Pertanyaan Soal Polusi Plastik yang Sering Muncul dan Jawabannya

Written by

in

7cloud.asia – Masyarakat dunia menghasilkan sekitar 400 juta ton sampah plastik pada tahun 2024 lalu.

Banjir botol air dan sampo, wadah dispenser, kaus poliester, pipa PVC, dan produk plastik lainnya merupakan bagian dari krisis polusi plastik yang menurut para ahli merusak ekosistem, membuat orang terpapar polutan yang berpotensi berbahaya, dan memicu perubahan iklim.

“Polusi plastik merupakan salah satu ancaman lingkungan paling serius yang dihadapi Bumi, tetapi ini adalah masalah yang dapat kita atasi,” kata Elisa Tonda, Kepala Cabang Sumber Daya dan Pasar Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

“Melakukan hal itu tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan manusia dan planet, tetapi juga membuka sejumlah peluang ekonomi.”

Negara-negara di seluruh dunia kini tengah merundingkan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.

Dengan latar belakang tersebut, Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini berfokus pada cara-cara untuk mencegah sampah plastik masuk ke lingkungan.

Baca: Upaya Dunia mengakhiri polusi plastik

Salah satunya mengekang polusi dari produk plastik sekali pakai dan mendesain ulang produk plastik agar lebih tahan lama.

Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, berikut ini adalah tinjauan lebih dekat tentang apa itu polusi plastik, mengapa hal itu menjadi masalah besar, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

1. Berapa banyak plastik yang ada di luar sana?
Banyak sekali. Saat ini, plastik merupakan bagian penting dari dunia modern, digunakan dalam segala hal mulai dari suku cadang mobil hingga peralatan medis.

Sejak tahun 1950-an, para peneliti memperkirakan manusia telah menghasilkan 9,2 miliar ton plastik, sekitar 7 miliar ton di antaranya telah menjadi limbah.

2. Jenis plastik apa yang paling bermasalah?
Sumber utama polusi plastik adalah produk plastik sekali pakai, yang tidak beredar dalam perekonomian, membanjiri sistem pembuangan limbah, dan masuk ke lingkungan.

Beberapa produk plastik sekali pakai yang paling umum adalah botol air, wadah dispenser, tas makanan siap saji, peralatan makan sekali pakai, tas pembeku, dan busa kemasan.

Baca: Greenpeace Indonesia tagih peta jalan produsen atasi polusi plastik

Produk plastik sekali pakai ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat, yaitu: 
Polietilena tereftalat (PET): digunakan untuk botol air, wadah dispenser, baki biskuit

Polietilena densitas tinggi (HDPE) digunakan untuk botol sampo, botol susu, kantong pembeku, wadah es krim

Polietilena densitas rendah (LDPE) Kantong, baki, wadah, film pengemas makanan

Polipropilena (PP), Kantong keripik kentang, wadah microwave, wadah es krim, tutup botol, masker wajah sekali pakai

Polistirena (PS), digunakan untuk peralatan makan, piring, cangkir

Polistirena yang diekspansi (EPS) biasa digunakan untuk kemasan pelindung, cangkir minuman panas

3. Di mana polusi plastik ditemukan?
Jawaban singkatnya: hampir di mana-mana. Polusi plastik ada di danau, sungai, dan laut. Polusi plastik tersebar di jalan-jalan kota dan ladang petani.

Polusi plastik meledak dari tempat pembuangan sampah. Polusi plastik menumpuk di gurun dan masuk ke es laut. Para peneliti bahkan menemukan puing-puing plastik di Gunung Everest dan di Palung Mariana, titik terdalam di Bumi.

Baca: Upaya perusahaan global mengurangi limbah plastik

4. Mengapa polusi plastik menjadi masalah besar?
Ada tiga alasan utama. Pertama, polusi plastik dapat merusak ekosistem. Sebuah penelitian menemukan bahwa partikel plastik kecil dapat memperlambat pertumbuhan alga laut mikroskopis yang dikenal sebagai fitoplankton, yang merupakan dasar dari beberapa jaring makanan akuatik.

Selain itu, ikan sering kali keliru memakan produk plastik, mengisi perut mereka dengan pecahan yang tidak dapat dicerna yang menyebabkan mereka mati kelaparan.

Kedua, plastik sering kali terurai menjadi fragmen-fragmen kecil – yang dikenal sebagai mikroplastik dan nanoplastik – yang dapat menumpuk di dalam tubuh manusia.

Mikroplastik telah ditemukan di hati, testis, bahkan ASI. Satu penelitian menemukan bahwa rata-rata, satu liter air minum dalam kemasan mengandung sekitar 240.000 mikroplastik.

Ketiga, plastik sepanjang siklus hidupnya juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Produksi plastik, proses yang sangat boros energi, bertanggung jawab atas lebih dari 3 persen emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global pada tahun 2020, menurut perkiraan para peneliti.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *