Tag: perubahan iklim

  • Membangun Kota yang Tangguh Hadapi Perubahan Iklim dengan Prinsip Infrastruktur Kota Spons

    Membangun Kota yang Tangguh Hadapi Perubahan Iklim dengan Prinsip Infrastruktur Kota Spons

    7cloud.asia – Untuk mengatasi banjir perkotaan yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim, para pakar perencanaan dan perancangan kota mengembangkan prinsip infrastruktur kota spons (sponge city infrastructure).

    Prinsip infrastruktur kota spons ini meniru siklus air alami dengan menyerap, menahan, membersihkan, dan menggunakan kembali air hujan melalui infrastruktur hijau baik itu taman, atap hijau maupun lahan basah.

    Prinsip infrastruktur kota spons juga memperbanyak perkerasan berpori sehingga selain mengurangi intensitas banjir juga dapat meningkatkan ketersediaan air bersih. Pada akhirnya konsep ini akan melahirkan kota yang tangguh, berkelanjutan, dan ramah lingkungan

    Beberapa kota yang sukses menerapkan prinsip infrastruktur kota spons adalah Wuhan dan Tianjin (China), Auckland (Selandia Baru) dan Philadelphia (Amerika Serikat).

    Ibu Kota Nusantara (IKN) yang saat ini sedang dibangun di Sepaku, Kalimantan Timur juga menerapkan prinsip infrastruktur kota spons ini.

    Baca: Manfaat bangunan hijau untuk lingkungan dan kota

    Prinsip utama konsep infrastruktur kota spons berfokus pada integrasi infrastruktur hijau (taman, atap hijau) dan biru (kolam retensi, lahan basah) untuk mitigasi banjir, mengurangi limpasan permukaan, serta meningkatkan cadangan air tanah dan air bersih.

    Di lingkungan yang telanjur padat bangunan dan tertutup perkerasan, maka konsep ini dapat diterapkan dengan membuat sumur resapan ataupun biopori.

    Prinsip utama
    Berikut adalah prinsip utama konsep infrastruktur kota spons, yang kami rangkum dari berbagai sumber:

    1. Menyerap (Infiltrasi)
    Memaksimalkan penyerapan air hujan ke dalam tanah dengan menggunakan material berpori (permeable pavement) pada trotoar, taman, dan jalan, sehingga mengurangi aliran permukaan dan menambah air hujan yang terserap ke dalam tanah.

    Prinsip ini secara tidak langsung akan membantu menjaga cadangan air tanah perkotaan.

    2. Menahan (Detensi/Retensi)
    Menggunakan ruang hijau, taman kota, dan atap hijau (green roofs) untuk menahan air hujan sementara, mencegah beban berlebih pada saluran drainase konvensional.

    3. Membersihkan (Purifikasi)
    Memanfaatkan lahan basah buatan (wetlands) dan taman hujan untuk menyaring polutan alami dari air hujan sebelum meresap ke dalam tanah atau dialirkan ke sungai.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan

    4. Menyimpan (Stok)
    Membangun waduk, kolam retensi, dan tangki bawah tanah untuk menyimpan air hujan yang telah disaring agar dapat digunakan kembali (reuse) untuk kebutuhan sehari-hari seperti penyiraman taman atau pembersihan.

    5. Mengalirkan (Drainase)
    Mengintegrasikan sistem drainase alamiah dengan saluran air kota agar kelebihan air dapat dialirkan secara aman ke sistem penyimpanan atau ekosistem sungai tanpa menyebabkan banjir.

    6. Adaptasi Ekologis
    Mengubah lanskap perkotaan untuk bekerja sama dengan alam (desain nature-based solutions) dibandingkan sekadar mengandalkan infrastruktur beton, terutama di daerah dengan curah hujan tinggi.

    Penerapan prinsip-prinsip ini dilakukan melalui pendekatan terintegrasi di berbagai skala, mulai dari bangunan individu, kawasan, hingga rencana induk regional.

    Semua ini akan bermuara ke satu tujuan yakni untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap dampak perubahan iklim.

    Baca: Maroedja Sport Park Kembangan didesain dengan prinsip infrastruktur kota spons 

     

  • Perubahan Iklim Picu Cuaca Ekstrem: BRIN Dorong Penggunaan Teknologi AI untuk Mitigasi

    Perubahan Iklim Picu Cuaca Ekstrem: BRIN Dorong Penggunaan Teknologi AI untuk Mitigasi

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan mengatakan bahwa salah satu indikasi dampak terjadinya perubahan iklim adalah frekuensi terjadinya cuaca ekstrem semakin meningkat

    Satu di antaranya adalah curah hujan ekstrem di Jakarta, tepatnya awal tahun 2020 (31 Des 2019 – 01 Jan 2020), di mana tercatat curah hujan harian di Stasiun Pengamatan Halim Perdana Kusuma, Jakarta pada waktu itu tercatat sebesar 377 mm.

    Eddy mengatakan, sebenarnya bukan hal mudah memprediksi terjadinya curah hujan ekstrem yang menyebabkan Jakarta dan kawasan sekitarnya lumpuh total pada saat itu.

    ”Hal ini disebabkan selain minimnya pengetahuan kita tentang gelombang atmosfer yang terjadi saat itu, juga keterbatasan kita dalam mendapatkan data beresolusi tinggi,” jelas Eddy di acara Media Lounge Discussion (MELODI) bertema “Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset”, Rabu (4/2/2026).

    Namun, menurutnya ada satu pelajaran penting yang bisa diambil dari banjir Jakarta 2020 yakni prediksi hanya dapat dilakukan bilamana data yang diolah bersifat teratur (stasioner).

    Padahal, data curah hujan dan parameter pendukungnya umumnya bersifat tidak stationer. Oleh karena itu, ujarnya, data tersebut “dipaksa” untuk menjadi stasioner.

    Eddy menambahkan, di masa lalu BRIN menggunakan teknik konvensional (dikenal sebagai ARIMA), namun kini BRIN mencoba untuk menggunakan Machine Learning, Deep Learning, AI, Big Data dan lainnya untuk memperkirakan potensi cuaca ekstrem

    ”Yang pernah dilakukan adalah bagaimana memprediksi anomali curah hujan menggunakan teknik Hybrid ARIMA-LSTM, selain didapat akurasi yang relatif lebih baik, juga jangkauan waktu prediksi yang relatif lebih jauh,” ungkap Eddy.

    Adapun teknik Hybrid ARIMA-LSTM adalah metode peramalan (forecasting) kombinasi yang mengintegrasikan model statistik ARIMA (untuk pola linier) dan model deep learning LSTM (untuk pola non-linier).

    Pendekatan ini memaksimalkan keunggulan keduanya untuk meningkatkan akurasi prakiraan cuaca, di mana ARIMA menangani tren linier dan LSTM memodelkan dependensi non-linier yang kompleks pada data deret waktu.

    Khusus untuk Jakarta dan sekitarnya, Eddy menyebutkan perlunya mentransformasi data-data baik berbasis satelit, re-analisis, ataupun dari BMKG yang kaya dengan data di lokasi (in-situ).

    Data-data tersebut kemudian dikemas dalam bentuk “Sistem Peringatan Dini” yang tepat waktu, tepat sasaran, dengan presisi prediksi yang “tinggi”, dan yang lebih penting bias diterapkan untuk satu kawasan yang relatif kecil atau “localized”.

    Yang tidak kalah pentingnya lanjut Eddy, karena curah hujan ekstrem umumnya dibangkitkan oleh kumpulan awan-awan besar (giant clouds), seperti awan Comulonimbus (Cb) atau awan besar (SCCs) yang tinggi awannya hingga mencapai 15-16 km dpl, maka kehadiran data radar BMKG mutlak diperlukan.

    ”Di sini nampak jelas, diperlukan adanya multi parameter, multi lapisan, dan multi teknik agar hasilnya memiliki nilai presisi yang tinggi,” imbuhnya.

    BRIN berkomitmen untuk fokus ke riset dan inovasi bagaimana membuat satu system peringatan dini yang utuh, runut, terpadu, menyeluruh didasarkan kepada hasil analisis yang tajam dan mendalam agar kita punya saving time.

    “Diskusi ilmiah seperti inilah yang kita perlukan, agar dampak hujan esktrem dapat diredam seminimal mungkin melalui diskusi ilmiah dengan berbagai pakar baik yang ada di dalam ataupun di luar negeri,” pungkasnya.

  • Transisi Energi Ciptakan 4 Juta Green Jobs: Bagaimana Dunia Kampus Menghadapinya

    Transisi Energi Ciptakan 4 Juta Green Jobs: Bagaimana Dunia Kampus Menghadapinya

    7cloud.asia – Perubahan iklim tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang karier baru bagi generasi muda, yakni kebutuhan akan tenaga kerja hijau atau green jobs.

    Seperti negara-negara lain di dunia, Indonesia saat ini tengah mendorong transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan sebagai bagian dari upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.

    Dalam proses tersebut, penguatan keterampilan sumber daya manusia didukung melalui pelatihan dan sertifikasi yang diselenggarakan PPSDM.

    Mengacu pada proyeksi pembangunan nasional, Indonesia berpotensi menciptakan sekitar 4 juta tenaga kerja hijau atau green jobs di masa yang akan datang. Dan, green jobs ini menjadi peluang untuk mewujudkan masa depan yang lebih inklusif

    Melalui konsep green jobs, mahasiswa didorong untuk melihat perubahan global menuju ekonomi berkelanjutan sebagai ruang kontribusi sekaligus masa depan dunia kerja.

    Demikian terungkap dalam kegiatan Ruang Aksi Goes to Campus yang diselenggarakan di Kampus Universitas Saintek Muhammadiyah, Rabu (25/2/2026),

    Baca: Dampak greenwashing pada upaya menuju keberlanjutan

    Direktur Kemitraan Strategis dan Pengembangan Koaksi Indonesia, Indra Sari Wardhani, menjelaskan bahwa meningkatnya bencana akibat perubahan iklim menuntut transformasi menuju ekonomi berkelanjutan.

    Dia menjelaskan, green jobs memiliki tiga karakter utama, yaitu berkontribusi pada kelestarian lingkungan, bersifat layak dan adil bagi pekerja, serta inklusif bagi semua kalangan.

    “Green jobs bukan sekadar tren, tetapi bagian dari transformasi ekonomi menuju keberlanjutan,” jelasnya.

    Diskusi juga menghadirkan perspektif nilai keagamaan melalui paparan Syahrul Ramadan, Circle Manager GreenFaith Indonesia, yang mengangkat pendekatan ekoteologi—yakni cara pandang yang mengaitkan ajaran agama dengan tanggung jawab ekologis.

    Dia menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan teknologi semata, tetapi juga membutuhkan kesadaran spiritual.

    “Manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Greenjobs dapat menjadi salah satu bentuk aksi nyata dari nilai iman,” ungkapnya.

    Baca: Regulasi yang melarang praktik greenwashing

    Dari perspektif industri, Aki Soehartono, RE Project Consultant Inovasi Dinamika Pratama, menekankan bahwa peluang green jobs terbuka luas, tak hanya bagi tenaga teknis, tetapi juga bagi bidang komunikasi dan sosial selama memiliki wawasan lingkungan.

    Sementara itu, Fitrianti Sofyan, Manajer Komunikasi dan Kampanye Koaksi Indonesia, menegaskan bahwa green jobs bersifat inklusif dan dapat diakses oleh berbagai latar belakang keilmuan selama berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.

    Mario Zulhadi Amrullah, Dosen Fakultas Komunikasi dan Bisnis Universitas Saintek Muhammadiyah, menyoroti pentingnya peran kampus dalam menjalin kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri, serta mendorong integrasi perspektif lingkungan dalam kurikulum.

    Diskusi menegaskan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam mendorong inovasi, kesadaran lingkungan, serta kesiapan mahasiswa menghadapi masa depan kerja.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami tantangan perubahan iklim, tetapi juga melihatnya sebagai peluang untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan sekaligus membangun karier di sektor green jobs

    Baca: Kesadaran masyarakat akan produk ramah lingkungan terus meningkat

  • Hari Lamun Sedunia: Ekosistem Lamun Indonesia Mampu Serap Sepersepuluh Emisi Karbon Nasional

    Hari Lamun Sedunia: Ekosistem Lamun Indonesia Mampu Serap Sepersepuluh Emisi Karbon Nasional

    7cloud.asia – Ekosistem lamun Indonesia memiliki potensi besar dalam menyerap dan menyimpan karbon sehingga berperan penting dalam penanganan perubahan iklim.

    Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusmiana Rahayu mengatakan, data pada 2018 luas padang lamun di tanah air berkisar 875.967 hingga 1.847.341 hektare,

    Adapun total karbon yang diserap mencapai 0,26 sampai dengan 0,55 gigaton karbon dioksida ekuivalen (Gt CO2e). Penghitungan tersebut, sebagai gabungan dari kemampuan penyimpanan karbon biomassa dan sedimen dari ekosistem lamun.

    “Kemudian totalnya saya gabungkan setelah dikaitkan luas, mendapatkan 0,26 sampai 0,55 gigaton CO2 ekuivalen,” katanya dalam diskusi yang diikuti daring dari Jakarta, Senin (2/3/2026).

    Dia menyoroti potensi besar ekosistem padang lamun jika dibandingkan dengan total emisi gas rumah kaca di Indonesia, yaitu 1,84 Gt CO2e yang dilaporkan pada 2019 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

    “Jadi ini untuk memberikan perbandingan seberapa besar potensi karbon di ekosistem lamun yang kita punya dibandingkan dengan emisi yang terjadi di Indonesia,” katanya mengacu pada hasil riset yang dilakukan pada 2024.

    Baca: Cara ekosistem lamun menjaga keanekaragaman hayati

    Jumlah itu kemungkinan dapat berubah mengingat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru merilis Peta Karang dan Padang Lamun Nasional 2025 pada akhir tahun lalu.

    Di mana luasan karang keras secara nasional adalah 838 ribu hektare dan 660 ribu hektare untuk ekosistem padang lamun.

    Yusmiana menyoroti bahwa peran karbon biru kini juga semakin penting dalam upaya mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional, yang tertuang dalam dokumen iklim National Determined Contribution (NDC).

    Dengan sektor kelautan dan perikanan, kini sudah diperhitungkan dalam penyelenggaraan nilai ekonomi karbon.

    “Artinya kita perlu data yang lebih siap, karena masih banyak data-data khususnya ekosistem lamun yang dibutuhkan untuk kita bisa menghitung inventarisasi dengan lebih detail,” demikian Yusmiana Rahayu.

    Terancam
    Sementara Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Asep Hidayat menyoroti ancaman terhadap ekosistem lamun dari reklamasi dan pencemaran lingkungan.

    Baca: Ekosistem lamun berperan penting jernihkan kawasan pesisir

    Asep mengatakan karbon biru memiliki potensi besar untuk menyimpan karbon, termasuk padang lamun dan mangrove, yang semuanya bisa ditemukan di Indonesia meski terdapat ancaman yang dihadapi ekosistem tersebut.

    “Di Indonesia potensi karbon biru di padang lamun diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta karbon. Menjadikan aset penting bagi strategi mitigasi dan perubahan iklim nasional dan sumber ekonomi ke depan,” tuturnya.

    Tekanan pembangunan di pesisir, sedimentasi yang terus terjadi, ujarnya, terjadi bukan hanya karena begitu saja, tetapi ada konversi di daerah hulu dan lain-lain sehingga ini mengalir ke daerah pesisir.

    Selain itu terdapat pula ancaman dari pencemaran lingkungan dan penangkapan yang tidak ramah lingkungan, selain juga dampak perubahan iklim seperti suhu permukaan laut yang meningkat.

    Dalam diskusi yang sama, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN Nurul Dhewani menyebut ekosistem lamun memiliki sejumlah jasa lingkungan, seperti habitat bagi satwa terancam punah dan lokasi pemijahan serta sumber pangan untuk ikan serta spesies lain, termasuk dugong dan kuda laut.

    Dari sisi perikanan, kata dia, ekosistem padang lamun menjadi sumber pendapatan untuk masyarakat pesisir, termasuk menangkap ikan, kepiting, dan kerang.

    Untuk itu ancaman dari aktivitas manusia seperti reklamasi, polusi, penangkapan berlebihan dan dengan cara destruktif, selain juga faktor eksternal termasuk perubahan iklim.

    Dia mendorong peningkatan upaya pengelolaan, termasuk pembentukan kawasan konservasi lamun, restorasi habitat, dan penyadartahuan tentang peran penting lamun kepada masyarakat.

  • Triliunan Rupiah Bantuan Negara Maju Belum Berdampak ke Transisi Energi Indonesia

    Triliunan Rupiah Bantuan Negara Maju Belum Berdampak ke Transisi Energi Indonesia

     

    7cloud.asia – Perundingan iklim PBB menyepakati bahwa negara-negara kaya memiliki tanggung jawab lebih besar atas perubahan iklim karena emisi yang mereka hasilkan di masa lalu.

    Untuk menebus ‘dosa’ itu, negara-negara maju lantas berkomitmen menghimpun sedikitnya 100 miliar dolar per tahun (setara Rp1.685 triliun) hingga 2025 untuk membantu negara berkembang beradaptasi terhadap perubahan iklim dan beralih ke energi terbarukan.

    Semua ini demi memenuhi target pengurangan emisi sesuai Perjanjian Paris 2015 yang menetapkan komitmen global untuk menjaga kenaikan suhu rata-rata dunia tetap di bawah 2°C dibandingkan suhu sebelum era Revolusi Industri.

    Namun, bagi negara berkembang seperti Indonesia, memenuhi target tersebut bukan sekadar soal kemauan politik. Perlu mobilisasi dana dalam skala besar.

    Sayangnya, selain belum cukup untuk menutupi kebutuhan, dukungan dana dari negara-negara maju yang sudah tersedia saat ini pun belum benar-benar berbuah hasil proyek nyata energi terbarukan di Indonesia.

    Kesenjangan triliunan dolar

    Klub organisasi negara maju (OECD) menyatakan target US$100 miliar itu untuk pertama kalinya tercapai pada 2022. Meski demikian, banyak negara di Global South—lintas Asia, Afrika, dan Amerika Latin—berpendapat bahwa jumlah tersebut masih jauh dari cukup.

    Dalam setiap KTT iklim PBB (COP) sejak Paris, negara-negara Global South konsisten menyerukan tambahan pendanaan untuk memenuhi target iklim yang lebih ambisius.

    Pada COP29 di Baku, Azerbaijan lalu, negara-negara maju sepakat bakal “menyalurkan” setidaknya 300 miliar dolar (setara Rp5.070 triliun) per tahun kepada negara berkembang hingga 2035. Namun negara-negara Global South menuntut angka yang lebih besar.

    Pada COP30 di Belem, Brasil (2025), mereka menyerukan pembiayaan sedikitnya 1,3 triliun (sekitar Rp21.974 triliun) per tahun hingga 2035 untuk aksi iklim. Aksi ini biasanya berbentuk penambahan pembangkit listrik energi terbarukan, pengurangan pemakaian bahan bakar minyak, hingga mengurangi pembabatan hutan. Namun, aksi-aksi itu belum terdengar gaungnya.

    Lantas ke mana sebenarnya dana yang dijanjikan negara-negara maju kepada Global South itu mengalir? Apa saja yang dibiayai? Dan apakah dana tersebut benar-benar membantu negara-negara di garis depan krisis iklim untuk menurunkan emisi dan beradaptasi terhadap dampaknya?

    Untuk menjawab pertanyaan itu, saya mengkaji kesepakatan pembiayaan iklim terbesar yang pernah ditandatangani antara sejumlah negara maju dengan salah satu negara Global South: Indonesia. 

    Bukan kemitraan ideal

    Indonesia adalah negara dengan penduduk keempat terbesar dan ekonomi terbesar ke-17 di dunia.

    Indonesia juga merupakan eksportir batu bara terbesar di dunia, serta negara kepulauan dengan lebih dari 17.500 pulau yang sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan badai yang semakin intens.

    Untuk memenuhi target Perjanjian Paris, Indonesia berkomitmen meningkatkan porsi energi terbarukan menjadi 29 persen pada 2030—bertambah hingga 41 persen dengan dukungan internasional.

    Pada 2022, dukungan itu tampak datang melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai 20 miliar dolar (sekitar Rp338 triliun).

    JETP dirancang untuk membantu negara-negara berkembang dengan pertumbuhan pesat dan ketergantungan tinggi pada batu bara agar bisa mempercepat transisi menuju energi bersih.

    Pendanaannya merupakan campuran dana publik dan swasta, termasuk hibah, pinjaman berbunga rendah, serta investasi utang dan ekuitas komersial.

    Namun, meski nilainya besar, riset saya menunjukkan bahwa sampai saat ini, JETP Indonesia belum banyak menunjukkan hasil nyata.

    Salah satu penyebab mandeknya program ini adalah karena masalah tata kelola. Sekretariat JETP, yang seharusnya menjadi pusat perencanaan, justru harus meminta persetujuan dari negara-negara maju atas rencana kebijakan dan investasinya.

    Memang sekretariat itu dipimpin oleh orang Indonesia yang ditunjuk oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, tapi tidak ada anggaran khusus untuk membentuk tim JETP yang memadai. Artinya, meskipun terlihat seperti dipimpin Indonesia, dalam praktiknya kendali dan kapasitasnya sangat terbatas.

    Awalnya digembar-gemborkan sebagai inisiatif yang dipimpin Indonesia, JETP kemudian malah sangat terpengaruh kepentingan negara maju.

    Kelompok kerja JETP yang menangani perencanaan teknis, kebijakan, pembiayaan, dan keadilan masing-masing didanai oleh International Energy Agency (IEA) yang dipimpin OECD, Bank Dunia yang bermarkas di Washington, Asian Development Bank (ADB) (dengan pemegang saham terbesar Amerika Serikat/AS dan Jepang), serta UN Development Programme/UNDP.

    Perusahaan-perusahaan dari negara donor juga mendominasi diskusi soal pendanaan JETP. Salah satu proyek awal yang diusulkan adalah pensiun dini PLTU Cirebon-1 di Jawa Barat, yang sebagian besar sahamnya dimiliki perusahaan Jepang, Marubeni (32.5 persen).

    Namun, laporan terbaru menunjukkan rencana penghentian dini pembangkit tersebut kini ditangguhkan. 

    Sebuah “alat kontrol”

    Istilah “keadilan” kerap menjadi slogan dalam inisiatif pembiayaan iklim, termasuk JETP.

    Riset saya menunjukkan bahwa dokumen JETP memang memuat “standar” keadilan, seperti pelestarian warisan budaya dan penghormatan terhadap hak-hak pekerja.

    Namun ketentuan ini hanya berupa pedoman yang tidak mengikat secara hukum.

    Menurut data Sekretariat JETP, hingga pertengahan 2024, ada 19 program dengan total nilai 144,6 juta dolar (sekitar Rp2,44 triliun) yang telah diluncurkan atau berada di tahap pembahasan akhir.

    Namun laporan Eco-Business pada Oktober 2024 menyebutkan bahwa belum satu pun dari dana transisi yang dijanjikan itu benar-benar berujung pada proyek pembangkit energi bersih baru atau pun pensiun dini PLTU“.

    Pendanaan awal dari AS, Jerman, dan Kanada justru dilaporkan lebih banyak digunakan untuk membayar konsultan dalam studi kelayakan atau bantuan teknis. Tidak ada pula jaminan pendanaan lanjutan untuk membangun proyek energi terbarukan setelah studi kelayakan selesai.

    Beberapa program yang diklaim sebagai bagian dari bantuan JETP, seperti energy transition mechanism partnership milik Jerman, sebenarnya sudah disetujui dan didanai melalui skema lain, seperti energy transition mechanism andalan ADB.

    Artinya, ini bukan dana baru khusus JETP yang benar-benar akan menambah pembiayaan transisi energi Indonesia.

    Sejumlah pembuat kebijakan Indonesia yang saya temui blak-blakan tentang politik di balik pembiayaan iklim.

    Mereka mengaku, pembiayaan iklim ini memang lebih condong mengakomodir keinginan donor atau negara-negara kaya ketimbang mewujudkan keadilan iklim atau membantu negara berkembang memenuhi kebutuhan mereka.

    Seorang pejabat di sektor energi bahkan menyebut JETP sebagai “alat kontrol” yang digunakan negara-negara G7 untuk menandingi pengaruh Cina di Asia Tenggara.

    Di masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump, dengan penarikan AS dari Perjanjian Paris—termasuk dari JETP Indonesia—sejumlah pejabat Indonesia menyebut JETP sudah gagal.

    Namun, ada pula yang punya pandangan pragmatis. Beberapa menilai bahwa proses JETP setidaknya mempercepat diskusi mengenai transisi energi di Indonesia.

    Kini, ketika negara-negara maju menghadapi tekanan fiskal dan mulai meninjau ulang anggaran bantuan luar negeri mereka, pembiayaan iklim—yang sering bersumber dari komitmen bantuan—semakin tidak pasti.

    Di tengah keterbatasan pembiayaan iklim ini, isu keadilan atas emisi masa lalu (yang dihasilkan negara kaya) dan dukungan bagi pihak-pihak yang dirugikan oleh transisi ke energi terbarukan berisiko semakin tidak diprioritaskan.

    Kerja sama yang sudah berjalan antara negara maju dan negara berkembang untuk mencapai target iklim global pun bisa bernasib yang sama: tidak dijalankan dengan serius.


    Nikita Sud, Professor of the Politics of Development, University of Oxford

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Perubahan Iklim Membuat Kehidupan Perempuan di Pulau-pulau Kecil Makin Sulit

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim sudah sangat dirasakan kelompok perempuan di Maluku yang sebagian besar tinggal di pulau-pulau kecil.

    Seperti diketahui Maluku terdiri dari 1.412 pulau kecil, dan sebagian besar wilayahnya berupa laut.

    Berbicara dalam diskusi publik bertajuk “Perempuan Pembela HAM di Garis Depan Perlindungan Lingkungan dan Perjuangan Keadilan Iklim” Daniella Loupatty dari Yayasan Walang Perempuan mengatakan, Perubahan iklim membuat banjir makin sering terjadi.

    Diskusi ini digelar sebagai rangkaian peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) 2026 yang diselenggarakan WALHI bersama Konsorsium PARARA.

    Perubahan iklim telah mengakibatkan permukaan air laut terus meningkat. Kenaikan muka air laut ini selanjutnya mengancam desa-desa pesisir yang banyak terdapat di Maluku.

    Di musim kemarau sering terjadi kekeringan. Ketika sumber air mengering, perempuan di Pulau Kecil harus menyeberangi laut untuk mendapatkan air bersih dari pulau lain.

    Baca: Perubahan iklim mengancam ruang hidup di pulau kecil

    “Kadang kami harus menghadapi ombak besar dengan menggunakan perahu kecil, tapi ini harus dilakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga,“ terang perempuan yang biasa disapa Ella ini.

    Perubahan iklim juga membuat laut makin rusak. Pemanasan global menyebabkan suhu permukaan laut meningkat yang memicu pemutihan karang (coral bleaching) yang merusak ekosistem terumbu karang, tempat nelayan Saparua menggantungkan hidupnya

    Perubahan iklim juga memicu kerentanan di sektor pertanian dan perikanan, di mana kalender musim nelayan menjadi tidak menentu.

    Petani menghadapi kesulitan akibat cuaca yang tidak menentu sehingga menurunkan hasil panen pertanian mereka.

    Luasan kebun sagu juga jauh berkurang karena lahan beralih fungsi menjadi pemukiman dan fasilitas publik lainnya.

    Dengan berkurangnya luas kebun sagu membuat warga terpaksa beralih mengonsumsi beras. Padahal beras harus didatangkan dari pulau lain di Maluku, sehingga secara tidak langsung kedaulatan pangan tergerus.

    Baca: Ribuan desa pesisir di Indonesia Timur terancam akibat perubahan iklim

    Perubahan iklim juga mengakibatkan kekeringan dan ketersediaan air. Di mana peningkatan suhu meningkatkan penguapan, yang dapat mengurangi ketersediaan air tanah dan menyebabkan kekeringan berkepanjangan.

    “Apalagi di pulau-pulau kecil yang daerah resapannya sangat terbatas,“ imbuh Ella Loupatty.

    Kondisi ini mengakibatkan perempuan di Pulau Saparua harus bekerja lebih berat untuk memastikan keluarganya tetap bisa makan. Pun demikian dengan laki-laki yang bekerja sebagai nelayan

    Mereka harus melaut lebih jauh, sehingga butuh lebih banyak BBM sementara hasil tangkapan ikan yang terus menurun.

    Untuk memitigasi kondisi ini, Yayasan Walang Perempuan telah menyusun rencana aksi untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

    Yayasan Walang mengajak perempuan untuk melakukan konservasi mangrove secara mandiri dan mengadopsi metode pertanian adaptif, seperti penanaman tumpang sari dan pemanenan air hujan untuk mengatasi kekeringan.

  • Pemanasan Global Pengaruhi Kemampuan Literasi dan Numerasi Anak di Daerah Terdampak

    Pemanasan Global Pengaruhi Kemampuan Literasi dan Numerasi Anak di Daerah Terdampak

    7cloud.asia – Pemanasan global yang kemudian memicu perubahan iklim dan peningkatan suhu bumi tidak hanya membawa dampak bagi kerusakan lingkungan.

    Penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa peningkatan suhu Bumi juga dapat menghambat perkembangan anak usia dini, terutama dalam hal kemampuan membaca (literasi) dan berhitung (numerasi).

    Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry itu dilakukan dengan menganalisis informasi 19.607 anak usia tiga sampai empat tahun di sejumlah negara.

    Peneliti menganalisa data anak-anak dari Gambia, Georgia, Madagaskar, Malawi, Palestina, dan Sierra Leone; yang mencakup data perkembangan anak, kondisi rumah, dan iklim.

    Tim peneliti lantas mengevaluasi data tersebut menggunakan Early Childhood Development Index (ECDI) yang melacak tonggak dalam bidang keterampilan literasi dan numerasi

    Baca: Orang kaya harus memangkas emisinya untuk menahan laju pemanasan global

    Tak ketinggalam, peneliti menganalisa perkembangan sosial-emosional, pendekatan terhadap pembelajaran, dan perkembangan fisik; kemudian menggabungkannya dengan data dari Multiple Indicator Cluster Surveys (MICS) tahun 2017–2020.

    Dengan menggabungkan kumpulan data tersebut dengan catatan iklim yang menunjukkan suhu bulanan rata-rata, tim peneliti lantas mengeksplorasi potensi keterkaitan antara paparan panas dan perkembangan awal para anak.

    Hasilnya, anak-anak yang mengalami panas dengan suhu maksimum rata-rata di atas 30 °C memiliki kemungkinan 5 hingga 6,7 ​​persen lebih kecil untuk mencapai tonggak literasi dan numerasi dasar.

    Dilansir Science Daily Desember lalu, peneliti mengatakan angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan anak yang terpapar suhu lebih dingin (di bawah 26 °C) pada musim dan wilayah yang sama.

    Baca: Orang kaya harus memangkas emisinya agar hak dasar orang miskin terpenuhi

    Temuan menunjukkan bahwa dampak yang paling kuat atas kondisi di atas dirasakan oleh anak-anak yang bersal dari rumah tangga kurang mampu secara ekonomi, rumah dengan akses air bersih yang terbatas, dan area perkotaan yang padat.

    “Temuan ini harus memperingatkan peneliti, pembuat kebijakan, dan para praktisi tentang kebutuhan mendesak untuk melindungi perkembangan anak di dunia yang semakin panas,” kata Penulis utama penelitian sekaligus asisten profesor psikologi terapan di NYU Steinhardt, Jorge Cuartas.

    Cuartas mengatakan, selama ini pemanasan global lebih sering dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental.

    “Sementara paparan panas telah dikaitkan dengan dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental sepanjang siklus hidup, penelitian ini memberikan wawasan baru bahwa panas berlebihan berdampak negatif terhadap perkembangan anak usia dini di berbagai negara,” kata Jorge Cuartas.

  • Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin 10 Kali Lipat Dibanding Negara Maju

    Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin 10 Kali Lipat Dibanding Negara Maju

    7cloud.asia – Para peneliti dari Climate Impact Lab mengatakan, angka kematian terkait cuaca panas ekstrem di masa yang akan datang bergantung pada dampak langsung dari pemanasan iklim dan investasi dalam adaptasi iklim, termasuk pendingin ruangan dan pusat pendinginan.

    Studi Climate Impact Lab mengungkap, negara-negara miskin akan mengalami angka kematian yang jauh lebih tinggi akibat panas ekstrem dibandingkan negara-negara kaya.

    Dilansir earth.org, laporan itu menyebut, hal ini dikarenakan perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia terus meningkatkan suhu secara global.

    Laporan itu menyebut, gelombang panas adalah jenis cuaca panas ekstrem yang paling mematikan. Antara tahun 2000-2019, sekitar 489.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat panas ekstrem di seluruh dunia.

    Sebanyak 45 persen dari korban jiwa ini terjadi di Asia, wilayah yang paling sering dilanda bencana cuaca dan iklim di dunia; 36 persen terjadi di Eropa, benua yang paling cepat mengalami pemanasan di dunia.

    Di Eropa angka kematian terkait panas telah meningkat sekitar 30 persen dalam dua dekade terakhir. Namun, sebuah makalah baru yang diterbitkan pada Senin (23/3/2026) menemukan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah akan paling menderita.

    Para peneliti di Climate Impact Lab memperkirakan bahwa diperkirakan 10 kali lebih banyak orang akan meninggal setiap tahun di negara-negara berpenghasilan rendah (sekitar 391.000 orang) dibandingkan di negara-negara berpenghasilan tinggi (sekitar 39.000 orang) akibat perubahan suhu.

    Hal ini karena negara-negara berpenghasilan rendah kurang siap untuk menghadapi ancaman yang semakin meningkat akibat perubahan iklim dibandingkan negara-negara maju.

    Pada pertengahan abad ini, kematian akibat panas ekstrem diperkirakan akan meningkat hingga 60 atau lebih kematian per tahun per 100.000 orang di negara-negara di wilayah Sahel Afrika seperti Niger dan Burkina Faso.

    Angka ini lebih tinggi daripada angka kematian akibat serangan malaria saat ini di benua tersebut.

    Bolivia bagian tenggara mungkin akan mengalami peningkatan kematian akibat panas hingga 30 orang per 100.000 – setara dengan angka kematian akibat diabetes.

    Dan di Pakistan, angka kematian diperkirakan akan meningkat hingga 51 kematian per 100.000 orang, sebanding dengan angka kematian akibat tuberkulosis dan stroke di negara tersebut saat ini.

    Menurut studi tersebut, wilayah yang lebih panas seperti Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Barat Daya diproyeksikan akan mengalami lebih banyak kematian.

    Perbedaan juga akan sangat mencolok di negara-negara dengan iklim yang sangat beragam seperti AS dan Bolivia. Sementara itu, beberapa iklim dingin seperti Alaska, Kanada, dan Greenland akan mengalami penurunan kematian akibat panas.

    Temuan laporan yang belum ditinjau ini didasarkan pada proyeksi risiko kematian akibat peningkatan suhu di masa depan yang disebabkan oleh perubahan iklim yang telah ditinjau oleh tim lain di Climate Impact Lab.

    Perkiraan menunjukkan bahwa satu hari yang panas –ketika suhu rata-rata melebihi 35°C (95°F)– meningkatkan angka kematian sebanyak empat kematian per 1 juta orang.

    “Laporan ini mengungkap salah satu ironi paling kejam dari perubahan iklim—diproyeksikan akan membunuh jutaan orang di negara-negara yang umumnya paling sedikit berkontribusi terhadapnya,” kata Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab dan Direktur Institut untuk Iklim dan Pertumbuhan Berkelanjutan serta Institut Kebijakan Energi di Universitas Chicago.

    Makalah ini muncul ketika PBB pekan inimenyatakan bahwa iklim Bumi lebih tidak seimbang daripada kapan pun dalam sejarah yang tercatat seiring dengan percepatan pemanasan global.

  • Guru Besar UGM Ungkap Potensi Mikroalga Sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Dari Sumber Pangan, Biofuel hingga Mitigasi Perubahan Iklim

    Guru Besar UGM Ungkap Potensi Mikroalga Sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Dari Sumber Pangan, Biofuel hingga Mitigasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Mikroalga memiliki peran yang sangat besar dalam menopang kehidupan manusia dan alam di muka bumi ini. Ia berkontribusi secara signifikan terhadap fiksasi karbon melalui fotosintesis dengan mengubah karbon dioksida di atmosfer menjadi senyawa organik.

    Proses fiksasi karbon yang dilakukan mikroalga ini sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menurunkan kadar karbon dioksida di atmosfer, yang merupakan pendorong utama pemanasan global.

    Mikrolaga juga diketahui kaya akan polisakarida, lipid, pigmen, protein, vitamin, mineral, serta antioksidan yang memiliki potensi luas untuk berbagai aplikasi, mulai dari pangan dan pakan, kosmetik, farmasi, hingga produk berbasis hayati lainnya

    Demikian kesimpulan pidato pengukuhan guru besar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Eko Agus Suyono, M.App.,Sc., yang berjudul “Mikroalga Sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Integrasi Teknologi CO2 Capture dan Konsep Biorefinery Untuk Kemandirian Bangsa”.

    “Mikroalga juga berkontribusi sekitar 40-50 persen terhadap oksigen di atmosfer, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian oksigen pada setiap tarikan napas manusia berasal dari proses fotosintesis mikroalga,” jelas Agus dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Bioteknologi Industri dan Lingkungan, Kamis (2/4/2026), di Balai Senat UGM.

    Eko menuturkan mikroalga berfungsi sebagai produsen primer utama yang menopang rantai makanan global.

    Baca: Peneliti ITB kembangkan mikroalga laut tropis Thalassiosira sp. menjadi sumber energi masa depan

    Mikroalga berperan sebagai komponen penting dalam siklus karbon dan nutrien, terutama di ekosistem akuatik, karena berfungsi sebagai penyerap sekaligus sumber karbon yang mendukung berbagai tingkat kehidupan di alam.

    “Tidak hanya untuk biofuel, mikrolaga pun diketahui kaya akan polisakarida, lipid, pigmen, protein, vitamin, mineral, serta antioksidan yang memiliki potensi luas untuk berbagai aplikasi, mulai dari pangan dan pakan, kosmetik, farmasi, hingga produk berbasis hayati lainnya,” ungkapnya.

    Ia menyebutkan, kandungan biomassa pada mikroalga bernilai pasar tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai macam produk bernilai tinggi, seperti biodiesel, bioetanol, biohidrogen, pakan, pangan, hingga pupuk.

    Salah satu penelitian yang pernah dilaksanakan oleh Eko menunjukkan bahwa mikroalga juga dapat digunakan untuk pemanfaatan limbah, produksi biomassa bernilai tambah, serta penguatan konsep biorefinery.

    Lebih lanjut, mikroalga pun menawarkan manfaat sebagai sumber biomaterial dan energi. Mikroalga sudah dikenal sebagai bahan baku material berbasis biologi yang tidak kalah dengan tumbuhan tingkat tinggi dan telah diaplikasikan di berbagai bidang.

    Sebagai sumber energi, mikrolaga berpotensi sebagai biofuel feedstock, bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.

    Baca: Mengubah mikroalga menjadi biofuel yang menjanjikan

    “Potensi mikroalga jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan sumber biofuel pada umumnya, seperti kelapa sawit, jagung, bunga matahari, dan kacang-kacangan,” jelasnya.

    Di bidang pangan dan pakan, kata Eko, mikroalga berpotensi menjawab tantangan ketahanan pangan global dan permasalahan lingkungan karena dapat diproduksi pada lahan marjinal.

    Dengan demikian budidaya mikroalga tidak akan mengganggu produksi bahan pangan lainnya serta memiliki pertumbuhan yang cepat.

    Sedangkan untuk pakan, berbagai kajian menunjukkan bahwa mikroalga memiliki efisiensi fiksasi karbon yang sangat tinggi serta kandungan nutrisi dan komponen bioaktif yang kaya.

    Hal ini membuat mikroalga berpotensi besar dikembangkan sebagai pakan fungsional yang mampu meningkatkan pertumbuhan, kesehatan, dan status imun ternak secara simultan.

    Tak hanya itu, dalam bidang biomedis pun, mikroalga menawarkan berbagai macam manfaat mulai dari bahan baku obat alam, suplemen, drug delivery, hingga biosensor.

    “Mikroalga pun mengandung antioksidan yang lebih tinggi daripada vitamin C dan memiliki kandungan antiinflamasi dan antikanker,” terangnya.

    Baca: Potensi mikroalga yang sangat besar masih terabaikan

    Sebagai bioremediasi, mikroalga juga dapat digunakan untuk menyerap limbah lingkungan.

    Hal ini karena adaptasi mikroalga yang tinggi terhadap berbagai macam kondisi lingkungan, enzim dan senyawa kimia yang dihasilkan, dan juga komponen kimia yang terdapat di dinding sel mikroalga tersebut.

    Tak hanya itu, mikroalga pun dapat dintegrasikan dengan Internet of Things dan machine learning.

    “Dalam konteks ini, IoT menjadi terobosan karena memungkinkan pemantauan biomassa dan parameter budidaya secara kontinu dan real-time, lalu menyiapkan aliran data yang siap diolah menjadi informasi operasional,” jelasnya.

    Di akhir pidatonya, Eko mengatakan melalui pendekatan yang terintegrasi, mikroalga dapat menjadi jembatan antara kepentingan lingkungan, kebutuhan industri, dan agenda pembangunan berkelanjutan.

    Namun, hal ini haruslah didukung oleh seluruh pihak. Karena itu, riset mikroalga perlu terus diperkuat dari hulu hingga hilir, mulai dari eksplorasi strain unggul dan bioprospeksinya, optimasi kultivasi dan pemanenan dari skala laboratorium dan pilot sampai massal di industri, hingga inovasi teknologi pemrosesan dan pemanfaatannya.

    “Mikroalga berpotensi sebagai solusi masa depan demi ketahanan lingkungan, kemandirian teknologi, dan kemajuan bangsa,” pungkasnya.

  • Hari Nelayan Nasional 2026: Perubahan Iklim dan Krisis Multidimensi Kian Mencekik Nelayan Kecil

    Hari Nelayan Nasional 2026: Perubahan Iklim dan Krisis Multidimensi Kian Mencekik Nelayan Kecil

    7cloud.asia – Di Hari Nelayan Nasional 2026 yang diperingati pada 6 April, WALHI dan KNTI menyoroti krisis multidimensi yang mencekik nelayan kecil Indonesia.

    Di Hari Nelayan Nasional ini, pemerintah diminta bertindak strategis untuk nelayan kecil yang terpinggirkan oleh cuaca ekstrem akibat perubahan iklim dan pembangunan yang cenderung ekstraktif.

    Perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau kecil memicu kenaikan muka laut, banjir, cuaca ekstrem, kenaikan suhu, dan abrasi. Banjir rob dan abrasi makin sering terjadi seiring naiknya muka laut, sementara intrusi air laut mengancam sumber air bersih.

    Data BMKG menunjukkan tren peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor yang terus meningkat, seiring dengan tren kenaikan suhu dan perubahan iklim.

    Menurut catatan WALHI, wilayah dengan tingkat kejadian tertinggi tercatat di Jawa Barat, disusul Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, dan sejumlah wilayah lain di Sumatra.

    Kepala Departemen Komunikasi Strategis dan Jaringan WALHI, Dana Tarigan mengatakan bahwa situasi iklim di pesisir dan pulau kecil Indonesia makin berat karena cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi.

    ”Ancaman nyata terjadi di pulau-pulau kecil berhadapan langsung dengan kenaikan muka laut, ditambah ekspansi tambang di pulau kecil setidaknya tercatat 248 izin pertambangan di 43 pulau kecil di seluruh Indonesia,” ujarnya dikutip dari pernyataan resmi yang dirilis di laman resmi WALHI, walhi.org.

    Baca: Ribuan nelayan gelar aksi damai menolak reklamasi di Belawan

    Wilayah tangkap nelayan makin menjauh seiring dengan meningkatnya dampak kegiatan pertambangan. Proyek Strategis Nasional (PSN) hilirisasi nikel di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara membuat nelayan gurita berpindah wilayah tangkapnya.

    Wilayah pesisir Kabaena terdampak sedimentasi dari 15 izin tambang nikel. Akibat perluasan reklamasi untuk Pembangunan terminal khusus PT GKP membuat wilayah tangkap nelayan Wawonii bergeser hingga 40 mil dari bibir pantai.

    Nelayan Maluku Utara juga mengalami kesulitan dalam mengakses wilayah tangkapnya. Kawasan Industri PT Indonesia Weda Industrial Park membuat masyarakat nelayan di Desa Lelilef Sawai, Lelilef Waibulen, Gemaaf, dan Desa Sagea melaut lebih jauh, setidaknya bergeser hingga 6 mil.

    Dampak dari hadirnya tambang nikel yang digadang-gadang sebagai solusi krisis iklim di empat provinsi di Kawasan Timur Indonesia—menjadi fakta bahwa PSN gagal menjaga ekosistem dan kesejahteraan rakyat.

    Kehadiran PSN justru memperburuk keseimbangan ekologis di bentangan alam Sulawesi dan Kepulauan Maluku Utara.

    “Untuk itu negara harus serius mendorong moratorium izin tambang terutama yang terintegrasi dengan PSN dan menghentikan perizinan tambang di pulau kecil di Indonesia,” tegas Faizal Ratuela, Pengkampanye Tambang dan Energi WALHI.

    Dampak cuaca ekstrem bukan hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga mengganggu penangkapan ikan.

    Situasi cuaca ekstrem mengakibatkan sejumlah kecelakaan melaut. Dampaknya meluas ke mata pencaharian, pemenuhan pangan, dan mobilitas warga pesisir dan nelayan menghadapi ketidakpastian musim dan risiko melaut yang lebih tinggi.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing akibat perubahan iklim

    WALHI mencatat sepanjang tahun 2025, setidaknya angka kecelakaan nelayan, di antaranya 8 korban meninggal, 36 hilang dan 60 selamat.

    WALHI menekankan pentingnya peringatan dini, kolaborasi lintas sektor, pemberian asuransi iklim dan penguatan adaptasi untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi.

    ”Negara diminta hadir bagi nelayan kecil dan masyarakat pesisir, dengan kebijakan dan aksi nyata yang sensitif pada kebutuhan masyarakat nelayan, dengan karakter profesi yang sangat bergantung pada situasi alam.” ungkap Mida Saragih, Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut WALHI

    Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan menilai bahwa cuaca buruk sangat berdampak terhadap nelayan kecil.

    Survei yang dilakukan WALHI mencatat, cuaca ekstrem Januari 2026 memengaruhi 95 persen nelayan di 350 desa pesisir, dengan 63 persen menghentikan melaut akibat angin kencang dan gelombang tinggi.

    Selain itu, penghasilan nelayan turun hingga 50 persen, dari Rp400.000–Rp650.000 menjadi Rp200.000–Rp400.000 per hari, terutama di Jawa Barat, Maluku, dan Sulawesi,” ungkap Dani.

    Perlindungan bagi nelayan kecil, lanjut Dani, masih sangat terbatas. Penyediaan asuransi iklim hingga alat keselamatan kerja diidentifikasi terhenti sejak 2021.

    “Pemerintah perlu melanjutkan adanya program perlindungan sosial dalam bentuk jaminan keselamatan kerja di laut karena menjadi amanat dari UU Nomor 7/2016 tentang Perlindungan Nelayan, pembudidaya ikan dan petambak garam,” tutur Dani.