangan menemui kendala.

    “Jangan sampai transporter bekerja sendiri. Kalau ada masalah, perangkat wilayah harus yang pertama tahu,” ujar Hasto.

    Ia berharap melalui penguatan pemilahan, pembangunan biopori jumbo, optimalisasi bank sampah, serta pendampingan intensif perangkat wilayah, maka Kota Yogyakarta dapat menghadapi penutupan TPA Piyungan ini dengan lebih siap dan lebih tangguh.

  • Greenpeace Ajak Warga Kota Semarang Meneliti Cemaran Mikroplastik di Wilayahnya

    Greenpeace Ajak Warga Kota Semarang Meneliti Cemaran Mikroplastik di Wilayahnya

    7cloud.asia – Tingginya penggunaan plastik sekali pakai membuat pencemaran mikroplastik semakin sulit dibendung. Mikroplastik kini tak lagi hanya ditemukan di perairan, tapi juga sampai ke tubuh manusia.

    Hal ini membuat mikroplastik tak lagi jadi sebatas ancaman bagi lingkungan, tapi juga jadi ancaman bagi kesehatan masyarakat dan berpotensi mengganggu kemampuan kognitif manusia.

    Untuk mencari tahu seberapa jauh penyebaran mikroplastik warga Semarang, Jawa Tengah diajak untuk ikut meneliti di mana saja mikroplastik ditemukan melalui uji coba Citizen Science.

    Kegiatan ini digelar Greenpeace Indonesia bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima).

    Dilansir di laman resmi Greenpeace, para pengunjung diajak untuk membawa sampel dari rumah, seperti air minum, swab kulit, dan makanan, untuk kemudian diuji menggunakan mikroskop.

    Baca: Pembakaran sampah jadi sumber utama polusi mikroplastik di udara

    “Selain itu, kami juga mengajak pengunjung menampung air hujan sebanyak 1–2 liter dari lingkungan sekitar mereka untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton seperti dikutip greenpeace.org.

    Hasil pengujian sampel yang berasal dari masyarakat ini menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik di sekitar kita, mulai dari air hujan, makanan, hingga pakaian.

    Riset terbaru Ecoton dan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) menyebutkan, Semarang menduduki posisi ke-4 sebagai kota dengan kontaminasi mikroplastik di udara paling tinggi.

    Penelitian yang dilakukan di 18 kota/kabupaten di Indonesia ini menemukan hubungan erat antara cemaran mikroplastik di udara dengan kebiasaan membakar sampah yang membawa partikel mikroplastik naik ke udara dan, pada akhirnya, ikut mencemari air hujan.

    Baca: Penelitian ECOTON dan SIEJ ungkap paparan mikroplastik di 18 kota

    Komposisi polimer mikroplastik di udara Indonesia didominasi poliolefin yang berasal dari pecahan kantong plastik dan kemasan, disusul polyamide dan PTFE dari serat pakaian, komponen otomotif, dan pelapis tahan panas.

    “Polyester dan polyisobutylene, yang umumnya berasal dari tekstil dan material ban, juga ditemukan di dalam sampel, menunjukkan beragamnya sumber polusi mikroplastik di udara” ungkap Rafika.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komposisi polimer mikroplastik di udara selaras dengan data sumber utama mikroplastik di 18 kota dan kabupaten. Pembakaran sampah plastik menyumbang 55 persen, sementara aktivitas transportasi berkontribusi 33,3 persen.

    “Korelasi ini menunjukkan bahwa profil polimer di udara sangat mencerminkan pola aktivitas manusia di kota mulai dari sistem pengelolaan sampah yang buruk, tingginya aktivitas transportasi, hingga beban tekstil rumah tangga,” kata Rafika.

    Sampel mikroplastik juga ditemukan di dalam tubuh manusia. Studi yang dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkap, mikroplastik juga ditemukan di dalam urin, darah, hingga feses manusia. 

  • Riset yang Dilakukan JEJAK Ungkap Cemaran Mikroplastik dalam Air Hujan di Surabaya

    Riset yang Dilakukan JEJAK Ungkap Cemaran Mikroplastik dalam Air Hujan di Surabaya

    7cloud.asia – Riset Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Ecoton menemukan cemaran mikroplastik di dalam air hujan di Surabaya dengan tingkat pencemaran yang cukup tinggi

    Cemaran mikroplastik ini terutama ditemukan di kawasan padat aktivitas dan dekat titik pembakaran sampah.

    Kontaminasi mikroplastik dalam air hujan tertinggi di Surabaya ditemukan di wilayah Pakis Gelora yang mencapai 356 partikel per liter, disusul wilayah Tanjung Perak dengan 209 partikel per liter.

    Adapun jenis polimer yang paling banyak terdeteksi berasal dari gesekan ban kendaraan serta serpihan botol plastik sekali pakai.

    Tingginya pencemaran mikroplastik mencerminkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai, baik secara lokal, nasional, maupun global.

    Baca: Pasar Tanah Abang jadi titik dengan cemaran mikroplastik tertinggi di Indonesia

    Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terdapat total 660.947 ton sampah di tahun 2024 di Surabaya.

    Sekitar 22 persen dari total sampah di Surabaya merupakan sampah plastik. Jumlah ini jauh di atas komposisi sampah plastik nasional sebesar 19,78 persen dari total sampah di tahun lalu.

    Sementara di tingkat nasional, produksi sampah plastik 7,68 juta hingga 10 juta ton sampah plastik per tahun. Volume sampah plastik ini mencapai sekitar 12-18 persen dari total timbunan sampah nasional yang mencapai 64 juta ton per tahun.

    Sebagian besar sampah plastik ini belum terkelola dengan baik, dan diperkirakan sekitar 1,29 hingga 3,2 juta ton di antaranya berakhir di laut.

    Di tingkat global, konsumsi plastik yang terus meningkat ikut menambah masalah sampah plastik di Bumi.

    Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik

    Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertajuk Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 menemukan adanya peningkatan sampah plastik di seluruh dunia hingga lebih dari dua kali lipat, dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang tahun 2000 sampai 2019.

    Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibar F. Akbar mengatakan, perlu ada langkah konkret dari pemerintah dan produsen untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam lingkungan yang memiliki dampak buruk ke kesehatan manusia.

    “Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer, serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (reuse) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.

    Di sisi lain, produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk mengelola sampah plastik yang telah mereka produksi.

    “Produsen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya, serta membuat peta jalan pengurangan sampah,” kata Ibar.

    Baca: Hujan mikroplastik berpotensi ganggu fungsi otak

  • Pemprov DKI Jakarta Akan Bangun 2 PLTSa di Bantargebang

    Pemprov DKI Jakarta Akan Bangun 2 PLTSa di Bantargebang

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera memulai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan, proyek pembangunan PLTSa ini untuk mengurangi beban sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang.

    “Jadi untuk Bantargebang, karena kita akan segera memulai PLTSa, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Bantargebang,” ujar Pramono di Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (16/12/2025).

    Pramono menjelaskan, rencana ini telah dibahas secara intensif dengan Badan Pengelola Investasi Danantara. Dua unit PLTSa direncanakan akan dibangun, sekaligus untuk mempercepat proses pengurangan sampah.

    “Sesuai dengan pembicaraan dengan Danantara pada waktu itu, dengan Pak Rosan secara langsung, akan ada dua Pembangkit Listrik Tenaga Sampah,” jelasnya.

    Baca: Pemerintah targetkan bangun 33 PLTSa di sejumlah kota

    Selain mengolah sampah baru yang masuk setiap harinya, pembangunan PLTSa ini juga untuk menangani tumpukan sampah lama yang sudah menggunung.

    Dia menambahkan, pembangunan PLTSa menjadi hal penting, mengingat TPST Bantargebang diprediksi hanya mampu menampung sampah dalam beberapa tahun ke depan.

    “Mudah-mudahan 55 juta ton yang sekarang stok ada di Bantargebang secara signifikan pelan-pelan akan turun. Itu yang akan kami lakukan,” tandas Pramono.

    Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bakal menggarap proyek waste to energy (WTE) atau sulap sampah jadi listrik. Proyek ini diharapkan bisa menjadi solusi atas persoalan sampah yang terjadi di sejumlah kota.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta targetkan bangun 3-5 PLTSa

    Managing Director, Stakeholder Management and Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan sekitar 60 persen sampah yang beredar gagal terkelola dengan baik. Hal ini berdasarkan data yang disampaikan oleh World Bank atau Bank Dunia.

    Dalam pernyataannya pada Agustus lalu, Rohan mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai regulasi demi mendukung eksekusi WTE.

    Salah satunya penyediaan lahan secara gratis, penghapusan tipping fee, hingga penetapan biaya listrik sebesar 20 sen per kilowatt hour.

    Saat ini ada sejumlah PLTSa yang sudah terbangun di Indonesia, yakni PLTSa Benowo di Surabaya, dan PTLSa Putri Cempo di Solo. Namun, untuk PLTSa Putri Cempo tidak beroperasi, diduga karena perencanaan yang tidak matang.

    Baca: Salah itungan sejak awal, PLTSa Putri Cempo mandek beroperasi

  • Kenali 4 Jenis Plastik yang Dapat Didaur Ulang

    Kenali 4 Jenis Plastik yang Dapat Didaur Ulang

    7cloud.asia – Plastik adalah material yang sangat praktis, efisien, dan murah. Tetapi plastik juga merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar bagi planet Bumi.

    Meskipun produksi plastik meroket dalam beberapa dekade terakhir (dunia menggunakan 20 kali lebih banyak plastik daripada 50 tahun yang lalu), lebih dari 90 persen plastik berakhir di tempat pembuangan sampah

    Selanjutnya sampah plastik ini masuk dan mencemari perairan laut, yang menyebabkan berbagai masalah lingkungan lainnya.

    Mendaur ulang plastik merupakan bagian penting dari upaya mengurangi sampah plastik, begitu pula dengan mencari alternatif ramah lingkungan. Bagaimana masyarakat menangani dan membuang plastik setelah digunakan sangat penting dalam mengurangi masalah plastik.

    Namun demikian, ada satu cara yang dinilai lebih ampuh dalam mengurangi masalah yang dipicu sampah plastik, yakni menghindari plastik sekali pakai dan menerapkan sistem guna ulang.

    Namun, sistem guna ulang ini belum terlalu populer. Karena itu tidak ada salahnya jika kita mendorong daur ulang semaksimal mungkin sebelum sistem guna ulang terbangun dengan baik.

    Baca: Sistem guna ulang jadi solusi terbaik atasi polusi sampah plastik

    Daur Ulang Plastik
    Plastik dipilah berdasarkan jenis polimernya, baik oleh konsumen maupun oleh pabrik daur ulang untuk memastikan semua kontaminan telah dihilangkan.

    Setelah dipilah dan dibersihkan, plastik dapat dihancurkan atau dilelehkan menjadi bentuk pelet sebelum akhirnya dicetak menjadi produk baru.

    Setidaknya ada tujuh jenis plastik yang disimbolkan dengan angka.  Tetapi yang menarik, angka-angka tersebut tidak sesuai dengan kemampuan daur ulang plastik.

    Jadi mulai sekarang, sering-seringlah memperhatikan simbol daur ulang yang tercetak pada produk dan material plastik yang kamu gunakan

     

    Dari tujuh kategori plastik yang ada, hanya empat yang dapat didaur ulang. Apa saja? Berikut daftarnya seperti dilansir di Earth.org

    Baca: Sampel mikroplastik ditemukan di tubuh manusia

    Polietilen Tereftalat (PET)
    Plastik yang paling umum digunakan untuk kemasan sekali pakai untuk makanan dan minuman adalah PET – perhatikan simbol daur ulang #1.

    Plastik jenis PET ini kuat, ringan, dan murah untuk diproduksi oleh produsen. Dan plastik ini sepenuhnya dapat didaur ulang.

    Ini adalah plastik yang paling banyak didaur ulang di seluruh dunia dengan lebih dari 1,5 miliar pon plastik PET dikumpulkan dan didaur ulang di AS setiap tahunnya.

    Plastik jenis PET dapat didaur ulang melalui pencucian dan peleburan ulang, dan memiliki risiko rendah terhadap pelepasan produk hasil penguraian.

    Saat ini, tingkat daur ulang PET tergolong tinggi. Dilansir Earth.org, di Eropa daur ulang plastik PET mencapai sekitar 52 persen, sedangkan di AS sekitar 31 persen.

    PET daur ulang sering ditemukan dalam botol baru, pakaian seperti polar fleece, karpet, dan kantong tidur.

    Baca: KLH wajibkan produsen bertanggung jawab atas sampah plastiknya

    High Density Polyethylene (HDPE)
    HPDE adalah plastik yang lebih kuat dan lebih berat yang tahan terhadap bahan kimia korosif. Ini adalah plastik populer untuk pengemasan susu, deterjen, pemutih, dan sampo.

    Plastik HDPE juga sering ditemukan dalam kantong plastik. HPDE dapat didaur ulang, meskipun selalu periksa dengan otoritas setempat Anda. Sekitar 12 persen dari semua kantong plastik dan 28 persen dari botol air dan susu didaur ulang di Inggris.

    HDPE daur ulang sering ditemukan dalam pipa, ubin lantai, lembaran dan plastik film, dan bahkan peti.

    Low Density Polyethylene (LDPE)
    Sama seperti HDPE, polietilen densitas rendah, atau LDPE, tidak banyak diterima dalam sebagian besar program daur ulang, tetapi dapat didaur ulang tergantung pada otoritas setempat.

    LDPE adalah plastik keras dan fleksibel yang ditemukan dalam botol peras seperti pasta gigi dan kantong roti. LDPE sering kali digunakan kembali sebagai pelapis tempat sampah.

    Polipropilen (PP)
    Polipropilen adalah plastik yang dapat didaur ulang dan telah lebih banyak diterima dalam program daur ulang. Karena titik lelehnya yang tinggi, PP sering digunakan sebagai wadah untuk cairan hangat dan kemasan populer untuk yogurt dan obat-obatan.

    Pastikan untuk membuang sisa makanan dan cairan sebelum didaur ulang. Anda akan menemukan PP daur ulang digunakan untuk sapu, sikat, dan nampan plastik.