Tag: banjir

  • Minimalisasi Risiko Banjir, Pemprov DKI Jakarta Segera Bangun Waduk di Kali Angke

    Minimalisasi Risiko Banjir, Pemprov DKI Jakarta Segera Bangun Waduk di Kali Angke

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera membangun waduk di kawasan Bendung Polor, Kali Angke, Jakarta Barat. Keputusan ini diambil untuk meminimalisi risiko banjir di Jakarta seiring dengan makin intensnya cuaca ekstrem

    Hal ini disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung usai menggelar Rapat Terbatas (Ratas) di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (29/1/2026).

    “Yang berikutnya sudah menjadi keputusan rapat bahwa untuk segera dibangun embung atau Waduk Polor di Bendung Polor Kali Angke,” ujar Pramono.

    Pramono berharap, pembangunan waduk ini bisa menampung air saat curah hujan tinggi sehingga bisa mengurangi potensi banjir di wilayah di sekitar airan Kali Angke

    Baca: DKI Jakarta Bangun Sembilan Waduk untuk Kurangi Intensitas Banjir

    “Itu dilakukan untuk mengurangi (dampak) curah hujan yang ada di Kali Angke supaya berkurang di embung tersebut, sehingga tidak semuanya kemudian langsung turun ke Cengkareng Drain,” jelasnya.

    Luapan air Kali Angke selama ini sering memicu banjir di Kembangan, Jalan Tubagus Angke dan Cengkareng Jakarta Barat.

    Selain membangun waduk di Bendung Polor, Pemprov DKI Jakarta juga memprioritaskan percepatan proyek normalisasi di Kali Cakung Lama dan Sungai Ciliwung.

    “Kebetulan Kali Krukut kali ini tidak terdampak banjir, sehingga dengan demikian konsentrasi yang ada diutamakan untuk segera dimulai normalisasi Kali Cakung Lama dan kedua Ciliwung,” tandas Pramono.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta Segera Normalisasi Kali Cakung Lama

    Dalam rapat terbatas tersebut juga diputuskan wilayah-wilayah terdampak normalisasi sungai untuk segera dilakukan pembangunan tanggul.

    Menurut Pramono, pembangunan tanggul di Sungai Ciliwung akan dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Sementara proyek normalisasi di Kali Cakung Lama dilakukan oleh Pemprov DKI.

    Pramono Anung juga menyebut, kebutuhan anggaran normalisasi dan pembebasan lahan di Kali Cakung Lama sendiri diperkirakan mencapai Rp132 miliar.

    “Dan itu akan menjadi prioritas kami dalam rangka penanganan untuk banjir jangka menengah tadi,” tandasnya.

  • WALHI: Banjir Berulang di Pulau Jawa Jadi Bukti Negara Gemar Mereproduksi Bencana

    WALHI: Banjir Berulang di Pulau Jawa Jadi Bukti Negara Gemar Mereproduksi Bencana

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai pemerintah kembali mengulangi kesalahan lama dalam menanggulangi bencana banjir di sejumlah daerah di Pulau Jawa, sebagaimana yang sebelumnya terjadi di Sumatera.

    Ketiadaan sistem peringatan dini yang memadai, lemahnya upaya mitigasi, serta pembiaran terhadap degradasi lingkungan menunjukkan kegagalan negara dalam mengelola dan mengurangi risiko bencana.

    Dalam keterangan tertulisnya, WALHI menyebut pola ini secara sistematis meningkatkan kerentanan kehidupan warga di Pulau Jawa dan membuat bencana ekologis terus berulang.

    WALHI menegaskan bahwa bencana di Pulau Jawa adalah bencana ekologis, sebagai akibat sikap negara yang terus menempatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi sebagai tujuan utama.

    Dampaknya adalah rusaknya tata ruang dan tata wilayah yang mengakibatkan rusaknya daya dukung dan daya tampung kawasan, sehingga bencana hadir tidak temporer lagi tetapi permanen.

    Oleh karena itu, WALHI mendesak kepada pemerintah untuk menghentikan alih fungsi lahan di kawasan lindung dan resapan air, meninjau ulang izin merusak, serta mengevaluasi tata ruang Pulau Jawa berbasis daya dukung lingkungan.

    Baca: Bencana di Gunung Slamet Meluas, 4 Kabupaten Terdampak

    Penanganan bencana harus beralih dari pendekatan teknokratik sempit menuju pemulihan ekosistem, sekaligus menjamin hak korban atas perlindungan dan pemulihan.

    Pengkampaye Urban Berkeadilan dan Tim Riset WALHI Nasional, Wahyu Eka Styawan mengatakan bahwa cuaca ekstrem yang melanda pulau Jawa, dipicu oleh bibit siklon tropis 97S di Samudera Hindia dan penguatan Monsun Asia.

    Peristiwa tersebut adalah efek jangka panjang dari perubahan iklim yang telah menjelma menjadi krisis.

    “Kombinasi antara peningkatan kejadian ekstrem akibat krisis iklim dan kerusakan lingkungan akibat kesalahan arah pembangunan dan tata ruang inilah yang mendorong lonjakan risiko dan potensi bencana di Pulau Jawa.

    Dampaknya telah dirasakan ribuan warga di Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, melumpuhkan aktivitas ekonomi dan pendidikan, serta memaksa warga mengungsi dari wilayah hulu hingga pesisir.

    ”Situasi ini menunjukkan bahwa kerentanan Jawa bukanlah kondisi alamiah, melainkan hasil dari persoalan struktural,” terang Wahyu.

    Baca: Krisis Ekologi yang Dihadapi Jawa Barat

    Sejak akhir 2025 hingga 2026, banjir terus berulang di Jabodetabek dan telah merenggut korban jiwa, angka yang kerap diremehkan oleh pemerintah. Padahal setiap korban adalah penanda kegagalan serius dalam pengurangan risiko bencana.

    Persoalan banjir Jakarta bukan semata persoalan alam atau kondisi geologi, melainkan bencana yang kian memburuk akibat kebijakan pembangunan yang abai terhadap keselamatan warga dan daya dukung lingkungan.

    “Jumlah korban jiwa dan kerugian yang terus berulang dalam setiap kejadian banjir bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa negara gagal menurunkan risiko bencana,“ jelas Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jakarta, Suci Fitriah Tanjung.

    Pemerintah, lanjutnya, tidak bisa terus bersembunyi di balik narasi cuaca ekstrem, karena akar persoalan banjir di Jabodetabek adalah kesalahan struktural yang lahir dari kebijakan pembangunan dan tata ruang yang mereka putuskan sendiri.

    ”Selama negara tetap memaksakan pendekatan teknokratis dan proyek-proyek semu tanpa membongkar paradigma pembangunan yang merusak, banjir akan terus diproduksi dan warga akan terus menjadi korban.” tandasnya.

  • Hujan Deras Akibatkan Banjir Kembali Genangi Sejumlah Titik di Jakarta dan Bekasi

    Hujan Deras Akibatkan Banjir Kembali Genangi Sejumlah Titik di Jakarta dan Bekasi

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan hujan dengan intensitas sangat deras dalam 24 jam terakhir menyebabkan banjir di sejumlah wilayah di Jakarta dan Jawa Barat.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari memastikan tim petugas gabungan di Kabupaten Cirebon, Kota Bekasi, dan Jakarta, sudah berada di lokasi bencana membantu proses evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak banjir.

    Muhari memaparkan, di Jakarta ada lebih dari 446 kepala keluarga menjadi korban banjir hingga setinggi 150 centimeter yang diperparah oleh luapan Sungai Ciliwung dan Sungai Pesanggrahan.

    Sebanyak 41 Rukun Tetangga (RT) terendam karena banjir hari ini, Jumat (30/1/2026). Jumlah tersebut tersebar di empat daerah administrasi dengan Jakarta Timur yang terbanyak yaitu 21 RT.

    Baca: Banjir Berulang di Pulau Jawa Jadi Bukti Negara Gemar Mereproduksi Bencana

    Banjir juga terjadi di Kabupaten Cirebon dan Kota Bekasi, Jawa Barat.

    “Sembilan desa yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Cirebon direndam banjir usai hujan deras,” kata dalam keterangan di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

    Pusdalops BNPB mengkonfirmasi bahwa data yang diterima ada 312 rumah warga terendam banjir dengan tinggi muka air berkisar antara 20 – 70 centimeter.

    Sedikitnya ada sebanyak 1.273 orang atau 425 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak dalam peristiwa tersebut.

    Dalam periode yang sama hujan berintensitas sangat deras juga memicu banjir di wilayah Kota Bekasi.

    Baca: Krisis ekologi yang dihadapi Jawa Barat

    BNPB mencatat sedikitnya ada delapan kecamatan yang terendam banjir lebih dari 80 centimeter mulai dari Kecamatan Pondok Gede, Rawalumbu, Jatiasih, Bekasi Utara, Bekasi Barat, Bekasi Timur, dan Bekasi Selatan.

    “Untuk Kota Bekasi ada sebanyak 80 orang yang mengungsi, memanfaatkan bangunan Mushala Jamiatul Khair di Kampung Lebak, Teluk Pucung. Selebihnya dalam proses pendataan,” kata Muhari

    Adapun rentetan peristiwa tersebut selaras dengan laporan peringatan potensi cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang berlaku aktif setidaknya hingga dua hari ke depan atau Minggu (1/2/2026).

    Dengan begitu Abdul Muhari mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat hujan dan angin kencang. BNPB secara khusus meminta pemerintah daerah (pemda) agar meningkatkan kesiapsiagaan selama periode puncak musim hujan ini.

  • Diharapkan Rampung Maret 2026, Waduk Aseni Kurangi Potensi Banjir di Semanan hingga 13 Persen

    Diharapkan Rampung Maret 2026, Waduk Aseni Kurangi Potensi Banjir di Semanan hingga 13 Persen

    7cloud.asia – Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mengakselerasi pembangunan dan revitalisasi waduk dan embung di Jakarta. Selain mengendalikan potensi banjir di Jakarta, waduk dan embung ini sekaligus menjadi sarana konservasi air.

    Salah satu waduk yang saat ini sedang dibangun adalah Waduk Aseni di Jalan H. Aseni Raya, Kalideres, Jakarta Barat yang mulai dibangun sejak 2023.

    Saat mengunjungi Waduk Aseni pada Jumat (30/1/2026) Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno memastikan pembangunan waduk bakal rampung pada Maret 2026 sehingga menambah ruang terbuka biru di Jakarta.

    “Rampungnya Maret tahun ini. Secara perhitungan, dengan kondisi seperti sekarang, tinggal penyelesaian akhir (finishing),” ungkapnya dikutip dari keterangan tertulis Pemprov DKI Jakarta

    Baca: DKI Jakarta bangun 9 waduk untuk kurangi intensitas banjir

    Pembangunan Waduk Aseni diharapkan menambah kapasitas tampungan air hujan yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber air baku, mengurangi dampak luapan Kali Semanan, serta menyediakan ruang interaksi publik.

    Waduk Aseni memiliki luas total 4,47 hektare, terdiri atas badan air seluas 1,7 hektare dengan kedalaman 4 meter dan area kering seluas 2,7 hektare.

    Dengan kapasitas tampung mencapai 69.600 meter kubik, Waduk Aseni diharapkan mampu mereduksi potensi banjir di kawasan Semanan hingga 13,1 persen.

    “Ini akan menjadi tempat yang sangat baik. Warga setempat bisa memanfaatkannya,” kata Wagub Rano.

    Di kawasan waduk juga dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang direncanakan melayani sekitar 2.260 jiwa.

    Baca: DKI Jakarta andalkan 147 waduk dan embung untuk kurangi intensitas banjir

    IPAL tersebut memiliki kapasitas sekitar 470 meter kubik per hari yang menampung air limbah dari drainase kawasan sekitar waduk.

    Selain berfungsi sebagai pengelolaan sumber daya air dan pengendali banjir, Waduk Aseni dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti balai warga, toilet, musala, area bermain anak, serta area duduk berupa sunken plaza.

    Wagub Rano menegaskan, Waduk Aseni tidak hanya berperan sebagai infrastruktur pengendalian banjir, tetapi juga sebagai ruang publik.

    “Tujuan utamanya pengendalian banjir yang dilengkapi dengan ruang publik. Karena itu, fasilitas ini harus dimanfaatkan untuk kepentingan warga. Namun, saya juga berpesan agar waduk ini dijaga dengan baik supaya manfaatnya berkelanjutan,” tutupnya.

  • Tata Ruang Buruk Memperparah Banjir Tahunan di Kota Medan

    Tata Ruang Buruk Memperparah Banjir Tahunan di Kota Medan

    7cloud.asia – Banjir menjadi masalah serius dan terus berulang di Kota Medan, Sumatera Utara. Banjir bandang setinggi dua meter menghantam Medan selama dua tahun berturut-turut di bulan November 2024 dan November 2025.

    Data pemerintah kota Medan menunjukkan, skala kerusakan yang masif akibat banjir pada November 2025, yakni 19 dari 21 kecamatan lumpuh terendam air, dengan 20 korban meninggal, 26.188 warga mengungsi

    Adapun kerusakan properti tercatat 19.014 rumah terdampak, dengan ratusan unit mengalami kerusakan kategori berat hingga ringan.

    Salah satu penyebab utama banjir di Kota Medan adalah pendangkalan sungai yang sudah berlangsung puluhan tahun tanpa normalisasi.

    Buruknya sistem drainase kota menambah runyam banjir di Medan. Sistem drainase kota dinilai tidak berfungsi optimal, banyak saluran air tertutup bangunan permanen, sehingga aliran air terhambat saat curah hujan tinggi.

    Baca: Banjir Sumatera mengingatkan pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan dan investasi berdampak buruk pada lingkungan

    Permukiman banyak bermunculan di bantaran sungai, yang tidak hanya mempersempit alur sungai, tetapi juga meningkatkan risiko korban saat banjir terjadi. Hampir di seluruh sisi sungai di Medan sudah dijadikan pemukiman.

    Di hadapan rombongan Komisi VIII DPR yang melakukan pengawasan penanganan pascabencana serta kesiapsiagaan menghadapi bencana, Jumat, (30/1/2026), Walikota Medan Zakiyuddin Harahap menegaskan bahwa pemerintah kota kerap kali “mati kutu” mengatasi bencana banjir ini.

    Pasalnya kewenangan pengerukan sungai berada di tangan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) dan melibatkan lintas wilayah kabupaten.

    “Sungai kita menyempit dan dangkal karena sudah 20 tahun tidak dinormalisasi. Dampaknya fatal. Kami tidak bisa bekerja sendiri karena ini menyangkut kewenangan pusat dan koordinasi antarwilayah,” tegas Zakiyuddin dengan nada getir.​

    Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko menyoroti tata ruang kota yang tidak ramah bencana. Permukiman bermunculan di sepanjang bantaran sungai.

    Baca: Banjir berulang di Pulau Jawa membuktikan kelalaian Negara

    Hal ini tidak hanya mempersempit alur sungai, tetapi juga meningkatkan risiko korban saat banjir terjadi.

    “Hampir di seluruh sisi sungai di Medan sudah ditempati warga. Ini menjadi dilema besar karena alat berat pun sulit masuk untuk normalisasi,” kata Singgih dikutip Parlementaria.

    “Kami mendapat laporan bahwa ada sungai di Medan yang seharusnya memiliki lebar enam meter, namun kini tinggal dua hingga tiga meter akibat sedimentasi dan penyempitan,” jelasnya.

    Singgih menegaskan, banjir di Kota Medan menandakan ada persoalan mendasar, mulai dari kondisi sungai yang dangkal, drainase yang tidak optimal, hingga tata ruang kota yang tidak ramah bencana.

    Dia mendorong Pemerintah Kota Medan untuk segera mengajukan proposal normalisasi sungai ke Kementerian PU, serta memperkuat koordinasi lintas kabupaten karena wilayah sungai melintasi lebih dari satu daerah administratif.

    “Tanpa sinergi pusat dan daerah, Medan akan terus berada dalam ancaman banjir yang sama setiap tahun,” tegas Singgih.

    Foto: Diskominfo Sumur

  • Banjir dan Longsor Makin Sering Terjadi: Reboisasi dan Rehabilitasi DAS Harus Jadi Prioritas Nasional

    Banjir dan Longsor Makin Sering Terjadi: Reboisasi dan Rehabilitasi DAS Harus Jadi Prioritas Nasional

    7cloud.asia – Bencana banjir yang terus berulang di berbagai wilayah Indonesia bukan lagi peristiwa musiman semata, melainkan akumulasi kegagalan tata kelola lingkungan dan kebijakan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

    Karena itu pemerintah pusat dan daerah diminta untuk menata ulang kebijakan lingkungan, khususnya pengaturan penggunaan lahan secara tegas.

    Ini termasuk menghentikan praktik pembangunan yang melanggar tata ruang serta memperkuat penegakan hukum terhadap perusak lingkungan.

    “Banjir tidak bisa lagi dipandang sebagai takdir alam. Ini persoalan kebijakan, penegakan aturan, dan kesadaran bersama. Jika semua pihak bergerak, risiko banjir bisa ditekan,” kata Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo dalam keterangannya kepada media, Senin (2/2/2026)

    Baca: Banjir Sumatera cermin kegagalan Negara kendalikan kerusakan lingkungan

    Firman menilai, penebangan hutan dan pembangunan di kawasan resapan air telah meningkatkan limpasan air secara signifikan.

    Kondisi itu diperparah dengan minimnya infrastruktur pengendalian banjir yang memadai, baik dari sisi kualitas maupun pemerataan pembangunan, sehingga wilayah rawan banjir terus bertambah.

    Perubahan iklim global turut menjadi faktor yang memperparah intensitas dan frekuensi hujan ekstrem.

    Dampak perubahan iklim akan semakin destruktif bila bertemu dengan kerusakan lingkungan di dalam negeri, mulai dari deforestasi yang tak terkendali hingga alih fungsi lahan yang mengabaikan daya dukung alam.

    Baca: Kegagalan kebijakan tata ruang perburuk banjir di sejumlah kota

    Firman menekankan reboisasi dan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) harus menjadi prioritas nasional, bukan sekadar program seremonial.

    Selain kebijakan struktural, ia juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur pengendalian banjir yang terencana dan berkelanjutan, seperti tanggul, drainase, dan normalisasi sungai, yang disertai pengawasan ketat agar tepat sasaran.

    Oleh karena itu, Firman mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap risiko banjir, menjaga lingkungan sekitar, serta tidak melakukan aktivitas yang memperparah kerusakan alam.

    Sistem peringatan dini, lanjutnya, juga krusial agar masyarakat dapat melakukan mitigasi sejak dini dan meminimalkan korban jiwa.

  • Hadiri Kerja Bakti Massal “Jaga Jakarta Bersih”, Jusuf Kalla: Warga Bisa Berkontribusi Cegah Banjir di Lingkungannya

    Hadiri Kerja Bakti Massal “Jaga Jakarta Bersih”, Jusuf Kalla: Warga Bisa Berkontribusi Cegah Banjir di Lingkungannya

    7cloud.asia – Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla, menekankan pentingnya tanggung jawab bersama seluruh warga Jakarta dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran air.

    Di sela kerja bakti massal “Jaga Jakarta Bersih”, Jusuf Kalla mengatakan bahwa dampak banjir paling dirasakan oleh masyarakat kecil sehingga upaya pencegahan harus dimulai dari kesadaran masing-masing warga.

    Namun demikian, Kalla juga mendorong perusahaan-perusahaan besar untuk turut berkontribusi karena kerugian akibat banjir berdampak pada seluruh lapisan masyarakat dan dunia usaha.

    Sementara pemerintah daerah bisa mengambil peran lewat kebijakan yang peduli lingkungan dan tindakan mitigasi.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta gelar ‘Jaga Jakarta Bersih’ serentak di seluruh wilayah

    Mantan wakil presiden dua kali ini mengatakan, banjir di Jakarta terjadi karena air yang masuk lebih banyak daripada yang keluar. Jalan keluarnya ada di sungai, gorong-gorong, dan selokan, dan itu harus dibersihkan.

    ”Oleh karena itu, setiap rumah harus bertanggung jawab membersihkan selokan di depan rumahnya sendiri. Satu jam seminggu sudah cukup. Jika semua warga bergerak, Jakarta akan jauh dari banjir,” ujar Jusuf Kalla di sela kerja bakti massal “Jaga Jakarta Bersih” di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, pada Minggu (8/2/2026).

    Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Jakarta sebagai upaya menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, bersih, dan sehat, sekaligus mencegah banjir.

    Kegiatan “Jaga Jakarta Bersih” ini dilaksanakan di berbagai lokasi, antara lain: Jakarta Pusat di Cempaka Putih RT 07; Jakarta Timur di Pintu Air Cipinang Melayu.

    Baca: Kegagalan kebijakan tata ruang perburuk banjir di Jakarta, Semarang dan Surabaya

    Sedangkan aksi “Jaga Jakarta Bersih” Jakarta Selatan dipusatkan di Inspeksi Kali Ciliwung; Jakarta Barat di Jalan Pulau Nangka; serta Jakarta Utara di Danau Bisma, Tanjung Priok.

    Kegiatan ini diikuti ribuan aparatur sipil negara (ASN), Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP), tenaga ahli (TA) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, serta masyarakat dari tingkat kota, kecamatan, hingga kelurahan.

    Dalam kegiatan ini, PMI memberikan bantuan peralatan kebersihan berupa 5.000 cangkul, 5.000 sekop, 1.000 gerobak sorong, dan 3.000 karung sampah.

    Setiap kota administrasi masing-masing menerima 1.000 cangkul, 1.000 sekop, 200 gerobak sorong, dan 600 karung sampah.

     

  • Hujan Deras Picu Banjir di Sejumlah Daerah di Jawa Tengah, Jalur Nasional Sempat Tergenang

    Hujan Deras Picu Banjir di Sejumlah Daerah di Jawa Tengah, Jalur Nasional Sempat Tergenang

    7cloud.asia – Hujan deras mengakibatkan banjir di sejumlah daerah di Jawa Tengah pada Senin (16/2/2026). Banjir antara lain terjadi di Demak, Grobogan dan Semarang.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan banjir di Grobogan, mengganggu jalur kereta api lintas utara rute Jakarta-Surabaya setelah rel terendam air di kilometer (Km) 32 pada petak antara Karangjati dan Gubug.

    Di Demak, banjir terjadi akibat jebolnya tanggul Sungai Cabean B1 yang berada di Kecamatan Guntur karena tidak mampu menampung debit air yang meningkat drastis setelah hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu.

    “Peristiwa tersebut mengakibatkan ratusan rumah warga terdampak banjir,” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak Agus Sukiyono dilansir Antaranews.com

    Baca: Waspadai potensi hujan lebat selama periode 15-21 Februari

    Ia mengatakan hujan deras di wilayah hulu menyebabkan aliran air ke wilayah hilir meningkat tajam sehingga tanggul tidak mampu menahan debit air.

    “Hujan di wilayah hulu yang menyebabkan debit air di wilayah hilir meningkat dengan intensitas tinggi mengakibatkan tanggul sisi kiri Sungai Cabean B1 jebol,” ujarnya.

    Ia menjelaskan tanggul jebol terjadi pada Senin (16/2/2026) dini hari sekitar pukul 03.30 WIB.

    Di Grobogan, banjir melanda 14 desa yang tersebar di delapan kecamatan.Curah hujan tinggi sehingga mengakibatkan air sungai meluap dan menggenangi pemukiman warga, Senin (16/2/2026)

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Wahyu Tri Darmawanto mengatakan banjir mulai terjadi pada Senin dinihari sekitar pukul 02.00 WIB.

    Baca: Perubahan iklim memicu siklon tropis di khatulistiwa

    Akibat banjir tersebut, kata dia, permukiman warga, jalan lingkungan, hingga akses jalan raya, tergenang air dengan ketinggian bervariasi antara 15 centimeter (cm) hingga satu meter.

    “Di Kecamatan Kedungjati, banjir terjadi di Desa Klitikan dengan ketinggian air 20–30 cm. Di Desa Kedungjati, air setinggi sekitar 20 cm menggenangi Jalan Raya Kedungjati–Salatiga, tepatnya di sebelah BPR BKK Kedungjati,” ujarnya.

    Sementara BPBD Kota Semarang, Jawa Tengah, melaporkan sejumlah permukiman di wilayah tersebut tergenang banjir akibat luapan Sungai Babon seiring hujan deras di wilayah bagian atas.

    Kepala BPBD Kota Semarang Endro P Martanto menyebutkan banjir menggenangi sejumlah permukiman, yakni Perumahan Argo Residence, Grand Batik Semarang, dan Grand Permata Tembalang, Perumahan Dinar Indah, dan wilayah RW 1 Kelurahan Rowosari.

    “Ketinggian banjir terpantau sampai 150 cm, sedada orang dewasa. Itu dilaporkan Senin pada pukul 02.00 WIB. Alhamdulillah sudah mulai surut, ada yang sudah 20-30 cm,” katanya.

  • Hujan Deras Picu Banjir di 45 Desa di Grobogan

    Hujan Deras Picu Banjir di 45 Desa di Grobogan

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mencatat jumlah warga yang terdampak banjir sebanyak 9.736 Kepala Keluarga (KK) dari 45 desa, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut, ditambah kiriman air dari sejumlah sungai di hulu.

    “Hujan deras terjadi sejak Minggu (15/2/2026) malam hingga Senin (16/2) dini hari. Selain merendam permukiman dan infrastruktur, banjir juga menyebabkan sedikitnya satu rumah rusak berat dan satu rumah rusak sedang di Desa Ngrandah, Kecamatan Toroh,” kata Kepala Pelaksana BPBD Grobogan Wahyu Tri Darmawanto dilansir Antaranews.com, Selasa (17/2/2026).

    Selain karena faktor curah hujan tinggi, lanjutnya, banjir juga dipicu luapan air akibat meningkatnya debit Sungai Glugu, Sungai Jajar, Sungai Tuntang, serta Sungai Lusi, yang tidak mampu ditampung sehingga meluap ke permukiman warga.

    BPBD juga mencatat ada sejumlah tanggul jebol, antara lain di Sungai Cabean Desa Tajemsari, Kecamatan Tegowanu, Sungai Jajar Baru di Dusun Krasak dan Dusun Klampisan, Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung, serta Sungai Jratun di Dusun Mbaru, Desa Kebonagung, Kecamatan Tegowanu.

    “Di Kecamatan Godong, banjir juga dipicu jebolan tanggul Sungai Tuntang yang berdampak hingga Desa Tinanding. Di Kecamatan Purwodadi, wilayah terparah terjadi di Kelurahan Kalongan dengan 1.180 KK terdampak. Ketinggian air di Perumahan Permata Hijau Kalongan dilaporkan mencapai sekitar satu meter,” ujarnya.

    Sementara itu di Desa Cingkrong, kata dia, tercatat sebanyak 2.416 KK terdampak dengan ketinggian air antara 10 hingga 50 centimeter (cm).

    Banjir juga merendam area persawahan di sejumlah kecamatan, antara lain di Tegowanu, Godong, dan Tawangharjo. Di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, sekitar 130 hektare sawah dengan tanaman padi siap panen dilaporkan terendam.

    “Tim gabungan dari BPBD, TNI-Polri, relawan, dan unsur Forkopimda melakukan evakuasi warga di sejumlah titik, termasuk di Kecamatan Toroh, Purwodadi, dan Godong. Distribusi bantuan logistik dan peralatan darurat juga telah disalurkan ke wilayah terdampak,” ujarnya.

    Selain itu dilakukan kerja bakti peninggian tanggul serta pembersihan lumpur pasca-jebolnya tanggul di ruas jalan Purwodadi-Semarang, Desa Tinanding, berbatasan dengan Kabupaten Demak.

    Pemerintah daerah bersama Forkopimda juga mendampingi Gubernur Jawa Tengah (Jateng) meninjau lokasi tanggul jebol dan menggelar rapat koordinasi tanggap darurat banjir.

    “Hingga Selasa (17/2/2026) sore sejumlah wilayah masih tergenang, antara lain di Kecamatan Purwodadi, Toroh, Tegowanu, Godong, Gubug, dan Tawangharjo. Namun sebagian besar wilayah lainnya dilaporkan berangsur surut,” kata Wahyu.

    Berdasarkan pantauan elevasi di Bendung Sedadi dan Bendung Klambu, serta Pos Menduran pada pukul 15.00 WIB, kata dia, debit dan tinggi muka air menunjukkan tren menurun, meskipun warga di sepanjang aliran sungai diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.

  • Banjir Dahsyat di Tenggara Brasil Tewaskan Puluhan Orang

    Banjir Dahsyat di Tenggara Brasil Tewaskan Puluhan Orang

    7cloud.asia – Korban tewas akibat banjir dan longsor yang melanda negara bagian Minas Gerais, Brasil, bertambah menjadi 30 orang, pihak berwenang mengatakan pada Selasa (23/2/2026) waktu setempat.

    Sekretariat Pertahanan dan Perlindungan Sipil Brasil (SEDEC) mencatat kenaikan signifikan dari laporan sebelumnya yang berjumlah 23 korban jiwa.

    Sementara itu, 47 orang lainnya dilaporkan masih hilang akibat bencana banjir yang melanda negara bagian di wilayah tenggara Brasil tersebut.

    Sebagian besar korban tewas diakibatkan oleh tanah longsor yang menghancurkan sejumlah rumah di Kota Juiz de Fora.

    Baca: Badai ganggu penerbangan dan putuskan jaringan listrik di Selandia Baru

    Upaya pencarian korban masih terus dilakukan, sementara sejumlah besar warga masih terjebak di rumah-rumah yang terendam banjir.

    Badan cuaca setempat memperkirakan hujan akan terus mengguyur wilayah itu hingga Jumat (27/2/2026), sehingga warga diminta tetap waspada.

    Februari menjadi bulan terbasah dalam sejarah di Kota Juiz de Fora dengan curah hujan mencapai 584 milimeter, dua kali lipat rata-rata bulanan.

    Hujan deras mulai mengguyur pada Senin (23/2/2026) dan berlanjut sepanjang malam.
    Saat ketinggian air naik pada Selasa dini hari, Wali Kota Juiz de Fora, Margarida Salomao, menyatakan keadaan darurat.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Langkah itu diambil agar pendanaan dan sumber daya federal segera turun untuk mengatasi dampak banjir.

    “Situasinya sangat serius,” kata Salomao​, seraya menegaskan bahwa pemerintah terus berusaha menyelamatkan mereka yang terjebak banjir.

    Semua korban banjir bandang yang ditemukan sejauh ini berada di Kota Juiz de Fora dan Uba, sekitar 310 kilometer utara Rio de Janeiro.

    Banjir juga menyebabkan potensi longsor susulan di jalan-jalan Juiz de Fora, kota berpenduduk 560.000 jiwa, yang tertutup lumpur.

    Sumber: Sputnik/RIA Novosti/Anadolu