Tag: guna ulang

  • KLHK Ajak Masyarakat dan Produsen Jadikan Sistem Guna Ulang untuk Kurangi Sampah Plastik

    KLHK Ajak Masyarakat dan Produsen Jadikan Sistem Guna Ulang untuk Kurangi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengajak masyarakat dan produsen untuk menjadikan sistem guna ulang untuk mengurangi sampah plastik.

    Pemahaman dan partisipasi masyarakat untuk menjalankan gaya hidup guna ulang juga dibutuhkan agar permasalahan sampah plastik dapat diatasi secara lebih komprehensif.

    Ditemui di sela kegiatan World Cleanup Day beberapa waktu lalu, Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPGLHK)Luckmi Purwandari, menambahkan pentingnya kesadaran untuk menerapkan sistem guna ulang.

    Lebih lanjut, Luckmi mengajak masyarakat mulai beralih ke sistem guna ulang dengan menerapkan sistem refill, yakni dengan membawa tempat sendiri saat membeli makanan ataupun barang kebutuhan lainnya.

    “Lebih bijak gunakan sampah plastik sekali pakai untuk mencegah timbulan sampah plastik. Jadi mulailah gunakan tumbler atau lunchbox untuk mendorong sistem guna ulang,” ujarnya.

    Baca: Kebocoran sampah plastik masih terus terjadi

    Hal serupa juga dikatakan Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan, Direktorat Pengurangan Sampah Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK Ujang Solihin Sidik dalam diskusi “Refill Station: Berdayakan UMKM, Dorong Gaya Hidup Belanja Ramah Lingkungan” di Jakarta, Juni lalu.

    Ujang mengatakan, sistem isi ulang juga penting bagi masyarakat untuk dijadikan sebagai gaya hidup karena menguntungkan dari sisi ekonomi.

    “Gaya hidup belanja dengan model ‘refill’ dari sisi ekonomi pasti lebih murah. Ketika wadah dihilangkan pasti hemat. Yang kedua, dari sisi lingkungan, ‘refill’ ini enggak menghasilkan sampah karena bawa wadah dari rumah,” ujar dia dikutip Antaranews.com.

    Dia mengatakan, pemahaman dan partisipasi masyarakat untuk menjalankan gaya hidup guna ulang dibutuhkan agar permasalahan sampah dapat diatasi secara lebih komprehensif.

    Adapun terkait harga, Ketua Bank Sampah Melati di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Reza yang menjual tiga produk isi ulang, yakni cairan pembersih cuci piring, pembersih lantai dan pakaian, menyebut satu botol produk berukuran 450 ml dibanderol Rp13 ribu.

    Baca: Penanganan sampah plastik harus dimulai dari produksi plastik

    Sedangkan untuk ukuran 4,5 liter Rp65 ribu. “Kalau ada promo Rp10 ribu (untuk ukuran 450 ml),” kata dia.

    Sementara itu, bila merujuk salah satu lokapasar (marketplace), harga jual produk semisal pembersih lantai ukuran 450 ml sekitar Rp17 ribuan. Sedangkan untuk ukuran 4,5 liter sekitar Rp90 ribuan.

    Produk dengan kemasan guna ulang tersebut didapatkan melalui sebuah proyek “TRANSFORM-Alner” yang antara lain digagas “start-up” penyedia sistem guna ulang kemasan produk konsumsi (FMCG) bersama perusahaan swasta.

    Proyek ini melibatkan pegiat Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis komunitas dan konvensional seperti toko atau warung dan bank sampah, sebagai pengecer dan pengumpul sistem kemasan guna ulang.

    Terkait pengurangan kemasan plastik sekali pakai, distribusi produk isi ulang melalui proyek yang diadakan selama satu tahun, bisa mengurangi sekitar 4.412 kilogram (kg) kemasan plastik baru.

    Baca: Saset produk FMCG penyumbang terbesar sampah plastik

    Karena itu para produsen didorong untuk menjadikan sistem isi ulang (refill) sebagai model bisnis untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai dan saset (sachet).

    Pemerintah mengajak bahkan mewajibkan produsen untuk mengurangi sampah.
    “Banyak cara, salah satunya dengan model bisnis baru yakni jualannya dengan cara refill,” kata dia.

    Ujang mengatakan, sejumlah produk pembersih seperti untuk mencuci piring dan membersihkan lantai masih menggunakan kemasan saset yang sebenarnya sulit didaur ulang sehingga menjadi sampah.

    “Karena yang jadi kemasan sabun pembersih seperti cuci piring, pembersih lantai itu ‘multilayer plastic’ atau plastik yang lentur. Itu salah satu jenis plastik yang sulit didaur ulang. Kalau sulit didaur ulang pilihannya menjadi sampah,” katanya.

    Karena itu, dia merujuk pada Peraturan Menteri LHK Nomor 75 tahun 2019 yang menyebutkan bahwa sistem isi ulang sebagai inovasi yang dapat digunakan untuk mengurangi dan mencegah sampah plastik dari hulu.

    Sistem ini memiliki potensi untuk berkembang dan patut menjadi model bisnis yang diterapkan lebih banyak produsen guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

  • Greenpeace: Sistem Guna Ulang Jadi Solusi Mengatasi Krisis Sampah Plastik

    Greenpeace: Sistem Guna Ulang Jadi Solusi Mengatasi Krisis Sampah Plastik

     

    7cloud.asia – Juru Kampanye Bebas Plastik Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar menekankan pentingnya solusi guna ulang untuk sachet dan pouch sekali pakai sebagai langkah strategis atasi krisis sampah plastik di Indonesia.

    Berbicara dalam Multi Stakeholder Forum: Implementasi Peta Jalan Pengurangan Sampah, yang diselenggarakan Greenpeace Indonesia, Ibar mengatakan selain mengatasi ancaman lingkungan akibat sampah plastik, guna ulang juga diharapkan bisa menjadi solusi menghadapi tantangan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

    Forum ini juga menjadi momen penting untuk menyoroti potensi sistem guna ulang sebagai alternatif nyata terhadap model ekonomi berbasis plastik sekali pakai yang selama ini mendominasi.

    “Kita tidak bisa terus menambal krisis plastik dengan solusi tambal-sulam di hilir. Akar masalahnya ada di hulu, di produksi plastik sekali pakai yang terus digenjot tanpa kendali,” tegas.

    Baca: Greenpeace Indonesia tagih peta jalan pengurangan sampah oleh produsen

    Jika didukung standar, infrastruktur, dan kebijakan yang tepat, sistem guna ulang berpotensi menyumbang nilai ekonomi bersih hingga Rp 1,5 triliun pada 2030 (AZWI; 2024).

    Di sisi lain, sistem ekonomi guna ulang dapat menciptakan sebanyak 4,4 juta lapangan kerja bersih secara kumulatif di seluruh sektor ekonomi selama periode 2021–2030.

    Menurut riset yang dilakukan Bappenas, UNDP, dan Kedubes Denmark lapangan kerja dari sistem ekonomi guna ulang ini, 75 persen di antaranya berpotensi diisi oleh perempuan.

    “Kita punya kesempatan emas untuk mengubah arah, dari ekonomi plastik menuju ekonomi guna ulang. Inisiatif sudah ada, tinggal kemauan politik dan keberanian industri yang perlu ditingkatkan,” ujar Ibar dikutip dari keterangan tertulis yang dirilis di laman resmi Greenpeace.

    Baca: KLH akan wajibkan produsen bertanggung jawab atas sampah plastik yang diproduksinya

    Greenpeace Indonesia, ujar Ibar, percaya bahwa krisis sampah plastik tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.

    Diperlukan kolaborasi nyata antara pemerintah, industri, dan masyarakat sipil untuk menghadirkan kebijakan dan solusi yang berkeadilan dan berkelanjutan.

    Ibar menambahkan, sudah saatnya industri mengambil tanggung jawab penuh, dan mendukung sistem guna ulang sebagai solusi nyata yang adil dan berkelanjutan

    Greenpeace Indonesia menekankan bahwa penguatan skema Extended Producer Responsibility (EPR) merupakan langkah krusial untuk memastikan produsen tidak lagi lepas tangan atas sampah dari produk mereka.

    Baca: Baru 21 produsen yang tuntaskan Peta Jalan Pengurangan Sampah

    Forum ini diharapkan menjadi titik balik dalam memperkuat komitmen semua pihak, serta memperluas dukungan terhadap sistem guna ulang sebagai bagian dari transisi menuju masa depan yang lebih bersih dan sehat bagi semua.

    Forum ini dihadirkan sebagai ruang diskusi terbuka antara pemerintah, produsen, dan masyarakat sipil untuk meninjau kembali capaian implementasi peta jalan, mengidentifikasi tantangan, dan mendorong langkah konkret pengurangan sampah plastik di masa depan.

  • Pakar: Galon Guna Ulang Lebih Ramah Lingkungan

    Pakar: Galon Guna Ulang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Galon guna ulang dinilai lebih ramah lingkungan dibanding galon sekali pakai. Dari aspek lingkungan, kemasan galon Polikarbonat (PC) lebih unggul dibandingkan galon Polyethylene Terephtalate (PET).

    “Kemasan galon PC memiliki guna ulang yang lebih panjang dibandingkan galon dari PET,” kata Dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Nugraha Edhi Suyatma dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (28/8/2025).

    Nugraha mengatakan galon guna ulang dari Polikarbonat tersebut tidak menghasilkan sampah karena kemasan bisa dipakai kembali sehingga mengurangi energi yang digunakan untuk mendaur ulang.

    Pernyataannya tersebut didukung oleh Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) Bisuk Abraham Sisungkunon.

    Baca: Memilih galon air minum yang aman untuk kesehatan dan lingkungan

    Bisuk mengatakan pemakaian galon guna ulang sejalan dengan misi pemerintah mengurangi jumlah sampah dengan prinsip 5R yaitu, reduce, reuse, recycle, replace dan replant.

    Hal ini perlu dilakukan mengingat timbulan sampah di Indonesia berdasarkan data SIPSN KLHK pada 2024 mencapai 34,63 juga ton/tahun dengan jumlah sampah plastik diperkirakan mencapai 9,9 juta ton.

    “Galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun,” katanya.

    Bisuk mengatakan kini seluruh dunia sedang berupaya menekan volume sampah plastik yang kian menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mencemari ekosistem.

    Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan target pengurangan sampah hingga 30 persen dan penanganan sampah mencapai 70 persen pada 2025.

    Baca: Menerapkan ekonomi sirkular dalam industri air minum

    “Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air ataupun dibuang langsung ke tanah,” ucap Bisuk.

    Pemanfaatan galon guna ulang juga membuat Indonesia mengurangi penggunaan plastik virgin untuk membuat kemasan galon baru yang berdampak negatif terhadap lingkungan.

    Semakin banyak produsen memproduksi galon sekali pakai, kata dia, maka akan semakin besar juga plastik virgin (resin plastik murni yang diproduksi langsung dari bahan baku baru) yang digunakan.

    Menurutnya, ada sekitar 4.152 ton plastik virgin yang bisa dihindarkan setiap tahunnya karena adanya galon guna ulang.

  • Pakar: Usia Galon Guna Ulang Tidak Berpengaruh pada Kontaminasi BPA

    Pakar: Usia Galon Guna Ulang Tidak Berpengaruh pada Kontaminasi BPA

    7cloud.asia – Banyak orang mengkhawatirkan kontaminasi Bisphenol A (BPA) pada galon guna ulang polikarbonat (PC). Namun, pakar menyebutkan usia galon tidak memengaruhi migrasi BPA.

    “Jadi sesungguhnya BPA paling banyak itu kapan? Ya saat galon itu baru, itu masih tersisa kimia pembentuknya,” kata Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB, Akhmad Zainal Abidin di Jakarta, Selasa (23/9/2025)

    Dilansir Antaranews.com, Zainal menyebut semakin lama galon PC dipakai maka kandungan zat kimia pembentuk di dalamnya semakin hilang.

    Sebaliknya, galon guna ulang yang sudah dipakai berkali-kali cenderung aman karena sisa kimia pembentuk plastik di dalamnya sudah lebih sedikit dibanding galon baru.

    Meski memiliki sisa zat baik galon baru dan lama namun kimia pembentuk plastik tersebut sudah tidak berbahaya bagi manusia.

    Baca: Galon guna ulang lebih ramah lingkungan

    Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Plastik Indonesia tersebut juga menyampaikan bahwa keamanan pemakaian galon guna ulang PC itu sudah tidak perlu diragukan, karena pemerintah juga selalu berdiskusi dengan para ahli terkait keamanan kemasan pangan.

    Menurutnya, jaminan keamanan dari pemerintah juga sudah diberikan kepada masyarakat melalui beragam regulasi yang dibentuk berkenaan dengan kemasan pangan.

    Oleh karenanya, masyarakat tidak perlu khawatir dan terpengaruh pada informasi tidak akurat tentang galon guna ulang yang berkembang di tengah masyarakat.

    “Kalau galon lama rusak, namanya degradasi, tapi yang terlepas dari degradasi ini bukan BPA. Yang sudah diteliti itu pertama Eter, kedua Etanol, ketiga Keton, jadi nggak ada BPA di situ, makanya ini perlu diluruskan,” katanya.

    Sementara itu, Penanggung Jawab Sekretariat Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Kemasan Indonesia (Aspadin) Jawa Barat, Jakarta, dan Banten, Ismail memastikan pengawasan ketat penggunaan galon guna ulang di pabrik-pabrik AMDK.

    Baca: Memilih galon yang aman untuk kesehatan dan lingkungan

    Hal serupa juga dilakukan terhadap galon yang sudah dibeli masyarakat dan kembali ke pabrik.

    Pabrik akan memeriksa seluruh galon yang ada baik dari visual, kebersihan, dan kondisi apakah masih layak digunakan atau tidak, sesuai tahapan masing-masing.

    Apabila sudah tidak layak seperti kondisi berdebu yang tidak bisa hilang, terkena zat kimia dan bocor, atau tidak sesuai standar maka galon tidak akan digunakan ulang, termasuk terhadap galon dengan masa pakai satu bulan sekalipun.

    “Galon-galon tersebut kemudian kami pisahkan untuk dikembalikan ke supplier. Terkait umur pakai, pabrik sudah menentukan maksimum selama 5 tahun. Lebih dari itu harus dimusnahkan,” kata dia.

    Baca: Kontroversi galon air sekali pakai

     

  • Atasi Krisis Sampah Plastik, Restoran dan Kafe di Sejumlah Negara Bergeser ke Prinsip Guna Ulang

    Atasi Krisis Sampah Plastik, Restoran dan Kafe di Sejumlah Negara Bergeser ke Prinsip Guna Ulang

    7cloud.asia – Dalam upaya mengurangi sampah plastik, salah satu tantangan tersulit adalah bagaimana memanfaatkan potensi guna ulang atau prinsip reuse yang merupakan “anak tengah” dari prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

    Bagaimana restoran, bar, dan kafe dapat beralih dari gelas dan piring sekali pakai yang murah ke barang-barang yang tahan lama dan dapat digunakan kembali? Mari kita simak tulisan Jan Lee, di Earth.org.

    Dengan diluncurkannya peraturan baru tentang sampah plastik pada tahun 2024 di sejumlah kota di Eropa, Hong Kong, dan Toronto, Kanada, sejumlah pemerintah daerah telah meluangkan energinya untuk mencari solusi bagi plastik sekali pakai seperti gelas dan mangkuk untuk dibawa pulang.

    Jan Lee menulis, semakin banyak komunitas yang memperluas pandangan mereka di luar daur ulang, dan mulai mengeksplorasi platform untuk barang-barang yang dapat digunakan kembali.

    Peraturan dan biaya adalah pendorong utama pergeseran ke prinsip guna ulang ini.

    “Plastik kompos yang dapat terurai secara hayati selalu lebih mahal, jadi penggunaan kembali dapat menghemat biaya,” kata Jonathan Tostevin dari Muuse kepada Earth.Org.

    Muuse adalah salah satu generasi baru bisnis yang menyiapkan sistem penggunaan kembali siap pakai untuk bisnis dan komunitas yang ingin beralih dari plastik sekali pakai.

    Sistem “Penggunaan Kembali sebagai Layanan” (Reuse as a Service/RaaS) yang dimiliki Muuse mencakup penyediaan cangkir dan mangkuk tahan lama, pengumpulan dan sanitasi, serta pengembalian, yang di Muuse dilacak melalui kode QR unik.

    Melalui platform “Penggunaan Kembali sebagai Layanan” (RaaS), Muuse menyediakan cangkir dan mangkuk yang dapat digunakan kembali yang dilacak melalui kode QR unik.

    Perusahaan yang saat ini beroperasi di Singapura, Hong Kong, AS, dan Kanada ini, juga bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mencuci cangkir, sebelum mendistribusikannya kembali ke bisnis masing-masing.

    Pergeseran daur ulang ke guna ulang
    Tostevin menekankan bahwa meskipun beberapa kotamadya atau perusahaan memilih untuk menerapkan sistem untuk tempat makan yang dapat digunakan kembali.

    Hal ini karena mereka ingin bertindak lebih berkelanjutan, dan sebagian besar melakukannya “karena intervensi pemerintah.”

    Bagi Dana Winograd, Direktur Eksekutif Plastic Free Seas yang berbasis di Hong Kong, mengatasi krisis yang semakin meningkat akibat limbah kemasan sekali pakai dari makanan dibawa pulang adalah hal yang mungkin.

    “Meningkatnya popularitas sistem peralatan makan yang dapat digunakan kembali berarti semakin mudah untuk mengurangi sampah dari makanan yang dibawa pulang,” kata Winograd kepada Earth.Org.

    Namun, persyaratan umum untuk penerapan sistem guna ulang dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan, kecuali jika ada sistem yang dirancang dengan baik untuk memfasilitasi pengumpulan, pencucian, dan pengembalian ke restoran.

    Tanpa sistem tersebut, pengecer cenderung menjual wadah “dapat digunakan kembali” yang kemudian hanya digunakan sekali, sebelum menumpuk di rumah atau dibuang.

    João Jalé, Manajer Bisnis di Tomra Reuse, penyedia RaaS yang berbasis di Norwegia, menekankan pentingnya mekanisme tersebut

    “Sebuah cangkir mungkin disetujui sebagai dapat digunakan kembali, tetapi tanpa sistem, kami menganggapnya sebagai sekali pakai,” katanya kepada Earth.Org.

     

  • Muuse dan Kisah Sukses Penerapan Sistem Guna Ulang dalam Bisnis Restoran dan Kafe

    Muuse dan Kisah Sukses Penerapan Sistem Guna Ulang dalam Bisnis Restoran dan Kafe

    7cloud.asia – Jan Lee dalam tulisannya di Earth.org, menyebut semakin banyak komunitas global yang menggeser pandangan mereka dari mendaur ulang sampah.

    Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas internasionaldan mulai mengeksplorasi platform untuk mendorong sistem guna ulang dan meluaskan kampanye barang-barang yang dapat digunakan kembali.

    Peraturan dan biaya adalah pendorong utama pergeseran dari daur ulang ke sistem guna ulang ini.

    “Plastik kompos yang dapat terurai secara hayati selalu lebih mahal, jadi penggunaan kembali dapat menghemat biaya,” kata Jonathan Tostevin dari Muuse kepada Earth.Org.

    Muuse adalah salah satu generasi baru bisnis yang menyiapkan sistem penggunaan kembali siap pakai untuk bisnis dan komunitas yang ingin beralih dari plastik sekali pakai.

    Baca: Restoran dan kafe bergeser ke sistem guna ulang

    Sistem “Penggunaan Kembali sebagai Layanan” (Reuse as a Service/RaaS) yang dimiliki Muuse mencakup penyediaan cangkir dan mangkuk tahan lama, pengumpulan dan sanitasi, serta pengembalian.

    Semua peminjaman ini oleh Muuse dilacak melalui kode QR unik yang dirancang agar dapat dipindai dengan cepat oleh perangkat digital, seperti smartphone, untuk mengakses informasi secara instan.

    Untuk memastikan barang-barang tersebut benar-benar digunakan kembali, para ahli telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang akan membantu pengecer dan pelanggan mendapatkan hasil maksimal.

    Salah satunya adalah memilih lokasi yang tepat. “Fokus kami lebih pada lokasi yang terkendali, karena di situlah sistem ini bekerja paling baik,” kata Tostevin.

    Salah satu peluang utama untuk sistem yang dapat digunakan kembali adalah di acara-acara berskala besar.

    Tahun lalu, Muuse menerapkan sistem cangkir dan peralatan makan yang dapat digunakan kembali di konser Coldplay di stadion Rogers yang besar di Toronto, Kanada.

    Sistem ini melayani 50.000 orang selama empat malam – sebagian besar dari mereka mungkin akan menggunakan dan membuang setidaknya satu barang sekali pakai.

    Baca: Daur ulang tak akan mampu imbangi ledakan polusi plastik

    Distrik restoran dan bar yang terkonsentrasi, terutama yang memiliki satu pengembang properti, juga merupakan lokasi yang baik untuk sistem yang dapat digunakan kembali.

    Misalnya, platform Muuse sekarang telah diterapkan di area wisata Sentosa di Singapura, di mana stasiun pengembalian pintar mengambil kembali barang-barang tersebut, dan di beberapa pengembangan Swire Property di Hong Kong.

    Fokus pada lokasi-lokasi tersebut juga dapat mengatasi tantangan dalam mengelola sistem guna ulang yang lebih baik.

    “Ketika kami memulai, kami membuat aplikasi, dan konsumen harus mengunduh aplikasi tersebut di tempat penjualan,” kata Tostevin.

    Hal itu memakan waktu yang tidak dimiliki oleh konsumen maupun staf layanan. Kami beralih ke ekosistem, sehingga Anda dapat [mengembalikan barang] di luar kafe atau restoran, atau di ruang sekolah.

    “Ruang daur ulang menyadari bahwa masih terlalu banyak hambatan dengan aplikasi. Idealnya, hal itu dapat dilakukan tanpa aplikasi sama sekali, di lingkungan terbuka,” tandas Tostevin.

  • Penerapan Prinsip Guna Ulang di Restoran dan Kafe Cukup Menjanjikan, Namun Tetap Hadapi Tantangan

    Penerapan Prinsip Guna Ulang di Restoran dan Kafe Cukup Menjanjikan, Namun Tetap Hadapi Tantangan

    7cloud.asia – Untuk mengurangi sampah plastik, salah satu tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memanfaatkan potensi guna ulang atau prinsip reuse di sektor perhotelah, bar dan kafe.

    Jan Lee, dalam tulisannya di Earth.org, sejumlah negara mulai mendorong restoran, bar, dan kafe di wilayahnya untuk beralih dari gelas dan piring sekali pakai yang murah ke barang-barang yang tahan lama dan dapat digunakan kembali.

    Dengan diluncurkannya peraturan baru tentang sampah plastik pada tahun 2024 di sejumlah kota di Eropa, Hong Kong, dan Toronto, Kanada, sejumlah pemerintah kota telah meluangkan energinya untuk mencari solusi bagi plastik sekali pakai seperti gelas dan mangkuk untuk dibawa pulang.

    Jan Lee menyenut, gerakan menuju guna ulang ini mungkin berubah dan akan semakin banyak yang melakukannya di masa yang akan datang.

    PR3, sebuah organisasi yang mempromosikan sistem penggunaan kembali dengan mengembangkan standar untuk mendukung ekonomi penggunaan kembali yang berkembang, telah mengembangkan standar untuk pencucian, inspeksi, dan pengemasan wadah untuk distribusi.

    Di bawah sistem CopoMais, gelas dikumpulkan secara teratur dan dibawa ke lokasi di luar tempat untuk dicuci, dan kemudian didistribusikan kembali ke bar.

    Pertanyaan terpenting adalah apakah sistem tersebut mencapai tujuannya untuk menghindari limbah plastik.

    Sementara Muuse, salah satu generasi baru bisnis yang menciptakan platform untuk meninggalkan plastik sekali pakai mengklaim bahwa platformnya telah mengalihkan 1,5 juta barang sekali pakai dari tempat pembuangan sampah.

    Satu barang yang dapat digunakan kembali sama dengan satu barang sekali pakai yang dihindari), dan telah menghindari 175.000 kilogram emisi gas rumah kaca dalam prosesnya.

    Bahkan tanpa mempertimbangkan tujuan lingkungan mereka, sistem guna ulang itu dapat memiliki manfaat yang tidak terduga untuk konsumennya.

    Dilansir Earth.org, seorang pemilik bar di kawasan wisata Bairro Alto, Lisabon mengungkapkan manfaat yang dirasakannya dengan gerakan ke guna ulang ini.

    Biasanya dia harus membersihkan radius lima meter di sekitar pintu saya setiap hari,

    Tetapi setelah gerakan guna ulang diterapkan di kawasan itu, dia mengatakan dengan adanya gelas yang dapat digunakan kembali yang dapat dikembalikan untuk mendapatkan deposit, orang akan melakukannya untuk dia.

    “Dan dengan itu, saya menghemat uang dan plastik. Dari perspektif ekonomi, ini sangat bagus,” kata Pinto,

    Selain itu, bagi pemerintah kota yang diwajibkan untuk melaporkan tentang sampah dan penggunaan gelas, sistem seperti CopoMais dapat menyediakan data yang dibutuhkan oleh tempat makan.

    Namun demikian, masih perlu dilihat bagaimana proyek-proyek ini akan berkembang.

    “Untuk menerapkan sistem baru, untuk mengubah perilaku, itu tidak mudah. ​​Kami masih belajar,” kata João Jalé, Manajer Bisnis di Tomra Reuse, penyedia RaaS yang berbasis di Norwegia.

  • Perang di Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik, Saatnya Terapkan Sistem Guna Ulang

    Perang di Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik, Saatnya Terapkan Sistem Guna Ulang

    7cloud.asia – Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, tak hanya mengakibatkan lonjakan harga minyak tetapi juga memicu kenaikan harga plastik.

    Pedagang melaporkan harga kemasan plastik sekali pakai, di antaranya plastik kresek dan gelas plastik, naik hingga Rp8.000 per bungkus. Kenaikan yang dipicu oleh terganggunya rantai pasok bahan baku plastik ini tercatat sudah mulai dirasakan sejak sebelum periode Lebaran.

    Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar menilai bahwa krisis ini bukanlah hal yang mengejutkan.

    Menurutnya, gangguan terhadap rantai pasok plastik dan industri petrokimia adalah konsekuensi dari pembangunan ekonomi berorientasi bahan bakar fosil yang sudah lama diprediksi.

    Para pelaku industri dan pemimpin dunia sudah sama-sama mengetahui bahwa ketergantungan pada minyak bumi dan plastik sekali pakai sebagai turunannya, adalah bom waktu yang dapat menghancurkan kita semua.

    ”Kini, risiko itu menjadi nyata ketika konflik global langsung memukul rantai pasok plastik,” tegasnya.

    Baca: Krisis energi akibat perang harus jadi momentum transisi ke energi bersih

    Krisis plastik dapat merugikan masyarakat karena berpotensi mendorong harga makanan, minuman, dan kebutuhan harian lain yang bergantung pada kemasan plastik.

    Padahal, permintaan atas sistem guna ulang produk-produk rumah tangga sudah banyak disuarakan oleh konsumen selama ini.

    Survei Greenpeace Indonesia pada tahun 2021 menunjukkan bahwa hampir 70 persen responden telah bersedia beralih ke produk dengan sistem isi ulang (refill) dan guna ulang (reuse).

    Sayangnya, keengganan industri dan pemerintah untuk berinvestasi pada solusi hijau memaksa konsumen terjebak dalam krisis plastik global yang terjadi saat ini.

    Masyarakat, yang seharusnya terbebas dari beban rantai pasok industri nan rapuh, mesti ikut menanggung kerugian akibat ketergantungan terhadap plastik yang dirawat oleh industri dan pemerintah.

    Baca: Perang di Timur Tengah memicu kenaikan harga pupuk, teknologi Biointensif ditawarkan jadi alternatif

    Menurut Ibar, industri dan pemerintah tidak boleh puas dengan sekadar memberikan peringatan kenaikan harga pada konsumen.

    “Ini adalah saatnya untuk mengambil langkah nyata dengan berinvestasi ke alternatif-alternatif terbarukan,“ tandasnya.

    Dia menegaskan, kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk mengimplementasikan pelarangan dan pembatasan kemasan plastik sekali pakai secara penuh.

    Pemerintah sudah memiliki modal Permen LHK nomor 75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen untuk melakukan pelarangan, khususnya kemasan saset yang sangat sulit untuk didaur ulang, dan mendorong tanggung jawab penuh produsen atas kemasannya.

    Selain itu, investasi ke sistem guna ulang juga perlu didorong. Keberadaan infrastruktur sistem guna ulang domestik tidak hanya dapat menyelesaikan masalah kelebihan muatan sampah.

    Baca: Serangan AS-Israel ke Iran memicu bencana lingkungan

    Menurut Ibar infrastruktur guna ulang juga dapat membuka lapangan kerja, menjaga stabilitas rantai pasok, dan membangun kemandirian dari disrupsi komoditas global.

    Krisis ini menunjukkan rapuhnya ketahanan ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada bahan bakar fosil dan industri turunannya. Saat para elit menciptakan perang, masyarakat sipil lah yang dipaksa menanggung bebannya.

    Kita bisa melihat bagaimana ketergantungan terhadap bahan bakar fosil telah menciptakan konflik berkepanjangan di berbagai belahan bumi dalam beberapa dekade terakhir.

    Indonesia sendiri perlu melepaskan diri dari ketergantungan bahan bakar fosil, karena industri ekstraktif dan turunannya sudah terbukti tidak relevan untuk menopang ekonomi negara yang berkelanjutan.

    Momentum ini harus menjadi titik balik untuk kurangi plastik sekali pakai, dorong sistem guna ulang, dan percepat transisi untuk keluar dari ketergantungan bahan bakar fosil.

    “Jika tidak sekarang, kita akan terus terkunci pada jebakan bahan bakar fosil, serta sulit bertransisi ke pilihan alternatif dan terbarukan,“ pungkasnya.

  • JEFF 2026 Perkenalkan Protokol Guna Ulang: Pengunjung Diajak Kurangi Kemasan Sekali Pakai

    JEFF 2026 Perkenalkan Protokol Guna Ulang: Pengunjung Diajak Kurangi Kemasan Sekali Pakai

    7cloud.asia – Jakarta Eco Future Festival atau JEFF 2026 yang digelar pada 3–4 Juli di Balai Kota DKI Jakarta menerapkan Protokol Guna Ulang.

    Bekerja sama dengan Dietplastik Indonesia, penerapan protokol guna ulang ini dimaksudkan untuk menekan penggunaan kemasan plastik sekali pakai.

    Melalui sistem ini, pedagang makanan dan minuman menggunakan wadah guna ulang yang dapat dipakai berulang kali sehingga timbulan sampah selama acara dapat ditekan secara signifikan.

    Untuk mendukung penerapan sistem guna ulang tersebut, panitia menyediakan titik pengembalian wadah (drop point) di area festival.

    Wadah yang telah digunakan pengunjung akan dikumpulkan, dibersihkan di fasilitas pencucian khusus oleh tim teknis, kemudian dikembalikan kepada tenant untuk digunakan kembali.

    Baca: Yuk, Tinggalkan Plastik Sekali Pakai dan Beralih ke Sistem Guna Ulang

    Mengusung konsep Less Waste Event atau kegiatan minim sampah, JEFF 2026 dirancang untuk mendorong perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan, mulai dari pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan sampah, hingga penerapan sistem guna ulang selama festival berlangsung.

    Konsep tersebut mengacu pada pedoman penyelenggaraan kegiatan minim sampah yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

    Pedoman ini menjadi acuan untuk memastikan setiap tahapan penyelenggaraan JEFF 2026 berjalan sesuai prinsip ramah lingkungan dan dapat menjadi contoh bagi kegiatan publik lainnya.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, mengatakan penerapan Less Waste Event merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menghadirkan acara publik yang tidak hanya meriah dan edukatif, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan.

    Dudi berharap JEFF 2026 dapat menjadi contoh praktik baik bagi penyelenggaraan berbagai kegiatan di Jakarta.

    Baca: Sistem Guna Ulang Jadi Solusi Mengatasi Krisis Sampah Plastik

    Menurutnya, semakin banyak acara yang menerapkan prinsip minim sampah dan sistem guna ulang, semakin kuat pula budaya baru yang tumbuh di tengah masyarakat.

    “Budaya pilah sampah dan guna ulang perlu kita bangun bersama. Langkahnya sederhana, tetapi dampaknya besar jika dilakukan secara konsisten,” ujar Dudi di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

    Mengusung tema “Aksi Nyata, Dampak Terasa”, JEFF 2026 menghadirkan berbagai agenda, mulai dari peluncuran Early Warning System (EWS) pada situs Udara Jakarta hingga penyerahan Piagam Rekor MURI untuk pembuatan eco enzyme secara serentak.

    Tidak hanya menjadi festival lingkungan terbesar tahun ini, JEFF 2026 juga menjadi ruang pembelajaran bersama tentang bagaimana sebuah acara publik dapat diselenggarakan secara lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

    Dia mengatakan, upaya pengurangan sampah juga dapat dilakukan berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang, termasuk festival dan acara publik.

    “Melalui JEFF 2026, kami ingin menunjukkan bahwa acara besar pun bisa diselenggarakan dengan lebih bijak, tertib, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujarnya

    Baca: Baru 21 Produsen yang Peta Jalan Pengurangan Sampahnya Sudah Disetujui

    Menurut Dudi, JEFF 2026 menjadi momentum untuk menunjukkan pengelolaan sampah yang baik bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi semua pihak.

    Pengunjung, tenant, komunitas, dunia usaha, hingga petugas di lapangan memiliki peran penting dalam mewujudkan festival yang bersih, nyaman, dan minim sampah.

    Ada juga peresmian reaktivasi Waste Station atau Bank Sampah Balai Kota, forum diskusi lingkungan, pameran, career talk, pemutaran film pendek, hingga lokakarya kreatif bertema lingkungan.

    Acara ini juga menampilkan berbagai kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pameran “Bukan Tentang Sampah”, talk show “Merawat Jakarta, Mulai dari Langkah Kita”, serta pemutaran film pendek Harun Namanya.

    Pengunjung juga dapat mengikuti lokakarya make-up dan pengelolaan kemasan kosong bekas skincare bersama Paragon, pembuatan aksesori dari limbah plastik bersama Rue.

    Ada juga pelatihan membuat pembalut kain guna ulang bersama Daridiri, serta kegiatan anak bertajuk “Menggambar Future Jakarta Bersama Bobo”.

    Baca: Penerapan Prinsip Guna Ulang di Restoran dan Kafe Cukup Menjanjikan