7cloud.asia – Dunia tidak sedang berada dalam kondisi baik-baik saja saat ini. Dampak kenaikan suhu global sudah nyata di depan mata.
Seiring kenaikan suhu global yang saat ini mendekat 1,5°C, cuaca ekstrem makin sering terjadi dan mengakibatkan bencana ekologis yang memakan ribuan korban jiwa.
Sebut saja, banjir di Spanyol dan sejumlah wilayah Eropa Timur yang memakan ratusan korban jiwa. Atau kebakaran hebat yang terjadi di hutan Amazon Brasil adalah contoh dampak nyata kenaikan suhu global ini.
Hingga hari ini, belum terlihat kemauan serius dari negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan memotong secara drastis pengunaan bahan bakar fosil.
Laporan Kesenjangan Emisi Lembaga lingkungan PBB, UNEP baru-baru ini menemukan bahwa suhu Bumi dapat mencapai suhu antara 2,6°C dan 3,1°C pada akhir abad ini kecuali masyarakat dunia mengendalikan emisi gas rumah kaca.
Lantas, apa yang akan terjadi jika masyarakat dunia tak juga mengurangi emisi gas rumah kaca? Berikut kami cuplikan wawancara dengan Direktur Adaptasi dan Ketahanan Iklim UNEP, Mirey Atallah.
Baca: Hutan Amazon Brasil alami kebakaran tertinggi pada 2024 akibat kekeringan
Bisakah umat manusia beradaptasi dengan kenaikan suhu global sebesar 2,6°C dan 3,1°C?
Tema umum podcast UNEP, Resilience adalah adaptasi terhadap kenaikan suhu global akan jauh lebih menantang jika dunia gagal mengurangi emisi gas rumah kaca.
Jurnalis adaptasi The New York Times, Christopher Flavelle mengatakan, ada batasan dalam adaptasi, dan dunia akan menghadapi batasan tersebut di dunia yang suhunya mencapai 3°C.
Dia memberikan contoh yang baik tentang pekerja di luar ruangan ketika suhu mencapai 50°C.
Apa yang Anda lakukan dalam situasi itu? Kita perlu mengakui batasan adaptasi. Hal ini bukanlah pengganti kebutuhan mendesak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Bisakah Anda memberikan gambaran singkat tentang apa yang harus dilakukan dunia untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim?
Pertama, kita perlu mengeluarkan miliaran dolar pendanaan untuk adaptasi iklim.
Kedua, kita perlu berinvestasi pada alam; Hutan, bakau, dan lahan basah merupakan perisai alami terhadap bencana iklim.
Baca: Rencana pemerintah membuka 20 juta hektare hutan bisa memicu Kiamat Ekologis
Ketiga, kita perlu memasukkan strategi adaptasi ke dalam pembuatan kebijakan nasional, khususnya dengan mengembangkan rencana adaptasi nasional.
Ketika perubahan iklim semakin intensif, hampir tidak ada satu pun sektor perekonomian dan masyarakat kita yang tidak tersentuh.
Oleh karena itu, dunia memerlukan rencana adaptasi yang menyatukan seluruh pemangku kepentingan; itulah satu-satunya cara agar dunia dapat melindungi kemajuan pembangunan yang diperoleh dengan susah payah dari dampak perubahan iklim.
Laporan Kesenjangan Adaptasi UNEP menyatakan bahwa dunia tidak mengeluarkan cukup uang untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Bagaimana kita bisa mengubahnya?
Secara harfiah, ini adalah pertanyaan bernilai miliaran dolar. Kesenjangan pendanaan adaptasi saat ini mencapai sekitar 300 miliar dolar per tahun.
Dalam salah satu episode Resilience, kami berbicara panjang lebar dengan Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen, yang membahas cara-cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk melindungi komunitas yang rentan.
Hal ini mencakup segala sesuatu mulai dari apa yang disebut ‘pertukaran utang’ untuk adaptasi, kredit ketahanan, hingga pembayaran jasa ekosistem.
Seperti yang akan Anda dengar, pertanyaannya bukanlah apakah kita mampu beradaptasi, namun apakah kita mampu untuk tidak beradaptasi.









