Remaja Diajak Mencegah Kasus Stunting dengan Menunda Usia Perkawinan

Written by

in

7cloud.asia – Kondisi perempuan selama kehamilan dan persalinan menjadi faktor yang penting untuk dipantau demi mencegah kasus stunting pada anak.

Dikutip dari laman Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kondisi kesehatan ibu sebelum dan sesudah hamil sangat besar pengaruhnya untuk mencegah stunting.

Dari penelitian terungkap, kasus stunting lebih berpeluang terjadi pada kondisi kehamilan perempuan di usia remaja, terutama jika terjadi kekurangsiapan secara fisik dan psikis dalam pola asuh.

Untuk itu edukasi kesehatan reproduksi pada remaja menjadi cara strategis untuk mencegah stunting yang hingga saat ini masih menghantui Indonesia.

Baca: Cegah stunting, remaja diajak menunda usia perkawinan

”Salah satunya dengan pencegahan perkawinan anak pada usia remaja, khususnya mereka yang berusia antara 12 hingga 18 tahun,” ujar Muhammad Ikraman, Project Manager Yayasan CARE Peduli di sela Lingkar Remaja di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, awal Februari lalu. 

Edukasi seperti Lingkar Remaja ini menjadi ruang bagi remaja untuk bisa bercerita berbagai hal tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas terutama untuk pencegahan perkawinan usia anak.

Pendidikan kesehatan reproduksi pada siswa SMP dan SMA ini menjadi bagian dari rangkaian Program Penurunan Stunting untuk Generasi Sehat, Cerdas, dan Tangguh di Sumbawa.

Program ini merupakan kolaborasi antara PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Yayasan CARE Peduli (YCP).

Baca: Satu dari enam anak di Indonesia alami stunting

Sebanyak 132 remaja dari SMP Negeri 1 Maluk, SMP dan SMA IT Binaul Ummah Maluk, antusias mengikuti edukasi terutama seputar kesehatan reproduksi.

Dalam kegiatan ini, para siswa diajak untuk mengenal tubuh mereka sendiri, hubungan antar gender, pemahaman gender itu sendiri, relasi kuasa, kekerasan berbasis gender.

Peserta juga diajak untuk mengenal alat kontrasepsi, serta hak-hak yang harus dihormati sebagai individu baik laki-laki maupun perempuan. 

Dalam kegiatan ini juga diberikan pemahaman mengenai dampak perilaku seks bereisiko dan seks bebas, penyakit menular seksual seperti Infeksi Menular Seksual, HIV dan AIDS, serta masalah perundungan/bullying.

Baca: Stunting bukan hanya soal kesehatan tetapi juga soal lingkungan dan ekonomi

Para siswa juga diajak mengenal, pelecehan seksual dan kekerasan dalam pacaran misalnya atau apa yang terjadi dalam keluarga di bahas secara interaktif, topik-topik tersebut mendapat respon positif dari peserta.

“Kami bisa saling berbagi cerita sebagai remaja, sehingga saya merasa lebih nyaman untuk mengungkapkan pendapat saya dan memberikan masukan terhadap topik yang dibahas,” ungkap Mulyana, siswi kelas 8 di SMP Negeri 1 Maluk.

Mulyana menambahkan dirinya lebih memahami dampak perkawinan usia anak dari berbagai sisi seperti sosial dan ekonomi setelah mengikuti kegiatan tersebut.

Pelibatan remaja dalam upaya mengatasi stunting menjadi krusial karena remaja merupakan pelopor inovasi dan agen perubahan di Indonesia. Karena itu kegiatan seperti ini perlu banyak dilakukan.

Baca: Empat provinsi penyumbang angka stunting nasional

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *