Tag: stunting

  • Pengaruh Kualitas Air Minum pada Kesehatan: BIsa Picu Stunting

    Pengaruh Kualitas Air Minum pada Kesehatan: BIsa Picu Stunting

    7cloud.asia –  Kualitas air minum yang buruk dapat memicu masalah kesehatan tubuh, salah satunya gangguan sistem pencernaan hingga yang terparah adalah stunting.

    Dokter spesialis gizi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Diana Sunardi mengatakan hal ini karena kualitas air minum menentukan komposisi mikrobiota. 

    “Sumber air minum yang berkualitas buruk dapat membawa berbagai masalah kesehatan, seperti diare hingga stunting,” kata Diana Sunardi dalam kegiatan media gathering “Tidak Semua Air Sama” di Jakarta, Selasa (26/9/2023) seperti dikutip Antaranews.com

    Baca: Air minum dalam kemasan, bukti adanya krisis air global

    Diana Sunardi yang juga Ketua Indonesian Hydration Working Group (IHWG) menjelaskan, dari berbagai riset yang dihadirkan terungkap komposisi bakteri jahat dari air minum menjadi penyebab terjadinya berbagai kerusakan di organ tubuh manusia.

    “Walaupun air minum sudah direbus hingga mendidih, jika cara penanganan dan penyimpanan air tidak higienis maka kontaminasi E. coli dapat kembali terjadi,” jelas dia.

    Oleh karena itu, Menteri Kesehatan mengatur itu semua dalam Permenkes Nomor 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

    Baca: Hindari kebiasaan ini setelah makan

    Aturan itu menyebutkan bahwa air minum harus memenuhi syarat tidak berbau, tidak berasa (tawar, dingin alami), bersih dan jernih, serta aman dari kontaminan.

    Ditambahkan bahwa Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) dari Kementerian Kesehatan (2020) menyebutkan bahwa 7 dari 10 rumah tangga Indonesia mengonsumsi air minum dari infrastruktur yang terkontaminasi oleh bakteri E. coli.

    “Dan, baru 11.9 persen rumah tangga yang memiliki akses terhadap air yang aman untuk dikonsumsi,” ujarnya

    Baca: Manfaat meditasi untuk kesehatan

    Dalam kesempatan yang sama, Guru besar hidrogeologi Universitas Gadjah Mada, Heru Hendrayana, mengatakan bahwa kualitas air tidak semuanya sama. Hal itu dikarenakan sumber air yang diperoleh dari sumber yang berbeda-beda.

    Air yang sehat dan aman untuk dikonsumsi sangat bergantung dari sumbernya. Air yang diambil dari tanah dangkal besar peluangnya untuk tercemar aktivitas manusia.

    “Sementara air dari akuifer dalam sifatnya murni dan memiliki kandungan mineral alami sehingga aman dan menyehatkan untuk dikonsumsi.” kata Heru Hendrayana.

    Baca: Olah raga pada sore hari bagus untuk penderita diabetes tipe 2

    Titik awal air menjadi sebuah hal yang sangat penting bagi setiap kesehatan organ tubuh manusia.

    Sumber atau titik awal air yang tidak baik akan memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan tidak hanya pencernaan dan stunting, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

     

    Merespon kondisi ini, Danone yang memproduksi Aqua menjamin sumber air yang memiliki kualitas terbaik yang ada di Indonesia.

    Baca: Kondisi lingkungan besar pengaruhnya bagi penderita asma

    Saat ini, Aqua memiliki sumber air dari 19 pegunungan terpilih yang telah melewati sembilan kriteria, lima tahapan, serta minimal 1 tahun penelitian.

    Pemilihan sumber air Aqua juga didukung oleh pakar dari lintas-keilmuan, yaitu geologi, hidrogeologi, dan geofisika, serta didukung oleh laboratorium di Perancis dan Jerman.

    “Dipilih secara ketat melalui lebih dari 600 parameter sehingga mengandung mineral alami dan diproses tanpa tersentuh tangan manusia untuk menjaga kemurniannya, sehingga rasanya yang dingin alami tanpa didinginkan,” jelas Vice President Marketing Danone Indonesia, Sri Widowati.

     

     

  • Perubahan Paradigma Program Gizi Untuk Atasi Stunting

    Perubahan Paradigma Program Gizi Untuk Atasi Stunting

    7cloud.asia – Untuk mengatasi stunting, program gizi perlu mengadopsi paradigma baru, yang disebut sebagai paradigma outcome (hasil).

    Bagi kandidat presiden yang bersaing untuk memimpin lima tahun ke depan, penanganan malnutrisi (kurang gizi) dan stunting pada anak harus menjadi poin sentral dalam kampanye mereka

    Keseriusan penanganan stunting dengan program gizi menjadi sinyal komitmen untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.

    Ahli Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Hadi Riyadi dan Ali Khomsan menjelaskan paradigma ini maksudnya, pertumbuhan dan status gizi anak dipandang sebagai indikator kesejahteraan.

    Pertama, meningkatkan pola pertumbuhan dan status gizi anak dari kondisi yang tidak normal menjadi normal atau bahkan lebih baik.

    Misalnya, untuk menangani masalah kekurangan energi protein, pola pertumbuhan dan status gizi tidak serta merta berdiri sendiri.

    Baca: Mencari cawapres yang memberi solusi bagi stunting

    Penanganan masalah ini harus terintegrasi dengan program lainnya, seperti air bersih, kesehatan lingkungan, imunisasi, lapangan kerja, dan penanggulangan kemiskinan.

    Dengan demikian, rasionalitas program gizi menjadi bagian integral dari pembangunan nasional.

    Kedua, kegiatan pemantauan berat badan dan tinggi badan anak melalui survei gizi nasional periodik menjadi kunci untuk mendukung program gizi.

    Dukungan untuk kegiatan ini harus disokong oleh sistem pemantauan kondisi gizi anak yang dapat mencerminkan kondisi di daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh survei gizi nasional.

    Ketiga, revitalisasi posyandu dianggap berhasil ketika berfungsi sebagai lembaga masyarakat, terutama di desa, untuk memonitor pertumbuhan anak.

    Baca: Satu dari enam anak Indonesia alami stunting

    Pendidikan dan pelatihan kepada ibu-ibu tentang cara menimbang anak, mencatat pertumbuhan di Kartu Menuju Sehat (KMS), dan memahami KMS dengan baik menjadi kunci keberhasilan revitalisasi posyandu.

    Terakhir, Indonesia perlu perubahan dalam kurikulum lembaga pendidikan tenaga gizi di semua tingkatan.

    Hal ini untuk lebih memahami perlunya paradigma baru yang berorientasi pada pertumbuhan dan status gizi anak sebagai fokus dan tujuan program.

    Thailand telah menerapkan paradigma outcome dalam memprioritaskan data status gizi anak dalam kebijakan dan program gizinya.

    Sejak 1990, mereka rutin mengumpulkan data nasional mengenai perkembangan berat badan anak.

    Baca: Stunting bukan hanya masalah kesehatan

    Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tersebut, Thailand telah mengalami pertumbuhan pesat dalam PDB per kapita dan Pasokan Energi Makanan (Dietary Energy Supply).

    Sebaliknya Thailand telah penurunan tingkat kekurangan gizi secara berkelanjutan.

    Status gizi anak dijadikan indikator kemiskinan dalam kebijakan pembangunan nasional, dan program gizi diintegrasikan sebagai bagian dari upaya penanggulangan kemiskinan.

    Kemajuan yang pesat dalam ilmu dan teknologi saat ini sangat terasa di berbagai bidang, termasuk di bidang gizi dan kesehatan.

    Munculnya konsep paradigma medis melalui pendekatan prediktif, preventif, personal, dan partisipatif memungkinkan manajemen dan dukungan kesehatan yang spesifik untuk masing-masing individu.

    Baca: Empat provinsi di Jawa menyambang jumlah stunting

    Masing-masing individu memiliki perbedaan dalam metabolisme, genetika, biokimia, dan mikrobiota yang memengaruhi respons tubuh terhadap asupan gizi.

    Pengetahuan tentang nutrigenetika dan nutrigenomika memiliki peran krusial dalam merekomendasikan gizi yang disesuaikan dengan faktor genetik.

    Nutrigenetik memberikan wawasan tentang bagaimana individu merespons nutrisi dalam makanan.

    Sedangkan nutrigenomika menunjukkan bagaimana asupan nutrisi (gizi makro, gizi mikro, dan zat aktif biologis lainnya) memengaruhi ekspresi gen dan rekomendasi diet yang optimal.

    Sebuah studi nutrigenetik dari Universitas Gadjah Mada menyoroti keterkaitan antara stunting pada anak dan risiko obesitas saat dewasa.

    Baca: Kiat Jawa Tengah turunkan stunting

    Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak yang mengalami stunting cenderung memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi karena tingkat metabolismenya rendah.

    Beberapa gen telah diinvestigasi, khususnya gen yang terkait dengan mekanisme hormon ghrelin yang mengatur rasa lapar, dan terbukti memainkan peran dalam fenomena ini.

    Dengan demikian, kesejahteraan anak-anak tidak hanya merupakan tindakan belas kasihan, melainkan juga aspek yang esensial bagi masa depan bangsa.

    Hal ini mencakup pendidikan, produktivitas tenaga kerja, dan kemajuan bangsa Indonesia dalam mengoptimalkan momentum bonus demografi.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis Iskandar Azmy Harahap, Early Career Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

     

  • Stunting Jadi Sorotan di Pilpres 2024, Capres-Cawapres Mana yang Paling Memberikan Solusi?

    Stunting Jadi Sorotan di Pilpres 2024, Capres-Cawapres Mana yang Paling Memberikan Solusi?

    7cloud.asia – Stunting alias bayi kurang tinggi sebagai salah satu prioritas utama program ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) yang berkontestasi di Pilpres 2024. 

    Untuk mengatasi stunting, pasangan capres-cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD menyoroti pentingnya program dukungan kesehatan bagi ibu hamil.

    Sementara itu, pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka berkomitmen pada program kartu anak sehat untuk mencegah stunting.

    Bagi yang sudah di sekolah, kandidat ini menjanjikan makan siang dan susu gratis untuk meningkatkan gizi anak agar tidak terjadi stunting.

    Pasangan capres-cawapres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar menargetkan bahwa tidak akan ada lagi anak di Indonesia yang mengalami gizi buruk dan stunting.

    Baca: Satu dari enam anak Indonesia alami stunting

    Kita perlu mencermati prioritas itu kelak jika mereka terpilih, apakah benar-benar serius menyelesaikan masalah kurang gizi pada anak atau hanya janji politik capres-cawapres semasa kampanye pemilu 2024.

    Yang pasti negara perlu hadir intervensi gizi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan malnutrisi sebagai ketidakseimbangan asupan nutrisi.

    Bukan hanya “kekurangan”, malnutrisi juga berupa “kelebihan”, gangguan, atau ketidakseimbangan zat gizi yang esensial.

    Sebuah riset terbaru menyatakan Indonesia menjadi contoh utama dari tiga beban malnutrisi (triple burden of malnutrition): sekitar satu dari lima anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting (tumbuh kerdil).

    Sedangkan satu dari sepuluh anak mengalami kurang berat badan. Sementara, satu dari sepuluh anak juga memiliki berat badan berlebih.

    Baca: Stunting bukan hanya masalah kesehatan tetapi juga masalah ekonomi dan lingkungan

    Data ini tidak hanya mencerminkan krisis kesehatan masyarakat yang mendesak, tapi juga mengindikasikan tantangan sosioekonomi yang lebih luas.

    Seiring dengan pertumbuhan mereka, konsekuensi dari malnutrisi akan memengaruhi perkembangan kognitif, pencapaian pendidikan, dan potensi pendapatan masa depan mereka.

    Tantangan gizi merupakan persoalan unik yang tidak dapat diatasi semata oleh ahli gizi atau melalui penggunaan obat secara intensif, seperti dalam penyembuhan penyakit kronis maupun akut.

    Isu gizi melibatkan hubungan yang kompleks antara berbagai intervensi, termasuk aspek ekonomi, budaya, pengetahuan, dan perilaku.

    Meskipun demikian, perbaikan gizi tetap perlu dilakukan melalui berbagai upaya, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung.

    Baca: Empat provinsi penyumbang stunting tertinggi ada di Pulau Jawa

    Menurut Bank Dunia, ada tiga alasan mengapa suatu negara harus melakukan intervensi dalam bidang gizi.

    Pertama, perbaikan gizi memberikan keuntungan ekonomi yang tinggi. Kedua, intervensi gizi terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi.

    Ketiga, perbaikan gizi membantu mengurangi tingkat kemiskinan melalui peningkatan produktivitas kerja, pengurangan jumlah hari sakit, dan pengurangan biaya pengobatan.

    Pemerintah Indonesia, melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan telah mengeluarkan Pedoman Pangan Jajanan Anak Sekolah Untuk Pencapaian Gizi Seimbang untuk orang tua, guru, dan pengelola kantin.

    Selain itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pun menerbitkan buku saku Gizi Seimbang dan Kantin/Jajanan Sehat di Sekolah Dasar.

    Baca: Kiat Jawa Tengah menurunkan angka stunting

    Seiring berjalannya waktu dan perubahan gaya hidup, konsep pola konsumsi makanan yang sebelumnya dikenal sebagai “4 sehat 5 sempurna” telah digantikan oleh konsep “gizi seimbang”.

    Gizi seimbang mencakup pola makan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

    Ini melibatkan prinsip keanekaragaman atau variasi dalam makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan pemeliharaan berat badan ideal.

    Secara umum, komposisi makanan yang seimbang mencakup karbohidrat sebanyak 50-65% dari total energi, protein sekitar 10-20%, dan lemak sekitar 20-30%.

    Penting juga untuk membatasi konsumsi gula hingga sekitar 5% dari total kebutuhan energi atau sekitar 3-4 sendok makan setiap hari.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis Iskandar Azmy Harahap
    Early Career Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

     

  • Cegah Stunting, Remaja Diajak Tunda Usia Perkawinan

    Cegah Stunting, Remaja Diajak Tunda Usia Perkawinan

    7cloud.asia –  Menunda usia pernikahan terbukti dapat mengurangi risiko stunting kelak saat melahirkan seorang anak.

    Karena itu, untuk menurunkan angka stunting para remaja diminta tidak buru-buru menikah dan mengikuti batas minimal usia menikah sesuai UU Perkawinan yakni 19 tahun.

    Anggota Komisi IX DPR Aliyah Mustika Ilham menilai bahwa remaja memiliki peran penting untuk memutus rantai stunting sehingga harus menjadi generasi hebat, sehat dan berkualitas.

    Baca: Mengkaji solusi stunting dari ketiga paslon

    Hal itu diungkapkan Aliyah dalam sosialisasi, advokasi dan komunikasi, informasi, edukasi (KIE) pencegahan stunting dari hulu di Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Jumat (15/12/2023).

    “Remaja berperan sebagai pemutus rantai kasus stunting melalui program pencegahan stunting dari hulu, caranya dengan memperbaiki derajat gizi keluarga, tidak terburu-buru menikah, dan menghindari perilaku berisiko,” tegasnya.

    Aliyah berharap, melalui Duta Generasi berencana (Genre) yang terdiri dari para remaja mampu menjadi figur dan percontohan yang dapat membantu pemerintah dalam memberikan pemahaman tentang dampak buruk menikah pada usia anak.

    Baca: Satu dari enam anak Indonesia alami stunting

    Sekali lagi ia menekankan bahwa menunda pernikahan dan kehamilan hingga usia matang termasuk dalam program pencegahan stunting mulai dari hulu hingga hilir.

    Harapan kami, ujarnya, remaja di Sulawesi Selatan bisa berkolaborasi dalam memberikan pemahaman kepada teman sebaya untuk tidak melakukan pernikahan dini

    “Para remaja hendaknya melaksanakan rekomendasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), yakni menikah pada usia minimal 21 tahun untuk perempuan, dan 25 tahun untuk laki-laki,” ucap Politisi Fraksi Partai Demokrat ini.

    Baca: Stunting bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga ekonomi dan lingkungan

    Ia berharap Program Genre tersebut mampu membekali remaja di Sulawesi Selatan dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga sehingga Indonesia akan menghasilkan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.

    Deputi bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN RI Nopian Andusti yang hadir di acara ini menyatakan, remaja berperan penting membangun bangsa untuk menuju Indonesia Emas 2045.

    Pasalnya, remaja akan melahirkan generasi-generasi yang akan datang menuju tahun emas pada 2045.

    Baca: Empat provinsi penyumbang angka stunting

    “Oleh karena itu, kalian harus mampu menjadi generasi hebat, sehat, dan berkualitas, sehingga mampu bersaing dengan negara maju lainnya,” kata dia

  • Anak Kondisi Stunting Dapat Diperbaiki dengan Syarat Ini

    Anak Kondisi Stunting Dapat Diperbaiki dengan Syarat Ini

    7cloud.asia – Kondisi anak yang sudah masuk dalam kategori stunting sebenarnya masih dapat diperbaiki jika orangtua dapat memenuhi nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) atau sampai anak usia dua tahun dan rajin monitor asupan gizi anak.

    Hal ini dijelaskan oleh pakar nutrisi bayi dan anak RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Nita Azka Nadhira S.Gz seperti yang dilansir Antaranews.

    “Jadi kalau sudah ada rambu-rambu berat badan naiknya tidak sesuai, pertambahan panjang badannya tidak optimal itu sudah langsung bisa kontrol ke dokter spesialis anak atau bisa diperbaiki sebelum dia usia dua tahun, jangan sampai terlambat,” jelas Nita.

    Stunting adalah kondisi masalah kesehatan kronis yang terjadi sejak dalam kandungan.

    Baca: Program Ganjar-Mahfud cegah stunting

    Kondisi stunting harus segera ditangani sebelum lewat usia dua tahun, sangat sulit untuk dikembalikan ke tumbuh kembang yang optimal.

    Jika setelah usia dua tahun, lanjut Nita, nutrisi anak baru diperbaiki dengan memberi makan yang banyak maka anak malah jadi kegemukan karena tinggi badan yang tidak proporsional.

    Kondisi anak yang mengalami stunting berbeda dengan stunted atau hanya bertubuh pendek.

    Jika anak stunted karena pertumbuhan tinggi badan yang kronis, orang tua bisa langsung periksa ke dokter anak.

    Untuk mencegah terjadinya stunting, gizi ibu saat merencanakan kehamilan harus maksimal agar dapat menjadi bekal bayi yang akan dikandungnya. Sehingga perkembangan bayi tumbuh dengan baik.

    Baca: Stunting jadi sorotan di pilpres 2024

    “Setelah bayi lahir orang tua berperan penting memberikan kecukupan ASI dan kemudian MPASI nya dicukupkan hingga usia dua tahun, jadi lengkap sehingga tidak ada masa-masa terlewat,” terang Nita.

    Anak yang telah mencapai usia 6 bulan, sebaiknya tidak hanya mengonsumsi ASI tetapi juga perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI).

    Jika kombinasi MPASI dan ASI tidak diberikan secara optimal dan berat badan tidak kunjung baik tapi tidak segera dikoreksi lama-lama tinggi badan tidak ikut bertambah dan dikhawatirkan masuk kategori stunting.

    Sebelumnya World Health Organization (WHO) mengatakan ada tiga syarat pemberian MPASI.

    Pertama tepat waktu usia 6 bulan, kedua diberikan cukup atau adekuat secara konsistensi, varian dan jumlah makanan.

    Baca: Tunda usia perkawinan cegah stunting

    Ketiga disiapkan dengan cara yang higienis agar mencegah infeksi dan terakhir berikan MPASI dengan cara yang benar dan lingkungan yang kondusif.

    Sementara porsi MPASI yang harus disesuaikan mulai dari 6-8 bulan adalah 70 persen masih dari ASI dan 30 persen dari MPASI. Usia 9-11 50 persen dari ASI dan 50 persen dipenuhi dari MPASI.

    Kemudian, saat menginjak usia 1-2 tahun, ASI diberikan hanya 30 persen dan sisanya dipenuhi dari MPASI.

    Reporter: Nurakhmayani

    .

  • Angka Stunting Masih Tinggi, Kemenkes Canangkan Gerakan MPASI

    Angka Stunting Masih Tinggi, Kemenkes Canangkan Gerakan MPASI

    7cloud.asia – Walaupun terus terjadi penurunan dari tahun ke tahun, angka stunting di Indonesia masih tergolong tinggi.

    Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, angka stunting Indonesia berada di kisaran 21,6 persen turun dari angka 24,4 persen pada tahun 2021.  

    Merespons hal tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerbitkan panduan pengendalian stunting yang disusun sebagai acuan penyelenggara di tingkat pusat dan daerah

    Panduan untuk mengatasistunting ini juga melibatkan berbagai pihak yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan Peringatan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada 25 Januari. 

    Baca: Satu dari enam anak Indonesia alami stunting

    Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronik yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan menurut usia

    Seorang anak dikatakan stunting jika berada di bawah minus 2 standar deviasi pada kurva pertumbuhan WHO yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.

     

    Dirjen Kesmas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi mengatakan, upaya pencegahan stunting dimulai dari pemantauan pertumbuhan.

    “Apabila ditemukan di Posyandu balita dengan berat badan yang tidak naik, maka harus segera diperiksa ke dokter di Puskesmas,” katanya.

    Baca: Satu desa satu faskes, cara pasangan Ganjar-Mahfud turunkan angka stunting

    Balita yang tidak naik atau berat badan kurang dapat dicegah menjadi stunting dengan mengkonsumsi protein hewani yang cukup, kata Endang menambahkan.

    Hasil studi yang dilakukan oleh Headey et.al pada 2018 menyatakan adanya bukti kuat hubungan antara stunting dan indikator konsumsi pangan berasal dari hewan.

    “Karena itu konsumsi daging, ikan, telur dan susu atau produk turunannya seperti keju, yoghurt, dan lainnya menjadi penting untuk mencegah stunting,” katanya.

    Penelitian juga menunjukkan konsumsi pangan berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis lebih menguntungkan daripada konsumsi pangan berasal dari hewani tunggal.

    Baca: Stunting bukan hanya masalah kesehatan tetapi juga masalah ekonomi dan lingkungan

    Peringatan HGN dapat mendorong seluruh pemangku kepentingan berperan aktif menggaungkan makanan pendamping ASI (MP-ASI) untuk anak usia 6–23 bulan yang kaya akan protein hewani dan pemantauan pertumbuhan anak setiap bulan.

    “Apabila berat badan anak tidak naik maka segera periksa ke dokter di puskesmas,” katanya.

    HGN diperingati setiap tanggal 25 Januari 2024. Tema yang diangkat pada tahun 2024 untuk peringatan HGN adalah “MP-ASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting”.

    Endang mengatakan peringatan Hari Gizi Nasional (GHN) ke-64 Tahun 2024 menjadi momentum yang baik dalam menggalang kepedulian dan komitmen bersama untuk pengendalian stunting di Indonesia.

    Baca: Penyumbang stunting tertinggi ada di Jawa

    “Hari Gizi Nasional tahun ini adalah momentum yang baik demi tercapainya target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 untuk percepatan penurunan stunting menjadi 14 persen,” pungkasnya

     

     

  • 7 Isu Krusial Bayangi Prabowo-Gibran: Penanganan Tingginya Kasus Stunting

    7 Isu Krusial Bayangi Prabowo-Gibran: Penanganan Tingginya Kasus Stunting

    7cloud.asia – Stunting menjadi salah satu isu krusial yang membayangi pasangan Prabowo-Gibran jika mereka benar-benar dilantik menjadi presiden dan wakil presiden.

    Tahun 2024 ini prevalensi stunting ditargetkan turun ke 14 persen. Sementara survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan angkanya masih di kisaran 21,6 persen. 

    Ahli Kesehatan Masyarakat dari Universitas Airlangga, Ilham Akhsanu Ridlo kepada The Conversation melihat bahwa di bawah pemerintahan Prabowo, masalah kurang gizi atau stunting tidak akan banyak berubah.

    Ia melihat ada kecenderungan dari Prabowo-Gibran untuk meneruskan  pendekatan top down dalam penanganan stunting yang selama ini dilakukan pemerintahan Jokowi.

    Baca: Forum Komunikasi Purnawirawan serukan pemakzulan Jokowi

    Jumlah stunting tidak bisa turun dengan cepat dalam satu periode pemerintahan karena ada banyak faktor yang memengaruhinya.

    Karena itu, kata dia, program penurunan stunting perlu dilihat sebagai program yang berkelanjutan.

    “Tidak peduli siapapun presidennya. Kementerian Kesehatan punya program 1000 hari pertama kehidupan anak sejak dalam kandungan. Itu saja dijalankan, bagus itu programnya,” kata Ilham.

    Walau demikian, dia melihat presiden terpilih akan punya pengaruh di level kecepatan penanganan masalah stunting.

    Baca: Pakar sebut Jokowi sudah layak dimakzulkan  

    Sikap mereka akan membuat penanganan stunting akan lebih cepat, lebih lambat atau sama saja dengan pemerintahan sebelumnya.

    Ilham melihat perbedaan di antara ketiga calon presiden itu terletak pada cara menurunkan angka stunting.

    Prabowo-Gibran telah berjanji akan meneruskan program pemerintah sebelumnya dengan pendekatan top down.

    “Pendekatan ini sebenarnya sudah kuno. Aspek kolaborasinya kurang tampak,” kata Ilham.

    Baca: Aksi mahasiswa tolak pemilu curang dan pemakzulan Jokowi 

    Pasangan ini memasukkan program memperbaiki kualitas gizi, air bersih, dan sanitasi masyarakat untuk mengatasi ancaman stunting.

    Namun program unggulan pasangan ini adalah Gerakan EMAS (Emak-Emak dan Anak-Anak Minum Susu). Ini merupakan program makan gratis dan susu di sekolah.

    “Ini sasarannya juga tidak jelas, apakah mengatasi stunting, gizi buruk atau gizi lain. Mereka menyatakan untuk stunting, tapi kalau anak sudah masuk sekolah tidak lagi masuk hitungan seribu hari pertama kehidupan,” ujar Ilham.

    Prabowo, lanjutnya, juga tidak menetapkan angka penurunan stunting dalam dokumen visi misi tertulisnya.

    Baca: Sivitas akademika dari puluhan kampus telah ingatkan Jokowi

    Pada akhirnya, program menurunkan stunting akan dipengaruhi juga oleh alokasi anggaran nasional dan daerah.

    Penghapusan mandatory spending untuk kesehatan merupakan salah satu persoalan yang mungkin akan menghambat upaya penurunan stunting.

    Pasalnya, anggaran kesehatan didasarkan pada political will presiden dan kepala daerah yang punya beragam prioritas.

    Sumber: The Conversation, Penulis: Ahmad Nurhasim (Health+Science Editor) Anggi M. Lubis (Business + Economy Editor), Hayu Rahmitasari (Education & Culture Editor), Nurul Fitri Ramadhani (Politics + Society Editor), Robby Irfany Maqoma (Environment Editor)

  • Makan Siang Gratis dan Target Menurunkan Angka Stunting Nasional

    Makan Siang Gratis dan Target Menurunkan Angka Stunting Nasional

    7cloud.asia – Upaya untuk menurunkan angka stunting di level 14% pada tahun 2024 ini seperti yang ditargetkan pemerintah menjadi tugas semua pihak.

    Anggota Komisi IX DPR RI Kris Dayanti mengatakan seluruh kementerian dan lembaga punya andil dan harus mengambil peran, sebab tugas menangkal kekurangan gizi pada anak itu punya pendekatan multisektor.

    “Kami (Komisi IX) menekankan kepada seluruh kementerian dan lembaga, jadi bukan hanya BKKBN saja (leading), tapi seluruhnya dapat terlibat. Hal ini melibatkan banyak pihak dan kita harus semangat,” ujarnya

    Baca:Penyebab tingginya angka stunting di Indonesia

    Ditemui usai Kunjungan Kerja Reses Komisi IX di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Rabu (28/2/2024), perempuan yang biasa disapa KD mengatakan, dari paparan dari pemerintah kota bahwa angka stunting di kota ini berhasil turun di tahun lalu.

    Menanggapi hal itu, KD tetap optimistis penurunan stunting akan diikuti oleh banyak daerah, namun ia berharap klaim tersebut dapat dicek kembali.

    Dalam banyak kunjungan yang dilakukan Komisi IX, sering pemerintah daerah selalu klaim (angka stunting) di bawah nasional.

    “Ini tugas kami mengecek dengan detail. Tetapi kami optimis menyelesaikan di periode ini (pengawasan stunting),” urai Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini. 

    Baca: Stunting juga menyangkut masalah ekonomi dan lingkungan

    Dalam kesempatan itu KD turut mengomentari program makan gratis yang sudah mulai dibahas dalam rapat kabinet.

    Legislator dari PDI Perjuangan ini bilang, masyarakat tak harus menerima begitu saja program makan siang ini.

    Masyarakat juga berhak tahu apakah nilai nutrisi dari makanan tersebut sudah mencukupi kebutuhan anak-anak. Sejauh ini pihaknya selalu mendorong target dari pemerintah dengan mendorong sosialisasi di berbagai tempat.

    Masalah stunting ini masih menjadi masalah kesehatan utama yang dihadapi Indonesia. 

    Baca: Empat provinsi penyumbang angka stunting nasional

    UNICEF menyatakan Indonesia adalah salah satu negara berkembang dengan prevalensi stunting yang tinggi karena masuk dalam lima besar kasus stunting dari 88 negara di dunia.

    Angka stunting di Indonesia tergolong tinggi yakni sebesar 21,6% pada 2022. Artinya, setiap lima anak Indonesia ada satu anak yang mengalami stunting.

    Angka stunting Indonesia ini merupakan yang tertinggi kedua di ASEAN setelah Timor Leste. Stunting selama masa kanak-kanak akan berdampak terhadap kesehatan seumur hidup.

    Stunting juga bisa mempengaruhi produktivitas tenaga kerja Indonesia di masa yang akan datang.

     

  • Indonesia Masuk Negara dengan Kasus Perkawinan Anak Tertinggi di Dunia, Ini yang Dilakukan Pemerintah

    Indonesia Masuk Negara dengan Kasus Perkawinan Anak Tertinggi di Dunia, Ini yang Dilakukan Pemerintah

    7cloud.asia – Indonesia ternyata punya catatan buruk soal perkawinan anak atau perkawinan di bawah umur.

    Padahal Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, sudah secara tegas melarang perkawinan anak karena berbagai risiko yang menyertainya. 

    Data UNICEF menyebut Indonesia menduduki peringkat empat di tingkat global dalam hal perkawinan anak, dengan jumlah kasus mencapai 25,53 juta pada tahun 2023.  

    Sementara menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi Provinsi dengan angka kasus perkawinan anak paling tinggi, yaitu 16,23 persen, pada perempuan sebelum usia 18 tahun.

    UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, menyatakan perkawinan anak tidak hanya melanggar hak asasi manusia dan hak anak.

    Baca: Mengenal Rasminah, pejuang melawan perkawinan anak 

    Perkawinan anak  juga memiliki dampak serius terhadap kesehatan dan perkembangan jiwa serta masa depan anak.

    Salah satu risiko nyata dari perkawinan anak adalah lahirnya generasi stunting. Hal ini karena kehamilan pada perempuan yang belum cukup umur berpotensi melahirkan anak stunting.

    Pasalnya, sang ibu yang sebenarnya masih membutuhkan asupan untuk pertumbuhan fisiknya harus berbagi dengan janin yang dikandungnya.

    Karena itu edukasi dan kampanye kepada anak remaja untuk menunda usia perkawinan sangat penting. Edukasi inilah yang dilakukan Care Foundation di Maluk, Nusa Tenggara Barat

    “Edukasi dapat mencegah perkawinan usia anak di kalangan siswa kami. Banyak di antara mereka yang sebelumnya terlibat dalam perkawinan saat masih berstatus pelajar SMP, hal ini karena minimnya pemahaman mengenai risiko yang terkait dengan perkawinan usia anak,“ ujar Guru Bimbingan Konseling (BK) di SMP Negeri 1 Maluk, NTB seperti dilansir Care Foundation.

    Baca: Komnas Perempuan minta SEMA soal perkawinan beda agama dicabut

    Ia menambahkan, edukasi ini membuat pihaknya memperoleh pencerahan tentang strategi mengatasi kasus bullying dan pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah.  

    Penyampaian materi secara interaktif pada Lingkar Remaja menurut Awalia Murtiana, Program Manager YCP, berhasil meningkatkan partisipasi aktif peserta remaja.

    “Para peserta remaja tidak hanya mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, tetapi juga merasa lebih termotivasi dan bersemangat untuk aktif dalam sesi-sesi pembahasan topik yang berkaitan dengan kehidupannya dimasa remaja,” tegas Awalia.

    Dia berharap dari kelas ini, para remaja di KSB dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan seksual dan reproduksi mereka, lebih bisa memahami kesetaraan gender, serta menghargai hak-hak sebagai individu.

    Dengan memahamkan hal-hal tersebut, ujarnya diharapkan sikap dan perilaku remaja berubah.

    Baca: Mengenal perang gender di Korea Selatan

    Adapun tujuan utama dari kegiatan ini adalah menjadikan teman-teman remaja menjadi agent of change yang gender responsif untuk terlibat dalam partisipasi bermakna dalam pencegahan terjadinya perkawinan anak yang dapat berkontribusi dalam menurunkan angka stunting di Indonesia

    Upaya penurunan stunting sudah menjadi komitmen pemerintah, sekolah, dan masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat.

    Salah satunya adalah dengan disahkannya Peraturan Desa (Perdes) tentang Perlindungan dan Pencegahan Perkawinan Anak pada bulan Agustus dan September 2023 di Desa Maluk dan Desa Pasir Putih

    Kepala Bidang Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak KSB, Kasum mengatakan, pihaknya sangat mendukung terbentuknya Forum Anak Desa dan terbitnya Perdes Perlindungan anak ini.

    ” Agar anak-anak terlindungi hak-haknya dan mereka mempunyai peran aktif sebagai Pelopor dan Pelapor. Perdes ini juga akan kami sebarkan dan replikasi ke desa-desa lain agar jadi contoh dan pembelajaran bagi desa lainnya,” tuturnya  kepada tim YCP.

  • Remaja Diajak Mencegah Kasus Stunting dengan Menunda Usia Perkawinan

    Remaja Diajak Mencegah Kasus Stunting dengan Menunda Usia Perkawinan

    7cloud.asia – Kondisi perempuan selama kehamilan dan persalinan menjadi faktor yang penting untuk dipantau demi mencegah kasus stunting pada anak.

    Dikutip dari laman Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kondisi kesehatan ibu sebelum dan sesudah hamil sangat besar pengaruhnya untuk mencegah stunting.

    Dari penelitian terungkap, kasus stunting lebih berpeluang terjadi pada kondisi kehamilan perempuan di usia remaja, terutama jika terjadi kekurangsiapan secara fisik dan psikis dalam pola asuh.

    Untuk itu edukasi kesehatan reproduksi pada remaja menjadi cara strategis untuk mencegah stunting yang hingga saat ini masih menghantui Indonesia.

    Baca: Cegah stunting, remaja diajak menunda usia perkawinan

    ”Salah satunya dengan pencegahan perkawinan anak pada usia remaja, khususnya mereka yang berusia antara 12 hingga 18 tahun,” ujar Muhammad Ikraman, Project Manager Yayasan CARE Peduli di sela Lingkar Remaja di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, awal Februari lalu. 

    Edukasi seperti Lingkar Remaja ini menjadi ruang bagi remaja untuk bisa bercerita berbagai hal tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas terutama untuk pencegahan perkawinan usia anak.

    Pendidikan kesehatan reproduksi pada siswa SMP dan SMA ini menjadi bagian dari rangkaian Program Penurunan Stunting untuk Generasi Sehat, Cerdas, dan Tangguh di Sumbawa.

    Program ini merupakan kolaborasi antara PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Yayasan CARE Peduli (YCP).

    Baca: Satu dari enam anak di Indonesia alami stunting

    Sebanyak 132 remaja dari SMP Negeri 1 Maluk, SMP dan SMA IT Binaul Ummah Maluk, antusias mengikuti edukasi terutama seputar kesehatan reproduksi.

    Dalam kegiatan ini, para siswa diajak untuk mengenal tubuh mereka sendiri, hubungan antar gender, pemahaman gender itu sendiri, relasi kuasa, kekerasan berbasis gender.

    Peserta juga diajak untuk mengenal alat kontrasepsi, serta hak-hak yang harus dihormati sebagai individu baik laki-laki maupun perempuan. 

    Dalam kegiatan ini juga diberikan pemahaman mengenai dampak perilaku seks bereisiko dan seks bebas, penyakit menular seksual seperti Infeksi Menular Seksual, HIV dan AIDS, serta masalah perundungan/bullying.

    Baca: Stunting bukan hanya soal kesehatan tetapi juga soal lingkungan dan ekonomi

    Para siswa juga diajak mengenal, pelecehan seksual dan kekerasan dalam pacaran misalnya atau apa yang terjadi dalam keluarga di bahas secara interaktif, topik-topik tersebut mendapat respon positif dari peserta.

    “Kami bisa saling berbagi cerita sebagai remaja, sehingga saya merasa lebih nyaman untuk mengungkapkan pendapat saya dan memberikan masukan terhadap topik yang dibahas,” ungkap Mulyana, siswi kelas 8 di SMP Negeri 1 Maluk.

    Mulyana menambahkan dirinya lebih memahami dampak perkawinan usia anak dari berbagai sisi seperti sosial dan ekonomi setelah mengikuti kegiatan tersebut.

    Pelibatan remaja dalam upaya mengatasi stunting menjadi krusial karena remaja merupakan pelopor inovasi dan agen perubahan di Indonesia. Karena itu kegiatan seperti ini perlu banyak dilakukan.

    Baca: Empat provinsi penyumbang angka stunting nasional