Tag: perubahan iklim

  • ADB: Perubahan Iklim Berpotensi Picu Kerugian hingga 3,5 persen dari PDB Indonesia

    ADB: Perubahan Iklim Berpotensi Picu Kerugian hingga 3,5 persen dari PDB Indonesia

    7cloud.asia – Banyak orang mengira bahwa perubahan iklim hanya sebatas cuaca panas, yang bisa diatasi dengan menurunkan temperatur AC atau menghindar dari teriknya matahari.

    Kenyataannya, perubahan iklim mengakibatkan Bumi rentan terhadap berbagai ancaman serius yang membahayakan kehidupan manusia, mulai dari peningkatan intensitas bencana hingga penyebaran penyakit.

    Perubahan iklim tidak hanya berdampak langsung terhadap kenaikan intensitas bencana, seperti banjir dan kekeringan, tapi juga berdampak secara tidak langsung terhadap gagal panen, krisis pangan, hingga kemiskinan.

    Dilansir MADANI Berkelanjutan, Hal-hal inilah yang pada gilirannya turut memperburuk kondisi perekonomian nasional.

    Berdasarkan proyeksi Asian Development Bank (ADB), dampak perubahan iklim di Indonesia berpotensi menyebabkan kerugian hingga 3,5 persen dari PDB nasional pada 2100.

    Sebagai ilustrasi, kerugian pada sektor pertanian dan wilayah pesisir akibat perubahan iklim diperkirakan mencapai 2,2 persen dari total PDB pada tahun yang sama (ADB 2009).

    Selain itu, meningkatnya frekuensi bencana yang dipicu oleh perubahan iklim juga menyumbang kerugian ekonomi sebesar 0,3 persen dari PDB (ADB 2009).

    Revisi kajian Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) menunjukkan bahwa pada 2020, kerugian ekonomi di empat sektor prioritas (kelautan dan pesisir, air, pertanian, serta kesehatan) mencapai Rp102,36 triliun.

    Angka ini mencapai sekitar 0,61 persen dari target PDB 2020. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi Rp115,53 triliun pada 2024.

    Proyeksi dampak ekonomi perubahan iklim pada 2030 memperkirakan kerugian dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat mencapai 0,66 persen hingga 3,45 persen dari PDB nasional, dengan rata-rata dampak sebesar 2,87% PDB.

    Analisis ini mencakup kerugian akibat bencana seperti penyebaran penyakit dari banjir, longsor, dan kekeringan, serta kerusakan hasil pertanian akibat banjir.

    Keberlangsungan sektor-sektor kebutuhan dasar sangat bergantung pada stabilitas ekosistem. Bencana yang mengganggu layanan jasa ekosistem dapat mengakibatkan kerugian ekonomi signifikan di bidang-bidang tersebut.

    Jika digabungkan dengan kerusakan jasa ekosistem dan dampak bencana, potensi kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp4.328,38 triliun.

  • Ketahui Bagaimana Perubahan Iklim Dapat Memperburuk Ketimpangan Sosial

    Ketahui Bagaimana Perubahan Iklim Dapat Memperburuk Ketimpangan Sosial


    7cloud.asia – Perubahan iklim tidak hanya mengakibatkan kerugian ekonomi, tapi juga memperburuk ketimpangan sosial.

    Terganggunya produktivitas para petani dan nelayan membuat harga pangan melambung dan berdampak terhadap kenaikan inflasi, penurunan Produk Domestik Bruto (PDB), hingga peningkatan garis kemiskinan.

    Dampak perubahan iklim juga dirasakan secara tidak seimbang oleh kelompok masyarakat paling rentan di kawasan Asia-Pasifik, yang umumnya memiliki keterbatasan kapasitas dan sumber daya untuk menghadapi guncangan.

    Kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, petani kecil, nelayan tradisional, pekerja informal, buruh, dan masyarakat adat, menghadapi risiko yang lebih tinggi, yang pada akhirnya memperburuk ketimpangan sosial dari waktu ke waktu.

    Hal tersebut disebabkan oleh kelompok rentan cenderung mengalami ketimpangan dan keterbatasan dalam hal akses sumber daya, perlindungan sosial, dan hak, sekaligus memiliki keterbatasan kapasitas dalam merespons dampak perubahan iklim.

    Baca: Perubahan iklim berpotensi picu kerugian ekonomi

    Kondisi ini membuat mereka lebih sulit pulih dan berpotensi meningkatkan risiko konflik sosial.

    Perubahan iklim juga memicu migrasi massal akibat hilangnya mata pencaharian dan tempat tinggal, yang pada gilirannya dapat menyebabkan ketegangan sosial di daerah tujuan migrasi.

    Hak-Hak Anak yang Terabaikan
    Anak-anak merupakan bagian dari kelompok rentan yang cenderung menghadapi risiko terbesar dari krisis iklim.

    Hampir seluruh anak di dunia terpapar setidaknya satu bentuk bahaya terkait iklim dan lingkungan, seperti gelombang panas, siklon, polusi udara, banjir, dan kelangkaan air.

    Lebih dari sepertiga populasi anak di dunia, yakni sekitar 820 juta jiwa, memiliki keterpaparan tinggi terhadap gelombang panas yang potensial memburuk seiring meningkatnya suhu global.

    Baca: Strategi bertahan petani kecil di tengah perubahan iklim

    Sebanyak 400 juta anak memiliki keterpaparan tinggi terhadap siklon. Kondisi ini berpotensi memburuk seiring meningkatnya frekuensi siklon intensitas tinggi, intensitas curah hujan, dan pergeseran pola siklon.

    Sementara itu, hampir 90 persen populasi anak di dunia atau sekitar 2 miliar anak saat ini memiliki keterpaparan tinggi terhadap polusi udara dengan konsentrasi polutan lebih dari 10µg/m3.

    Kondisi tersebut berpotensi memburuk jika tidak ada penurunan pembakaran bahan bakar fosil yang menjadi penyebab utama polusi udara. Begitu juga dengan banjir dan kelangkaan air bersih yang berpengaruh terhadap ruang hidup ratusan juta jiwa anak-anak di dunia.

    Dilansir MADANI Berkelanjutan, Indonesia menduduki peringkat ke-46 dari 163 negara di dunia yang populasi anaknya paling terancam.

    Bahaya iklim dan lingkungan yang berdampak negatif terhadap akses anak-anak ke layanan dasar utama membuat daya tahan dan kapasitas beradaptasi mereka menurun secara signifikan.

    Pada gilirannya, kondisi ini dapat meningkatkan kerentanan mereka terhadap bahaya terkait iklim dan lingkungan.

    Baca: Nasib nelayan tradisional terombang-ambing akibat perubahan iklim

  • Dampak Perubahan Iklim: Sebuah Desa di Swiss Hancur Akibat Kejatuhan Bongkahan Gletser

    Dampak Perubahan Iklim: Sebuah Desa di Swiss Hancur Akibat Kejatuhan Bongkahan Gletser

    7cloud.asia – Perubahan iklim menyebabkan gletser mencair lebih cepat. Lapisan tanah beku permanen, yang sering digambarkan sebagai perekat yang menyatukan gunung-gunung tinggi, juga mencair.

    Terbaru, mencairnya gletser akibatkan perubahan iklim telah mengakibatkan Desa Blatten di Swiss porak poranda setelah bongkahan besar gletser jatuh ke lembah yang menaungi desa tersebut.

    Rekaman drone menunjukkan sebagian besar Gletser Birch runtuh pada Rabu (28/05/2025) sekitar pukul 15:30 waktu setempat.

    Dilansir BBC Indonesia, longsoran lumpur yang melanda Blatten terdengar seperti suara gemuruh yang memekakkan telinga. Longsoran itu juga meninggalkan awan debu yang sangat tebal.

    Baca: Ketebalan salju abadi di Pegunungan Jayawijaya terus menipis

    Ahli glasiologi yang memantau pencairan gletser telah memperingatkan selama bertahun-tahun bahwa beberapa kota dan desa pegunungan Alpen mungkin terancam. Penduduk Blatten bahkan bukan yang pertama dievakuasi.

    Di Swiss timur, penduduk Desa Brienz dievakuasi dua tahun lalu karena lereng gunung di atas mereka runtuh. Sejak itu, mereka hanya diizinkan kembali untuk waktu yang singkat.

    Pada 2017, delapan pendaki tewas dan banyak rumah hancur ketika tanah longsor terbesar dalam lebih dari satu abad terjadi di dekat Desa Bondo.

    Baca: Mungkinkah salju abadi di Pegunungan Jayawijaya pulih seperti sediakala

    Laporan terbaru mengenai kondisi gletser Swiss menunjukkan bahwa gletser-gletser tersebut dapat mencair dalam waktu satu abad, jika suhu global tidak dapat dipertahankan dalam batas kenaikan 1,5 derajat celcius di atas tingkat pra-industri.

    Batas kenaikan suhu global ini disepakati dalam perjanjian iklim Paris yang ditanda-tangani hampir 200 negara pada 2015 atau 10 tahun silam.

    Banyak ilmuwan iklim menyatakan bahwa target tersebut telah terlewati, yang berarti pencairan gletser akan terus meningkat, meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor, serta mengancam lebih banyak komunitas seperti Blatten.

  • Perubahan Iklim Membuat Masyarakat Rentan Jatuh ke Jurang Kemiskinan

    Perubahan Iklim Membuat Masyarakat Rentan Jatuh ke Jurang Kemiskinan

    7cloud.asia – Perubahan iklim dan krisis iklim menambah daftar risiko yang dihadapi kelompok rentan. Krisis iklim dapat mengakibatkan kelompok rentan jatuh ke dalam jurang kemiskinan.

    Sayangnya, Indonesia belum memiliki sistem perlindungan sosial yang antisipatif dan responsif terhadap bencana dan perubahan cuaca ekstrem.

    Padahal, banjir dan kekeringan kini makin sering terjadi dan berdampak langsung pada kelangsungan hidup kelompok miskin yang bisa memantik kerugian hingga Rp22,8 triliun per tahun.

    United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP) melansir hanya 36 persen kelompok rentan di Asia Pasifik yang memiliki perlindungan penghasilan dasar.

    Di Indonesia, sebagian besar pekerja informal belum tersentuh oleh jaminan sosial atau asuransi kesehatan yang layak.

    Salah satu tantangan utama yang dihadapi Indonesia adalah ketersediaan data. Banyak daerah ditemukan tidak memiliki data kemiskinan real-time, korban bencana, atau informasi tentang siapa saja yang belum terkoneksi digital.

    Padahal data seperti ini sangat penting untuk dijadikan basis kebijakan untuk menghadapi krisis iklim dan mengentaskan kemiskinan.

    Oleh karenanya, kampanye mengenai perubahan iklim mungkin terasa agak hambar. Sebab, kampanye ini tak bisa menyerukan keadilan iklim dengan lantang jika rumah tangga miskin tetap menjadi yang paling terdampak tanpa perlindungan.

    Baca: Akses digital tidak merata dapat melanggengkan kemiskinan

    Studi terbaru dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan bahwa sebagian besar bantuan sosial masih belum adaptif terhadap dinamika kebutuhan lokal.

    Misalnya, indeks kemiskinan di wilayah pesisir sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan musim panen ikan, namun skema bantuan nasional yang ada saat ini tidak memperhitungkan fluktuasi musiman ini.

    Kebutuhan mendesak pemutakhirkan data
    Sejak 2019, pemerintah Indonesia telah meluncurkan inisiatif “Satu Data Indonesia” (One Data Policy).

    Kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan data yang standar, interoperabel, mudah diakses, dan digunakan lintas kementerian dan lembaga, mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga evaluasi pembangunan.

    Namun, implementasi kebijakan ini masih menghadapi tantangan—terutama dalam integrasi data sosial dengan data iklim, gender, disabilitas, dan literasi digital di tingkat daerah.

    Misalnya, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan dashboard SDGs belum sepenuhnya terhubung dengan data kebencanaan.

    Tanpa integrasi dan verifikasi yang baik, data berisiko menjadi justifikasi statistik semata—bukan alat untuk keadilan sosial.

    Platform data bukan hanya alat teknis, tetapi bagian dari kontrak sosial. Di tengah tantangan perubahan iklim dan digitalisasi, data seharusnya menjadi instrumen demokratisasi: memperlihatkan siapa yang belum terlihat, dan menggerakkan sumber daya ke arah yang paling membutuhkan.

    Baca: Angka statistik dengan realita kemiskinan di Indonesia

    Kondisi ini diperparah dengan kurangnya pelibatan komunitas dalam perencanaan dan evaluasi program pembangunan.

    Banyak masyarakat adat atau kelompok marjinal tidak memiliki akses ke forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (musrembang) atau konsultasi publik yang sesungguhnya inklusif. Hal ini menjadikan mereka tidak hanya tertinggal secara ekonomi, tetapi juga secara politik dan sosial.

    Lebih jauh, kita juga harus mempertanyakan cara pengukuran keberhasilan pembangunan.

    Indikator makroekonomi seperti pertumbuhan PDB atau indeks kemiskinan seringkali tidak mampu menangkap dimensi kesejahteraan yang lebih luas seperti keadilan sosial, kualitas hidup, atau rasa aman warga.

    Di sisi lain, tunas inisiatif daerah telah memulai inovasi lokal yang layak di apreasiasi dan di contoh.

    Kabupaten Gunungkidul, misalnya, mulai mengembangkan sistem pemetaan digital partisipatif untuk mengidentifikasi rumah tangga rentan dan menetapkan prioritas intervensi.

    Inisiatif seperti ini perlu diperluas dan didukung oleh pemerintah pusat, baik melalui pendanaan maupun pengakuan dalam sistem perencanaan nasional.

    Akhirnya, penting untuk menekankan bahwa kemiskinan di abad ke-21 adalah persoalan sistemik, bukan individual. Ini menyangkut desain institusi, alokasi anggaran, tata kelola data, dan cara negara mendefinisikan siapa warganya yang dianggap berhak mendapat bantuan.

    Kredibilitas Indonesia di panggung dunia hanya akan kuat jika kita bisa konsisten membereskan masalah di dalam negeri terlebih dahulu.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dr. Sanjoyo, M.Ec (Dosen Ilmu Ekonomi, BAPPENAS)

  • Laporan Copernicus Sebut Eropa Alami Bencana Terburuk Akibat Perubahan Iklim pada Tahun Lalu

    Laporan Copernicus Sebut Eropa Alami Bencana Terburuk Akibat Perubahan Iklim pada Tahun Lalu

    7cloud.asia – Negara-negara Eropa mengalami “dampak serius” dari cuaca ekstrem dan perubahan iklim pada tahun 2024, menurut laporan baru yang diterbitkan April lalu.

    Data yang dikumpulkan oleh Layanan Perubahan Iklim Uni Eropa Copernicus dan Organisasi Meteorologi Dunia mengungkapkan, daratan Eropa dilanda badai “yang sering kali dahsyat” yang memicu banjir paling luas sejak 2013.

    Eropa Barat terkena dampak paling parah, di mana tahun 2024 tercatat sebagai salah satu di antara sepuluh tahun terbasah sejak 1950.

    Diperkirakan 413.000 orang terkena dampak, dan sedikitnya 335 orang kehilangan nyawa.

    Peristiwa penting termasuk banjir mematikan di Valencia, sebuah provinsi di Spanyol timur. Curah hujan hingga 500 milimeter (20 inci) – setara dengan satu tahun untuk beberapa lokasi – turun hanya dalam delapan jam pada akhir Oktober, menjebak orang-orang di rumah dan mobil mereka.

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global capai 2°C

    Badai yang belum pernah terjadi sebelumnya itu dipicu oleh air laut yang lebih hangat dari biasanya yang kemungkinan terjadi setidaknya 50 hingga 300 kali lebih besar akibat perubahan iklim.

    Menurut laporan tersebut, suhu permukaan laut di seluruh Eropa 0,7°C di atas rata-rata dan Laut Mediterania 1,2°C di atas rata-rata tahun lalu.

    Banjir tersebut menewaskan sedikitnya 232 orang di seluruh wilayah, menjadikannya peristiwa terkait cuaca paling mematikan tahun ini.

    Sebulan sebelumnya, hujan deras yang sama memicu banjir dahsyat di delapan negara di Eropa tengah dan timur.

    Perubahan iklim juga telah meningkatkan kemungkinan dan intensitas badai yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang merenggut sedikitnya 19 nyawa.

    Baca: Pemanasan suhu Bumi mampaui ambang batas 1,5°C

    Sebagai akibat dari peristiwa banjir ini dan lainnya, 30 persen jaringan sungai Eropa melampaui ambang batas banjir “tinggi” selama tahun itu, sementara 12 persen melampaui ambang batas banjir “parah”, ungkap laporan hari Selasa.

    Perubahan iklim mengintensifkan siklus air, membawa curah hujan yang lebih deras dan kemudian memicu banjir besar

    Saat permukaan laut menghangat, udara di atasnya pun ikut menghangat, yang menyebabkan air terbawa ke tempat yang lebih tinggi untuk membentuk awan, dan meninggalkan zona tekanan rendah di bawahnya yang menyebabkan lebih banyak udara masuk.

    Kondisi ini kemudian memicu angin kencang atau bahkan badai. Laporan tersebut menyebut, semakin hangat udara, semakin banyak air yang dapat ditampungnya

    Di mana untuk setiap satu derajat Celsius pemanasan tambahan, udara dapat menahan 7 persen lebih banyak uap air.

    Baca: Uni Eropa dorong pengurangan emisi hingga 90 persen

  • Kampanye lingkungan: Gen Z Butuh Contoh Nyata, Bukan Perintah Apalagi Ceramah

    Kampanye lingkungan: Gen Z Butuh Contoh Nyata, Bukan Perintah Apalagi Ceramah

    7cloud.asia – Karakter generasi Z (Gen Z) memang unik. Selain terkenal kritis dan senang kebebasan, Gen Z juga tidak suka diperintah, dijejali ceramah, tapi punya rasa ingin tahu yang besar.

    Kesadaran Gen Z terhadap berbagai isu termasuk lingkungan sangat tinggi. Mereka memiliki literasi yang baik soal perubahan iklim.

    Sekarang, pekerjaan rumahnya adalah bagaimana mendorong Gen Z agar mau terlibat aktif dalam aksi nyata.

    Penelitian penuli bersama rekan peneliti menunjukkan bahwa perilaku Gen Z cenderung lebih dipengaruhi oleh tindakan atau apa yang mereka lihat, ketimbang perintah atau ceramah.

    Paparan media sosial, terutama Instagram, juga besar pengaruhnya terhadap perilaku pro-lingkungan Gen Z.

    Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata
    Sensus Penduduk 2020 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk Indonesia pada 2020 mencapai 270,2 juta orang. Dari jumlah tersebut, 52,2 persen merupakan kaum muda yang berasal dari gen Z dan milenial.

    Proporsi gen Z yang lahir tahun 1997-2012 mencapai 26,4 persen atau 71,5 juta jiwa dari total populasi nasional, lebih besar dibandingkan generasi milenial (lahir 1981-1996).

    Artinya, Gen Z yang berusia produktif akan segera mendominasi populasi. Karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang membentuk perilaku mereka, terutama dalam hal kepedulian terhadap lingkungan.

    Baca: Gen Z dan baby boomers sama-sama terdampak perubahan iklim

    Kami melakukan riset untuk menganalisis faktor yang memengaruhi niat Gen Z untuk berperilaku pro-lingkungan (pro-environmental behavior/PEB) serta efek paparan informasi di media sosial terhadap sikap mereka.

    Kami memakai metode survei cross-sectional dengan 670 responden Gen Z (18–25 tahun) di Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner online, yang disebarkan lewat media sosial.

    Hasilnya, studi kami menemukan bahwa norma deskriptif—kebiasaan yang dicontohkan orang lain—lebih berpengaruh terhadap perilaku pro-lingkungan Gen Z dibandingkan norma injungtif seperti perintah atau ceramah.

    Kaum Z mengadopsi perilaku pro-lingkungan berdasarkan kebiasaan yang diterapkan oleh lingkungan terdekat mereka, terutama keluarga. Jika orang tua dan anggota keluarga aktif dalam kegiatan ramah lingkungan, anak-anak mereka lebih cenderung mengikuti jejak tersebut.

    Temuan ini mendukung prinsip “Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata,” yang ditemukan dalam sebuah riset lebih dari satu dekade silam.

    Kampanye lingkungan di era medsos
    Gen Z merupakan generasi pertama yang dibesarkan sepenuhnya dalam era digital. Mereka sering disebut sebagai iGeneration karena sangat bergantung pada teknologi dan informasi.

    Pengaruh media sosial terhadap Gen Z juga terlihat, misalnya, dari perilaku ramah lingkungan dan lebih peduli pada pengelolaan polusi plastik. dari paparan konten-konten positif.

     

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sejumlah platform medsos seperti Twitter, Instagram, Youtube, dan Facebook berpotensi besar memengaruhi perilaku Gen Z dalam hal keberlanjutan.

    Baca: Gen Z juga mendorong transisi ke ekonomi hijau

    Namun, penelitian kami mengungkapkan, dari sekian banyak platform, hanya Instagram yang terbukti mampu membentuk perilaku pro-lingkungan Gen Z. Alasannya, desain visual Instagram yang lebih estetik membuatnya lebih menarik dan cocok dengan preferensi visual Gen Z.

    Instagram juga memungkinkan penggunanya untuk berbagi konten yang—tidak hanya menghibur—tetapi juga informatif dan berbasis pengalaman. Ini bisa mendorong pengguna untuk terlibat lebih mendalam.

    Instagram terbukti mampu meningkatkan kesadaran dan respons positif terhadap kelestarian lingkungan dan efektif sebagai sarana pemasaran produk ramah lingkungan.

    Riset kami memang belum TikTok yang muncul belakangan, jadi sepertinya perlu studi lebih lanjut untuk menelusuri apakah platform ini juga memengaruhi perilaku anak muda.

    Implikasi bagi kampanye lingkungan
    Perubahan perilaku adalah tujuan utama kampanye lingkungan hidup. Medsos adalah salah satu sarana yang bisa dimanfaatkan untuk berkampanye.

    Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa tidak semua media sosial efektif mendorong perilaku pro-lingkungan menjadi aksi nyata.

    Karena itu, para aktivis, organisasi, dan pemangku kepentingan di bidang lingkungan perlu memilih platform media yang tepat dalam setiap inisiatif kampanye, terutama untuk menjangkau Gen Z sebagai audiens utama.

    Selain medsos, orang tua dan komunitas harus lebih aktif memberikan contoh nyata dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan kepada anak-anak, bukan hanya sekadar ceramah.

    Dengan memahami cara Gen Z berperilaku, kita bisa merancang kampanye yang lebih efektif dan menginspirasi generasi muda untuk mengambil tindakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: FX Ari Agung Prastowo (Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran)

  • Perubahan Iklim Jadi Tantangan Besar Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan

    Perubahan Iklim Jadi Tantangan Besar Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan

    7cloud.asia – Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia saat ini menghadapi tantangan perubahan iklim yang sangat kompleks dan multidimensional.

    Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan di Indonesia telah mengalami peningkatan suhu sebesar 0,45 hingga 0,75 derajat Celsius.

    Sementara proyeksi kenaikan permukaan air laut mencapai 0,8 hingga 12 sentimeter per tahun. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan karena 65 persen penduduk Indonesia dari total 275 juta jiwa tinggal di wilayah pesisir.

    Menurut Kepala Pusat Studi Transportasi (Pustral) UGM, Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D, kondisi tersebut menjadikan negara Indonesia sangat rentan terhadap dampak kenaikan muka air laut.

    Fakta tersebut juga menempatkan Indonesia pada peringkat ke-14 dalam Global Climate Risk Index atau Indeks Risiko Iklim (CRI)

    Indeks Risiko Iklim memeringkat negara berdasarkan dampak manusia dan ekonomi akibat cuaca ekstrem. Edisi terbaru menyoroti meningkatnya kerugian dan kebutuhan mendesak akan ketahanan dan tindakan iklim yang lebih kuat.

    Indeks Risiko Iklim (CRI) yang diterbitkan sejak 2006, menganalisis tingkat dampak peristiwa cuaca ekstrem terkait iklim terhadap negara. Dengan demikian, CRI mengukur konsekuensi risiko yang terjadi pada negara.

    “Hal ini menandakan tingkat kerentanan yang signifikan terhadap dampak perubahan iklim”, ujarnya.

    Baca: Greenskill yang penting diketahui demi keberlanjutan

    Ikaputra menyampaikan tingkat kerentanan akibat dampak perubahan iklim memerlukan keseriusan dalam menangani dan memitigasi. Karena itu, Pustral UGM menggelar webinar bertema Sustainable Infrastructure Development: Meeting the Climate Challenge pada hari Selasa (27/5/2025).

    Webinar diselenggarakan di tengah momentum penting ketika dunia sedang menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin mendesak, di mana suhu global telah mencapai 1,51°C di atas level pra-industri pada April 2025.

    “Kondisi menandakan urgensi yang tidak dapat diabaikan lagi. Kehadiran para ahli, praktisi, pembuat kebijakan, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan sangat diharapkan sebagai bentuk komitmen bersama dalam menghadapi krisis iklim melalui pembangunan infrastruktur berkelanjutan,” terangnya.

    Memaparkan strategi dekarbonisasi sektor energi untuk mencapai net zero emissions (NZE), Moekti Handajani Soejachmoen, Direktur Eksekutif Indonesia Research Institute for Decarbonization (IRID), menyampaikan target dekarbonisasi adalah sesuai Persetujuan Paris untuk mencapai NZE 2050.

    Beberapa prinsip yang perlu dipahami terkait dekarbonisasi antara lain dekarbonisasi sektor energi tidak bertentangan dengan peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi.

    Dekarbonisasi energi diharapkan tidak mengakibatkan krisis energi, kelangkaan energi dan permasalahan energi lainnya.

    “Transisi karena dekarbonisasi harus berkeadilan (just transition), dan dekarbonisasi energi bukan hanya berdampak terhadap emisi tetapi juga terhadap investasi (carbon footprint produk)”, ungkapnya.

    Dalam menerapkan strategi dekarbonisasi, Moekti Handajani menandaskan perlu mempertimbangkan berbagai faktor, diantaranya Sumber daya.

    Baca: Upaya pemerintah ciptakan greenjobs

    Sumber daya alam ini termasuk kondisi lingkungan dan iklim dan sumber daya manusia termasuk kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Menurutnya, perlu kiranya melihat kerangka regulasi dan kelembagaan, pendanaan dan keuangan nasional.

    “Juga berbagai potensi kerjasama, baik internasional maupun antar pihak di dalam negeri, termasuk riset & pengembangan teknologi, pendidikan, investasi, perdagangan, keamanan, dan lainnya”, papar Moekti Handajani.

    Profesor Ir. Mohammed Ali Berawi, M.Eng.Sc, Ph.D, Guru Besar Departemen Teknik Sipil Universitas Indonesia menyatakan penerapan ketahanan iklim dalam desain dan konstruksi infrastruktur sipil memerlukan keragaman perspektif dari praktisi industri, lembaga penelitian, dan akademisi.

    Perspektif mereka diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif tentang tantangan dan solusi dalam pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

    Moh Berawi menyebut perlunya menciptakan proyek infrastruktur bernilai tambah, diantaranya dengan meningkatkan efisiensi dan kelayakan proyek, menciptakan inovasi dan alih teknologi.

    Selain itu perlunya meningkatkan kerjasama multisektor, mengembangkan infrastruktur yang terintegrasi dan multifungsi, serta mengoptimalkan manfaat bagi semua pemangku kepentingan.

    Value Creation pada pembangunan berkelanjutan menjadikan industri mendorong peningkatan nilai tambah dan peningkatan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

    “Hal itu tentunya untuk memenuhi tujuan pembangunan yang lebih luas, inklusif, dan berkelanjutan.” tandasnya.

    Baca: Ekonomi Indonesia bertransisi ke ekonomi hijau

  • Pertanyaan Soal Polusi Plastik yang Sering Muncul dan Jawabannya

    Pertanyaan Soal Polusi Plastik yang Sering Muncul dan Jawabannya

    7cloud.asia – Masyarakat dunia menghasilkan sekitar 400 juta ton sampah plastik pada tahun 2024 lalu.

    Banjir botol air dan sampo, wadah dispenser, kaus poliester, pipa PVC, dan produk plastik lainnya merupakan bagian dari krisis polusi plastik yang menurut para ahli merusak ekosistem, membuat orang terpapar polutan yang berpotensi berbahaya, dan memicu perubahan iklim.

    “Polusi plastik merupakan salah satu ancaman lingkungan paling serius yang dihadapi Bumi, tetapi ini adalah masalah yang dapat kita atasi,” kata Elisa Tonda, Kepala Cabang Sumber Daya dan Pasar Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    “Melakukan hal itu tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan manusia dan planet, tetapi juga membuka sejumlah peluang ekonomi.”

    Negara-negara di seluruh dunia kini tengah merundingkan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.

    Dengan latar belakang tersebut, Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini berfokus pada cara-cara untuk mencegah sampah plastik masuk ke lingkungan.

    Baca: Upaya Dunia mengakhiri polusi plastik

    Salah satunya mengekang polusi dari produk plastik sekali pakai dan mendesain ulang produk plastik agar lebih tahan lama.

    Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, berikut ini adalah tinjauan lebih dekat tentang apa itu polusi plastik, mengapa hal itu menjadi masalah besar, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

    1. Berapa banyak plastik yang ada di luar sana?
    Banyak sekali. Saat ini, plastik merupakan bagian penting dari dunia modern, digunakan dalam segala hal mulai dari suku cadang mobil hingga peralatan medis.

    Sejak tahun 1950-an, para peneliti memperkirakan manusia telah menghasilkan 9,2 miliar ton plastik, sekitar 7 miliar ton di antaranya telah menjadi limbah.

    2. Jenis plastik apa yang paling bermasalah?
    Sumber utama polusi plastik adalah produk plastik sekali pakai, yang tidak beredar dalam perekonomian, membanjiri sistem pembuangan limbah, dan masuk ke lingkungan.

    Beberapa produk plastik sekali pakai yang paling umum adalah botol air, wadah dispenser, tas makanan siap saji, peralatan makan sekali pakai, tas pembeku, dan busa kemasan.

    Baca: Greenpeace Indonesia tagih peta jalan produsen atasi polusi plastik

    Produk plastik sekali pakai ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat, yaitu: 
    Polietilena tereftalat (PET): digunakan untuk botol air, wadah dispenser, baki biskuit

    Polietilena densitas tinggi (HDPE) digunakan untuk botol sampo, botol susu, kantong pembeku, wadah es krim

    Polietilena densitas rendah (LDPE) Kantong, baki, wadah, film pengemas makanan

    Polipropilena (PP), Kantong keripik kentang, wadah microwave, wadah es krim, tutup botol, masker wajah sekali pakai

    Polistirena (PS), digunakan untuk peralatan makan, piring, cangkir

    Polistirena yang diekspansi (EPS) biasa digunakan untuk kemasan pelindung, cangkir minuman panas

    3. Di mana polusi plastik ditemukan?
    Jawaban singkatnya: hampir di mana-mana. Polusi plastik ada di danau, sungai, dan laut. Polusi plastik tersebar di jalan-jalan kota dan ladang petani.

    Polusi plastik meledak dari tempat pembuangan sampah. Polusi plastik menumpuk di gurun dan masuk ke es laut. Para peneliti bahkan menemukan puing-puing plastik di Gunung Everest dan di Palung Mariana, titik terdalam di Bumi.

    Baca: Upaya perusahaan global mengurangi limbah plastik

    4. Mengapa polusi plastik menjadi masalah besar?
    Ada tiga alasan utama. Pertama, polusi plastik dapat merusak ekosistem. Sebuah penelitian menemukan bahwa partikel plastik kecil dapat memperlambat pertumbuhan alga laut mikroskopis yang dikenal sebagai fitoplankton, yang merupakan dasar dari beberapa jaring makanan akuatik.

    Selain itu, ikan sering kali keliru memakan produk plastik, mengisi perut mereka dengan pecahan yang tidak dapat dicerna yang menyebabkan mereka mati kelaparan.

    Kedua, plastik sering kali terurai menjadi fragmen-fragmen kecil – yang dikenal sebagai mikroplastik dan nanoplastik – yang dapat menumpuk di dalam tubuh manusia.

    Mikroplastik telah ditemukan di hati, testis, bahkan ASI. Satu penelitian menemukan bahwa rata-rata, satu liter air minum dalam kemasan mengandung sekitar 240.000 mikroplastik.

    Ketiga, plastik sepanjang siklus hidupnya juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    Produksi plastik, proses yang sangat boros energi, bertanggung jawab atas lebih dari 3 persen emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global pada tahun 2020, menurut perkiraan para peneliti.

  • BRIN: Perempuan Memegang Peran Penting dalam Membangun Ketahanan Iklim

    BRIN: Perempuan Memegang Peran Penting dalam Membangun Ketahanan Iklim

    7cloud.asia – Para perempuan bukan sekadar sebagai pelengkap dalam struktur pemerintahan atau masyarakat, apalagi jika dikaitkan dengan upaya membangun ketahanan iklim.

    Peneliti Pusat Riset (PR) Hukum, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ade Angelia mengatakan bahwa perempuan adalah aktor utama yang memainkan peran penting dalam membangun ketahanan iklim.

    “Perempuan pesisir terbukti menjadi kelompok yang rentan, sekaligus agen perubahan yang tangguh,” ucap Ade saat menyampaikan paparan dalam forum Diseminasi Hasil Penelitian PR Hukum BRIN yang berlangsung Selasa (3/6/2025).

    Pada kesempatan itu, ia menyampaikan hasil risetnya tentang strategi ketahanan perempuan dalam menanggapi dampak perubahan iklim di wilayah pesisir utara Semarang, Jawa Tengah.

    Baca: Peran agama dan gender membangun ketahanan iklim di Jawa Tengah

    Fokus kajian ini menyoroti tiga aspek utama dalam merespons dampak perubahan iklim di wilayah pesisir utara Kota Semarang yaitu ekonomi, lingkungan hidup, dan pemberdayaan masyarakat.

    Ade menyebutkan, dalam banyak studi, perempuan lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim. Hal itu karena keterbatasan akses terhadap sumber daya dan beban domestik yang lebih besar.

    Di sisi lain, mereka juga menunjukkan kapasitas luar biasa dalam mengelola sumber daya rumah tangga dan komunitas, terlibat dalam pertanian lokal, konservasi lingkungan, hingga advokasi kebijakan.

    Seperti yang ia amati di pesisir utara Semarang yang sedang menghadapi krisis serius lingkungan. Di mana, ada kenaikan permukaan laut, penurunan muka tanah, dan sistem drainase yang buruk.

    Baca: Adaptasi iklim warga Pantura di Jawa Barat

    “Sejak 1985 hingga 1998, terjadi peningkatan suhu rata-rata dan kerusakan lingkungan seperti kualitas air menurun, infrastruktur rusak, hingga peningkatan penyakit kulit dan pernapasan,” jelasnya.

    Tantangan yang dihadapi perempuan pesisir yaitu legalitas usaha, pemasaran digital, permodalan, kerentanan tenaga kerja, kepemilikan lahan dan infrastruktur, dan pemangkasan anggaran.

    Ade menyimpulkan bahwa perubahan iklim sangat nyata di pesisir Semarang. Mulai dari banjir rob hingga perubahan musim. Menurutnya, perempuan adalah kelompok paling terdampak namun juga menjadi motor utama dalam adaptasi dan inovasi lokal.

    “Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis komunitas, perempuan pesisir Semarang dapat menjadi pilar utama dalam menghadapi perubahan iklim. Tentu saja dengan tetap menjunjung prinsip keadilan gender,” simpul Ade.

  • Pemanasan Akibat Perubahan Iklim Bikin Jamur Semakin Ganas

    Pemanasan Akibat Perubahan Iklim Bikin Jamur Semakin Ganas

    7cloud.asia – Naiknya suhu bumi akibat perubahan iklim, diam-diam juga membuka jalan bagi masifnya pertumbuhan dan persebaran musuh kecil yang mematikan: jamur patogen.

    Dalam edisi terbaru Ask the Expert, The Conversation berbincang dengan Diah Ayu Prawitasari, Dosen teknik lingkungan, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

    Diah menjelaskan bahwa suhu yang menghangat akibat perubahan iklim bisa membuat jamur menjadi stres, yang kemudian mendorong mutasi genetik. Hasilnya? Jamur menjadi lebih tangguh terhadap suhu tinggi.

    Beberapa jenis jamur yang dulu hanya bisa hidup di wilayah tropis, kini bisa berkembang luas di daerah non-tropis.

    Sebagian besar menjadi lebih resisten terhadap panas dan sulit dikendalikan. Mereka bahkan berpeluang lebih kuat lagi dan mampu bertahan pada suhu tubuh manusia.

    Adapun jenis jamur yang paling berbahaya bagi manusia, di antaranya adalah Candida auris dan Aspergillus Fumigatus.

    Mereka bisa menyebabkan infeksi yang parah, menyerang sistem kekebalan tubuh dan sistem pernapasan manusia. Bahkan, bisa memicu kematian jika tidak ditangani dengan cepat.

    Tapi, apakah jamur bisa menginfeksi sampai mengendalikan tubuh manusia seperti dalam film The Last of Us?

    Hingga saat ini, Diah menyebut belum ada bukti ilmiah bahwa jamur Cordyceps yang ditampilkan dalam film tersebut bisa menginfeksi manusia. Di dunia nyata, jamur Cordyceps sejauh ini hanya bisa menginfeksi serangga, seperti semut.

    Kemungkinannya sangat kecil jamur bisa menginfeksi manusia. Meski begitu, ujar Diah, film ini menjadi sinyal peringatan bahwa perubahan iklim bisa mempercepat kemunculan mikroorganisme baru atau mendorong mutasi yang berbahaya.

    “Kita tidak pernah tahu masa depan akan seperti apa, dengan perubahan iklim dan pemanasan global, bisa saja jamur tersebut berevolusi, sehingga menyerang manusia. Walaupun, tentu saja, evolusi itu membutuhkan waktu yang sangat lama,” ujar dia.

    Jamur sebenarnya tak selalu menjadi ancaman. Ia juga berperan penting untuk keseimbangan lingkungan. Beberapa spesies bertindak sebagai dekomposer alami—mereka membantu mengurai materi organik dan menjaga siklus alam tetap berjalan.

    Beberapa jenis jamur bahkan memiliki kemampuan untuk menyerap logam berat sampai menyaring air. Mereka bekerja seperti “polisi lingkungan” yang membersihkan polusi tanpa merusak ekosistem.

    Kini, berbagai teknologi berbasis jamur berkembang sebagai solusi lingkungan. Misalnya, miselium—jaringan jamur yang digunakan sebagai bahan untuk membuat kemasan, batako, bahkan furnitur.

    Material ini ringan, tahan lama, dan bisa terurai alami. Banyak perusahaan di dunia, termasuk Indonesia, mulai mengembangkan produk-produk berbasis jamur ini sebagai pengganti styrofoam dan beton konvensional.

    Jamur juga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan bioenergi dari limbah organik. Proses ini tidak hanya mengurangi emisi karbon, tapi juga membuka peluang energi terbarukan dari sumber yang selama ini kita abaikan.

    Di tengah krisis iklim, jamur bisa menjadi tantangan sekaligus sekutu dalam menjaga bumi. Dan semua itu, tergantung pada bagaimana kita menyikapinya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Rino Putama, Multimedia Producer, The Conversation Indonesia. Jika ingin mendengarkan rekaman siniarnya klik di sini.