Tag: energi terbarukan

  • Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

    Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

    7cloud.asia – Industri energi terbarukan telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam dekade terakhir, terutama didorong oleh kemajuan infrastruktur tenaga angin dan surya.

    Peningkatan energi terbarukan ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga meningkatkan ketahanan jaringan listrik dan mendukung pembangunan ekonomi terbarukan di masa depan.

    Pengembangan energi terbarukan ideal dilakukan di negara-negara dengan tarif listrik rendah, yang cenderung memiliki jam sinar matahari tinggi seperti Indonesia.

    Negara dengan sinar matahari melimpah merupakan kandidat sempurna untuk pengembangan jaringan energi bertenaga surya yang terdesentralisasi.

    Pengembangan energi terbarukan juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

    Baca Juga: Mengenal Hidrogen Hijau: Manfaatnya untuk Transisi Energi yang Ramah Lingkungan

    Inisiatif energi terbarukan menawarkan kesempatan kerja yang memprioritaskan kesejahteraan masyarakat dan membekali pekerja dengan keterampilan yang dapat ditransfer ke pasar tenaga kerja yang berkelanjutan.

    Pemanfaatan energi terbarukan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, masyarakat menghasilkan lebih dari 8.000 terawatt jam energi terbarukan.

    Hal ini menunjukkan peningkatan energi terbarukan hingga 198 persen sejak tahun 2000 dan sebagian besar disebabkan oleh perbaikan infrastruktur energi terbarukan, yang telah meningkatkan jumlah energi terbarukan.

    Inisiatif untuk meningkatkan efisiensi energi dan beralih ke energi terbarukan bukan hanya kabar baik untuk planet Bumi, tapi juga mempunyai fungsi sosial yang penting.

    Jika dimanfaatkan dengan benar, energi terbarukan akan meningkatkan ketahanan jaringan listrik dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

    Baca Juga: Ini yang Harus Dilakukan Indonesia Jika Ingin Maksimal Manfaatkan Energi Surya

    Inisiatif energi terbarukan akan menciptakan lapangan kerja tanpa mengganggu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

    Hal ini merupakan kuncinya, karena banyak bentuk ekstraksi energi tradisional yang dapat merugikan ekosistem lokal sekaligus merusak kesehatan jangka panjang.

    Sebut saja, para penambang dan pekerja minyak yang tidak berkarir di bidang energi terbarukan energi mempersiapkan pekerja untuk masa depan.

    Pengembangan energi terbarukan juga menghasilkan keterampilan yang dapat diterapkan yang akan bermanfaat bagi mereka di pasar tenaga kerja yang lebih luas.

    Pengembangan energi terbarukan juga akan menciptakan kesetaraan akses ke energi listrik yang selama ini timpang.

    Baca Juga: Mengenal Sistem RDF, Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan

    Abad yang lalu didominasi oleh isu-isu seputar ketimpangan energi. Secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut, negara-negara dengan akses energi yang dapat diandalkan telah menjadi makmur.

    Sementara negara-negara yang belum memiliki masa depan energi yang terjamin harus menanggung kesulitan yang terkait dengan pemadaman listrik dan akses yang tak memadai terhadap listrik.

    Hal ini dikuatkan oleh data yang dihimun Laporan Kemajuan Energi Bank Dunia tahun 2023, yang menunjukkan bahwa negara-negara dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita rendah, seperti Burundi, Chad, dan Niger, memiliki akses yang buruk terhadap listrik.

    Energi terbarukan dapat membantu mengatasi kesetaraan energi dengan memfasilitasi penciptaan sistem energi yang terdesentralisasi.

    Baca Juga: Fakta Emisi CO2 Global: Emisi dari Energi Fosil Cetak Rekor Tapi Banyak Negara Sukses Turunkan Emisi

    Desentralisasi sistem energi berarti produsen energi menempatkan fasilitas mereka lebih dekat dengan lokasi di mana energi akan digunakan dan biasanya berhubungan dengan sumber energi terbarukan.

    Hal ini ideal bagi negara-negara dengan tarif listrik rendah, yang cenderung memiliki jam sinar matahari tinggi dan merupakan kandidat sempurna untuk jaringan energi bertenaga surya yang terdesentralisasi.

    Pendekatan ini juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

    Artikel ini telah terbit di earth.org, Penulis: Charlie Fletcher, penulis freelance yang aktif dalam berbagai aktifitas sosial.

  • Dampak Positif Pengembangan Energi Terbarukan Bagi Kesehatan Masyarakat

    Dampak Positif Pengembangan Energi Terbarukan Bagi Kesehatan Masyarakat

     

    7cloud.asia – Pengembangan energi terbarukan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

    Pada tahun 2022, masyarakat dunia menghasilkan lebih dari 8.000 terawatt jam energi terbarukan.

    Angka ini menunjukkan peningkatan energi terbarukan hingga 198 persen sejak tahun 2000 dan sebagian besar disebabkan oleh perbaikan infrastruktur energi terbarukan, yakni penggunaan dan efisiensi tenaga angin dan surya.

    Inisiatif untuk meningkatkan efisiensi energi dan beralih ke energi terbarukan bukan hanya baik untuk lingkungan tapi juga mempunyai fungsi sosial yang penting.

    Jika dimanfaatkan dengan benar, energi terbarukan akan meningkatkan ketahanan jaringan listrik dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

    Inisiatif energi terbarukan di masa depan akan menciptakan jutaan lapangan kerja baru tanpa mengganggu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

    Ini merupakan kuncinya, karena banyak bentuk ekstraksi energi tradisional yang dapat merugikan ekosistem lokal sekaligus merusak kesehatan jangka panjang.

    Baca Juga: Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

    Selama ini masyarakat di seluruh dunia bergantung pada ekstraksi energi untuk mendapatkan penghasilan.

    Namun, pekerjaan seperti pertambangan batu bara dan pengeboran minyak diketahui berdampak buruk bagi kesehatan dan kesejahteraan pekerja dan masyarakat lokal.

    Di mana, masyarakat yang tinggal di dekat kilang minyak dan penambangan batu bara melaporkan masalah pernapasan.

    Sehingga penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan, seperti tenaga surya dan angin diharapkan bisa memberikan solusi.

    Energi terbarukan tidak akan mempengaruhi kesehatan masyarakat setempat. Pun demikian dengan orang-orang yang bekerja di bidang turbin angin dan panel surya, mereka tidak mempertaruhkan kesejahteraan mereka dalam jangka panjang.

    Baca Juga: Simak Daftar Lapangan Kerja yang Tercipta dari Pengembangan Energi Terbarukan

    Mereka juga tidak terpapar bahan kimia berbahaya yang umum dikaitkan dengan mereka yang bekerja di anjungan minyak.

    Meskipun demikian, ada beberapa risiko pekerjaan yang terkait dengan energi terbarukan. Misalnya, mereka yang bekerja dengan biofuel harus dilindungi dengan baik terhadap etanol dan alkohol.

    Paparan bahan kimia turbin angin harus diantisipasi selama proses penggosokan dan pengamplasan. Menghirup bahan halus dapat menyebabkan masalah pernafasan dan penyakit.

    Namun secara seimbang, produksi energi ramah lingkungan mempunyai dampak minimal terhadap kesejahteraan pekerja dan tidak mengganggu kesehatan masyarakat setempat secara keseluruhan.

    Bahkan, masyarakat yang tinggal di dekat pembangkit listrik tenaga surya dan turbin angin bahkan mungkin mengalami peningkatan dalam hal kesehatan.

    Hal ini merupakan kabar baik bagi negara-negara berkembang yang ingin mengembangkan energi terbarukan.

     

     

    Artikel ini telah terbit di earth.org, Penulis: Charlie Fletcher, penulis freelance yang aktif dalam berbagai aktifitas sosial

  • Simak Daftar Lapangan Kerja yang Tercipta dari Pengembangan Energi Terbarukan

    Simak Daftar Lapangan Kerja yang Tercipta dari Pengembangan Energi Terbarukan

    7cloud.asia – Pengembangan energi terbarukan kini sudah sangat mendesak. Selain alasan lingkungan, pengembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan juga untuk alasan keberlanjutan.

    Sumber energi terbarukan cukup beragam, seperti tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga air.yang berasal dari tenaga angin, tenaga surya, tenaga air, biomasa maupun sampah.

    Pengembangan energi terbarukan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

    Pengembangan listrik bertenaga surya yang terdesentralisasi misalnya, cocok dikembangkan di negara-negara dengan tarif listrik rendah, yang cenderung memiliki jam sinar matahari berlimpah.

    Baca Juga: Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

    Pengembangan energi terbarukan tak hanya bagus untuk lingkungan, tapi juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

    Saat ini, masih banyak pengkritik energi terbarukan yang khawatir akan hilangnya lapangan pekerjaan akibat peralihan ke jaringan listrik yang lebih terbarukan.

    Namun, pada kenyataannya, kebangkitan energi terbarukan akan menciptakan peluang kerja baru dan berpotensi memberikan karir yang menarik bagi ratusan ribu orang.

    Energi terbarukan mewakili industri yang sangat besar yang diproyeksi akan mempekerjakan jutaan orang.

    Baca Juga: Mengarah ke Ekonomi Hijau Indonesia Membutuhkan Banyak Green Jobs

    Permintaan akan pekerja terampil di sektor energi terbarukan hanya akan meningkat seiring dengan semakin banyaknya sumber energi yang berasal dari tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga air.

    Lapangan kerja baru ini juga merupakan pekerjaan dengan gaji besar dan membutuhkan keterampilan yang dapat ditransfer.

    Contoh karir di bidang energi terbarukan meliputi:

    1. Pemasang Fotovoltaik Surya
    Pemasang yang berkualifikasi diperlukan untuk memasok dan memasang panel surya di dunia.

    Pekerjaan ini sangat penting, karena pemasangan yang tepat memastikan bahwa panel tersebut seefektif mungkin.

    Data BLS melaporkan bahwa pemasang di AS memperoleh gaji sebesar $45.230 per tahun dan akan melakukannya mengalami lonjakan permintaan sebesar 22% hingga tahun 2032.

    Baca Juga: Yang Bisa Dilakukan Dunia Pendidikan untuk Penuhi Permintaan Green Jobs

    2. Teknisi Turbin Angin
    Tenaga angin telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memicu permintaan akan teknisi yang dapat memasang, memperbaiki, dan melakukan perawatan rutin pada komponen mekanis menara.

    3.Insinyur Listrik
    Insinyur listrik bertanggung jawab atas berbagai tugas yang berkaitan dengan energi terbarukan, jaringan listrik, dan perangkat energi rumah.

    Mereka juga memperoleh pendapatan rata-rata 103,320 dolar AS dan saat ini banyak diminati.

    4. Ilmuwan Data
    Jaringan energi terbarukan bergantung pada pengumpulan dan analisis data yang akurat.

    Oleh karena itu, ilmuwan data merupakan bagian integral dari kelancaran fungsi sistem energi terbarukan sumber energi.

    Artikel ini telah terbit di earth.org, Penulis: Charlie Fletcher, penulis freelance yang aktif dalam berbagai aktifitas sosial.

  • Kebijakan Transisi Energi Setengah Hati Pemerintahan Jokowi: Target Bauran Energi Terbarukan Justru Diturunkan

    Kebijakan Transisi Energi Setengah Hati Pemerintahan Jokowi: Target Bauran Energi Terbarukan Justru Diturunkan

    7cloud.asia – Menjelang berakhirnya masa pemerintahannya pada Oktober 2024, program transisi energi Presiden Joko Widodo belum mencapai target ditetapkan.

    Target bauran energi baru-terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 diperkirakan tidak akan tercapai. Pasalnya pada 2023 lalu, bauran energi terbarukan baru mencapai 12,8 persen.

    Sayang bukannya menggeber pencapaian, Pemerintah justru menurunkan target energi terbarukan menjadi 17 persen pada 2025.

    Kendati diturunkan, target energi terbarukan itupun dinilai sulit tercapai mengingat masa kerja efektif pemerintah tinggal lima bulan lagi.

    Pengamat Ekonomi Energi UGM, Dr. Fahmy Radhi, M.B.A., salah satu penyebab tidak tercapainya target energi terbarukan karena kebijakan transisi energi setengah hati.

    Bahkan kebijakan tersebut cenderung kontradiktif dengan percepatan program transisi energi menuju energi terbarukan.

    Baca: Mengapa transisi energi di Indonesia berjalan lamban

    “Salah satunya, Pemerintah masih menoleransi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara,” katanya di Kampus UGM, Senin (13/5/2024) seperti dikutip ugm.ac.id

    Data pada akhir 2020 menunjukkan bauran energi primer untuk Pembangkit Listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) masih didominasi oleh batu bara yakni sebesar 57,22 persen.

    Kemudian disusul energi gas 24,82 persen, dan BBM 5,81 persen. Sementara itu, porsi energi baru-terbarukan baru mencapai sebesar 12,15 persen.

    Untuk mempercepat program transisi energi tersebut, kata Fahmy, PT Pertamina dan PLN sesungguhnya sudah melakukan berbagai upaya pengembangan energi baru-terbarukan.

    Sayang, hasil pengembangan proyek ini masih sangat minim.

    Baca: Ini yang harus dilakukan Indonesia untuk mempercepat transisi energi

    Program bio-diesel dan gasifikasi batu bara Pertamina mengalami kegagalan setelah partner dari Italia dan USA hengkang dari Indonesia.

    Pengembangan bio-diesel merupakan program energi baru-terbarukan berbasis sawit juga berpotensi bertabrakan dengan program pangan untuk menghasilkan minyak goreng.

    Berbeda dengan Pertamina, Program PLN dalam pengembangan EBT relatif berhasil.

    PLN telah menyelesaikan 28 pembangkit energi baru-terbarukan baru, program dedieselisasi dengan pembangunan jaringan transmisi dan jaringan distribusi.

    PLN juga telah mengembangkan hidrogen hijau pada tahun 2023.

    Baca: PLN diminta tak halangi pengembangan pembangkit tenaga surya

    Salah satu upaya transisi energi yang paling fenomenal yakni diresmikannya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Cirata dengan kapasitas 192 megawatt peak (MWp).

    “Meski begitu program pensiun dini PLTU batu bara belum tuntas lantaran kesulitan penyediaan dana dan teknologi,” terangnya.

    Sebagai pengamat, Fahmy berharap Presiden terpilih Prabowo Subianto harus berani merombak kebijakan transisi energi Jokowi setengah hati yang kontradiktif dengan percepatan program transisi energi.

    Salah satunya mewajibkan pengolahan batu bara yang merupakan energi kotor menjadi energi bersih.

    “Selain itu, Pemerintah harus memberikan kemudahan dan insentif bagi investor dalam pengembangan EBT di Indonesia. Tanpa perubahan kebijakan itu, jangan harap target zero carbon pada 2060 dapat dicapai,” paparnya.

  • Transisi Energi Terbarukan Mampu Ciptakan Manfaat Ekonomi hingga Ribuan Triliun

    Transisi Energi Terbarukan Mampu Ciptakan Manfaat Ekonomi hingga Ribuan Triliun

    7cloud.asia – Upaya pemerintah untuk menggenjot transisi energi ke energi terbarukan hingga saat ini masih berfokus pada pembangunan pembangkit listrik berskala besar.

    Proyek energi terbarukan ini mulai dari pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru di Sumatra Utara, hingga proyek panas bumi di Wae Sano, Nusa Tenggara Timur.

    Sayangnya, fokus ini justru menciptakan berbagai masalah sosial dan lahan. Belum lagi risikonya terhadap keberagaman hayati.

    Proyek listrik berskala besar juga tak menjamin akses listrik yang merata terutama bagi penduduk di desa-desa terpencil.

    Per akhir 2022, saat Indonesia tengah surplus listrik tercatat ada 4.400 desa yang belum teraliri setrum.

    Untuk mencapai transisi energi yang berkeadilan—terutama bagi warga pelosok, pemerintah perlu pendekatan baru untuk memprioritaskan penyediaan energi terbarukan berbasiskan sumber daya lokal dan dikelola masyarakat.

     

    Baca Juga: Kebijakan Transisi Energi Setengah Hati Pemerintahan Jokowi: Target Bauran Energi Terbarukan Justru Diturunkan

    Ketergantungan pemerintah terhadap perencanaan ala PLN perlu dikurangi. Sebaliknya, upaya masyarakat yang ingin memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri nan lestari, perlu didukung habis-habisan.

    Riset CELIOS bersama organisasi pegiat isu lingkungan, 350.org, mencoba menelaah manfaat pemerintah apabila menggunakan pendekatan energi berbasis komunitas sebagai langkah prioritas transisi energi.

    Kami menghitung, dalam 25 tahun ke depan, energi terbarukan berbasis komunitas justru menghasilkan dampak ekonomi hingga Rp18.636 triliun dan mengangkat 16 juta penduduk dari kemiskinan.

    Berikut beberapa manfaat transisi ke energi terbarukan berbasis komunitas:

    1. Menggeliatkan sektor usaha dan meratakan pertumbuhan
    Kami melakukan simulasi pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas berdasarkan pertumbuhan tahunan rata-rata energi surya (PLTS) dan mikrohidro (PLTM) selama lima tahun terakhir.

    Kedua energi ini acap digunakan dalam proyek energi terbarukan berbasis komunitas di Indonesia.

     

    Baca Juga: Simak Daftar Lapangan Kerja yang Tercipta dari Pengembangan Energi Terbarukan

    CELIOS juga memasukkan sumber energi terbarukan lainnya, seperti angin (PLTB), yang potensial digunakan dalam proyek energi skala kecil.

    Dari pertumbuhan energi tersebut, kami menghitung dampaknya ke masyarakat dan berbagai sektor perekonomian di sekitarnya dengan pemodelan Interregional Input-Output (IRIO).

    Studi CELIOS juga menghitung dampaknya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja.

    Hasilnya, pertumbuhan energi terbarukan berbasis komunitas selama 25 tahun dapat menghasilkan output ekonomi rata-rata sebesar Rp745 triliun per tahun.

    Nilai ini berasal dari nilai investasi energi terbarukan, penyerapan tenaga kerja untuk pemasangan dan perawatan.

    Hasil industri lokal seperti olahan perkebunan rakyat, pariwisata, kerajinan, dan industri rumah tangga lainnya juga akan meningkat karena masuknya listrik ke daerah mereka.

     

    Baca Juga: Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

    Beberapa daerah, seperti di Lumajang; Jawa Timur, juga menunjukkan hubungan positif antara energi berbasis komunitas dengan praktik ekonomi restoratif (yang memulihkan alam serta masyarakat).

    Sebab, air untuk PLTM juga digunakan untuk mengairi perkebunan yang berkelanjutan.

    Energi terbarukan berbasis komunitas juga dapat berkontribusi pada PDB sebesar Rp10.463 triliun secara kumulatif dalam 25 tahun ke depan.

    Kontribusi terbesar pada tahun ke-25 akan berasal dari sektor pengolahan (Rp415 triliun), sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang konstruksi (Rp335 triliun, dan sektor pengadaan listrik, air, dan gas (Rp258 triliun).

    Patut dicatat bahwa PDB ini akan bertumbuh nyaris merata—lebih tinggi di wilayah Indonesia timur (seperti Gorontalo, Maluku, Papua).

    Sebab, energi terbarukan berbasis komunitas akan menjadi suplai listrik murah dan stabil menggantikan suplai energi konvensional yang belum ada dan sukar tersedia sepanjang hari.

    Energi yang stabil akan meningkatkan produktivitas masyarakat, badan usaha desa dan koperasi, serta usaha-usaha kecil setempat.

     

    Baca Juga: Kementan Susun Konsep Papua sebagai Pulau Energi Terbarukan

    2. Merangsang green jobs dari desa
    Ekonomi desa yang menggeliat juga akan menciptakan lapangan kerja dari pinggiran. Studi kami menaksir, selama 25 tahun, ribuan proyek energi terbarukan berbasis komunitas dapat menyerap 96 juta lebih pekerja.

    Serapan tertinggi berada di sektor green jobs seperti bidang manufaktur dan distribusi peralatan energi terbarukan, pengembangan proyek, konstruksi dan pemasangan, operasi dan pemeliharaan, dan bidang lintas sektor yang umum.

    Lagi-lagi, dengan model energi terbarukan yang terdesentralisasi, penciptaan lapangan kerja juga berpeluang terjadi secara merata.

    Pada tahun ke-25, misalnya, pemodelan kami menaksir penyerapan kerja tinggi di provinsi seperti Kalimantan Timur (1,39 juta pekerja), Nusa Tenggara Timur (1,7 juta), dan Nusa Tenggara Barat (1,3 juta).

    Selain banyak penyerapan, studi kami juga meramalkan total pendapatan pekerja nasional meningkat hingga Rp510,9 triliun pada tahun ke-25.

    Kenaikan penyerapan pekerja juga merangsang peluang beraneka green jobs dengan keahlian khusus bidang energi terbarukan.

    Potensi ini perlu dijawab dengan pelatihan vokasi maupun penguatan Balai Latihan Kerja (BLK) di daerah-daerah.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS)

  • Menggali Alternatif Pembiayaan Transisi ke Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

    Menggali Alternatif Pembiayaan Transisi ke Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

    7cloud.asia – Upaya pemerintah untuk menggenjot transisi energi ke energi terbarukan hingga saat ini pemerintah masih berfokus pada pembangunan pembangkit listrik berskala besar.

    Namun, pada kenyataannya transisi energi terbarukan dengan pembangkit listrik skala besar tak menjamin akses listrik yang merata terutama bagi penduduk di desa-desa terpencil.

    Untuk mencapai transisi energi yang berkeadilan—terutama bagi warga pelosok, pemerintah perlu pendekatan baru untuk memprioritaskan penyediaan energi terbarukan berbasiskan sumber daya lokal dan dikelola masyarakat.

    Salah satu pertanyaan yang sering mengemuka terkait transisi ke energi terbarukan adalah Dari mana uangnya?

    Melistriki ribuan desa bukan pekerjaan mudah. Jika berniat memprioritaskan energi terbarukan berbasis komunitas, pemerintah perlu menyiapkan kebijakan untuk membuka peluang sumber pendanaan.

    Dalam tulisannya yang telah dimuat di The Conversation, Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengatakan CELIOS mencoba mengidentifikasi sumber-sumber mana saja yang potensial untuk mendanai proyek energi terbarukan berbasis komunitas.

    Baca Juga: Dampak Positif Pengembangan Energi Terbarukan Bagi Kesehatan Masyarakat

    Berikut beberapa di antaranya:

    1. Anggaran negara
    Indonesia dapat memanfaatkan anggaran negara yang sudah ada seperti Dana Desa untuk mendanai energi terbarukan berbasis komunitas.

    Kita juga bisa menerapkan kebijakan baru seperti menggeser anggaran subsidi energi fosil, dana bagi hasil sumber daya alam di masing-masing daerah, dan realokasi insentif fiskal dari yang selama ini diterapkan bagi industri batu bara ke proyek energi terbarukan.

    Pemerintah juga dapat merumuskan kebijakan progresif yang menguntungkan pendanaan energi terbarukan berbasis komunitas.

    Beberapa di antaranya adalah pajak windfall profit (keuntungan dari lonjakan harga komoditas), pajak kekayaan, pajak produksi batu bara, pajak karbon, ataupun pembentukan dana abadi untuk pengembangan energi terbarukan.

    2. Anggaran internasional
    Indonesia melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP) mendapatkan komitmen pendanaan dari negara-negara maju sebesar US$20 miliar (Rp320 triliun).

    Sayangnya, rencana investasi JETP masih berfokus pada energi terbarukan berskala besar. Pendanaan pun dominan menggunakan mekanisme utang, bukan hibah.

    Pemerintah semestinya bisa melakukan renegosiasi kepada negara maju untuk memberikan hibah. Bisa pula renegosiasi berfokus agar negara maju mengalihkan piutangnya (debt swap) di Indonesia ke proyek transisi energi terbarukan berbasis komunitas.

    Skema ini berguna menekankan aspek keadilan sosial dalam JETP.

    Baca Juga: Simak Daftar Lapangan Kerja yang Tercipta dari Pengembangan Energi Terbarukan

    3. Perbankan dan pasar modal
    Indonesia perlu menyiapkan kebijakan yang merangsang perbankan dan lembaga modal ventura untuk lebih banyak membiayai proyek energi terbarukan berbasis komunitas.

    Pembiayaan juga dapat digenjot melalui koperasi ataupun penerbitan instrumen keuangan (seperti sukuk, reksadana) yang menghimpun dana masyarakat untuk membiayai proyek-proyek energi bersih.

    Persiapan
    Upaya menggeser paradigma transisi energi pemerintah dari proyek berskala besar ke skala komunitas memang tidak mudah. Ini membutuhkan komitmen politik untuk melaksanakan transisi energi yang berkeadilan dalam jangka panjang.

    Selain itu, banyak juga aspek teknis yang perlu dipikirkan seperti perencanaan proyek, pemeliharaan pembangkit listrik oleh warga, hingga pelaporan dan pertanggungjawaban dana.

    Gagasan ini membutuhkan pemikiran dan partisipasi bersama dari seluruh pemangku kepentingan, terutama warga desa yang siap bahu-membahu menyiapkan listrik energi terbarukan di kampung masing-masing.

    Penulis: Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS)

  • IESR Dorong Pemutakhiran Kebijakan Energi dan Dekarbonisasi Industri

    IESR Dorong Pemutakhiran Kebijakan Energi dan Dekarbonisasi Industri

    7cloud.asia – Institute for Essential Services Reform (IESR) mendorong pemutakhiran kebijakan energi dan dekarbonisasi industri demi mencapai target bauran energi terbarukan.

    Koordinator Grup Riset Sumber Daya Energi dan Listrik IESR His Muhammad Bintang mengatakan, jika Indonesia hanya bertumpu pada kebijakan saat ini tanpa strategi yang terukur, maka pencapaian target bauran energi terbarukan akan lambat.

    “Bahkan Indonesia tidak akan melebihi 30 persen bauran energi terbarukan pada 2060,” katanya dalam diskusi media bertajuk Update Isu dan Kebijakan Transisi Energi di Indonesia yang diselenggarakan oleh IESR di Jakarta, Rabu (3/7/2024).

    IESR memandang bahwa Indonesia perlu mengakselerasi pemanfaatan energi terbarukan sebagai strategi penurunan emisi gas rumah kaca untuk mencapai net zero emissions (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

    Langkah ini demi membatasi kenaikan suhu bumi tidak melampaui 1,5 derajat Celcius yang menyebabkan krisis iklim.

    Baca: Mempertahankan batubara hanya akan tingkatkan risiko ekonomi

    IESR menilai, untuk mencapai target bauran energi terbarukan dan penurunan emisi sektor energi secara signifikan, pemutakhiran kebijakan seperti Kebijakan Energi Nasional (KEN), Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Selanjutnya, Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), dan finalisasi RUU Energi Baru Energi Terbarukan (EBET) harus mencakup peningkatan target penurunan emisi dan skema yang mendukung pencapaian tersebut secara terukur.

    Bintang menuturkan, lambatnya pertumbuhan sektor ketenagalistrikan, yang diharapkan akan mendorong penambahan bauran energi terbarukan, terlihat dari pembangkit energi terbarukan.

    Pembangkit energi terbarukan baru mencapai sekitar 1 GW hingga tahun 2023, jauh dari target awal sebesar 3,4 GW yang ditetapkan pada 2021.

    Menurutnya, terdapat beberapa penyebab lambannya implementasi energi terbarukan. Pertama, rendahnya permintaan energi dibandingkan proyeksinya.

    Baca: Rekomendasi masyarakat sipil terkait penyusunan Second NDC

    Kedua, lapangan tanding yang tidak setara, pembangkit energi terbarukan dipaksa bersaing dengan pembangkit listrik tenaga batubara dengan regulasi Domestic Market Obligation (DMO).

    Ketiga, integrasi energi terbarukan variabel seperti PLTS dan PLTB menghadapi tantangan teknis dari kondisi sistem jaringan listrik saat ini.

    Keempat, beberapa peraturan seperti tingkat komponen dalam negeri (TKDN) belum sesuai dengan kondisi saat ini dan mempengaruhi pengembangan proyek energi terbarukan.

    Saat ini pemerintah tengah melakukan pembaruan beberapa regulasi dan kebijakan pada sektor energi.

    Untuk itu, menurut Bintang, pelaku industri, media dan masyarakat sipil serta berbagai pihak lainnya perlu mengawal dan memberi masukan agar pembaruan tersebut dapat menjadi solusi kendala pengembangan energi terbarukan selama ini.

    Baca: Pemerintah diminta libatkan masyarakat pesisir dalam penyusunan Second NDC

    Di sisi lain, peluang untuk menaikkan bauran energi terbarukan terbuka luas dengan meningkatnya kebutuhan energi, terutama di sektor industri.

    Tidak hanya itu, tren transisi energi di berbagai negara akan memberikan risiko gangguan rantai suplai teknologi energi terbarukan.

    “Oleh karena itu, Indonesia perlu segera meningkatkan kemandirian untuk memenuhi kebutuhan transisi energi dengan mengembangkan industri energi terbarukan domestik,” tuturnya.

    Bintang juga menggarisbawahi pentingnya menangkap fenomena permintaan dari pembeli (buyer’s demand) akan produk hijau.

    Selain itu, dinamika geopolitik energi dunia mempengaruhi daya saing investasi di Indonesia. Aturan karbon dan pajak (seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan Inflation Reduction Act (IRA)) mempengaruhi aliran investasi ke negara-negara Selatan, termasuk Indonesia.

    Baca: Pemerintah pertimbangkan sektor kelautan dalam penyusunan Second NDC

    Permintaan korporasi untuk energi terbarukan menjadi dorongan penting bagi Indonesia dalam mempercepat pengembangannya dan menghilangkan hambatan bagi perusahaan dan individu untuk menggunakan energi terbarukan.

    Saat ini, 121 anggota RE100 Global telah melaporkan kegiatan operasional mereka di Indonesia.

    Berdasarkan penilaian RE100, Indonesia berpotensi untuk tumbuh pesat dengan sumber daya energi terbarukan yang melimpah, namun potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan.

    Untuk itu, inisiatif RE100 memandang Indonesia sebagai wilayah strategis untuk memperluas kegiatan advokasi dengan misi mempercepat perubahan menuju jaringan listrik tanpa emisi karbon skala besar.

    “Asesmen Climate Group RE100 menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang “tertinggal (stragglers)” dalam pengembangan energi terbarukan. Meningkatnya tuntutan ketersediaan produk berkelanjutan memicu permintaan besar untuk energi terbarukan di lokasi operasi perusahaan,” ujar Bintang.

  • Meski Bagus untuk Lingkungan, Masih Ada Masyarakat yang Menolak Proyek Energi Terbarukan (2)

    Meski Bagus untuk Lingkungan, Masih Ada Masyarakat yang Menolak Proyek Energi Terbarukan (2)

    7cloud.asia – Penolakan sosial terhadap proyek-proyek energi terbarukan ditemukan di banyak negara dan terjadi di banyak skema.

    Penolakan itu mulai dari proyek energi terbarukan yang diusulkan pengembang, hingga skema alternatif pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas yang sebenarnya menempatkan masyarakat sebagai tokoh protagonis.

    Kurangnya penerimaan masyarakat dalam proyek energi terbarukan acap terkait anggapan orang-orang bahwa manfaat dan biaya suatu proyek energi terbarukan tidak terbagi secara merata.

    Dan, hal ini telah diulas dalam tulisan sebelumnya. Selain perkara manfaat, kata “tidak” untuk suatu proyek juga berhubungan dengan kekurangan ataupun ketiadaan informasi tentang karakter dan manfaat proyek.

    Baca: Masyarakat menolak proyek pengembangan energi terbarukan karena manfaat

    Ketiadaan informasi dan partisipasi dalam proyek energi terbarukan ini termasuk kurangnya kesempatan dan alternatif partisipasi.

    Semua ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pengembangan proyek energi terbarukan.

    Pengembang tak bisa merumuskan proyek hanya berdasarkan kelayakan ekonomi dan teknis. Aspek penerimaan sosial juga perlu dipertimbangkan, melalui pelibatan komunitas sejak awal.

    Harapannya, rasa kepemilikan masyarakat setempat terhadap proyek tersebut dapat bertumbuh.

    Baca: Risiko ekonomi terus mempertahankan bahan bakar fosil

    Kepemilikan psikologis masyarakat dalam proyek energi terbarukan dapat kita capai melalui cara berbeda, seperti partisipasi aktif sejak fase permulaan.

    Masyarakat dapat berunding dan bekerja sama dengan pengembang serta institusi publik melalui komunikasi yang efektif dan strategi informasi, mencakup segala aspek dalam proyek (ekonomi, finansial, dan lingkungan).

    Pengembang juga dapat melibatkan masyarakat agar proyek energi terbarukan memenuhi karakter dan kebutuhan spesifik di suatu daerah.

    Tidak ada solusi tunggal untuk meningkatkan penerimaan sosial dan partisipasi masyarakat dalam proyek energi terbarukan.

    Baca: Saatnya meninggalkan bahan bakar fosil

    Namun, ada praktik-praktik yang dapat dilakukan pengembang agar proyek mendapatkan dukungan masyarakat dan berkontribusi bagi kesejahteraan mereka.

    Praktik ini kami ulas secara mendalam dalam laporan terkait penerimaan sosial proyek-proyek energi terbarukan lokal.

    Seluruh pihak, mulai dari pengembang, institusi administrasi dan lembaga publik, tokoh masyarakat, dan warga secara umum perlu mendapatkan informasi yang cukup.

    Semua pihak wajib bergotong royong untuk mencapai transisi ke energi terbarukan yang adil, merata, dan efisien.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Spanish. Penulis: Stephanía Mosquera López, peneliti Lab de Energía y Medioambiente – Orkestra, Universidad de Deusto

  • Meski Bagus untuk Lingkungan, Masih Ada Masyarakat yang Menolak Proyek Energi Terbarukan (1)

    Meski Bagus untuk Lingkungan, Masih Ada Masyarakat yang Menolak Proyek Energi Terbarukan (1)

    7cloud.asia – Penerimaan masyarakat dalam proyek energi terbarukan adalah hal menantang yang relevan dan semakin banyak dibicarakan.

    Sikap masyarakat soal energi terbarukan bahkan sudah diangkat ke layar lebar, seperti dalam film spanyol, Alcarràs dan As bestas.

    Kebanyakan orang memang sepakat tentang pentingnya energi terbarukan untuk membersihkan perekonomian dan menghadapi ancaman perubahan iklim.

    Namun, barangkali ada orang yang tak menginginkan turbin angin dipasang di halaman mereka, ataupun area lain yang menghalangi pandangan.

    Penolakan sosial proyek-proyek energi terbarukan terjadi di banyak skema. Mulai dari proyek yang diusulkan pengembang, hingga skema alternatif pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas yang sebenarnya menempatkan masyarakat sebagai tokoh protagonis.

    Penolakan yang terjadi dapat berkembang melampaui gerakan Not in my backyard ( NIMBY ) yang bergaung di banyak negara.

    Baca: Risiko ekonomi jika bahan bakar fosil dipertahankan

    Namun, keberadaan NIMBY bukanlah satu-satunya faktor dalam penolakan energi terbarukan, melainkan hanyalah penjelasan sederhana dari persoalan sosial ini.

    Kurangnya penerimaan masyarakat dalam proyek energi terbarukan acap terkait anggapan orang-orang bahwa manfaat dan biaya suatu proyek energi terbarukan tidak terbagi secara merata.

    Energi terbarukan memang perlu terus digenjot untuk mencapai transisi energi. Namun, transisi ini harus berkeadilan, yakni memiliki pembagian manfaat dan biaya penyediaan energi yang sepadan.

    Pengambilan keputusan di seluruh level proyek juga harus lebih representatif dan inklusif atau melibatkan semua kalangan.

    Inilah kenapa, penting bagi proyek infrastruktur energi terbarukan untuk mencapai kesepakatan yang berkontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

    Kesepakatan tersebut baru bisa terjadi jika ada kesadaran bersama bahwa energi terbarukan tak hanya penting untuk memerangi perubahan iklim, tapi juga mendatangkan berbagai keuntungan bagi masyarakat setempat.

    Baca: Saatnya meninggalkan bahan bakar fosil

    Proyek energi terbarukan yang dikelola dengan baik dapat menyokong pembangunan ekonomi setempat melalui penyerapan barang dan jasa lokal, sewa lahan, dan penciptaan lapangan kerja.

    Semuanya dapat mendukung penciptaan sekaligus keberlangsungan dunia usaha di tingkat lokal.

    Perekonomian yang menggeliat dapat meningkatkan pendapatan daerah—aspek penting untuk memperbaiki pelayanan dan sumber daya otoritas daerah. Aktivasi ekonomi juga berdampak positif bagi demografi di daerah longgar penduduk.

    Pengembang proyek dapat meningkatkan penerimaan sosial dengan kompensasi-kompensasi seperti pengurangan tarif listrik ataupun kompensasi dalam bentuk barang dan jasa bagi suatu komunitas.

    Pengembang juga dapat menyeleraskan pekerjaan dengan proyek lainnya yang sedang berjalan secara paralel, seperti penggunaan lahan bersama untuk mengintegrasikan fasilitas dalam perekonomian lokal (pertanian, peternakan, pengelolaan hutan).

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Spanish. Penulis: Stephanía Mosquera López, peneliti Lab de Energía y Medioambiente – Orkestra, Universidad de Deusto

     

     

  • Pemerintah Diminta Perbaiki Hambatan Birokrasi Terkait Pemasangan PLTS Atap

    Pemerintah Diminta Perbaiki Hambatan Birokrasi Terkait Pemasangan PLTS Atap

    7cloud.asia – Anggota Komisi VII DPR Andi Yuliana Paris berharap pemerintah dapat memperbaiki birokrasi terkait pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di lingkungan industri.

    Hal ini untuk mendorong pengembangan PLTS sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan di masa yang akan datang.

    Hal ini diungkapkan Andi menanggapi keluhan industri tentang regulasi terkait dengan PLTS atap (karena) banyak rentang waktu dan birokrasi yang harus dilalui.

    ”Nah, ini PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah, khususnya pemerintah yang akan datang,” ungkap Andi kepada Parlementaria usai Kunjungan Kerja Komisi VII DPR ke Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEPI) di Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (4/7/2024).

    Baca Juga: PLTS Atap: Cara Mudah untuk Memanen Tenaga Surya

    Ia menyebut penggunaan PLTS Atap yang dilakukan industri Coca Cola memberikan efisiensi hingga mencapai 30 persen dari kebutuhan energi, di samping juga rendah emisi karbon.

    Lebih lanjut, ia mengungkapkan, pemerintah perlu mempertimbangkan dengan saksama terkait hambatan birokrasi tersebut.

    Sebab, untuk menerapkan aturan, tentu dibutuhkan waktu. Selain itu pun pelaku industri juga berkejaran dalam memberikan profit.

    “Di satu sisi tuntutan menciptakan lapangan pekerjaan, dan juga diminta memberikan kontribusi terhadap NDC, National Determined Carbon,” lanjut Politisi Fraksi PAN ini.

    Baca Juga: Aktivis Lingkungan Minta PLN Tidak Batasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Atap Rumah Warga

    Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke PT Coca-Cola Euro Pacific Partners Indonesia (CCEPI).

    Kunjungan kerja ini berfokus pada meningkatkan penggunaan energi rendah karbon guna mendukung pencapaian Net Zero Emission dan meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui serapan bahan baku dan tenaga kerja lokal.

    Adapun industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor unggulan yang memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sebesar 4,7 persen tahun 2023 year on year.

    Pada tahun 2024 kontribusi industri makanan dan minuman terhadap Produk Domestik Bruto diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 7 persen.

    Baca Juga: Butuh Standar Baru agar Atap Hijau Menjadi Norma Baru dalam Pembangunan Kota