7cloud.asia – Praktisi minimalisme, Joshua Becker mengatakan, jika Anda pernah merasa terbebani dengan kekacauan di rumah Anda, Anda tidak perlu khawatir.
Pasalnya, banyak orang yang merasakan hal yang sama. Banyak orang yang memulai perjalanan menuju minimalisme atau hidup yang lebih sederhana, merasa putus asa dengan tugas yang ada di depannya.
Jalan menuju keteraturan ala minimalisme memang akan penuh dengan tantangan, kesalahan langkah, keputusasaan, dan frustrasi yang tak ada habisnya.
Pada titik ini, rasanya lebih mudah untuk menyerah ketimbang terus melanjutkan jalan menuju minimalisme.
Namun bagaimana jika beberapa kendala yang kita pikir akan kita hadapi ternyata disebabkan oleh kesalahpahaman? Bagaimana jika beberapa asumsi yang kita yakini benar ternyata merupakan keyakinan yang menghambat kita?
Baca: Minimalisme jadi alat untuk mencapai tujuan hidup
Jadi, sebagai praktisi minimalisme, Joshua mengajak membongkar kebohongan besar yang mungkin menghalangi kita untuk lebih serius dan mencapai kemajuan dalam proses kita menjalani minimalisme sepenuhnya.
1. Merapikan tidak mengenal kata akhir
Salah satu kesalahpahaman yang paling menakutkan adalah bahwa merapikan barang adalah tugas yang tidak ada habisnya dan tidak ada garis akhir. Kebohongan ini dapat membuat prosesnya tampak berlebihan dan sia-sia.
Pada kenyataannya, meskipun kebutuhan dan keadaan kita berubah seiring waktu dan memerlukan penilaian ulang secara berkala, merapikan barang tak harus menjadi pekerjaan tanpa akhir.
Penguraian, pada fase awalnya, memang memiliki akhir dan ini luar biasa. Semakin cepat dan keras Anda bekerja, semakin cepat Anda bisa mencapainya.
Kemudian dengan menerapkan pendekatan yang penuh kesadaran terhadap apa yang kita miliki dan menilai kembali barang-barang apa saja yang memberikan nilai bagi kehidupan, kita dapat menjaga lingkungan bebas dari kekacauan yang tumbuh dan beradaptasi dengan kita.
Baca: Bagaimana menerapkan minimalisme dalam kehidupan profesional
2. Merapikan berjalan lambat
Banyak yang percaya bahwa merapikan barang harus dilakukan secara perlahan dan bertahap.
Meskipun bagi sebagian orang, melakukan hal ini secara perlahan akan membantu mencegah Anda merasa lelah, namun hal ini bukanlah pendekatan yang bisa diterapkan untuk semua orang.
Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa sesi merapikan barang yang lebih cepat dapat menghasilkan perubahan yang cepat dan memotivasi sehingga menginspirasi tindakan lebih lanjut.
Pekerjaannya tidak harus lambat. Kuncinya adalah memahami batasan emosional dan fisik Anda dan memilih kecepatan yang sesuai dengan gaya hidup dan preferensi Anda.
3. Keputusan merapikan seharusnya mudah
Kebohongan ini bisa sangat mengecilkan hati. Namun jika Anda merasa sulit membuat keputusan yang rapi, Anda tidak sendirian dan Anda masih bisa membuat kemajuan.
Memutuskan apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus dilepaskan bisa menjadi proses yang emosional dan hampir semua orang dihadapkan pada keputusan yang sulit.
Akui bahwa tidak apa-apa untuk merasa terikat pada barang-barang Anda dan berjuang dengan keputusan-keputusan ini.
Seiring waktu, seiring Anda makin sering berlatih, proses ini akan menjadi lebih mudah.
Baca: Tiga pandangan keliru mengenai minimalisme
4. Kita harus menjadi minimalis untuk Merapikan
Merapikan barang tidak mengharuskan Anda hidup dengan kebutuhan minimal.
Menurut saya minimalis itu bagus. Tapi ada perbedaan antara decluttering dan minimalis.
Anggaplah decluttering sebagai cara untuk menyempurnakan hidup Anda dengan menghilangkan kelebihan, bukan segalanya.
5. Harus menyimpan semua yang kita gunakan
Banyak orang memulai dengan pertanyaan, “Apakah saya menggunakannya?” Dan jika jawabannya ya, mereka akan segera memutuskan untuk menyimpannya.
Namun kenyataannya adalah, “Hanya karena Anda menggunakan suatu barang bukan berarti Anda harus menyimpannya.”
Rumah kita dipenuhi dengan banyak barang yang kita pikir kita perlukan hanya karena kita menggunakannya sesekali.
Namun jika ada benda lain di rumah yang dapat melakukan tugas yang sama, kita tidak perlu menyimpan tambahan.
Sumber: becomingminimalist.com









