Tag: perubahan iklim

  • Perubahan Iklim Mengancam Produksi Pangan Global: Pertanian Cerdas Iklim Ditawarkan Jadi Solusi

    Perubahan Iklim Mengancam Produksi Pangan Global: Pertanian Cerdas Iklim Ditawarkan Jadi Solusi

    7cloud.asia – Kekeringan ekstrem, banjir, dan badai besar –yang semakin diperparah oleh perubahan iklim– telah menyebabkan kerugian hasil panen yang meluas dan meningkatnya ancaman terhadap pasokan pangan global.

    Namun, produksi pangan juga merupakan salah satu pendorong terbesar perubahan iklim, yang membuat pertanian cerdas iklim menjadi kebutuhan yang mendesak.

    Praktik pertanian konvensional, pengelolaan ternak yang buruk, dan penggunaan pupuk yang berlebihan diketahui juga menjadi sumber emisi karena mengeluarkan sejumlah besar emisi gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer.

    Saat ini, industri peternakan menghasilkan 7,1 gigaton setara karbon dioksida (CO2e) setiap tahun, atau sekitar 14,5 persen dari seluruh emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia di seluruh dunia.

    Ternak adalah penyebab terbesar, melepaskan 4,6 gigaton CO2 – 2,5 GT dari daging sapi dan 2,1 GT dari sapi perah. Metana sangat tinggi dari sendawa sapi, yang menyumbang 14-16 persen dari emisi gas rumah kaca global.

    Baca: Pertanian tradisional yang ramah lingkungan kembali dilirik

    Penggunaan pupuk yang berlebihan juga menyebabkan kerusakan lingkungan, seperti mencemari saluran air dan kualitas udara, mengganggu kesehatan tanah, dan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati.

    Pupuk anorganik berbasis nitrogen – sumber utama gas non-CO2 – dan pupuk kandang bertanggung jawab atas 70 persen emisi amonia di seluruh dunia.

    Emisi yang dihasilkan dari pertanian dan praktik manusia lainnya meningkatkan suhu global dan mengubah pola cuaca, membuat peristiwa ekstrem seperti banjir dan kekeringan lebih sering terjadi dan lebih intens

    Emisi gas rumah kaca juga berdampak pada ketahanan pangan, menurunkan hasil panen dan mengganggu musim tanam.

    Menurut sebuah penelitian, perubahan iklim yang disebabkan manusia telah memperlambat produksi pertanian hingga 21 persen sejak 1961 – sama dengan kehilangan produktivitas selama tujuh tahun.

    Baca: Melawan penggurunan dengan pertanian biogeneratif

    Wilayah yang lebih hangat seperti Afrika, Karibia, dan Amerika Latin menjadi daerah yang paling terpukul, yakni mengalami penurunan produktivitas hingga 26-34 persen

    Mengadopsi praktik pertanian cerdas iklim sangat penting untuk melindungi lingkungan, meningkatkan panen, dan memastikan ketahanan pangan.

    Urgensi untuk mencapai pasokan pangan yang tangguh dan stabil sangatlah penting karena para ahli memperkirakan populasi global akan melampaui 10 miliar orang pada pertengahan tahun 2080-an.

    Apa itu Pertanian Cerdas Iklim?
    Pertanian cerdas iklim mendorong pemanfaatan sumber daya dan pengelolaan pertanian yang memadai untuk menanggapi dampak mendesak dari krisis iklim.

    Sebagian besar penduduk miskin dunia tinggal di daerah pedesaan, yang ekonominya sangat bergantung pada pertanian.

    Pendekatan pertanian cerdas iklim membantu petani kecil meningkatkan pengambilan keputusan untuk produktivitas yang lebih besar

    Pertanian cerdas iklim mempertimbangkan kondisi lokal dan membutuhkan pendekatan holistik berdasarkan dampak perubahan iklim saat ini dan masa depan serta strategi adaptasi yang layak.

    Baca: Manfaat pertanian vertikal untuk lingkungan

  • Manfaat Adopsi Pertanian Cerdas Iklim untuk Lingkungan

    Manfaat Adopsi Pertanian Cerdas Iklim untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Adopsi praktik pertanian cerdas iklim sangat penting untuk melindungi lingkungan, meningkatkan panen, dan memastikan ketahanan pangan dari ancaman perubahan iklim.

    Upaya untuk mencapai pasokan pangan yang tangguh dan stabil sangat penting, karena diperkirakan populasi global akan melampaui 10 miliar orang pada pertengahan tahun 2080-an.

    Pertanian cerdas iklim mendorong pemanfaatan sumber daya dan pengelolaan pertanian yang memadai untuk menanggapi dampak mendesak dari krisis iklim.

    Kebanyakan penduduk miskin dunia tinggal di daerah pedesaan, yang perekonomiannya sangat bergantung pada pertanian.

    Pendekatan pertanian cerdas iklim membantu petani kecil meningkatkan pengambilan keputusan untuk produktivitas yang lebih tinggi, dengan mempertimbangkan kondisi setempat.

    Pertanian cerdas iklim melakukan pendekatan holistik berdasarkan dampak perubahan iklim saat ini dan masa depan, serta strategi adaptasi yang layak.

    Berikut sejumlah manfaat penerapan pertanian cerdas iklim bagi lingkungan sebagaimana kami kutip dari tulisan Rose Morrison yang telah terbit di earth.org

    Baca: Pertanian cerdas iklim ditawarkan jadi solusi ancaman perubahan iklim

    Meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya
    Pepatah “lebih sedikit lebih baik” berlaku untuk pertanian cerdas melalui pertanian presisi. Idenya adalah untuk mengurangi konsumsi dan meminimalkan limbah tanpa mengorbankan hasil panen.

    Teknologi seperti irigasi dengan laju variabel dan pemupukan yang ditargetkan memastikan sumber daya berakhir di tempat yang paling dibutuhkan petani, membatasi kelebihan dan menghindari limpasan yang berbahaya.

    Pengolahan tanah dan penanaman penutup yang tepat juga meningkatkan kesuburan tanah, retensi air, dan siklus nutrisi, menciptakan tanaman yang lebih sehat dengan lebih sedikit ketergantungan pada masukan eksternal.

    Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan jumlah bahan pupuk yang lebih tepat meningkatkan pertumbuhan. Misalnya, satu penelitian menggunakan campuran nitrogen, fosfor, dan kalium yang sangat spesifik, yang menghasilkan peningkatan hasil selada sebesar 42,42 peren.

    Selain itu, kadar nitrogen dan fosfor yang tepat meningkatkan gula dan vitamin C dalam tanaman, membuktikan bahwa keseimbangan sangat penting untuk kuantitas dan kualitas.

    Kalium juga penting untuk kesehatan tanah. Tanpa cukup kalium, akar tanaman akan kesulitan menahan air dan menerima nutrisi yang tepat untuk pertumbuhan.

    Baca: Pertanian tradisional yang ramah lingkungan kembali dilirik

    Meningkatkan Ketahanan dan Adaptasi
    Pertanian cerdas iklim membangun ketahanan dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.

    Metode pertanian cerdas iklim mengharuskan petani untuk mendiversifikasi tanaman dan ternak mereka untuk mengurangi kerentanan yang disebabkan oleh iklim, seperti kekeringan, penyakit, dan serangan hama.

    Pertanian campuran dan agroforestri –di mana tanaman, pohon, dan ternak berinteraksi untuk mendapatkan hasil panen yang lebih banyak dan dampak ekologis yang lebih sedikit– telah menunjukkan keanekaragaman hayati dan peningkatan hasil panen dalam 80 persen kasus, yang menguntungkan manusia dan lingkungan.

    Misalnya, pohon yang tinggi dapat memberikan naungan pada ladang jagung sementara ayam berkeliaran dan memakan serangga.

    Menggunakan tanaman dan ternak yang tahan terhadap iklim merupakan pendekatan lain yang layak untuk meningkatkan hasil panen dan mengurangi kerawanan pangan.

    Satu studi menemukan bahwa kacang-kacangan yang tahan terhadap stres, kacang polong, jagung, dan sorgum meningkatkan keragaman makanan rumah tangga hingga 40 persen sekaligus meningkatkan ketersediaan pangan hingga 75 persen.

    Ternak seperti domba Maasai Merah dan kambing Galla mencapai hal yang sama masing-masing sebesar 38 persen dan 90 persen.

    Baca: Melawan penggurunan dengan pertanian biogeneratif

    Mengurangi emisi gas rumah kaca
    Meskipun beradaptasi dengan perubahan terkait iklim sangat penting untuk produksi tanaman, sektor pertanian juga sama pentingnya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pertanian cerdas iklim dengan cara-cara berikut:

    Manajemen pupuk: Batasi emisi dan polusi melalui aplikasi yang lebih tepat dan solusi organik.

    Manajemen ternak: Tingkatkan efisiensi pakan dan pengelolaan limbah hewan untuk mengurangi metana.

    Manajemen lahan: Terapkan penghijauan dan pertanian tanpa olah tanah untuk memperkuat cadangan karbon tanah.

    Energi terbarukan: Integrasikan irigasi bertenaga surya dan produksi biogas untuk mengurangi permintaan bahan bakar fosil.

    Menurut Laboratorium Nasional Argonne, teknik pertanian cerdas ini dapat menurunkan emisi gas rumah kaca dari produksi biji-bijian saja hingga 70 persen pada tahun 2036.

  • Tantangan dan Praktik Baik Penerapan Pertanian Cerdas Iklim

    Tantangan dan Praktik Baik Penerapan Pertanian Cerdas Iklim

    7cloud.asia – Memahami bahwa mengurangi jejak karbon penting bagi stabilitas pangan, sejumlah produsen global telah menerapkan praktik pertanian cerdas iklim.

    Di tempat-tempat seperti Afrika dan Asia, di mana dampak perubahan iklim dirasakan sangat parah, prinsip pertanian cerdas iklim telah membuka jalan bagi sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.

    Pertanian konservasi lambat diluncurkan di Afrika Sub-Sahara, tetapi petani kecil yang telah menerapkan metode berkelanjutan telah menuai hasilnya.

    Dalam sebuah analisis, peneliti menemukan bahwa petani di Ethiopia menggunakan pertanian konservasi untuk mencegah erosi dan menyuburkan tanah sambil juga memanen air hujan untuk musim kemarau.

    Sementara itu, petani Tanzania telah berhasil menanam berbagai kacang, polong-polongan, dan tanaman serealia secara tumpang sari karena para ilmuwan dan petani di Ghana tengah meningkatkan varietas benih untuk mengembangkan berbagai jenis jagung.

    Berikut penerapan pertanian cerdas iklim di sejumlah wilayah di dunia, seperti dilansir di earth.org:

    Baca: Pertanian cerdas iklim jadi alternatif solusi menghadapi perubahan iklim

    Agroforestri di Asia Tenggara
    Produsen Asia telah menerapkan agroforestri secara luas untuk meningkatkan penggunaan lahan pertanian dan produktivitas.

    Menurut penelitian, agroforestri mencakup 77,8 persen lahan pertanian di Asia Tenggara. Agroforestri juga muncul di 50,5 persen lahan pertanian di Asia Timur, 27 persen di Asia Selatan, dan 23,6 persen di Asia Utara dan Tengah.

    Irigasi Presisi di California
    Terkenal dengan kekeringan yang berkepanjangan dan kerentanan terhadap kebakaran hutan, California telah beralih ke irigasi presisi dan teknik pertanian cerdas untuk meningkatkan hasil panen dan membatasi penggunaan sumber daya.

    Dalam sebuah penelitian, petani di California menggunakan sensor tanah untuk mengukur kadar air di kebun almond. Cara ini mengurangi konsumsi air hingga 33 persen untuk irigasi sambil mempertahankan hasil panen yang optimal.

    Inovasi dalam Pertanian Cerdas
    Kemajuan teknologi telah mendorong pertanian cerdas menuju ketahanan iklim, namun tidak semua orang mendukungnya.

    Pada tahun 2023, hanya 27 persen pertanian AS yang menggunakan pertanian presisi untuk mengelola tanaman dan ternak, meskipun sudah tersedia sejak tahun 1990-an.

    Baca: Manfaat pertanian cerdas iklim untuk lingkungan

    Perkembangan teknologi presisi yang muncul meliputi penginderaan jarak jauh untuk mengukur kondisi tanaman, sensor bawah tanah untuk wawasan waktu nyata tentang kondisi tanah, sistem penyemprotan terarah, dan penyiang mekanis otomatis.

    Kendaraan segala medan dengan kecerdasan buatan dan integrasi pembelajaran mesin juga telah meningkatkan hasil panen hingga 15-20 persen dan efisiensi operasional pertanian hingga 20-25 persen.

    Peralatan ini dapat melewati tanah yang tidak rata tanpa merusak tanaman untuk tugas pertanian yang penting.

    Teknologi lain yang meningkatkan pertanian cerdas iklim meliputi otomatisasi dan robotika untuk memanen, menanam, dan menyortir, termasuk ternak.

    Salah satunya, robotika telah membantu menyortir hasil bumi dan sapi perah untuk meningkatkan momentum dan konsistensi tugas yang berulang.

    Demikian pula, rekayasa genetika telah meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit, hama, dan cuaca buruk untuk meningkatkan ketahanan pangan di wilayah dunia yang rentan.

    Baca: Pertanian tradisional yang ramah lingkungan kembali dilirik

    Tantangan adopsi pertanian cerdas iklim
    Meskipun pertanian cerdas iklim menawarkan prospek positif untuk mengubah pertanian konvensional, produsen menghadapi beberapa rintangan dan hambatan dalam penerapannya.

    Beberapa kendala yang dapat disebutkan, seperti biaya awal yang tinggi, kurangnya dukungan kebijakan, dan keterbatasan pengetahuan.

    Mengatasi beban ini memerlukan pendekatan yang beragam, dengan pendidikan dan pelatihan yang komprehensif untuk mengajarkan keterampilan pertanian berkelanjutan yang penting.

    Insentif, investasi, dan reformasi kebijakan yang didukung pemerintah juga akan mendorong adopsi dan penerimaan yang seragam terhadap perubahan pertanian tersebut.

    Demikian pula, para insinyur harus terus memajukan teknologi yang diarahkan pada pertanian cerdas agar produsen dapat menahan dampak perubahan iklim pada produksi tanaman pangan.

    Pertanian cerdas iklim menjanjikan
    Sektor pertanian tidak dapat lagi mengabaikan dampaknya terhadap perubahan iklim. Mengadopsi praktik pertanian cerdas iklim sangat penting untuk masa depan yang berkelanjutan dan pasokan pangan yang kuat.

    Meskipun masa depan mungkin tampak suram karena transisi ini masih dalam tahap awal, teknologi pertanian cerdas iklim bertujuan untuk mempercepat kemajuan produksi tanaman pangan yang lebih hijau.

    Baca: Melawan penggurunan dengan pertanian biogeneratif

  • Gelombang Panas yang Dipicu Perubahan Iklim Sebabkan 2300 Kematian di Eropa

    Gelombang Panas yang Dipicu Perubahan Iklim Sebabkan 2300 Kematian di Eropa

    7cloud.asia – Gelombang panas cukup parah yang melanda Eropa sejak pekan lalu diperkirakan telah menyebabkan sekitar 2.300 kematian, menurut sebuah studi yang dirilis pada Rabu (9/7/2025)

    Sekitar 1.500 dari sekitar 2.300 kematian akibat panas dikaitkan dengan perubahan iklim, yang mengakibatkan gelombang panas yang lebih parah di seluruh benua Eropa.

    Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Imperial College London dan London School of Hygiene and Tropical Medicine tersebut menyatakan perubahan iklim melipatgandakan kematian akibat panas di awal musim panas di seluruh Eropa.

    Para peneliti berfokus pada 10 hari cuaca panas dari 23 Juni hingga 2 Juli dan mencakup 12 kota di Eropa, termasuk London, Paris, Frankfurt, Budapest, Zagreb (Kroasia), Athena, Roma, Milan, Sassari (Italia), Barcelona, Madrid, dan Lisbon.

    Baca: Suhu Bumi semakin panas dan dampaknya semakin nyata

    “Temuan analisis ini dan banyak lainnya sangat jelas: suhu panas ekstrem di seluruh Eropa meningkat dengan cepat akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia,” menurut penelitian tersebut.

    Penelitian itu lebih lanjut menggarisbawahi bahwa kota-kota tersebut mengalami peningkatan suhu hingga 4 derajat Celsius.

    Studi tersebut memperingatkan bahwa suhu gelombang panas akan terus meningkat, dan kemungkinan akan meningkatkan jumlah kematian.

    Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa juga menyatakan dalam buletin iklim bulanan pada Rabu bahwa Juni 2025 merupakan Juni terhangat ketiga secara global.

    Baca: Langkah mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global 

    “Juni 2025 mencatatkan gelombang panas luar biasa yang berdampak pada sebagian besar Eropa barat, dengan sebagian besar wilayah mengalami tekanan panas yang sangat kuat,” kata Samantha Burgess, pimpinan strategis untuk urusan iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa.

    “Gelombang panas ini diperparah oleh rekor suhu permukaan laut di Mediterania barat,” imbuhnya.

    Burgess memperingatkan bahwa gelombang panas kemungkinan akan menjadi “lebih sering, lebih intens,” dan berdampak pada lebih banyak orang di seluruh Eropa.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Hasilkan Emisi Terbesar, Orang Kaya Tetap Enggan Tinggalkan Gaya Hidup Tinggi Emisi

    Hasilkan Emisi Terbesar, Orang Kaya Tetap Enggan Tinggalkan Gaya Hidup Tinggi Emisi

    7cloud.asia – Orang-orang terkaya di dunia berkontribusi besar terhadap emisi karbon global yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

    Selanjutnya, perubahan iklim memicu cuaca ekstrem dan mengakibatkan berbagai bencana terkait cuaca dan air (hidrometeorologi), seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan.

    Riset terbaru dari Schöngart dan tim di Nature Climate Change pada 7 Mei 2025 memaparkan dua pertiga dari emisi yang menyebabkan pemanasan global disebabkan oleh aktivitas 10 persen orang terkaya di dunia.

    Emisi karbon dari orang-orang kaya ini terutama disumbangkan oleh dua hal, yakni gaya hidup dan investasi di sektor yang kurang ramah lingkungan.

    Perubahan gaya hidup mewah para elite sebenarnya jadi kunci pengurangan emisi global. Sayangnya, kebanyakan enggan mengubah gaya hidup nyaman mereka menjadi lebih ramah lingkungan, meski krisis iklim semakin nyata.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    Riset Duncan, Hjelmskog, dan Papies di Inggris Raya (UK) dengan judul “I can’t compromise the quality of my life I’m sorry” telah membuktikan hal ini.

    Hasilnya, 69 persen responden orang kaya di Inggris enggan membatasi perjalanan udara mereka secara sukarela menjadi satu kali dalam tiga tahun. Ketika wacana ini dijadikan kebijakan pemerintah, angka penolakan melonjak menjadi 78 persen.

    Sikap serupa juga muncul saat wacana pembatasan mobil pribadi. Sebanyak 65 persen menolak melepas kepemilikan mobil mereka. Jika jadi aturan resmi, 73 persen menyatakan tetap tidak setuju.

    Di Indonesia, situasi dan dinamikanya serupa. Di Jakarta, meski transportasi publik terus diperluas, kendaraan pribadi tetap menjadi primadona dengan laju pertumbuhan penjualan kendaraan pribadi yang selalu positif.

    Tidak sedikit di antara warga Jabodetabek bahkan memiliki dua hingga tiga mobil hanya untuk menghindari aturan ganjil-genap.

    Baca: Isu perubahan iklim sudah muncul sejak 70 tahun silam

    Sementara itu, dampak perubahan iklim—seperti, gagal panen, banjir, kekeringan, dan bencana alam lainnya—akan semakin parah dan meluas di berbagai daerah.

    Akibatnya, banyak orang, terutama yang sudah rentan secara ekonomi, akan kehilangan sumber penghasilan, tempat tinggal, dan akses terhadap kebutuhan dasar.

    Riset dari Bank Dunia menunjukkan bahwa, tanpa perubahan iklim, penduduk dunia yang mengalami kemiskinan ekstrem akan menyentuh angka 313,5 juta jiwa. 

    Sebagian besar di antara mereka berada di kawasan sub-Sahara Afrika, Asia Selatan, Asia Timur dan Pasifik, dan Amerika Latin dan Karibia.

    Dengan adanya perubahan iklim, penduduk yang masuk kategori kemiskinan ekstrem diprediksi akan bertambah menjadi 100,7 juta jiwa.

    Baca: Pulau Jawa jadi sumber emisi karbon terbesar di Indonesia

    Kebijakan iklim harus lebih berkeadilan
    Dari berbagai riset yang ada, masyarakat dunia jelas tidak bisa mengharapkan kesadaran pribadi kelompok orang kaya untuk mengubah gaya hidup boros energi mereka. Pemerintah perlu hadir lewat kebijakan iklim yang tegas dan berkeadilan.

    Langkah pertama bisa dimulai dari pejabat publik. Harus ada imbauan, bahkan sanksi atau teguran keras, bagi pejabat yang masih memamerkan gaya hidup tinggi emisi.

    Pejabat pemerintah semestinya jadi teladan dalam upaya pengurangan emisi dan menunjukkan empati terhadap masyarakat yang terdampak krisis iklim.

    Alih-alih memperkuat transportasi publik ramah lingkungan, pemerintah justru jor-joran memberikan insentif untuk mendorong industri mobil listrik yang hanya bisa dinikmati kelas menengah ke atas.

    Kepemilikan mobil pribadi harus dibatasi. Bahkan seharusnya pemerintah meningkatkan pajak progresif untuk mobil kedua dan ketiga.

    Selain itu, pemerintah harus mendorong orang-orang terkaya di Indonesia untuk mengalihkan investasinya ke sektor energi terbarukan dan meninggalkan batu bara. Tanpa langkah tegas, mimpi keadilan iklim hanya akan jadi angan-angan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Stanislaus Risadi Apresian (Assistant Professor of International Relations, Universitas Katolik Parahyangan). Kezia Regina Setyono, Mahasiswa Magister Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

     

  • Orang Kaya Boros Energi, Tapi Orang Miskin yang Menanggung Dampaknya: Pentingnya Keadilan Iklim

    Orang Kaya Boros Energi, Tapi Orang Miskin yang Menanggung Dampaknya: Pentingnya Keadilan Iklim

    7cloud.asia – Orang terkaya di dunia berkontribusi besar terhadap perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem dan mengakibatkan berbagai bencana terkait cuaca dan air, seperti banjir dan kekeringan.

    Riset terbaru dari Schöngart dan tim di Nature Climate Change pada 7 Mei 2025 memaparkan dua pertiga dari emisi yang menyebabkan pemanasan global disebabkan oleh aktivitas 10 persen orang terkaya di dunia.

    Penelitian ini menggunakan data emisi sepanjang 1990 hingga 2019 dan spesifik menganalisis data emisi yang dihasilkan oleh kelompok 10 persen, 1 persen, dan 0,1 persen orang paling kaya secara global.

    Hasil riset menunjukkan bahwa 10 persen orang terkaya di dunia menyumbang emisi 6,5 lebih besar dibandingkan rata-rata orang pada umumnya. Untuk kelompok 1 persen dan 0,1 persen yang lebih elite, angkanya meroket 20 dan 76 kali lipat.

    Temuan ini kian menegaskan adanya ketidakadilan iklim. Negara-negara berkembang dan kelompok masyarakat menengah ke bawah yang berkontribusi lebih sedikit terhadap emisi global justru paling terdampak perubahan iklim akibat jejak emisi negara maju dan elite global.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    Jejak karbon orang kaya: Gaya hidup dan investasi
    Dua sumber emisi utama yang dihasilkan oleh kelompok orang kaya berasal dari gaya hidup intensif karbon dan jenis investasi mereka.

    Pertama, soal gaya hidup. Penggunaan jet pribadi jadi simbol status yang kian lazim di kalangan orang kaya. Padahal, pesawat jenis ini menghasilkan emisi per kilometer yang jauh lebih tinggi dibanding moda transportasi lain.

    Jet populer seperti Cessna Citation XLS misalnya, menghabiskan rata-rata 189 galon (857 liter) bahan bakar per jam.

    Pada 2022, Taylor Swift dinobatkan sebagai selebritas penyumbang emisi CO2e terbesar. Dalam satu tahun, ia terbang selama 22.923 menit di udara atau 15,9 hari dengan total 170 penerbangan.

    Total emisi yang dihasilkan Taylor Swift mencapai 8.293 ton atau 1.184 kali emisi tahunan rata-rata orang biasa.

    Baca: Gaya hidup ramah lingkungan berkaitan dengan cara kita mengonsumsi

    Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia misalnya, menjadi sorotan publik karena menggunakan jet pribadi saat mudik Lebaran.

    Meski mengaku tak pakai duit negara, persoalannya emisi yang dihasilkan jet pribadi dalam satu kali penerbangan lintas wilayah mencapai 3,6 metric ton atau Mt karbondioksida (CO₂).

    Menurut studi Gossling, Humpe, dan Leitão, total penerbangan jet pribadi pada 2023 setara dengan emisi 3,7 juta mobil bensin dalam setahun.

    Selain Bahlil, putra mantan presiden Jokowi Kaesang Pangarep dan istrinya Erina Gudono juga sempat dikritik publik setelah naik jet pribadi ke AS, yang ditaksir menghasilkan 83,5 Mt CO₂.

    Kedua, soal portofolio investasi. Banyak orang kaya menanamkan uang mereka di sektor tinggi emisi seperti batu bara dan industri berat.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    Riset yang dilakukan Chancel membuktikan bahwa sebagian besar emisi yang dihasilkan 1 persen orang kaya berasal dari hasil investasi tak ramah lingkungannya.

    Beberapa nama besar dalam daftar orang terkaya di Indonesia mendapatkan kekayaan dari usaha tambang batu bara.

    Sebut saja Low Tuck Kwong, pemilik PT Bayan Resources Tbk; keluarga Widjaja yang menguasai Sinar Mas Group; dan Garibaldi Thohir, pendiri emiten PT Adaro Energy Indonesia Tbk.

    Gaya hidup mewah para elite sebenarnya jadi kunci pengurangan emisi global. Sayangnya, kebanyakan enggan mengubah gaya hidup nyaman mereka menjadi lebih ramah lingkungan, meski krisis iklim semakin nyata.

    Seperti apa sikap orang-orang kaya ini terkait emisi karbon diungkap dalam riset Duncan, Hjelmskog, dan Papies di United Kingdom (UK) dengan judul “I can’t compromise the quality of my life I’m sorry” yang akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Stanislaus Risadi Apresian (Assistant Professor of International Relations, Universitas Katolik Parahyangan). Kezia Regina Setyono, Mahasiswa Magister Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

  • Perubahan Iklim Bisa Mengakibatkan Ratusan Juta Orang Jatuh ke Jurang Kemiskinan

    Perubahan Iklim Bisa Mengakibatkan Ratusan Juta Orang Jatuh ke Jurang Kemiskinan

    7cloud.asia – Menurut laporan IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim), dunia sudah menghangat 1,1°C dibandingkan era pra-industri, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat.

    Kenaikan suhu global ini sudah sangat dekat dengan batas kesepakatan global, yaitu 1,5°C, yang menurut para ahli menjadi batas sebelum perubahan iklim tidak dapat terkendali!

    Menurut Greenpeace Indonesia, walau terlihat sepele peningkatan suhu global ini akan memicu sederet dampak negatif, baik lingkungan maupun sosial ekonomi masyarakat dunia.

    Kenaikan suhu global yang kemudian memicu perubahan iklim bukan hanya mendatangkan gelombang panas saja! Tapi juga meningkatkan kasus kebakaran, banjir, risiko kehancuran biodiversivitas, dan lainnya!

    Masih banyak orang yang belum menyadari dampak sosial ekonomi perubahan iklim. Bahkan banyak orang berpikir perubahan iklim dan kerusakan lingkungan tidak ada kaitannya dengan kehidupan sosial.

    Tapi tahukah kamu, Bank Dunia memperkirakan bahwa 132 juta orang bisa jatuh ke dalam kemiskinan akibat dampak perubahan iklim pada tahun 2030!

    Baca: Banjir besar di musim kemarau jadi bukti nyata krisis iklim

    Untuk orang yang bekerja di kota, polusi udara menyebabkan berbagai penyakit pernapasan, yang berdampak pada produktivitas dan biaya kesehatan yang harus ditanggung.

    Lebih dari 99 persen populasi dunia menghirup udara yang kualitasnya lebih buruk dari standar aman badan kesehatan dunia (World Health Organisation/WHO). Dan, polusi udara membunuh 7 juta orang per tahun di seluruh dunia!

    Sementara bagi petani dan nelayan, dampak perubahan iklim dirasakan jauh lebih langsung.

    Studi oleh International Labour Organization (ILO) pada 2018 menyebutkan pendapatan nelayan tradisional di Indonesia telah menurun hingga 30 persen akibat peningkatan suhu laut dan polusi.

    Bank Dunia juga memperkirakan turunnya produktivitas pertanian global sebesar 17 persen di 2050 jika masalah iklim tidak ditangani serius!

    Baca: Eropa alami bencana terburuk akibat perubahan iklim

    Di Indonesia, dampak perubahan iklim sudah sangat terasa. Selama 2024 saja, kita sudah mengalami 3.472 bencana, dan 99 persen di antaranya adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor!

    Bank Indonesia mencatat kerugian ekonomi akibat cuaca ekstrem ini mencapai lebih dari Rp100 triliun per tahun.

    Fakta ini menunjukkan bagaimana krisis lingkungan dan ketidakadilan sosial sering kali berjalan beriringan.

    Masalah perubahan iklim sangat kompleks sehingga dibutuhkan peran dari semua pihak. Pemerintah perlu membuat dan menegakkan regulasi yang lebih pro-lingkungan

    perusahaan harus bertanggung jawab atas praktik bisnisnya, dan konsumen dapat mendorong perubahan melalui pilihan konsumsi yang berkelanjutan.

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global mencapai 2°C

  • Lebih Ramah Lingkungan, Prinsip Pertanian Regeneratif Diperkirakan Bakal Jadi Tren di Masa yang Akan Datang

    Lebih Ramah Lingkungan, Prinsip Pertanian Regeneratif Diperkirakan Bakal Jadi Tren di Masa yang Akan Datang

    7cloud.asia – Mungkin sebagian besar warga Indonesia belum terlalu akrab dengan istilah pertanian regeneratif. Padahal pertanian regeneratif pertama kali menjadi berita utama sebagai bagian dari “pemikiran sistem kehidupan” pada tahun 1960-an atau lebih 50 tahun lalu.

    Konsep pertanian regenartif ini dan kemudian menarik minat para pencinta makanan yang peduli kesehatan ketika konsep tersebut dipopulerkan oleh penulis makanan Michael Pollan.

    Saat ini, teknik seperti penanaman penutup tanah dan pengendalian hama terpadu tidak hanya dianut oleh aktivis lingkungan tetapi juga oleh perusahaan makanan multinasional.

    Perbedaannya adalah sekarang, pendekatan ini dipuji karena efektivitas praktisnya dalam menjaga pasokan pangan yang konsisten di era guncangan pasokan yang didorong oleh perubahan iklim.

    Sebenarnya apa sih pertanian regeneratif itu? Jan Lee dalam tulisannya di Earth.org menyebut, pertanian regeneratif berakar pada tradisi pertanian masyarakat adat seperti dikatakan Heidi Yu Spurrell, Pendiri konsultan pertanian regeneratif Future Green Global.

    “Sistem pertanian konvensional berfokus pada skala ekonomi dan memaksimalkan kalori, sementara regenerasi berfokus pada memaksimalkan nutrisi dan kesehatan masyarakat,” ujarnya kepada Earth.Org.

    Baca: Pertanian regeneratif mengubah daerah gersang di Portugal

    Teknik yang digunakan untuk pertanian regeneratif meliputi penanaman penutup tanah, di mana tanaman lain seperti legum ditanam di antara barisan tanaman utama, untuk menambah nutrisi ke tanah dan mengurangi kebutuhan akan pupuk sintetis.

    Dalam pertanian regeneratif, mengurangi pengolahan tanah juga menjadi faktor penting.
    [Pertanian konvensional] adalah kebalikan dari lantai hutan, yang selalu subur dan tangguh. Anda tentu tidak ingin membiarkan tanah terbuka agar tersapu banjir atau tertiup angin.

    “Pengolahan tanah berarti kehilangan lapisan tanah atas beserta simpanan airnya. Sebaliknya, Anda menumpuk nutrisi, meninggalkan sistem akar yang hidup,” ujar Anastasia Volkova, CEO dan Co-Founder Regrow Ag, kepada Earth.Org.

    Perusahaan ini bekerja sama dengan raksasa pangan dan agribisnis seperti Cargill dan Oatly untuk memperkuat wawasan mereka di bidang ini.

    Penanaman penutup tanah pada gilirannya merupakan bagian dari apa yang disebut para ahli sebagai pemupukan yang ditingkatkan. Ketika berbicara tentang pemupukan yang ditingkatkan,

    “Kami menggunakan pengelolaan nutrisi empat-R untuk membantu petani merancang rencana pemupukan mereka: sumber yang tepat, jumlah yang tepat, jumlah yang tepat, di tempat yang tepat,” jelas Bianca Dendena, Manajer Proyek Senior di PUR, pelaksana proyek solusi berbasis alam.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penerapan pertanian regeneratif di Eropa

    Praktik lain mencakup intervensi yang bertujuan meningkatkan efisiensi air dan pengendalian hama terpadu, di mana petani menggunakan metode seperti feromon ngengat sebagai alternatif pestisida konvensional.

    Pertanian regeneratif jadi arus utama
    Dari akar rumputnya, pendekatan pertanian regeneratif ini kini menunjukkan efektivitasnya ketika diadopsi dalam skala besar.

    Sebuah studi oleh Aliansi Eropa untuk Pertanian Regeneratif (EARA) membandingkan 78 pertanian regeneratif di 14 negara yang mencakup lebih dari 7.000 hektare dengan petani konvensional di negara-negara tetangga dan nasional.

    Studi tersebut menemukan bahwa dengan beralih ke pertanian regeneratif, petani Eropa dapat menghasilkan jumlah pangan yang sama dengan input yang lebih sedikit dibandingkan dengan praktik konvensional rata-rata.

    Studi yang diterbitkan bulan lalu ini menetapkan bahwa dari tahun 2020 hingga 2023, petani regeneratif perintis mencapai, rata-rata, hanya 1 persen hasil panen yang lebih rendah dalam hal kilokalori dan protein,

    Pertanian regeneratif menggunakan 62 persen lebih sedikit pupuk nitrogen sintetis dan 76 persen lebih sedikit penggunaan pestisida (gram per zat aktif) per hektarenya.

    Baca: Penerapan pertanian regeneratif di Indonesia

    Secara total, dari tahun 2020 hingga 2023, mereka menghasilkan “Produktivitas Penuh Regenerasi” yang 27 persen lebih tinggi daripada rata-rata petani Eropa, dengan peningkatan berkisar antara 24 hingga 38 persen di 14 negara yang diteliti.

    “Revolusi Hijau dapat dibuang ke tong sampah sejarah,” kata Simon Krämer, Direktur Eksekutif EARA dan penulis utama studi tersebut.

    “Revolusi pertanian ke-4 telah tiba, dipimpin oleh para petani yang bersatu dengan alam, mempelajari kembali kearifan kuno dan pandangan dunia holistik, dipadukan dengan sains terbaru dan teknologi yang meningkatkan otonomi.”

    Sementara itu, perusahaan makanan internasional kini semakin menuntut petani untuk mengadopsi praktik pertanian regeneratif ini.

    “Dorongan untuk melakukan ini datang dari hilir,” ujar Peter Bracher, pemilik pertanian padi regeneratif di Thailand, kepada Earth.Org.

    “Kami diminta oleh salah satu peritel terbesar di Asia, yang CEO-nya ingin memproduksi beras rendah karbon tetapi menginginkan klaim yang kuat, dan produsen bahan baku utama AS menginginkan pertanian singkong regeneratif.”

    Baca: Pertanian cerdas iklim ditawarkan jadi solusi menghadapi perubahan iklim

  • Pertanian Regeneratif Dilirik untuk Amankan Pasokan Pangan dari Ancaman Perubahan Iklim

    Pertanian Regeneratif Dilirik untuk Amankan Pasokan Pangan dari Ancaman Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Menurut analisis Komisi Eropa, perubahan iklim akan berdampak signifikan pada hasil pertanian di Uni Eropa.

    Didorong oleh proyeksi perubahan suhu harian, curah hujan, angin, kelembapan relatif, dan radiasi global, hasil panen jagung di Uni Eropa diperkirakan akan menurun antara 1 hingga 22 persen

    Selain itu, perubahan iklim juga akan mengakibatkan hasil panen gandum di Eropa Selatan turun hingga 49 persen.

    Oleh karena itu, perusahaan pangan dan agribisnis sedang mengkaji lebih dekat teknik-teknik yang dapat mempertahankan hasil pertanian yang lebih konsisten.

    Para petani mendapatkan gambaran sekilas yang kurang menyenangkan tentang masa depan ini ketika gangguan ganda Covid-19 dan perang di Ukraina menghantam rantai pasokan.

    Baca: Prinsip pertanian regeneratif diperkirakan bakal jadi tren

    “Rantai pasokan mengalami bagaimana rasanya tidak memiliki akses ke kedekatan. Hal yang sama terjadi seiring dengan dampak perubahan iklim,” ujar Anastasia Volkova, CEO dan Co-Founder Regrow Ag, kepada Earth.Org.

    Dampak finansial dari gangguan pasokan dapat mengakibatkan hilangnya investasi miliaran dolar, baik bagi perusahaan agribisnis raksasa maupun petani kecil.

    “Maka, industri pertanian dan pangan mulai berinvestasi dalam pertanian regeneratif untuk memperkuat rantai pasok mereka. Dan para petani menginginkan sistem yang lebih mandiri dan lebih menguntungkan,” ujarnya.

    Pada saat yang sama, peningkatan kecanggihan di sisi pasokan memudahkan perusahaan untuk menuntut praktik pertanian regeneratif dari pemasok mereka.

    Menurut Bianca Dendena, Manajer Proyek Senior di PUR, pelaksana proyek solusi berbasis alam, masyarakat dunia semakin menyadari dampak emisi gas rumah kaca terhadap lingkungan dan peran perusahaan dalam menguranginya.

    Baca: Prinsip pertanian regeneratif mengubah daerah gersang di Eropa Selatan

    ”Kesadaran yang lebih tinggi di kalangan konsumen dan perusahaan telah meningkatkan standar dalam hal keterlibatan aktif,” ujarnya

    Sebuah studi oleh Aliansi Eropa untuk Pertanian Regeneratif (EARA) membandingkan 78 pertanian regeneratif di 14 negara yang mencakup lebih dari 7.000 hektare dengan petani konvensional di negara-negara tetangga dan nasional.

    Studi tersebut menemukan bahwa dengan beralih ke pertanian regeneratif, petani Eropa dapat menghasilkan jumlah pangan yang sama dengan input yang lebih sedikit dibandingkan dengan praktik konvensional rata-rata.

    Banyak petani di Asia juga memandang penerapan pertanian regeneratif sebagai alat untuk memaksimalkan keuntungan.

    “Ketika saya berbicara dengan para petani, saya hanya mendengar tentang utang, utang yang terus-menerus: mereka meminjam untuk benih, kontraktor, tenaga kerja, dan bunga majemuk 25 persen,” kata Bracher.

    Baca: Perubahan iklim mendorong petani melirik pertanian regeneratif

    “Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa ini adalah model pertanian yang lebih baik secara finansial,” imbuhnya

    Beberapa teknik baru terkait prinsip pertanian regeneratif saat ini sedang dikembangkan yang akan semakin meningkatkan peluang. Salah satunya adalah pemanfaatan serangga yang inovatif.

    Insect Biotech, sebuah perusahaan rintisan di bidang ini, menggunakan larva lalat tentara hitam untuk mengubah limbah zaitun dari penggilingan menjadi protein untuk pupuk regeneratif untuk perbaikan tanah.

    Protein ini dapat digunakan untuk menggantikan tepung ikan dan pakan ternak lain yang tidak berkelanjutan, karena kitin merupakan faktor pendukung kesehatan tanah yang sangat baik.

    “Anda menambahkan banyak mikrobiologi ke dalam tanah dan merangsang sistem kekebalan tanaman. Bisnis serangga merupakan faktor pendukung bagi pertanian regeneratif,” ujar Tobias Webb, Co-Founder dan Chief Sustainability Officer perusahaan tersebut, kepada Earth.Org.

  • Penjelasan Mengapa Tembok Laut Tak Akan Menyelesaikan Abrasi di Pesisir Utara Jawa

    Penjelasan Mengapa Tembok Laut Tak Akan Menyelesaikan Abrasi di Pesisir Utara Jawa

    7cloud.asia – Perubahan iklim menyebabkan permukaan laut di pesisir utara Pulau Jawa (Pantura) terus naik. Di sisi lain, permukaan tanah semakin menurun akibat penyedotan air tanah yang berlebihan.

    Kombinasi ini meningkatkan risiko terjadinya banjir rob, abrasi pantai, hingga tenggelamnya pulau-pulau kecil. Menyikapi situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan percepatan rencana pembangunan tembok laut raksasa atau giant sea wall di pantura.

    Proyek infrastruktur besar berupa tembok laut itu akan dibangun sejajar garis pantai. Proyek rencananya akan membentang dari Cilegon, di Banten hingga Gresik di Jawa Timur sepanjang 500 kilometer.

    Sekilas, beton raksasa mungkin terlihat seperti solusi praktis untuk menahan gempuran air laut masuk daratan. Namun, keberadaan tembok laut ini takkan menyelesaikan akar permasalahan mendasar.

    Permukaan tanah akan tetap menurun. Muka air laut akan tetap naik. Tanggul laut raksasa justru bisa menimbulkan dampak lingkungan dan sosial turunan yang serius.

    Mengapa tanggul laut bukan jawaban?
    Tanggul laut akan mengganggu dinamika dan ekosistem alami pesisir. Sebab tembok hanya berfungsi memantulkan energi gelombang alih-alih menyerapnya. Energi ombak yang terpantul ini akan mengikis wilayah di sekitarnya.

    Baca: Ketimbang giant sea wall, aktivis lingkungan usulkan penanaman mangrove secara masif

    Selain itu, tembok laut menghambat aliran sedimen seperti pasir dan lumpur yang penting untuk menjaga bentuk dan ekosistem pantai. Tanpa sedimen, garis pantai akan semakin menyempit.

    Banyak spesies laut seperti kepiting pasir, moluska, burung pantai, vegetasi pesisir, dan ikan-ikan muda yang bergantung pada ekosistem pantai bakal kehilangan tempat hidupnya.

    Persoalan potensi dampak sosial yang diakibatkan juga tak kalah besar. Nelayan bisa kehilangan wilayah tangkap. Pun, masyarakat pesisir terancam kehilangan mata pencaharian mereka.

    Tak hanya berisiko, biaya pembangunan dan perawatan tanggul raksasa juga sangat tinggi. Di Jakarta saja, total biaya untuk pembangunan proyek giant sea wall diperkirakan mencapai Rp500 triliun. Anggaran ini termasuk tanggul utama di laut, reklamasi, serta jaringan infrastruktur pendukung.

    Belum lagi, biaya perawatan tahunan yang bisa mencapai 1–5 persen dari investasi awal. Untuk tanggul raksasa, pemerintah membutuhkan sekitar Rp5–25 triliun per tahun hanya untuk pemeliharaan.

    Lihat saja tanggul darat di berbagai wilayah, sudah banyak yang rusak. Laporan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan PUPR (2022) menunjukkan beberapa segmen tanggul di utara Jakarta mengalami keretakan, rembesan air, dan harus diperkuat dengan sheet pile tambahan.

    Baca: Pembangunan giant sea wall dinilai tak selesaikan masalah

    Tanggul pantai di Semarang sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer juga beberapa kali bocor dan rembes, terutama di wilayah Tambaklorok dan Kaligawe.

    Sementara itu, tanggul laut di pesisir Pekalongan juga tidak bisa sepenuhnya menahan rob. Air justru merembes lewat dasar serta celah sambungan.

    Seiring waktu, setiap kenaikan permukaan laut menuntut tembok ditinggikan atau diperkuat. Alhasil kebutuhan biaya membengkak tak terhingga.

    Laporan keenam Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memperkirakan rata-rata biaya penyesuaian (adaptation cost) pesisir bisa meningkat dua kali lipat setiap kenaikan 0,5 meter permukaan laut. Biaya ini timbul karena kebutuhan peninggian dan penguatan struktur.

    Pada akhirnya ketergantungan pada solusi fisik ini hanya memicu rasa aman semu. Proyek tanggul laut menelan ongkos mahal tapi tidak mampu menyelesaikan persoalan.

    Sebenarnya ada pendekatan yang lebih menyeluruh untuk mengatasi masalah ini, yakni Integrated Coastal Zone Management (ICZM) atau Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Penjelasan soal konsep ini akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Aris Ismanto (Associate lecturer, Universitas Diponegoro/Undip Semarang)