Tag: banjir

  • Tiga Bupati di Aceh Menyerah, Minta Pemerintah Provinsi Turun Tangan Atasi Banjir

    Tiga Bupati di Aceh Menyerah, Minta Pemerintah Provinsi Turun Tangan Atasi Banjir

    7cloud.asia – Tiga Bupati di provinsi Aceh, yaitu Bupati Aceh Selatan, Bupati Aceh Tengah, dan Bupati Pidie Jaya, menyatakan tidak sanggup menangani banjir yang melanda wilayah mereka.

    Dilansir di media sosial katakita.com, ketiga Bupati di Aceh itu meminta pemerintah provinsi (Pemprov) Aceh mengambil alih penanganan banjir dan longsor yang memberikan dampak sangat hebat di wilayah mereka.

    Bupati Aceh Selatan, Mirwan, melalui surat bernomor 360/1975/2025 dan bertanggal 27 November 2025 mengatakan skala kerusakan dan luasnya wilayah terdampak membuat Pemkab tidak sanggup memberikan penangan memadai.

    Mirwan menjelaskan sedikitnya 11 kecamatan mengalami banjir dan longsor. Dampaknya meliputi terputusnya akses transportasi, evakuasi warga ke lokasi aman, hingga munculnya titik pengungsian.

    Infrastruktur publik seperti jalan, jembatan, tebing sungai, saluran irigasi, sarana pendidikan, layanan kesehatan, serta sanitasi permukiman juga dilaporkan mengalami kerusakan.

    Selain gangguan pada fasilitas umum, banjir juga menyebabkan lumpuhnya aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah terdampak. Banyak warga tidak dapat bekerja, pasar tradisional terhenti, dan distribusi kebutuhan pokok ikut terganggu.

    Hal sama juga diungkapkan Bupati Aceh Tengah Haili Yoga dalam surat pernyataan bernomor 360/5654BFBD/2025.

    Dalam surat itu dia menyebut, Pemkab Aceh Tengah tidak mampu melaksanakan penanganan darurat bencana memadai karena dampak banjir bandang dan longsor terlalu besar.

    “Mengingat kondisi dampak bencana ini, kami selaku Bupati Aceh Tengah menyatakan ketidakmampuan dalam melaksanakan upaya penanganan darurat bencana sebagaimana mestinya,” tulis Haili Yoga.

    Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi juga meminta Pemerintah Aceh mengambil alih penangan banjir di wilayahnya. Ia menyebut Pemkab tidak memiliki anggaran dan sumber daya peralatan memadai penangan banjir.

    Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya tidak dapat menangani penanggulangan bencana tersebut sepenuhnya mengingat keterbatasan anggaran, sumber daya serta peralatan yang dimiliki.

    “Maka Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya memohon kepada Gubernur Aceh untuk dapat membantu penanganan bencana tersebut,” tulis Sibral.

    Menanggapi surat tiga Bupati ini, Gubernur Nangroe Aceh Darussalam Muzakkir Manaf telah menetapkan status darurat bencana sejak 27 November lalu.

     

     

  • 1009 Sekolah Terdampak Banjir Sumatera, DPR Ingatkan Kemendiknas Bergerak Cepat

    1009 Sekolah Terdampak Banjir Sumatera, DPR Ingatkan Kemendiknas Bergerak Cepat


    ruangkota.com – Sebanyak1009 sekolah di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dilaporkan rusak akibat banjir besar yang melanda kawan tersebut.

    Komisi X DPR menegaskan, penanganan sekolah yang rusak ini  juga harus mencakup daerah terisolir dan mitigasi bencana pendidikan.

    Wakil Ketua Komisi X DPR  Lalu Hadrian Irfani memberikan perhatian serius terhadap 1.009 sekolah di Aceh dan Sumatera yang rusak akibat banjir bandang dan longsor.

    Komisi X, katanya, akan segera memanggil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti untuk meminta penjelasan terkait penanganan situasi pendidikan di daerah terdampak.

    Baca Juga: BRIN Bentuk Gugus Tugas Penanganan Banjir Sumatera, Ini yang Akan Dilakukan

    Lalu mengatakan, banjir yang terjadi tidak hanya merusak fasilitas pendidikan, tetapi menghambat kegiatan belajar mengajar secara signifikan.

    Oleh karena itu, Komisi X ingin memastikan Kemendikdasmen bergerak cepat dan tepat dalam menangani berbagai persoalan yang muncul.

    “Komisi X ingin mendengarkan secara langsung apa saja langkah yang sudah dilakukan Kemendikdasmen. Situasi ini menyangkut masa depan pendidikan ribuan siswa dan keselamatan para guru,” kata Lalu Hadrian di Jakarta, Selasa (2/12/2025).

    Dia menjelaskan, sejumlah aspek penting harus segera dipastikan penanganannya, antara lain kondisi guru dan siswa di lokasi bencana, termasuk keselamatan dan kebutuhan dasar mereka.

    “Kerusakan gedung sekolah, termasuk inventaris dan sarana pembelajaran yang rusak atau hilang. Rencana rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas pendidikan yang terdampak banjir,” ujarnya.

    Baca Juga: Korban Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Tembus 604 Orang

    Penanganan Daerah Terisolir

    Ketua DPW PKB NTB itu menyebut, pihaknya juga akan membahas penanganan daerah yang masih terisolir akibat akses jalan terputus, yang membuat kegiatan pendidikan tidak dapat berjalan.

    “Tidak kalah pentingnya adalah daerah-daerah yang hingga kini masih terisolir. Akses jalan yang terputus tentu berdampak pada layanan pendidikan. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” sebutnya.

    Lalu Hadrian juga meminta Kemendikdasmen menyusun langkah mitigasi dan protokol penanganan pendidikan di daerah rawan bencana, sehingga kejadian serupa di masa depan dapat direspons lebih cepat dan sistematis.

    Terpisah Menteri Sosial, Syaifullah Yusuf mengatakan pihaknya akan berupaya agar proses pengajaran di daerah terdampak banjir bisa segera pulih. 

     

  • Silang Pendapat Kemenhut dan Bupati Tapanuli Selatan soal Izin Penebangan Hutan

    Silang Pendapat Kemenhut dan Bupati Tapanuli Selatan soal Izin Penebangan Hutan

    7cloud.asia – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) Gus Irawan Pasaribu beberapa hari lalu membongkar adanya izin penebangan hutan, satu bulan sebelum terjadinya longsor dan banjir Sumatera. 

    Seperti diketahui, kabupaten Tapanuli Selatan termasuk salah satu wilayah yang paling parah bencana banjir dan longsornya. 

    Data BPBD Tapanuli Selatan yang dirilis  pada Senin (1/12/2025) hingga pukul 00.01 WIB, mencatat 50 orang meninggal dunia, 46 orang masih hilang, serta 49 warga mengalami luka berat.

    Korban meninggal tersebar di sejumlah kecamatan di Tapanuli Selatan.

    Di Sipirok tercatat 1 orang meninggal dan 2 masih hilang, Angkola Barat 2 orang, Batangtoru 31 orang dengan 31 warga masih hilang, Angkola Sangkunur 10 orang dengan 13 masih hilang, Angkola Selatan 2 orang, dan Marancar 1 orang

    Selain korban jiwa, jumlah pengungsi juga terus meningkat. BPBD mencatat sedikitnya 5.366 warga mengungsi karena rumah dan fasilitas umum di tempat tinggal  mereka mengalami kerusakan berat. 

    Terkait hal ini, Bupati Gus Irawan Pasaribu mengungkap awal mula upaya pihaknya dalam mencegah bencana alam sebelum banjir bandang terjadi di Batangtoru.

    Ia mengakui, kondisi Tapanuli Selatan beberapa tahun belakangan kerap dilanda bencana. 

    Tahun lalu, tepatnya pada 24 November banjir bandang terjadi di Sipange Siunjam. 

    Saat itu banjir bandang menghanyutkan, kayu-kayu datang dari hulu dan menghabiskan desa. Ada 2 korban jiwa.

    Persis menjelang Natal, wilayah Tano Tombangan diterjang banjir bandang. Sama persis, banjir membawa kayu-kayu gelondongan. Berarti ada penebangan di hulu.

    Atas bencana ini, Pemkab Tapanuli Selatan mengajukan rehabilitasi rekonstruksi. 

    Waktu itu, Pemkab Tapsel mengajukan Rp 28 miliar, tetapi hanya disetujui BNPB Rp 10 miliar. 

    Sebelumnya Gus Irawan Pasaribu mengungkapkan  kegeramannya lantaran Ditjen Gakkum Kemenhut Dwi Januanto Nugroho menyatakan tumpukan kayu gelondongan di tengah bencana diduga berasal dari tebangan lama yang sudah lapuk.

    Dwi Januanto sempat menyebit bahwa kayu-kayu tersebut bisa berasal dari berbagai sumber, termasuk penebangan legal. Kemenhut menegaskan dugaan sementara mengarah pada area Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) di Areal Penggunaan Lain (APL). 

    Gus Irawan Pasaribu, dengan emosi menegaskan bahwa tidak benar kayu-kayu di sungai Batang Toru saat banjir bandang adalah bekas potongan yang sudah membusuk. Temuan di lapangan malah menunjukkan kondisi kayu-kayu tersebut bukanlah kayu lama atau busuk.

    “Saya enggak ada tuh lihat yang ada daunnya, dahan, enggak ada. Makanya pernyataan dari Kementerian Kehutanan bahwa itu adalah kayu-kayu yang sudah busuk, lalu kemudian karena cuaca kayu tumbang, itu perlu dicek ulang,” ujar Gus Irawan.

    Kemenhut juga sempat menyebut kayu-kayu besar itu bukan hasil dari pembalakan liar, melainkan berasal dari izin legal melalui skema Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT). Namun menurutnya, justru kayu-kayu itu hasil pembalakan liar yang menjadi pemicu banjir bandang para di Tapanuli Selatan.

    “Diduga izin PHAT telah diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu, sebagai pembalakan berizin,” katanya.

    Menurutnya, skema Pemegang Hak Atas Tanah atau PHAT diduga telah disalahgunakan untuk urusan pembalakan liar.

    “Memang Kemenhut memberikan izin, izin PHAT namanya, Pengelolaan Hak Atas Tanah,” ujar dia.

    Sempat Minta Izin PHAT Dihentikan

    Gus Irawan mengatakan, pada tanggal 14 November 2025 dirinya sempat menyurati Kemenhut. Sebab menurutnya, Kemenhut hanya menghentikan sementara izin PHAT dan kembali memulai pada Juli 2025.

    “Saya senang dong, karena bagi saya ini merusak tutupan hutan. Maka saya surati bikin edaran ke seluruh camat, ke seluruh lurah, dan kades untuk tidak melayani PHAT itu,” katanya.

    Gus Irawan menyayangkan usia penghentian PHAT hanya tiga bulan, dan kemudian Kemenhut membuka kembali izin penebangan.

    “Kami (Pemda) tidak pernah dilibatkan terkait itu. Tapi dampaknya kami yang merasakan di sini, masyarakat yang kemudian jadi korban. Jadi saya kira tolong dicek ke lapangan, jangan kasih pernyataan yang kemudian tidak sesuai dengan lapangan,” tegas Gus Irawan.

    Gus Irawan menduga kuat, izin yang diberikan Kemenhut diselewengkan, dengan cara pemberian izin di satu lokasi, kemudian penebangan juga dilakukan di daerah lainnya. 

    “Jadi kalau sudah ada izin bukan berarti tidak ada pembalakan liar. Tolong pastikan izin yang diberikan itu dilaksanakan sesuai yang di lapangan. Nah fakta yang di lapangan yang terjadi tidak sesuai dengan izin,” katanya.

    Gus Irawan Pasaribu berharap adanya penegakan hukum soal pembalakan hutan yang terjadi di Tapanuli Selatan. Pihaknya juga mendukung penuh Gakkum Kemenhut untuk turun langsung ke lapangan.

    Bupati, Kepala Desa Garoga, Risman Rambe, menyampaikan bahwa kayu-kayu berukuran besar seperti yang terbawa banjir bandang belum pernah muncul selama ratusan tahun di wilayahnya.

    Ia menuturkan, munculnya gelondongan kayu dalam jumlah besar ini diyakini terkait dengan keberadaan perusahaan yang membuka lahan sawit di hulu sungai.

    “Memang kami sangat terkejut. 

     

     

     

     

  • DKI Jakarta Waspadai Peningkatan Curah Hujan hingga Akhir Tahun

    DKI Jakarta Waspadai Peningkatan Curah Hujan hingga Akhir Tahun

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menginstruksikan seluruh jajaran wilayah dan dinas terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi curah hujan tinggi dan banjir rob menjelang akhir tahun.

    Saat memimpin Townhall Meeting bersama para camat dan lurah serta Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) di Balai Kota DKI Jakarta, pekan lalu Pramono menyoroti prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi peningkatan curah hujan, yang diperkirakan akan terjadi mulai pekan kedua Desember 2025 hingga Januari 2026. 

    BMKG memperkirakan curah hujan di Jakarta dapat mencapai di atas 200 hingga 300 milimeter per hari yang berpotensi menyebabkan banjir Jakarta.

    “Untuk itu memang harus ada persiapan di lapangan yang dipersiapkan secara dini,” ujar Pramono.

    Kondisi ini juga dibarengi dengan perkiraan kenaikan air rob pada Desember. Karena itu, Pramono telah meminta Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk memastikan seluruh pompa agar dapat beroperasi optimal.

    Pramono juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk segera melakukan modifikasi cuaca sebagai upaya mitigasi, terutama saat curah hujan diprediksi melebihi 200 milimeter

    Di hadapan para camat dan lurah se-Jakarta, Pramono menekankan perlunya melakukan persiapan dini di lapangan terhadap potensi terjadinya banjir.

    “Sebagai camat, sebagai lurah, di mana saudara-saudara berada, kalau ada saluran yang kurang baik, segera dilaporkan. Apakah itu menjadi tanggung jawab saudara atau menjadi tanggung jawab Sumber Daya Air, dan sebagainya, harus segera dikoordinasikan,” jelasnya.

    Pramono juga mengingatkan pentingnya memperkuat koordinasi dengan dengan warga, termasuk memanfaatkan fungsi rumah ibadah seperti masjid dan gereja sebagai sarana peringatan dini terjadinya bencana.

    Dia juga meminta para lurah dan camat agar hadir di lapangan untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada warga.

    “Dan kalau perlu memang diadakan posko bersama, posko terpadu di lapangan. Karena infrastruktur kitakan sudah relatif berjalan baik,” katanya. 

    Dalam kesempatan ini, Gubernur juga menegaskan bahwa program normalisasi Kali Krukut dan Ciliwung akan dilanjutkan. Upaya ini untuk mencegah dampak bencana banjir di Jakarta.

    Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Isnawa Adji mengatakan, seluruh jajaran sudah diminta meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, angin kencang, dan pohon tumbang.

    Ia menyampaikan, BPBD DKI Jakarta bersama perangkat daerah terkait telah menyiapkan langkah antisipatif. Para personel siaga di lapangan untuk mendukung penanganan darurat dengan peralatan evakuasi maupun sarana pendukung lainnya.

    Isnawa menjelaskan, Jakarta memiliki sekitar 30 ribu RT yang harus dilindungi, sehingga upaya mitigasi dan kesiapsiagaan perlu dilakukan secara menyeluruh.

    “Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta juga telah menyiagakan sekitar 1.200 unit pompa yang tersebar di rumah pompa maupun pos pengendalian banjir, serta pompa portabel untuk mempercepat penyedotan genangan di titik rawan,” ujarnya, Selasa (2/12/2025.

    Ia mengatakan, Pemprov DKI Jakarta melalui BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

    Selain itu, warga diharapkan aktif memantau informasi resmi dari BMKG dan kanal-kanal resmi Pemprov DKI Jakarta, serta segera melaporkan kejadian darurat melalui Call Center Jakarta Siaga 112.

    BPBD DKI Jakarta terus mengajak warga untuk meningkatkan kewaspadaan, menyiapkan tas siaga bencana, menjaga kebersihan saluran air di lingkungan sekitar, serta memastikan instalasi listrik tetap aman.

    “Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha sangat penting dalam menghadapi musim hujan ini. Dengan kesiapsiagaan bersama, kita bisa meminimalisasi risiko dan dampak yang ditimbulkan,” tandasnya.

     

  • Embung Lapangan Merah Diresmikan, Diharapkan Kurangi Intensitas Banjir di Jagakarsa

    Embung Lapangan Merah Diresmikan, Diharapkan Kurangi Intensitas Banjir di Jagakarsa


    7cloud.asia – Setelah melalui proses pembangunan selama sekitar 2 tahun, Embung Lapangan Merah di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan Selasa (9/12/2025) resmi dioperasikan

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung saat meresmikan  Embung Lapangan Merah menyampaikan pentingnya untuk merawat fasilitas yang sudah dibangun.

    “Embung Lapangan Merah ini secara resmi akan kita manfaatkan, kita gunakan. Dan saya berharap bahwa jangan kita bisa membangun tetapi tidak bisa merawat dengan baik,” ujar Pramono seperti dilansir beritajakarta.id.

    Ia menjelaskan, Embung Lapangan Merah memiliki luas 4.945 meter persegi, dengan kedalaman empat meter, dan volume tampungan mencapai 9.890 meter kubik. 

    Embung ini memiliki catchment area atau kawasan tangkapan seluas 87,55 hektare yang berfungsi sebagai daerah resapan sekaligus pengendali banjir di wilayah Srengseng Sawah dan sekitarnya 

    Baca Juga: Pembangunan Embung Pemuda I Hampir Rampung, Diharapkan Mampu Kurangi Intensitas Banjir di Jakarta Selatan

    Embung Lapangan Merah merupakan salah satu dari puluhan embung di Jakarta yang juga ditujukan sebagai wilayah konservasi untuk mengantisipasi krisis air di ibu kota.

    Embung ini dirancang untuk mengurangi potensi banjir di Jagakarsa serta sebagian area Depok dengan efektivitas yang mencapai 35 hingga 50 persen. Di masa sebelumnya, tiga RW yakni RW 15, RW 16, dan RW 18, menjadi kawasan yang kerap terdampak banjir. 

    Dengan catchment area seluas 87,55 hektare, embung Lapangan Merah tercatat mampu menurunkan genangan di Jalan Kesatuan dan Jalan Lapangan Merah 3 antara 35 hingga 69 persen berdasarkan evaluasi teknis terbaru.

    Pemerintah berharap keberadaan embung dapat mengurangi genangan yang selama ini terjadi, terutama saat curah hujan tinggi.

    “Karena saya melihat ini perannya luar biasa, tempatnya sangat strategis, berbatasan dengan Universitas Indonesia dan juga dengan Depok, dan sebagainya,” kata Pramono.

    Baca Juga: Konservasi Air: DKI Jakarta Andalkan 147 Waduk dan Embung yang Ada

    Embung Lapangan Merah dibangun pada 2023, sedangkan arsitektur lanskap yang melengkapinya dibangun pada 2025 sebagai sarana rekreasi warga sekitar.

    Embung Lapangan Merah dilengkapi sejumlah fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat di antaranya outdoor gym, area bermain anak, jogging track, saung terapung, area batu refleksi, area pemancingan, toilet dan mushola.

    Pramono berharap, keberadaan embung ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi langkah awal untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik, bersih, sehat, dan nyaman.

    Dia menegaskan bahwa pembangunan embung menjadi bagian dari strategi besar Pemprov DKI dalam menambah ruang penyimpanan air serta memperluas ruang terbuka publik. Ia meminta seluruh wilayah Jakarta memaksimalkan peran embung sebagai ruang edukasi, rekreasi, hingga lokasi interaksi warga.

    “Saya meminta seluruh wilayah di Jakarta memanfaatkan embung dengan baik. Selain membangun lebih dari 300 RPTRA, kami juga mendorong PAM Jaya dan Dinas SDA untuk menemukan sumber-sumber air baru yang bisa dijadikan tampungan. Jumlah embung yang akan dibangun akan kami sampaikan pada waktunya,” jelasnya.

     

     

  • Dua Pekan Pasca Bencana Kondisi di Aceh Masih Memprihatinkan, DPR Desak Pengerahan Personel TNI

    Dua Pekan Pasca Bencana Kondisi di Aceh Masih Memprihatinkan, DPR Desak Pengerahan Personel TNI

    7cloud.asia – Anggota Komisi VIII DPR , M. Husni, menyoroti lambannya penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh akhir November lalu.

    Husni menegaskan perlunya percepatan evakuasi dan mobilisasi sumber daya nasional untuk menangani kondisi yang dinilainya semakin genting.

    “Kita hari ini melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Aceh yang hari ini yang terdampak bencana longsor dan banjir, yang kita boleh bilang ada 18 kabupaten/kota yang terdampak,” ujar Husni kepada Parlementaria di sela-sela Kunjungan Kerja Komisi VIII DPR, Banda Aceh, Rabu (10/12/2025).

    Menurutnya, hingga memasuki hari ke-14 pascabencana, masih banyak wilayah yang belum tertangani optimal. Akses darat terputus, terutama di kawasan Bener Meriah dan Gayo Lues, sehingga menghambat distribusi bantuan dasar.

    “Masih banyak tempat-tempat yang belum terevakuasi dengan baik, apalagi jalur-jalur transportasi daratnya terputus,” katanya.

    Baca: Update korban meninggal akibat banjir Sumatera

    “Di sana, mulai dari makanan, dari mulai BBM, kemudian secara transportasi maupun komunikasi itu masih sangat jelek sekali,” ujar Ketua Harian Timwas Bencana DPR ini.

    Husni menekankan perlunya langkah cepat dari pemerintah, termasuk mobilisasi skala besar apabila diperlukan.

    “Sebenarnya pemerintah harus cepat ya turun tangan, apalagi kemarin kita mendengar bahwa nanti ini akan dipimpin oleh Kasad dalam penanganannya. Ya kalau boleh ribuan tentara kita kirimkan aja supaya evakuasi ini cepat berjalan dengan baik,” imbuhnya.

    Ia menambahkan kondisi di Aceh Tamiang dan wilayah perbatasan dengan Sumatra Utara masih sangat memprihatinkan. Rumah sakit belum berfungsi optimal, listrik belum stabil, dan sejumlah korban diduga masih berada di kendaraan yang tertimbun lumpur.

    Baca: Masyarakat Sipil somasi Presiden karena tak kunjung tetapkan status bencana nasional

    “Rumah sakitnya lumpuh, listriknya juga kita bilang masih jelek. Tentunya ini harus cepat, dari penanganan juga evakuasi-evakuasi mayat-mayat yang ada di dalam mobil-mobil yang terkena banjir, yang terkena lumpur itu sesegera mungkin,” ujarnya.

    Husni menyebut sejumlah rumah warga serta jalan-jalan utama kini telah tertutup lumpur yang mulai mengeras, bahkan ketebalannya mencapai dua meter di beberapa lokasi. Pemulihan sarana prasarana harus menjadi prioritas lanjutan setelah evakuasi.

    Menyoroti keterbatasan dapur umum yang dioperasikan Kemensos, politisi partai Gerindra ini meminta pemerintah pusat meningkatkan kapasitas dukungan. Ia menilai, dapur umum yang telah ada masih minim dan perlu ditambah.

    “Pihak Kemensos itu sudah mengoperasikan dapur umum, hari ini cuma kapasitasnya 100 ribu, yang diperlukan 800 ribu,” ujar Husni.

  • 15 Hari Pasca Banjir dan Longsor, Situasi di Sibolga Berangsur Pulih

    15 Hari Pasca Banjir dan Longsor, Situasi di Sibolga Berangsur Pulih

    7cloud.asia – BNPB bersama Pemerintah Kota Sibolga terus melakukan penanganan darurat pasca-banjir dan tanah longsor yang dipicu badai Senyar dan kerusakan lingkungan pada 23–26 November 2025.

    Banjir dan longsor yang terjadi di Kota Sibolga, Provinsi Sumatra Utara, melanda empat kecamatan, yakni Sibolga Utara, Sibolga Selatan, Sibolga Sambas, dan Sibolga Kota, akibat meluapnya aliran Sungai Aek Doras dan Aek Parira.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, Pemerintah Kota Sibolga menetapkan status tanggap darurat sejak 25 November hingga 9 Desember 2025, dan diperpanjang hingga 24 Desember 2025.

    Bersamaan dengan penanganan darurat, langkah-langkah pemulihan jangka panjang mulai dijalankan. Diberitakan sebelumnya terjadi penjarahan di Sibolga karena ketiadaan bahan pangan usai diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu

    BNPB bersama pemerintah daerah, pada Minggu (14/12/2025) memantau lokasi relokasi hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak di lahan Bukit Parambunan di Kecamatan Sibolga Selatan.

    Sementara itu, pemulihan layanan dasar terus berlangsung. Aliran listrik dari PLN telah dapat diakses oleh masyarakat di berbagai wilayah. Distribusi air PDAM mulai lancar, meskipun masih keruh, dan jangkauannya terus diperluas agar lebih merata.

    Baca: Pemulihan infrastruktur jalan pasca banjir Sumatera

    BNPB memfasilitasi penyaluran air bersih ke 19 titik lokasi bagi warga yang belum mendapat layanan PDAM.

    Jaringan telepon seluler dan internet mulai pulih secara bertahap, mendukung komunikasi masyarakat.Ketersediaan bahan pokok di dapur umum tetap terjaga.

    Berbagai kegiatan tanggap darurat dilakukan di lapangan. Melakukan normalisasi Sungai Aek Doras dan Aek Parira menggunakan alat berat, membersihkan jalan yang tertutup lumpur, serta membuka dapur umum di Kecamatan Sibolga Utara (Kelurahan Simare-mare dan Angin Nauli) dan Kecamatan Sibolga Selatan (Kelurahan Aek Manis).

    Perekonomian mulai berangsur pulih, meski harga sembako di pasar tradisional masih tinggi akibat pasokan yang belum normal.

    Sejumlah layanan diberikan kepada warga terdampak, antara lain trauma healing, pelayanan kesehatan, distribusi sembako dan gas LPG, normalisasi sungai, pembersihan jalan, serta pendampingan kependudukan dan catatan sipil. BNPB berkoordinasi dengan kementerian, lembaga provinsi, dan NGO untuk memastikan semua bantuan tepat sasaran.

    Selama pemulihan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan mendesak warga terus dilakukan agar mereka dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Saat ini, kebutuhan mendesak meliputi pompa air, alat pembalut wanita, gas LPG, serta pakaian dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak SD, SMP, dan SMA.

    Baca: Kabupaten Bener Meriah masih terisolasi

    Penyaluran bantuan kemanusiaan dilakukan secara intensif. BNPB menyalurkan berbagai kebutuhan pokok dan perlengkapan darurat, termasuk tenda keluarga, sarden, kornet, minyak sayur, mie instan, Pop Mie, susu, tepung, dan pembalut wanita.

    Update Data Bencana Kota Sibolga
    Bencana banjir di Sibolga mengakibatkan korban jiwa dan dampak yang signifikan. Hingga saat ini, tercatat 54 orang meninggal dunia, 1 orang hilang.

    Sedangkan 61 orang mengalami luka-luka, dengan rincian 49 orang dirawat jalan dan 12 orang dirawat inap. Bencana ini juga memaksa ribuan warga mengungsi ke berbagai titik aman.

    Jumlah pengungsi mencapai 2.096 orang yang tersebar di 35 titik pengungsian. Kecamatan Sibolga Utara menampung 1.229 pengungsi, Sibolga Kota 86 orang, Sibolga Sambas 10 orang, dan Sibolga Selatan 771 orang.

    Para pengungsi terus menerima bantuan dan pendampingan dari pemerintah setempat serta relawan.

    Di samping itu, kerusakan infrastruktur menjadi tantangan utama untuk mendukung keselamatan dan mobilitas masyarakat. Sebanyak 648 rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 229 rumah rusak ringan, 82 rusak sedang, dan 337 rusak berat.

    Bencana ini juga merusak 11 rumah ibadah, 11 gedung sekolah, 2 jembatan, 11 ruas jalan, 5 fasilitas gedung pemerintah, dan 9 titik lampu penerangan jalan umum.

    Pemerintah daerah bersama BNPB terus melakukan penanganan darurat, evakuasi, dan pemulihan infrastruktur. Tim gabungan memprioritaskan bantuan medis, makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok bagi para pengungsi.

    Baca: Tanpa bantuan asing, pemulihan dampak banjir Sumatera diperkirakan butuh waktu 20-30 Tahun

  • Banjir Kembali Landa Kabupaten Pidie Jaya, Hanyutkan Tenda Pengungsian

    Banjir Kembali Landa Kabupaten Pidie Jaya, Hanyutkan Tenda Pengungsian

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pidie Jaya, Aceh menyatakan banjir kembali merendam permukiman warga setelah hujan dengan intensitas tinggi melanda daerah itu.

    “Banjir yang melanda belasan gampong dalam tiga kecamatan tersebut akibat meluapnya Krueng/Sungai Meuredu,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pidie Jaya, M Nur dilansir Antaranews.com, Rabu (24/12/2025)

    Adapun banjir luapan tersebut melanda tujuh gampong dalam Kecamatan Meurah Dua yakni Dayah Usen, Mancang, Dayah kruet, Mns Raya, Blang Cut, Buangan dan Menasah Raya.

    Kemudian Kecamatan Meureudu Gampong Berawang, Meunasah Lhok, Grong-Grong Beuracan dan Mesjid Tuha – Lhoknga

    Selanjutnya Kecamatan Bandar Dua, Gampong Juelanga, Gampomg Alue Keutapang, Paya pisang Klat, Alue Mee, Babah Krueng, Blang Kuta, Drien Tujoh dan Alue Sane.

     

    Hujan dengan intensitas tinggi berlangsung selama beberapa jam dan untuk ketinggian air di masing-masing gampong bervariasi.

    Banjir ini terjadi saat warga sedang berusaha bangkit dari dampak banjir bandang yang terjadi November lalu.

    Dilansir RMOL, Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Cabang Pidie Jaya, Muhammad Qiqi, mengungkapkan, banjir kali ini memicu kepanikan luar biasa karena warga belum pulih dari trauma banjir bandang dan longsor yang terjadi sejak akhir November lalu.

    “Ini banjir ketiga. Warga sangat panik. Sebagian pengungsi yang sebelumnya tinggal di tenda terpaksa mencari tempat tidur darurat di depan toko-toko,” kata Qiqi kepada RMOLAceh, Kamis (25/12/2025).

    Qiqi menjelaskan, dampak banjir susulan ini tergolong parah. Sekitar 85 persen tenda pengungsi dilaporkan hanyut, baik tenda bantuan BNPB, tenda dari lembaga kemanusiaan, maupun tenda yang dibangun secara swadaya oleh warga.

    “Bukan hanya tenda, sebagian logistik pengungsi juga ikut terbawa arus. Ini sangat memukul kondisi psikologis warga,” ujarnya.

    Banjir mulai surut pada Rabu malam, namun genangan air masih terlihat di sejumlah titik, disertai lumpur tebal dan jalanan becek yang menghambat aktivitas warga.

  • Update Banjir Sumatera: Korban Meninggal Capai 1177 Orang, Layanan Air Bersih Masih Bermasalah

    Update Banjir Sumatera: Korban Meninggal Capai 1177 Orang, Layanan Air Bersih Masih Bermasalah

    7cloud.asia – Kapusdatin BNPB, Abdul Muhari mengatakan hingga Minggu (4/1/2026) korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang yang melanda tiga Provinsi di Sumatera tercatat mencapai 1177 orang.

    “Hari ini ada penambahan dari Aceh Utara sebanyak 10 jiwa, sehingga per hari ini 4 Januari 2026 total korban jiwa meninggal dunia menjadi 1.177 jiwa,” kata Abdul dalam konferensi pers, Sabtu (4/1/2026) yang dipantau secara daring.

    Sementara korban hilang berkurang 17 orang sehingga total ada 148 jiwa yang masih dalam pencarian.

    Adapun korban banjir yang tinggal di pengungsian berkurang sekitar 15.000an orang, sehingga jumlah pengungsi tercatat sebanyak 242.174 jiwa

    Baca: Sebulan pasca banjir Sumatera status hukum gelondongan kayu masih belum jelas

    Hingga hari ke-38 pascabencana ekologi banjir Sumatera masih ada 10 daerah di Aceh yang dalam status tanggap daerah, sedangkan transisi darurat sebanyak 8 kabupaten/kota.

    “Untuk wilayah Sumatera Utara seluruh 14 kabupaten/kota yang terdampak banjir Sumatera sudah dalam status transisi darurat,” imbuh Muhari.

    Sedangkan untuk Sumatera Barat, masih ada satu daerah yang berstatus tanggap darurat yakni di Kabupaten Agam yang mengalami banjir susulan. BNPB, ujar Muhari, mendeteksi rekahan di hulu yang berpotensi terjadi longsor susulan.

    Proses pemulihan jembatan dan jalan juga terus dilakukan. Di mana di sejumlah daerah seperti Bener Meriah masih dilakukan perbaikan jalan.

    Baca: Menteri Kehutanan diminta tak lepas tanggung jawab

    Muhari mengatakan, untuk air bersih masih terus diupayakan. Di beberapa daerah, seperti Aceh Utara masih terganggu karena banyak sumber air terdampak.

    “Untuk daerah seperti ini dibantu dengan menggunakan mobil tanki, toren ataupun sumur bor,” imbuh Muhari.

    Terakhir untuk hubungan komunikasi mayoritas sudah pulih kembali. Namun sejumlah daerah seperti Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Gayo Lues dan Bener Meriah masih ada gangguan.

  • Penurunan Muka Tanah dan Perubahan Iklim Perburuk Banjir di Jakarta

    7cloud.asia – Penurunan muka tanah yang terus berlangsung di Jakarta menjadi faktor  yang secara signifikan memperbesar ancaman banjir di Ibu Kota, baik banjir rob dari laut maupun banjir perkotaan akibat hujan dan luapan sungai.

    Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Dr. Yus Budiyono, mengatakan bahwa penurunan tanah berkontribusi meningkatkan risiko banjir di Jakarta hingga lebih dari 40 persen.

    Angka ini melampaui pengaruh faktor lain, di antaranya perubahan iklim maupun kenaikan permukaan air laut.

    “Kalau kami membandingkan beberapa entitas yang mempengaruhi risiko banjir di Jakarta, dari empat entitas yang kami perhatikan yang penurunan muka tanah (land subsidence) itu pengaruhnya paling besar, yakni di atas 40 persen,” ujarnya dikutip Kompas.com.

    Berdasarkan kajian BRIN, kondisi penurunan muka tanah di wilayah pesisir utara Jakarta menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Yus menjelaskan, secara rata-rata, amblesan tanah di Jakarta bagian utara terjadi dengan kecepatan sekitar 3,5 sentimeter per tahun.

    Namun, angka rata-rata tersebut menutupi fakta bahwa di sejumlah lokasi tertentu, penurunan tanah berlangsung jauh lebih ekstrem.

    “Tapi mungkin kalau nilai yang paling sering muncul itu kira-kira ya 15 cm per tahun, sedangkan di tempat yang paling parah itu penurunannya sampai 28 cm per tahun,” tutur Yus.

    Menurut dia, titik penurunan paling parah teridentifikasi di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara, dan Cengkareng Barat, Jakarta Barat.

    “Titik yang paling parah itu di Pantai Mutiara dan kemudian juga Cengkareng Barat. Kalau sejak mulainya kapan, saya perlu melihat catatan dulu. Tapi tidak sejak 1970,” ujar dia.

    Dia menambahakn, secara historis, laju penurunan muka tanah cenderung bersifat linear yakni tidak dapat dipulihkan. Hal ini juga terjadi di kota-kota besar lain seperti Tokyo (Jepang), Bangkok (Thailand), dan lain-lain,

    BRIN mencatat bahwa dampak penurunan muka tanah tidak hanya terbatas pada banjir rob. Amblesan tanah juga memperparah banjir akibat hujan langsung maupun banjir kiriman dari hulu.

    Ia mencontohkan sejumlah peristiwa banjir besar yang dipicu hujan lokal ekstrem, seperti yang terjadi pada 1 Januari 2020 dan tiga banjir besar sepanjang tahun 2025

    “Yang pertama, Maret. Yang kedua, Juli. Yang ketiga, Oktober 2025 Itu dominasi dari hujan lokal itu besar,” lanjut dia.

    Banjir kiriman dari Bogor yang kerap diantisipasi melalui sistem siaga pemerintah daerah juga tetap menjadi ancaman.

    Langkah mitigasi
    BRIN menekankan bahwa langkah paling krusial untuk menekan laju penurunan muka tanah dan dampak yang ditimbulkan adalah penyediaan air bersih agar pengambilan air tanah dapat dihentikan.

    “Pemerintah harus menyediakan kebutuhan air untuk seluruh warga, bukan hanya di Jakarta, tapi di seluruh pantura. Sehingga nanti air itu tidak lagi diambil dari tanah,” kata Yus.

    Tanpa penghentian penurunan tanah, ia menilai infrastruktur sebesar apa pun akan sia-sia.

    Selain penurunan muka tanah, perubahan iklim juga menjadi faktor penting dalam pembentukan risiko banjir Jakarta.

    Namun, Yus menekankan bahwa persoalan utama perubahan iklim bukan terletak pada rata-rata curah hujan tahunan. Masalah sesungguhnya, kata Yus, adalah meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.

    Dia menegaskan bahwa kejadian-kejadian luar biasa, yakni banjir 1 Januari 2020 dan tiga peristiwa besar pada 2025 merupakan bukti nyata.

    Pandangan BRIN tersebut sejalan dengan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat adanya peningkatan frekuensi banjir di Jakarta, terutama dalam tiga dekade terakhir.

    “Meningkatnya risiko kejadian curah hujan ekstrem sebesar 2-3 persen menyebabkan banjir yang berulang seperti banjir yang terjadi berulang kali pada tahun 2014, 2015, 2020; dibandingkan dengan kondisi iklim 100 tahun yang lalu,” ujar Ardhasena.

    Bahkan, peluang terjadinya banjir besar meningkat signifikan. “Risiko banjir seperti kejadian 2015 pada era iklim modern saat ini, peluang terjadinya (risiko) meningkat 2-3 kali lipat dibanding peluang nya pada era iklim masa lampau,” kata dia.

    Faktor Fisik Daratan dan Banjir Gabungan
    BMKG menilai bahwa kerentanan utama Jakarta Utara bukan semata faktor cuaca, melainkan perubahan fisik daratan akibat fenomena penurunan muka tanah (land subsidence)

    Ia menggambarkan wilayah pesisir Jakarta sebagai “efek mangkuk raksasa yang bersifat permanen,” sehingga tanpa hujan ekstrem pun air laut selalu berusaha masuk ke daratan.

    Kondisi ini diperburuk oleh fenomena seruakan dingin (cold surge), hujan dini hari yang bertepatan dengan pasang maksimum, hingga akhirnya memicu banjir gabungan atau compound flooding.