Berbagai Permasalahan dalam Transisi Energi Listrik yang Lebih Ramah Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Istilah transisi energi ke energi yang ramah lingkungan kini makin sering disebut.

Istilah transisi energi begitu populer di media massa, seminar, diskusi, dan perbincangan masyarakat. Transisi energi adalah usaha kita untuk beralih dari pemakaian energi fosil ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

Sebagian besar dari kita mungkin bertanya: apa makna transisi energi ke energi yang lebih ramah lingkungan dan bagaimana melakukannya.

Dan, tentu saja, apa untungnya transisi energi ke energi yang lebih ramah lingkungan, jika semua pihak benar-benar melakukannya.

Tulisan Ahmad Rahma Wardhana, Peneliti dan Mahasiswa Doktoral, Universitas Gadjah Mada yang telah terbit di The Conversation ini akan menjelaskan hal terkait transisi pembangkit listrik ke energi yang lebih ramah lingkungan.

Listrik adalah sebuah produk yang paling dicari semua orang. Lampu rumah, rice cooker dan alat dapur, lemari es, televisi, radio, AC, telepon genggam, laptop dan komputer, lift kantor, dan beberapa jenis kereta membutuhkan listrik.

Baca: Upaya PLN wujudkan dekarbonisasi menuju net zero 2060

Begitu pula dengan kegiatan kita sehari-hari: pendidikan, kesehatan, hiburan, usaha kecil, industri besar, semuanya menggunakan energi listrik

Upaya transisi energi di sektor listrik yang lebih ramah lingkungan berarti bagaimana caranya mengurangi atau bahkan menghapus 54,94 persen pembangkit batu bara.

Ada beberapa solusi yang ditawarkan, misalnya dengan co-firing. Maksudnya mengganti sebagian batu bara yang dibakar di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan pelet kayu atau bahan berbasis makhluk hidup lainnya (disebut biomassa).

Tantangan dari solusi ini serupa dengan sawit: ada potensi penggunaan lahan yang merusak keragaman hutan, ataupun persaingan lahan antara urusan pangan dengan urusan energi.

Sementara solusi energi terbarukan seperti air, angin, dan surya, juga menghadapi banyak persoalan.

Energi air dinilai tidak ramah secara ekologis karena, ketika skalanya besar, pembangunan bendungannya bakal menenggelamkan beberapa ekosistem.

Baca: Rekomendasi Koalisi Masyarakat Sipil untuk Transisi Energi Berkeadilan

Angin dan surya diterpa persoalan pasokan yang tidak konstan (disebut intermitensi). Angin tak selalu berhembus 24 jam. Durasi sinar matahari di Indonesia hanya efektif 4-5 jam setiap harinya.

Bahkan energi surya juga diancam oleh bayang-bayang ketergantungan impor. Pasalnya, kita tak punya industri manufaktur yang memproduksi komponen utamanya.

Ketika industri manufaktur mencoba masuk (industri nikel dan baterai), kita tahu persis bagaimana efek lingkungannya tak diawasi dengan baik oleh otoritas Indonesia.

Optimisme transisi energi.
Banyak orang yang bekerja di sektor energi selama ini merasa pusing ketika mengelola kerumitan tersebut. Itu baru masalah teknis.

Dari perspektif kebijakan pemerintah, termasuk sikap dan perilaku perusahaan energi pelat merah, daftar masalahnya tak kalah panjang.

Namun, kita harus optimistis bahwa transisi energi itu mungkin dilakukan.

Tantangan-tantangan tersebut seharusnya mendorong kita semua (terutama pelaku industri bahan bakar fosil!) untuk mulai peduli pada urusan transisi energi.

Kita harus mencari solusi terbaik yang seimbang antara perspektif teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Itu memang tidak mudah, tapi mungkin.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *