Tag: listrik

  • Berbagai Permasalahan dalam Transisi Energi Listrik yang Lebih Ramah Lingkungan

    Berbagai Permasalahan dalam Transisi Energi Listrik yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Istilah transisi energi ke energi yang ramah lingkungan kini makin sering disebut.

    Istilah transisi energi begitu populer di media massa, seminar, diskusi, dan perbincangan masyarakat. Transisi energi adalah usaha kita untuk beralih dari pemakaian energi fosil ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

    Sebagian besar dari kita mungkin bertanya: apa makna transisi energi ke energi yang lebih ramah lingkungan dan bagaimana melakukannya.

    Dan, tentu saja, apa untungnya transisi energi ke energi yang lebih ramah lingkungan, jika semua pihak benar-benar melakukannya.

    Tulisan Ahmad Rahma Wardhana, Peneliti dan Mahasiswa Doktoral, Universitas Gadjah Mada yang telah terbit di The Conversation ini akan menjelaskan hal terkait transisi pembangkit listrik ke energi yang lebih ramah lingkungan.

    Listrik adalah sebuah produk yang paling dicari semua orang. Lampu rumah, rice cooker dan alat dapur, lemari es, televisi, radio, AC, telepon genggam, laptop dan komputer, lift kantor, dan beberapa jenis kereta membutuhkan listrik.

    Baca: Upaya PLN wujudkan dekarbonisasi menuju net zero 2060

    Begitu pula dengan kegiatan kita sehari-hari: pendidikan, kesehatan, hiburan, usaha kecil, industri besar, semuanya menggunakan energi listrik

    Upaya transisi energi di sektor listrik yang lebih ramah lingkungan berarti bagaimana caranya mengurangi atau bahkan menghapus 54,94 persen pembangkit batu bara.

    Ada beberapa solusi yang ditawarkan, misalnya dengan co-firing. Maksudnya mengganti sebagian batu bara yang dibakar di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan pelet kayu atau bahan berbasis makhluk hidup lainnya (disebut biomassa).

    Tantangan dari solusi ini serupa dengan sawit: ada potensi penggunaan lahan yang merusak keragaman hutan, ataupun persaingan lahan antara urusan pangan dengan urusan energi.

    Sementara solusi energi terbarukan seperti air, angin, dan surya, juga menghadapi banyak persoalan.

    Energi air dinilai tidak ramah secara ekologis karena, ketika skalanya besar, pembangunan bendungannya bakal menenggelamkan beberapa ekosistem.

    Baca: Rekomendasi Koalisi Masyarakat Sipil untuk Transisi Energi Berkeadilan

    Angin dan surya diterpa persoalan pasokan yang tidak konstan (disebut intermitensi). Angin tak selalu berhembus 24 jam. Durasi sinar matahari di Indonesia hanya efektif 4-5 jam setiap harinya.

    Bahkan energi surya juga diancam oleh bayang-bayang ketergantungan impor. Pasalnya, kita tak punya industri manufaktur yang memproduksi komponen utamanya.

    Ketika industri manufaktur mencoba masuk (industri nikel dan baterai), kita tahu persis bagaimana efek lingkungannya tak diawasi dengan baik oleh otoritas Indonesia.

    Optimisme transisi energi.
    Banyak orang yang bekerja di sektor energi selama ini merasa pusing ketika mengelola kerumitan tersebut. Itu baru masalah teknis.

    Dari perspektif kebijakan pemerintah, termasuk sikap dan perilaku perusahaan energi pelat merah, daftar masalahnya tak kalah panjang.

    Namun, kita harus optimistis bahwa transisi energi itu mungkin dilakukan.

    Tantangan-tantangan tersebut seharusnya mendorong kita semua (terutama pelaku industri bahan bakar fosil!) untuk mulai peduli pada urusan transisi energi.

    Kita harus mencari solusi terbaik yang seimbang antara perspektif teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Itu memang tidak mudah, tapi mungkin.

  • Menelaah Proyek Listrik Tenaga Nuklir Indonesia: Belajar dari Eropa

    Menelaah Proyek Listrik Tenaga Nuklir Indonesia: Belajar dari Eropa

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia resmi memasukkan energi nuklir ke dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024, yang merupakan dokumen kebijakan jangka panjang sektor kelistrikan.

    Dalam rencana ini, pemerintah menargetkan listrik dari energi nuklir mencapai hampir 8 persen dari total kapasitas pembangkit listrik nasional pada 2060.

    Nuklir rencananya akan menjadi pemasok listrik dasar (baseload) untuk memastikan kesetabilan di tengah upaya transisi energi dan pencapaian target nol emisi.

    Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia membutuhkan pasokan energi yang stabil dan terjangkau untuk mendukung pertumbuhan industri. Tapi pertanyaannya: apakah energi nuklir adalah pilihan yang tepat?

    Belajar dari krisis energi di Eropa dan Jepang. Tragedi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl 1986 dan Fukushima 2011 menunjukkan dampak fatal dari kegagalan teknis, bencana alam, atau kesalahan manusia dalam mengelola reaktor nuklir.

    Selain risiko keamanan yang tinggi, kritikus juga sering menyoroti modal awal jumbo untuk membangun reaktor nuklir yang mencapai 10 miliar dolar atau Rp163,9 triliun per gigawatt (GW), dengan masa pembangunan sekitar 8-10 tahun.

    Namun, krisis energi di Eropa akibat perang Ukraina membuka mata banyak negara soal pentingnya pasokan energi yang stabil. Untuk itu, setiap negara harus berpikir ulang dalam menyusun strategi untuk beralih ke energi yang lebih bersih.

    Baca: Kelompok penyintas bom atom Jepang raih Nobel Perdamaian 2024

    Prancis, misalnya, memutuskan tetap mempertahankan reaktor nuklirnya, yang kini menyuplai hampir 70 persen dari total listrik negara.

    Sementara Jerman kukuh memilih menghapus energi nuklir sepenuhnya pada tahun 2023 dan beralih pada energi terbarukan variabel (VRE) seperti tenaga angin dan surya. Sayangnya, produksi listrik dari dua energi ini kurang stabil lantaran bergantung pada kondisi cuaca.

    Selama periode “Dunkelflaute”—saat intensitas matahari dan angin sangat rendah—produksi listrik di Jerman turun drastis. Untuk mengatasi kekurangan pasokan, Jerman akhirnya bergantung pada impor listrik dari negara tetangga seperti Prancis dan Swedia, yang mayoritas menggunakan tenaga nuklir.

    Ketergantungan ini menyebabkan harga listrik di Jerman melonjak drastis, hingga mencapai EUR936/MWh atau Rp16,6 juta per MWh selama dunkelflaute pada Desember tahun lalu. Angka ini tertinggi dalam 18 tahun terakhir.

    Harga listrik di Eropa selama periode dunkelflaute tahun 2024.
    Dari Jerman, banyak negara Eropa akhirnya belajar bahwa transisi ke energi terbarukan harus mempertimbangkan keseimbangan antara energi baseload dan VRE.

    Baca: Fasilitas Senjata Nuklir Manhattan Project diubah jadi pembangkit listrik tenaga surya

    Menurut sejumlah studi, komposisi bauran energi idealnya 60–70 persen energi baseload dan 30–40 persen VRE.

    Dalam pidatonya di pertemuan G20 di Brasil tahun lalu, Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berkomitmen mencapai target nol emisi pada 2050 dengan memensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan menggantinya dengan energi baru dan terbarukan (EBT).

    Indonesia memiliki potensi EBT yang besar mencapai 3.686 GW, tetapi 93,6 persen di antaranya adalah energi variabel seperti tenaga angin dan surya.

    Untuk sumber listrik baseload, Indonesia memiliki panas bumi (geotermal), hidro (air), dan bioenergi dengan potensi kapasitas terpasang masing-masing sebesar 24 GW, 95 GW, dan 57 GW.

    Namun, tidak semua pembangkit baseload dapat beroperasi penuh sepanjang waktu. Pembangkit listrik geotermal misalnya hanya bisa menghasilkan listrik maksimum 74,3 persen dari kapasitasnya, sedangkan air 41,5 persen, dan bioenergi 67,1 persen.

    Faktor kapasitas untuk berbagai macam pembangkit tenaga listrik.
    Pemanfaatan ketiga sumber energi ini juga masih sangat rendah, baru mencapai sekitar 7 persen dari total potensinya.

    Seandainya seluruh potensi energi terbarukan dimanfaatkan secara maksimal pada 2050, total energi yang dihasilkan hanya sekitar 837 terawatt jam (TWh). Angka ini masih jauh di bawah proyeksi kebutuhan listrik pada tahun tersebut, yang mencapai 2.000 TWh.

    Energi surya dan angin mungkin bisa menjadi sumber energi sepanjang waktu apabila didukung oleh teknologi penyimpanan energi skala besar.

    Namun, harga baterai penyimpanan yang berskala besar amat mahal dan memiliki risiko keamanan, seperti insiden terbakarnya fasilitas penyimpanan baterai lithium terbesar di dunia, Moss Landing di AS pada Januari lalu.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Agus Hasan (Professor, Norwegian University of Science and Technology)

  • Untung Rugi Pengembangan Energi Nuklir bagi Indonesia

    Untung Rugi Pengembangan Energi Nuklir bagi Indonesia

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia resmi memasukkan energi nuklir ke dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024, yang merupakan dokumen kebijakan jangka panjang sektor kelistrikan.

    Dalam pidatonya di pertemuan G20 di Brasil tahun lalu, Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berkomitmen mencapai target nol emisi pada 2050 dengan memensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan menggantinya dengan energi baru dan terbarukan (EBT).

    Kelayakan ekonomis energi nuklir
    Secara ekonomi, energi nuklir memiliki biaya awal yang tinggi, tapi bersaing dengan energi terbarukan.

    Perbandingan kelayakan ekonomi nuklir dan energi terbarukan bisa diukur dengan metode levelized full system cost of electricity (LFSCOE).

    Berbeda dengan metode konvensional levelized cost of electricity (LCOE) yang hanya menghitung biaya rata-rata produksi listrik dari suatu pembangkit listrik selama masa operasi, LFSCOE menghitung seluruh biaya tambahan yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan sistem listrik.

    Baca: Fasilitas Senjata Nuklir Manhattan Project diubah jadi pembangkit listrik tenaga surya

    Hal ini termasuk penyimpanan energi, infrastruktur grid tambahan, serta cadangan daya yang diperlukan untuk menyokong energi terbarukan variabel seperti surya dan angin.

    Jika memakai hitungan ini, biaya produksi listrik tenaga nuklir di Jerman adalah 106 dolar/MWh atau Rp1,7 juta/MWh.

    Angka ini jauh lebih murah dari tenaga surya yang mencapai 1.548 dolar/MWh atau setara Rp25,3 juta/MWh dan tenaga angin 504 dolar/MWh atau Rp8,2 juta/MWh.

    Indonesia sedang menghadapi dilema energi yang tidak sederhana: beralih ke energi bersih sambil menjaga kestabilan pasokan.

    Energi nuklir, meski berisiko tinggi, menawarkan kapasitas dan kestabilan yang tinggi. Opsi energi ini dipertimbangkan berbagai negara, seperti Prancis dan Swedia.

    Baca: Lapangan Kerja yang tercipta dari pengembangan energi terbarukan

    Lantas apa alternatif terbaik bagi Indonesia?
    Pemerintah berencana membangun reaktor nuklir di Pulau Kelasa, Provinsi Bangka Belitung dengan menggandeng perusahaan AS, ThorCon.

    Ketimbang langsung membangun pembangkit nuklir skala besar yang risikonya tinggi, Indonesia mungkin bisa mempertimbangkan pendekatan bertahap dengan mengembangkan Small Modular Reactors (SMR) yang lebih fleksibel dan lebih aman.

    Indonesia juga perlu menimbang cadangan mineral nuklir yang terbatas, dengan 90.000 ton uranium dan 150.000 ton thorium yang hanya cukup untuk beberapa tahun, sehingga diperlukan kemitraan strategis dengan negara-negara kaya sumber daya seperti Kazakhstan, Kanada, Australia, dan Namibia.

    Selain itu, standar keamanan super ketat mutlak diperlukan. Transisi energi tidak bisa ditawar. Namun setiap opsi memiliki tantangan. Jika nuklir menjadi salah satu pilihan, maka semua untung ruginya harus ditimbang dengan sangat cermat.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Agus Hasan (Professor, Norwegian University of Science and Technology)

  • Greenpeace Kritisi RUPTL 2025-2034 Karena Masih Bergantung pada Bahan Bakar Fosil

    Greenpeace Kritisi RUPTL 2025-2034 Karena Masih Bergantung pada Bahan Bakar Fosil

    7cloud.asia – Organisasi lingkungan Greenpeace mengritisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL 2025-2034 yang disosialisasikan Senin (26/5/2025) karena masih menunjukkan keberpihakan Pemerintah dan PT PLN terhadap bahan bakar fosil.

    Dalam RUPTL 2025-2034 tersebut, masih terdapat rencana penambahan pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU Batu Bara) sebesar 6.3 Gigawatt dan pembangkit listrik tenaga gas fosil (PLTG) sebesar 10.3 Gigawatt.

    “Penambahan pembangkit listrik baru berbahan bakar fosil akan semakin mengunci pada kondisi coal lock-in dan fossil gas lock-in, baik secara infrastruktur maupun emisi gas rumah kaca (GRK) selama 25 hingga 30 tahun ke depan, bahkan lebih,” papar Adila Isfandiari, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia dikutip dari keterangan tertulisnya.

    Dukungan Pemerintah terhadap penambahan PLTU Batu Bara juga dapat dilihat dari Permen ESDM 10 tahun 2025 tentang Peta Jalan (Road Map) Transisi Energi Sektor Ketenagalistrikan.

    Padahal pemerintah tengah kesulitan dalam menjalankan rencana pensiun dini PLTU batu bara, di mana hingga saat ini baru rencana pensiun dini PLTU Cirebon 1 yang disepakati.

    Baca: Pensiun dini 13 PLTU Batubara di Indonesia

    Di sisi lain, masih banyak PLTU batu bara lainnya yang juga harus dipensiunkan untuk mencapai target iklim transisi energi.

    Berdasarkan data historis, di saat bauran energi terbarukan hanya mencapai 15 persen pada tahun 2024, laju penambahan pembangkit energi terbarukan tercatat hanya mencapai 3.2 Gigawatt dari 2018 hingga 2023.

    Jumlah ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan penambahan pembangkit listrik energi fosil yang mencapai 18.4 Gigawatt pada periode yang sama, atau hampir enam kali lipat dari pertambahan energi terbarukan.

    “Selain itu, pada draft RPP KEN terbaru, penggunaan batu bara dan gas fosil masih diperbolehkan hingga tahun 2060, di mana sangat bertentangan dengan kesepakatan iklim dan tren global,” imbuh Adila.

    Rencana penggunaan gas fosil secara masif juga disampaikan oleh pihak PLN dalam Accelerated Renewable Energy Development (ARED), di mana PLN menargetkan pembangunan 22 GW pembangkit listrik gas baru hingga tahun 2040 mendatang.

    Baca: Target energi bersih Indonesia belum selaras dengan Perjanjian Paris

    Dalam kajian yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia dan CELIOS, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga gas fosil tersebut berpotensi meningkatkan emisi karbon dalam jumlah besar, yaitu 49,02 juta ton per tahun.

    Angka ini pun belum memperhitungkan jumlah kebocoran gas metana yang terjadi di sepanjang rantai pasok dari gas fosil, dimulai dari proses ekstraksi, pengiriman/transportasi, hingga penggunaan.

    Adapun gas fosil sendiri terdiri dari gas metana sebagai komposisi utama dan gas metana tersebut merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki kekuatan memerangkap panas matahari di bumi 82.5 kali lebih kuat daripada emisi karbon, sehingga akan menyebabkan pemanasan global dan krisis iklim semakin parah.

    Selain itu, penggunaan gas fosil juga menimbulkan kerugian ekonomi bagi pemerintah dan masyarakat, mencakup beban subsidi energi yang membengkak, dimana Indonesia diproyeksikan akan menjadi net importer gas fosil pada tahun 2040, hingga dampak kesehatan dan lingkungan yang meningkat di sekitar pembangkit.

    Riset Trend Asia juga menunjukkan bahwa pengembangan gas fosil di Indonesia akan semakin menjauhkan Indonesia dari pencapaian target iklim, juga membutuhkan pendanaan besar mencapai 32,42 miliar dolar yang akan menjadi beban keuangan negara di masa depan.

    Baca: PLTU gas bumi dinilai solusi palsu transisi energi bersih

  • Greenpeace: Penggunaan Gas untuk Pembangkit Listrik Jauhkan Indonesia dari Target Emisi Nol

    Greenpeace: Penggunaan Gas untuk Pembangkit Listrik Jauhkan Indonesia dari Target Emisi Nol

    7cloud.asia – Perusahaan Listrik Negara atau PLN dalam Accelerated Renewable Energy Development (ARED) yang disosialisasikan baru-baru ini mengungkap rencana penggunaan gas fosil secara masif hingga tahun 2040.

    Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Adila Isfandiari dalam keterangan tertulisnya yang dirilis di laman resmi Greenpeace Indonesia mengatakan, PLN menargetkan pembangunan 22 gigawatt (GW) pembangkit listrik gas baru hingga tahun 2040 mendatang.

    Dalam kajian yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia dan CELIOS, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga gas fosil tersebut berpotensi meningkatkan emisi karbon dalam jumlah besar, yaitu 49,02 juta ton per tahun.

    Perkiraan emisi karbon ini belum memperhitungkan jumlah kebocoran gas metana yang terjadi di sepanjang rantai pasok dari gas fosil, dimulai dari proses ekstraksi, pengiriman/transportasi, hingga penggunaan.

    Adila menjelaskan, gas fosil terdiri dari gas metana sebagai komposisi utama dan gas metana tersebut merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki kekuatan memerangkap panas matahari di bumi 82.5 kali lebih kuat daripada emisi karbon.

    Kondisi ini, ujarnya, akan menyebabkan pemanasan global dan krisis iklim semakin parah.

    Baca: RUPTL 2025-2034 masih bergantung pada bahan bakar fosil

    Selain itu, penggunaan gas fosil juga menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi pemerintah dan masyarakat.

    Kerugian ini mencakup beban subsidi energi yang membengkak, di mana Indonesia diproyeksikan akan menjadi net importer gas fosil pada tahun 2040. Selain itu dampak kesehatan dan lingkungan yang meningkat di sekitar pembangkit.

    Riset Trend Asia juga menunjukkan bahwa pengembangan gas fosil di Indonesia akan semakin menjauhkan Indonesia dari pencapaian target iklim, juga membutuhkan pendanaan besar mencapai 32,42 miliar dolar yang akan menjadi beban keuangan negara di masa depan.

    Di sisi lain, sektor kelistrikan Indonesia juga memiliki pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk menambah bauran energi terbarukan. Dari kesepakatan Just Energy Transition Partnership (JET-P), Indonesia memiliki target mencapai 44 persen energi terbarukan pada tahun 2030.

    Lebih dari itu, Presiden Prabowo pun telah menyampaikan komitmennya pada dunia internasional dalam perhelatan G20 tahun lalu, bahwa Indonesia berkomitmen untuk membangun 75 Gigawatt energi terbarukan dalam 15 tahun ke depan.

    Baca: Pembangkit listrik tenaga gas fosil dinilai solusi palsu transisi energi

    Indonesia juga berkomitmen untuk mencapai net zero emission atau emisi nol pada tahun 2050, atau 10 tahun lebih cepat daripada komitmen sebelumnya.

    Untuk mencapai komitmen tersebut, pemerintah harus berhenti memberi arah kebijakan yang jelas, yaitu harus meninggalkan bahan bakar fosil sepenuhnya serta fokus membangun energi terbarukan.

    Prinsip ini harus tercermin dalam kebijakan nasional dan sektoral, termasuk RUPTL baru yang akan menjadi acuan kelistrikan di Indonesia dalam 10 tahun ke depan.

    Adila menegaskan, penghentian dan pembatalan pembangunan pembangkit listrik energi fosil, baik batu bara maupun gas fosil, harus dilakukan untuk menghindari kondisi coal lock-in dan fossil gas lock-in akibat sudah terbangunnya infrastruktur pembangkit dan pendukungnya.

    ”Pemerintah seharusnya memberikan ruang bagi energi terbarukan, seperti surya dan angin, untuk tumbuh dan berkembang di Indonesia, sejalan dengan komitmen yang telah disampaikan oleh Presiden Prabowo,” tutup Adila.

    Baca: Target energi bersih Indonesia belum selaras dengan Perjanjian Paris

     

  • CELIOS Kritisi Rencana ACE Memperpanjang Usia PLTU Batu Bara

    CELIOS Kritisi Rencana ACE Memperpanjang Usia PLTU Batu Bara

    7cloud.asia – ASEAN Centre for Energy (ACE), baru-baru ini merilis laporan yang menekankan agar negara ASEAN tidak perlu buru-buru mengakhiri pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk memerangi perubahan iklim.

    Mereka berencana memertahankan PLTU dalam porsi yang signifikan dalam rencana transisi energi ASEAN. Laporan itu juga menyarankan pemberian tambahan waktu transisi energi kepada negara ASEAN untuk meningkatkan kapasitas jaringan listrik.

    Harapannya, transisi energi bisa semakin mulus karena ada jaringan bisa mengakomodasi pasokan setrum dari sumber energi terbarukan.

    Untuk mengurangi dampak negatif batu bara, ACE mendesak negara-negara ASEAN mengganti teknologi PLTU kuno dengan teknologi ‘efisiensi tinggi dan rendah emisi’ (high efficiency-low emission atau HELE) yang dianggap lebih ramah lingkungan.

    PLTU, menurut ACE, juga perlu memasang teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS) hingga penggunaannya (CCUS).

    Menariknya, pandangan serupa juga dipromosikan oleh World Coal Association (saat ini bernama Future Coal), pelobi internasional untuk kebijakan pendukung batu bara.

    Sekilas, pandangan ACE dan Future Coal mungkin menjanjikan. Namun, artikel kami justru membuktikan ada risiko berbahaya dalam perpanjangan operasi PLTU versi ACE.

    Risiko ini perlu dipertimbangkan secara saksama agar tidak menjadi perkara yang lebih besar di masa depan.

    Baca: PLTU Batu Bara jadi sumber polusi udara Jakarta

    Solusi semu teknologi efisien
    Secara teknis, PLTU efisien dan rendah emisi dalam bayangan ACE adalah pembangkit teknologi ultra superkritikal. Sejumlah pihak menganggap teknologi ini lebih ramah lingkungan dibandingkan teknologi pembangkit biasa karena menghasilkan energi lebih banyak, tapi dengan membakar batu bara yang lebih sedikit.

    Kendati demikian, anggapan tersebut meragukan karena teknologi ultra superkritikal justru menciptakan masalah baru. Studi kasus di Australia justru menunjukkan pembangkit listrik dengan teknologi ini lebih sering rusak dan memerlukan lebih banyak perbaikan.

    Pembangkit yang byar-pet justru berujung ke lonjakan tarif listrik di tahun 2018-2019, atau 10 tahun sejak teknologi ini beroperasi di Negeri Kangguru pada 2007.

    Kegagalan pembangkit listrik ultra superkritikal untuk menyuplai listrik secara stabil bertentangan dengan tujuan ACE untuk mencegah kelangkaan listrik dan memersiapkan transisi yang lebih lancar menuju energi bersih dan terbarukan.

    Risiko penyimpanan dan pemakaian karbon
    Teknologi lain yang diadvokasi ACE adalah penangkapan dan penyimpanan karbon: berfungsi menangkap dan menyimpan emisi karbon PLTU di dalam tanah.

    Banyak penyedia teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon yang mengklaim mereka berhasil mengurangi emisi PLTU hingga 95 persen.

    Sayangnya, performa teknologi ini tidak pernah sebaik yang digembar-gemborkan banyak kelompok.

    Laporan dari organisasi think-tank global, Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), menunjukkan tak satupun teknologi tersebut yang bisa memerangkap karbon di atas 80 persen. Bahkan, ada produk yang hanya memerangkap emisi karbon sebesar 15 persen.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan dan ekonomi global

    Risiko besar lainnya adalah kebocoran karbon yang disimpan ke dalam tanah. Kebocoran ini bukan hanya bisa memangkas keberhasilan pengurangan emisi, tetapi juga mencemari air tanah sehingga membahayakan komunitas setempat.

    Pendukung teknologi penangkapan karbon mengklaim bahwa kemungkinan kebocoran sangat kecil. Sekalipun terjadi, dampaknya tidak akan menjadi bencana.

    Namun sayangnya, klaim tersebut masih bersyarat: “apabila hasil tangkapan karbon disimpan dengan benar.”

    Masalahnya, kebocoran 1 persen setiap 10 tahun sudah cukup untuk menciptakan dampak signifikan bagi kenaikan temperatur bumi. Menjaga tingkat kebocoran karbon pada level yang aman membutuhkan pengawasan dan penegakan aturan yang ketat.

    Pengawasan penangkapan karbon, untuk mencegah kebocoran juga akan menambah pekerjaan rumah di tengah lemahnya penegakan aturan di negara berkembang, terutama Indonesia.

    Masalah lainnya terkait dengan efisiensi penangkapan karbon. Secara teknis, teknologi ini dianggap berhasil apabila mampu menangkap 90% karbon yang keluar dari cerobong asap PLTU. Artinya, masih ada 10% emisi PLTU yang terlepas ke atmosfer.

    Kemampuan tersebut di atas bisa saja ditingkatkan, tapi biaya dan energi yang kita butuhkan sangatlah besar.

    Di sisi lain, menghamburkan uang melalui penangkapan dan penyimpanan karbon yang harganya semakin mahal hanya akan memperpanjang keberadaan PLTU batubara yang merusak lingkungan.

    Baca: Pensiun dini 13 PLTU batu bara di Indonesia

    Penggunaan karbon yang disimpan (carbon utilisation) juga tak kalah kontroversial. Secara teori, karbon ini bisa dimanfaatkan untuk ekstraksi minyak sampai pengawetan makanan.

    Kendati demikian, secara praktik pemanfaatan karbon di pasaran masih sangat sedikit. Jumlahnya kurang dari 1% dari emisi CO2 PLTU batubara.

    Pengolahan CO2 menjadi bahan bakar minyak juga sangat boros karena memerlukan energi tambahan. Apalagi, ada kehilangan energi rata- sebesar 25-35% dari proses konversi.

    Riset peningkatan efisiensi konversi CO2 ke BBM memang masih berjalan. Namun, sejauh ini belum ada solusi untuk meningkatkan efisiensinya.

    Mengapa setengah hati
    ACE semestinya tidak bisa mengandalkan solusi berbasis teknologi yang belum matang dan beresiko tinggi. ACE perlu lebih mengedepankan solusi yang tidak berisiko, hemat modal, dan berdampak positif seperti energi bersih terbarukan berbasis komunitas atau pemulihan hutan secara agresif.

    Energi bersih terbarukan berbasis komunitas membuka kesempatan bagi masyarakat yang terisolasi secara geografis maupun termarginalkan secara sosial dan ekonomi untuk memanfaatkan energi secara mandiri.

    Energi terbarukan berbasis komunitas juga bisa lebih menghemat penggunaan lahan. Ini dapat meminimalkan konflik agraria dan konflik sosial yang sering terjadi di area proyek pembangkit listrik.

    Sementara itu, pemulihan hutan besar-besaran tidak memerlukan teknologi yang rumit agar bisa lebih banyak menangkap emisi karbon. Soalnya, hutan mampu menangkap 30 persen dari seluruh emisi karbon di atsmosfer, tidak terbatas bukan cuma dari cerobong PLTU.

    Penelitian terkini turut menunjukkan bahwa penghijauan tidak harus dilakukan dalam sebuah proyek skala besar dan terpusat di kawasan hutan.

    Penanaman tanaman hutan di daerah pinggiran kota atau desa, bahkan sekadar taman kota yang tersebar di jutaan titik, tetap berpeluang menurunkan emisi karbon.

    ACE juga perlu mempertimbangkan solusi penggantian langsung PLTU batubara kuno dengan pembangkit listrik energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin. Biaya pembangkit ramah lingkungan ini semakin menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

    Sebagian besar anggota ASEAN adalah negara berkembang. Mereka tidak memiliki kapasitas fiskal besar. Oleh karena itu, mereka perlu berhati-hati dalam mengadopsi teknologi—apalagi jika keandalannya meragukan dan mahal.

    Sungguh mengherankan mengapa kita harus menggantikan PLTU batubara dengan PLTU batubara lainnya. Ibaratnya, kita masih ingin mengganti ponsel monofonik ke ponsel polifonik yang sama jadulnya. Mengapa tidak sekalian beli smartphone saja?

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Lay Monica (Researcher, Center of Economic and Law Studies/CELIOS) dan Panji Kusumo
    (Environmental Economics Researcher CELIOS)

  • Puluhan Desa di Papua Barat Daya Belum Mendapat Aliran Listrik

    Puluhan Desa di Papua Barat Daya Belum Mendapat Aliran Listrik

    7cloud.asia – Anggota Komisi VI DPR, Subardi menyoroti masih minimnya pemerataan infrastruktur dasar, terutama akses listrik, di wilayah timur Indonesia.

    Di sela kunjungan kerja reses ke Kota Sorong, Papua Barat Daya, dia menegaskan pentingnya perhatian serius dari pemerintah pusat dan BUMN untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antara wilayah barat dan timur Indonesia.

    “Yang namanya Papua atau wilayah timur, sangat-sangat perlu mendapatkan perhatian. Agar tidak ada kesenjangan. Tidak ada perbedaan yang mencolok, terutama terkait infrastruktur dasar yang mereka miliki,” ujarnya dikutip Parlementaria, Jumat (25/7/2025).

    Salah satu isu utama yang disoroti adalah masih rendahnya akses listrik di sejumlah daerah. Berdasarkan data yang terhimpun, saat ini terdapat 44 desa di Papua Barat Daya yang belum teraliri listrik.

    Desa-desa tersebut umumnya berada di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau, dengan kondisi geografis yang menantang serta infrastruktur dasar yang belum memadai.

    “Di Jawa, hampir semua masyarakat sudah punya akses listrik. Tapi di sini, masih ada ribuan rumah yang belum tersambung. Masih ada 44 desa yang belum dialiri listrik, ini harus jadi perhatian serius,” ujarnya.

    Melalui program Listrik Desa (Lisdes), pemerintah bersama PLN sebenarnya telah berkomitmen untuk memperluas akses kelistrikan ke seluruh penjuru negeri, termasuk wilayah terpencil dan tertinggal.

    Program ini antara lain mencakup pembangunan jaringan distribusi listrik, pembangkit-pembangkit baru, serta penyambungan listrik secara gratis untuk rumah tangga kurang mampu.

    Namun, ia menilai, realisasi program ini di wilayah timur Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari medan yang sulit, hingga minimnya dukungan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan.

    Oleh karena itu, ia mendorong agar PLN dan pemerintah pusat lebih agresif dalam menjangkau desa-desa terpencil.

    “Kalau kebutuhan dasar seperti listrik, air, dan telekomunikasi terpenuhi, maka kesenjangan bisa berkurang. Masyarakat Papua bisa berkembang setara dengan saudara-saudara mereka di wilayah barat,” tambahnya.

    Dalam momen tersebut, Komisi VI DPR melakukan dialog dengan sejumlah mitra strategis, seperti PLN, Telkom, BRI, dan Kementerian Perdagangan, guna menggali sejauh mana dukungan dan intervensi yang telah diberikan kepada masyarakat Papua Barat Daya.

    Lebih lanjut, Subardi juga menekankan perlunya pengawasan terhadap penggunaan anggaran khusus untuk Papua yang selama ini telah disediakan oleh pemerintah pusat.

    Meskipun Papua merupakan salah satu dari tiga wilayah di Indonesia yang mendapatkan dana alokasi khusus (DAK), efektivitas dan ketepatan penggunaan anggaran tersebut masih perlu dicermati secara serius.

    “Secara konsep, anggaran tidak kurang. Tapi pertanyaannya: penggunaannya sudah tepat belum? Sudah menyentuh rakyat atau belum? Itu yang harus kita kawal bersama,” tegasnya.

    Melalui kunjungan kerja ini, Komisi VI DPR berharap ada sinergi konkret antara pemerintah pusat, BUMN, dan pemerintah daerah untuk mengejar ketertinggalan pembangunan di Papua Barat Daya.

    Dengan pemerataan infrastruktur, masyarakat Papua diharapkan dapat hidup lebih layak dan berdaya saing tinggi di tengah pembangunan nasional.

  • Utang PLN Tambah Rp156 M Setiap Hari, DPR Desak Segera Dilakukan Perombakan Direksi

    Utang PLN Tambah Rp156 M Setiap Hari, DPR Desak Segera Dilakukan Perombakan Direksi

    7cloud.asia – Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam menyoroti soal lonjakan utang PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN yang mencapai rata-rata Rp156 miliar per hari.

    Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan kegagalan manajemen keuangan perusahaan listrik pelat merah itu, meski selama ini mendapat berbagai fasilitas dari negara.

    “PLN ini perusahaan monopoli, punya akses penuh ke fasilitas negara, tapi keuangannya justru babak belur. Ini keliru secara manajemen,” ujar Mufti melalui rilis media yang dikutip oleh Parlementaria di Jakarta, Senin (4/8/2025).

    Data dari Center for Budget Analysis (CBA) menunjukkan bahwa total utang PLN naik tajam dari Rp655 triliun pada 2023 menjadi Rp711,2 triliun pada 2024.

    Baca: Upaya PLN wujudkan net zero pada 2060

    Kenaikan tersebut setara dengan sekitar Rp4,7 triliun per bulan atau Rp156,7 miliar per hari. Dalam periode yang sama, laba PLN justru turun Rp4,3 triliun.

    Lebih lanjut, Mufti mengkritik keras kepemimpinan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo yang memimpin PLN sejak Desember 2021 itu.

    Menurutnya, jajaran direksi PLN tidak hanya gagal secara finansial, tetapi juga telah mengabaikan tanggung jawab moral terhadap publik.

    “Kalau utang makin membengkak dan layanan ke rakyat makin buruk, sudah waktunya jajaran direksi dirombak total,” tegasnya.

    Baca: PLN diminta tak batasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap

    Mufti juga menyoroti munculnya dugaan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo melakukan perjalanan pribadi ke luar negeri dengan dibiayai uang perusahaan.

    Oleh karena itu, politisi PDI-Perjuangan ini mendesak untuk merombak jajaran direksi sekaligus audit keuangan PLN secara menyeluruh.

    Dia menegaskan, sudah waktunya PLN dibongkar, bukan hanya soal struktur keuangannya, tapi juga moral dan integritas pimpinannya.

    “Kita ingin BUMN itu bekerja dengan akhlak, bukan akal-akalan,” tegas wakil rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur II yang meliputi Kabupaten/kota Pasuruan dan Kabupaten/kota Probolinggo ini.

  • Pemanfaatan Energi Terbarukan atau Energi Bersih Didorong Sebagai Solusi untuk Daerah 3T

    Pemanfaatan Energi Terbarukan atau Energi Bersih Didorong Sebagai Solusi untuk Daerah 3T

     

    7cloud.asia – Komisi XII DPR menilai pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) atau energi bersih perlu dimaksimalkan sebagai solusi untuk memperluas akses listrik, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terpencil (3T).

    Menurut Wakil Ketua Komisi XII DPR, Bambang Haryadi, pembangunan infrastruktur EBT seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dapat menjadi langkah strategis untuk pemerataan energi di daerah.

    Dilansir Parlementaria, Komisi XII yang membidangi lingkungan ingin memaksimalkan potensi energi bersih dan terbarukan di wilayah-wilayah tertinggal itu.

    “Misalnya ada satu pembangunan PLTS yang bisa mengakomodir sebagian saudara-saudara kita di wilayah terdalam, tertinggal, dan terpencil,” ujar Bambang dalam kunjungan kerja spesifik Komisi XII di Manado, Sulawesi Utara, Kamis (28/8/2025).

    Baca: Masukan pakar UGM untuk transisi ke energi bersih

    ”Meski diakui membutuhkan biaya besar, Bambang menilai pembangunan pembangkit listrik dari energi bersih tetap harus diprioritaskan karena menjadi salah satu solusi.

    Nah, makanya kita berharap PLN bisa bekerja sama dengan pihak swasta untuk memaksimalkan pembangunan energi baru terbarukan sebagai langkah mengurangi kesenjangan dan memeratakan listrik di wilayah tertinggal,” jelasnya.

    Haryadi juga menyoroti potensi energi panas bumi (geotermal) di Sulawesi Utara yang dapat dioptimalkan.

    “Kayak misalnya di daerah sini masih banyak geotermal, karena banyak gunung merapi. Itu potensi besar yang harus kita kelola untuk kebutuhan energi ke depan,” tegasnya.

    Baca: RUPTL 2025-2034 masih bergantung pada bahan bakar fosil

    Komisi XII DPR berharap dengan optimalisasi EBT, pemerataan akses listrik di seluruh pelosok tanah air dapat terwujud, sekaligus mendorong transisi energi bersih di Indonesia.

    Saat ini, Komisi XII sedang menyusun revisi Undang-Undang Ketenagalistrikan yang mengutamakan pemanfaatan energi bersih guna keberlanjutan.

  • Ratusan Desa di Perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan Utara Belum Teraliri Listrik

    Ratusan Desa di Perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan Utara Belum Teraliri Listrik

    7cloud.asia – Sebagai salah satu provinsi terluar, Kalimantan Utara (Kaltara) dikenal memiliki potensi energi yang sangat besar.

    Kekayaan sumber daya alam berupa minyak bumi, gas alam, dan batubara, ditambah potensi energi terbarukan seperti tenaga air dari sungai-sungai besar, PLTA Kayan, energi surya, dan angin menjadikan Kaltara sebagai daerah strategis penghasil energi.

    Ironisnya, hingga kini masih banyak desa di Kalimantan Utara yang belum menikmati aliran listrik.

    Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltara, tercatat sekitar 115 desa yang belum teraliri listrik, terdiri dari 80 desa perbatasan dan 30 desa terpencil.

    Hal ini terungkap saat Komisi XII DPR melakukan kunjungan kerja ke Tarakan, Kalimantan Utara baru-baru ini.

    Baca: Lebih 100 Desa di Kalimantan Timur Belum Ada Aliran Listrik

    Menanggapi persoalan tersebut, Anggota Komisi XII DPR, Alfons Manibui, menegaskan perlunya inovasi dalam program elektrifikasi agar masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari kekayaan energi yang dimiliki Kaltara.

    Dia menekankan, program yang disusun harus lebih berinovasi supaya masyarakat di sekitar lokasi, maupun masyarakat di Provinsi Kalimantan Utara, betul-betul merasakan manfaat.

    Jangan sampai, ujarnya, daerah yang punya sumber daya alam yang melimpah, tapi masyarakatnya tidak bahagia. Itu keluhan yang muncul di Kalimantan Utara,

    ”Dan itu yang akan kami dorong menjadi perhatian,” ujar Politisi Partai Golkar itu kepada Parlementaria, di Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (18/9/2025).

    Ia juga menyoroti masih rendahnya rasio elektrifikasi di daerah perbatasan. Menurutnya, kondisi ini menimbulkan ketimpangan karena masyarakat di negara tetangga sudah menikmati penerangan, sementara desa-desa di perbatasan Indonesia masih gelap.

    Baca: Puluhan Desa di Papua Barat Daya Belum Mendapat Aliran Listrik

    “Contohnya, hari ini kita dapat fakta ada 115 desa yang belum punya listrik. Repotnya lagi, desa-desa ini berada di perbatasan. Di seberang mereka terang, sementara di Indonesia gelap. Ada rasa seolah negara belum hadir di situ,” tegasnya.

    Alfons berjanji akan memperjuangkan aspirasi tersebut agar program pemerataan listrik bisa dipercepat. Alfons optimistis, target untuk mewujudkan 100 persen rasio elektrifikasi nasional dapat tercapai.

    Komisi XII berkomitmen membawa fakta ini ke pusat agar secepatnya desa-desa tanpa listrik segera mendapat perhatian. Harapannya, sebagian bisa teraliri listrik mulai tahun 2025, dan sisanya diselesaikan bertahap di tahun berikutnya.

    “Kalau belum bisa dengan pembangkit besar, bisa dimulai dengan pembangkit kecil atau program CSR,” tambah Alfons.