Tag: polusi udara

  • Masker dan Makanan Sehat Jadi Solusi tuk Kurangi Dampak Polusi Udara pada Kesehatan.

    Masker dan Makanan Sehat Jadi Solusi tuk Kurangi Dampak Polusi Udara pada Kesehatan.

    7cloud.asia – Polusi udara telah megakibatkan kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya tak lagi aman untuk kesehatan. 

    Lantas, adakah cara untuk mengatasi kondisi yang diakibatkan polusi udara di Jakarta ini? Haruskah kita membatasi aktivitas kita karena polusi udara yang tinggi ini? 

    Sejumlah pakar memang menyarankan warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat polusi udara sedang tinggi seperti sekarang. Kalaupun harus melakukan kegiatan di luar ruangan, disarankan untuk mengenakan masker. 

    Pakar imunologi dari Universitas Indonesia Prof Dr dr Bambang Supriyanto, SpA (K) mengatakan,  mengenakan masker bisa menjadi solusi mengurangi dampak buruk polusi udara pada kesehatan.

    Baca: Kualitas udara Jakarta tidak bagus untuk kesehatan, warga disarankan kenakan masker

    Selain masker, dia juga menyarankan masyarakat tidak merokok, menghindari bepergian ke daerah polusi tinggi, banyak minum air, tidak membakar sampah, tidak melakukan aktivitas fisik berlebihan dan konsumsi makanan sehat bergizi seimbang.

    Berbicara dampak polusi, Bambang menyebutkan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atas karena merusak mukosa saluran nafas sehingga memudahkan virus dan bakteri masuk,

    Polusi udara yang berlebihan juga bisa memicu ISPA bawah atau pneumonia, TBC, asma, dan pada jangka panjang bisa menurunkan fungsi paru.

    “Untuk jangka panjang, fungsi paru bisa menurun sehingga tidak bisa maksimal menghirup oksigen, siap-siap penyakit kronis bisa timbul. Pada anak yang asma menjadi lebih berat. Pada bayi, akan kurus atau kecil berat lahir, bisa prematur,” demikian ujar dia seperti dikutip Antaranews.com.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan, dari ISPA hingga potensi serangan jantung

    Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FISR, FAPSR mengatakan masker bedah masih bisa digunakan saat kualitas udara berada pada kategori tak sehat atau masuk zona kuning.

    “Tetapi kalau sudah oranye, merah, misalnya kalau bisa lebih tinggi maskernya (tingkat penyaring), karena lebih pekat kadar PM 2.5-nya,” kata dia di Jakarta, Kamis (24/8/2023) seperti dikutip Antaranews.com.

    Apabila merujuk pada indeks standar pencemar udara (ISPU), kategori kualitas udara tak sehat memiliki rentang nilai 1 – 50.

    Sementara bila tak mengandalkan alat melainkan pandangan mata, kualitas udara di lokasi dikatakan tidak sehat jika jarak pandang hanya sejauh 2,5 kilometer.

    Baca: Dampak polusi pada ibu hamil

    Menurut Agus, idealnya saat menghadapi polusi udara, orang-orang perlu mengenakan masker dengan kemampuan filtrasi atau penyaring particulate matter (PM) 2.5, yakni indikator dalam polusi udara, seperti N95, KN95, KF94.

    Hanya saja, sambung dia, masker jenis ini tidak diizinkan pada populasi sensitif, seperti wanita hamil, anak-anak, orang tua dan mereka dengan penyakit tertentu karena membuat lebih pengap akibat masker sangat ketat.

    “Oleh karena itu pada kelompok sensitif disarankan masker lain yang bisa mem-filtrasi PM 2.5. Kalau tidak terdapat itu maka minimal pakai masker bedah biasa karena bisa memfiltrasi PM 2.5 sekitar 50 persen,” ujar Agus.

    Dia menambahkan, orang-orang tetap harus menggunakan masker minimal masker bedah saat berada di luar ruangan.

    Atau sebisa mungkin mengenakan masker yang lebih tinggi level filtrasinya terutama saat polutan berada pada level lebih tinggi.

    Baca: Polusi udara bisa engaruhi kesuburan laki-laki

     

     

  • Epidemiolog: Penyemprotan Air Kurang Efektif Atasi Polusi Udara di Jakarta Justru Bahayakan Kesehatan

    Epidemiolog: Penyemprotan Air Kurang Efektif Atasi Polusi Udara di Jakarta Justru Bahayakan Kesehatan

    7cloud.asia – Untuk menurunkan kadar PM 2,5 yang memicu polusi udara di Jakarta, Pemprov DKI Jakarta melakukan penyemprotan air di jalan protokol.

    Penyemprotan air ini diklaim dapat mengatasi polusi udara di Jakarta yang beberapa bulan ini sangat buruk.

    Namun, epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) Pandu Riono menilai, alih-alih mengurangi polusi udara penyemprotan ini justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

    Baca Juga: Berbagai Opsi Jangka Pendek Atasi Polusi Udara di Jakarta

    “Karena disemprot air malah memperburuk partikel udara (PM 2,5). Kalau disemprot dengan air bertekanan tinggi bisa terjadi aerolisasi, jadi partikular itu menguap dan bisa lebih dahsyat efeknya kalau dihirup,” ujar  Pandu seperti yang dikutip Antaranews pada Jumat (25/08/2023).

    Pandu menambahkan, polusi udara mengandung partikel kecil yang disebut PM 2,5 atau yang lebih kecil lagi berukuran 10 mikron (PM10), serta polusi dari hasil pembakaran energi sulfur oksigen (SO2).

    Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan tak bisa dianggap remeh. Sebab cemaran udara tidak hanya bersarang di paru-paru.

    Baca Juga: Masker dan Makanan Sehat Jadi Solusi tuk Kurangi Dampak Polusi Udara pada Kesehatan.

    Tapi juga bisa memicu efek alergi, mudah sakit, mengganggu sistem kerja jantung dan susunan organ lain, karena menyebar ke semua sistem tubuh.

    “Tekanan tinggi air bisa memecah partikel polusi jadi lebih halus dan masuk ke
    dalam pernapasan lebih mudah lagi tanpa kita sadari. Aerolisasi itu seperti
    menyemprot ketiak kita dengan antibau badan, itu aerolisasi tingkat tinggi,” ujar Pandu.

    Nah, partikulat yang terbelah menjadi ukuran lebih kecil tersebut cenderung lebih
    mudah mengambang dan terbang hingga ke dalam rumah penduduk, sehingga
    usulan untuk bekerja dari rumah (WFH) pun tidak efektif.

    Baca Juga: KLHK Segel Empat Perusahaan yang Terindikasi sebagai Biang Polusi Udara

    “WFH tidak ada gunanya. Bahkan, kerja di rumah juga polusi masuk ke dalam
    rumah, karena kontributor terbesar mungkin bukan dari emisi transportasi, ada
    yang lebih daripada itu,” ujar Pandu.

    Pandu yang bergabung dalam Tim Serologi Survei Antibodi COVID-19 ini
    mengatakan upaya penyemprotan air bertekanan tinggi secara sistematik pada
    saat krisis kesehatan akibat COVID-19 tidak pernah disarankan oleh ilmu
    pengetahuan manapun.

    Memang, lanjut Pandu, polusi udara yang terjadi di wilayah Jabodetabek dan
    sekitarnya ini merupakan dampak yang tidak bisa dihindari dari kondisi
    pemulihan ekonomi di era endemi.

    Baca Juga: WFH Belum Berdampak Signifikan dalam Menurunkan Polusi Udara di Jakarta

    Polusi ini, ujar Pandu,  sudah berbulan-bulan sejak dikatakan pandemi selesai, orang kembali beraktivitas, pabrik menggenjot ekspor, semuanya pemulihan.

    “Ada sumber energi baru menggunakan fosil, jadilah Jabodetabek dan mungkin juga kota lain terjadi polusi,” jelasnya.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, sejak Rabu (23/08/2023) Polda Metro Jaya
    mengerahkan 4 unit kendaraan water cannon Brimob untuk menyemprot kedua
    sisi jalan protokol Jenderal Sudirman hingga ke Bundaran Senayan, Jakarta
    Pusat.

    Baca Juga: El Nino Percepat Laju Lelehnya Salju Abadi Gunung Puncak Jaya

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan
    penyemprotan ini sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak polusi
    udara ini.

    “Maka itu, Polri, khususnya Polda Metro Jaya, melakukan kesiapan dengan pengecekan kendaraan taktis water cannon dan kemudian melakukan penyemprotan jalan protokol guna mengurangi dampak polusi udara di Jakarta,” jelas Trunoyudo kepada wartawan, Kamis (24/8/2023).

    Selain di Jalan Jenderal Sudirman, penyemprotan juga dilakukan di Jalan Merdeka Barat Monas dengan bekerjasama dengan dinas operasional Pemadam Kebakaran serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta.

    Reporter: Nurakhmayani.

  • Jangan Anggap Remeh! 123 Ribu Orang Meninggal Akibat Polusi Udara

    Jangan Anggap Remeh! 123 Ribu Orang Meninggal Akibat Polusi Udara

    7cloud.asia – Dampak polusi udara untuk kesehatan tubuh tak dapat dianggap remeh. Polusi udara bisa memicu beragam penyakit seperti ISPA hingga serangan jantung

    Bahkan menurut guru besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas
    Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), polusi udara menjadi penyebab kematian tertinggi kelima di Indonesia.

    Menurut Agus, setidaknya sebanyak 123 ribu orang meninggal akibat polusi udara. Berada di posisi kelima setelah darah tinggi, diabetes, rokok, dan obesitas. 

    Baca: Tangkal dampak polusi udara dengan masker dan makanan sehat

    “Jadi polusi udara memberikan dampak yang cukup tinggi dalam angka kematian di Indonesia,” ujar Agus dalam webinar Dampak Polusi Udara pada Kesehatan, di Jakarta, Kamis (24/08/2023) seperti yang dikutip Antaranews.

    Agus menambahkan, polusi udara dapat berdampak bagi kesehatan
    jangka panjang dan jangka pendek.

    Dalam jangka pendek, polusi udara dapat menyebabkan iritasi mukosa sehingga terjadi gejala hidung berair, bersin-bersin, sakit tenggorokan.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan, dari ISPA hingga serangan jantung

    Selain itu, polusi udara juga dapat menimbulkan batuk, dahak, bahkan bisa berlanjut menjadi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, serangan asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

    Dalam jangka panjang, polusi udara dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, munculnya penyakit TBC, asma, PPOK, dan kanker paru.

    Hasil riset Fakultas Kesehatan Masyarakat UI menunjukkan, peningkatan Particulate Matter (PM) 2.5, kenaikan sulfur dioksida (SO2), dan PM 10 di udara, berimplikasi terhadap risiko terjadinya pneumonia.

    “Besarnya mulai dari 1,4 persen sampai 6,7 persen,” terang Agus.

    Baca: Polusi udara bisa memicu hipertensi

    Sementara rata-rata kasus ISPA mulai periode Januari tahun 2023 ini berada di atas 100.000 kasus, padahal tahun-tahun sebelumnya di bawah angka itu.

    “Jadi ada signifikansi-nya ketika polutan meningkat, ISPA-nya juga rata-rata di atas 100.000 kasus,” ujar Agus.

    Lebih lanjut, Agus menjelaskan ketika terjadi peningkatan PM 2.5, maka kunjungan untuk telekonsultasi karena bronkitis dan influenza juga meningkat antara 100 hingga 400 persen.

    Baca: Tanaman yang efektif menyerap polusi udara

    “Studi menunjukkan bahwa telekonsultasi ketika terjadi peningkatan polutan bulan Juni, telekonsultasi karena asma meningkat 200 persen” ungkapnya.

    Selain itu juga prevalensi asma pada remaja di Jakarta mencapai 12 persen,
    padahal di pedesaan hanya sekitar 7 persen.

    Dengan kondisi udara seperti ini, Agus mengajak masyarakat untuk selalu
    memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan.

    Selain itu, masyarakat juga diimbau menghindari aktivitas fisik pada saat kualitas udara buruk serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar ruangan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Terkait Polusi Udara di Jakarta, Greenpeace Minta Pemerintah Tak Berikan Solusi Palsu

    Terkait Polusi Udara di Jakarta, Greenpeace Minta Pemerintah Tak Berikan Solusi Palsu

    7cloud.asia – Sejak satu bulan terakhir warga menyorot polusi udara yang mengakibatkan kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) terus menerus dalam kondisi buruk.

    Bahkan, polusi udara yang parah telah mengakibatkan Jakarta selalu menempati posisi teratas kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dalam dua pekan terakhir.

    Banyak warga yang mengeluhkan dampak polusi udara di Jakarta ini. Di media sosial mereka menceritakan kualitas udara yang buruk telah mengganggu kesehatan mereka.

    Baca: Parfum ini ingatkan kita bahwa pencemaran lingkungan sudah di titik kritis

    Charlie Albajili, Juru Kampanye Keadilan Perkotaan Greenpeace Indonesia mengatakan polusi udara dapat mengakibatkan berbagai penyakit pernapasan serius, meningkatkan risiko lahirnya bayi prematur, hingga kematian dini.

     

    Kampanye polusi udara telah digaungkan oleh Greenpeace Indonesia sejak 2017. Bahkan pada 2019, Greenpeace telah membentuk koalisi Ibukota yang mendampingi gugatan 32 warga negara terkait polusi udara.

    Warga pun sudah memenangkan gugatan ini dua kali, di Pengadilan Negeri, dan
    Pengadilan Tinggi, namun Presiden dan KLHK sebagai salah satu pihak yang digugat mengajukan kasasi.

    Baca: Berbagai opsi jangka pendek atasi polusi udara di Jakarta

    Imbasnya, untuk bisa terbebas dari dampak polusi udara itu, masyarakat harus menunggu putusan kasasi yang dijadwalkan akan keluar pada September mendatang.

    “Sementara kondisi yang diakibatkan polusi udara sudah sangat mengkhawatirkan,” ujar Charlie di sela peluncuran parfum Our Earth, Jumat (25/8/2023) di Jakarta.

    Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, sekitar 100 ribu warga terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) setiap bulannya akibat polusi udara  

    Baca: KLHK segel empat perusahaan yang diduga biang polusi udara di Jakarta

     

    Pada Juli 2020, Greenpeace bekerjasama dengan IQ Air Visual mengeluarkan sebuah laporan yang menghitung kerugian ekonomi.

    Di Jakarta saja, polusi udara telah menelan biaya ekonomi Rp 21,5 triliun, atau 1,7 kali lipat dari defisit BPJS, dan setara dengan 26% dari anggaran kota Jakarta pada tahun 2020.

    “Permasalahan polusi udara tidak bisa dipandang sebelah mata, solusinya harus
    diimplementasikan secara serius, ambisius, dan bersifat jangka panjang”, ucap 

    Baca: Transisi ke kendaraan listrik dinilai bukan solusi tepat untuk polusi udara di Jakarta

    Karena itu Charlie meminta agar pemerintah tidak lagi menunda upaya mengatasi polusi udara dari akarnya. Ia melihat apa yang dilakukan pemerintah saat ini masih bersifat sementara dan bahkan bersifar kosmetik alias solusi palsu.

    Polusi udara juga dihasilkan industri dan  PLTU batubara. Tapi kebijakan yang diambil pemerintah adalah beralih ke kendaraan listrik atau bekerja dari rumah.

    Selain memberi solusi palsu, langkah ini juga dinilai bias kelas. Karena tidak banyak warga Jakarta yang bisa melakukan WFH atau membeli mobil listrik.

    Baca: WFH belum berdampak signifikan pada polusi udara di Jakarta

    Gabriel mengingatkan, lebih dari 50 persen warga Jakarta bekerja di sektor informal sehingga mereka harus datang ke tempat kerja.

    Mereka inilah yang paling terdampak polusi udara Jakarta, tetapi tidak bisa mengakses fasilitas yang lebih aman. Mereka juga tidak bisa menghindar dari tempat yang terpolusi. 

    “Harusnya pemerintah melindungi mereka dengan penegakan hukum dan upaya progresif kurangi polusi udara,” ujarnya.

    Baca: Polusi udara di Jakarta parah, pemerintah didesak segera berlakukan pembatasan kendaraan bermotor

    Polusi udara tidak mengenal batas wilayah, maka langkah yang dilakukan harus dikoordinasikan dengan wilayah penyangga Jakarta, tidak bisa hanya menyasar satu sumber pencemar saja.

    Gabriel mengapresiasi langkah KLHK menyegal empat perusahaan yang diduga sebagai pemicu polusi udara.

    Namun. ia meminta agar langkah ini dilakukan secara berkelanjutan dan dilakukan secara lebih luas. Karena dari pemantauan Greenpeace, warga Marunda masih mengeluhkan debu batubara ini.

    Baca:  Bukan kendaraan bermotor, ini biang kerok polusi udara di Jakarta

    Harus ada inventarisasi emisi secara berkala, dan penindakan tegas para pelaku jika terbukti melakukan pencemaran.

    “Pemerintah harus membuka data industri-industri yang hasilkan polusi udara, dan upaya apa yang dilakukan untuk memantau aktivitas industri tersebut. Publik harus bisa mengakses data tersebut sehingga bisa turut mengawasi,” pungkasnya.

  • Polusi Udara Hari Ini: Jakarta Terlempar dari 10 Besar Kota Terpolusi di Indonesia

    Polusi Udara Hari Ini: Jakarta Terlempar dari 10 Besar Kota Terpolusi di Indonesia

    7cloud.asia – Polusi udara di Jakarta berangsur turun. Berdasarkan data IQAir pada Sabtu (26/8/2023) sore pukul 16.00 WIB indeks PM2.5 jakarta tercatat sebesar 144.

    Ini artinya tingkat polusi dan kualitas udara Jakarta membaik dibanding sebelumnya, yang indeks PM2,5-nya selalu berada di atas 150.

    Bahkan, hari ini Jakarta terlempar dari 10 besar kota-kota di Indonesia dengan kondisi polusi udara terburuk. 

    Namun demikian masyarakat diminta untuk tidak serta merta mengabaikan polusi udara, Pasalnya, kualitas udara di Jakarta masih masuk kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif. 

    Baca: Opsi penanganan jangka pendek polusi udara di Jakarta

    Dalam rangking kota AQI langsung dari beberapa kota di Indonesia, sore ini kota dengan indeks polusi udara terburuk adalah Tangerang Selatan (169), Depok (162), Cibinong (161), Pasarkemis (161) dan Karawang, Jawa Barat (160).

    Polusi udara di Jakarta makin membaik hari demi hari, salah satu faktornya adalah karena tekanan angin.

    Ketika kecepatan angin meningkat, maka polutan yang memicu polusi udara ikut bergeser sehingga kualitas udara membaik. 

    CNBC Indonesia, mengutip dari IQAir menulis, angin dapat membantu mengurangi dan mengeluarkan polutan dari suatu wilayah, sehingga konsentrasi polutan dapat berkurang.

     

    Baca: Masker dan makanan sehat efektif tangkal penyakit akibat polusi udara

    Letak geografis menjadi sebuah tantangan. Angin tidak bisa mendorong polutan keluar dari lembah jika angin yang bertiup tidak dapat naik melewati pegunungan.

    Dalam kasus seperti ini, polutan dapat berkumpul dalam konsentrasi yang lebih tinggi di kaki gunung. Kondisi ini yang dialami Depok dan Tangerang Selatan yang dalam beberapa hari ini tercatat sebagai kota dengan polusi udara terburuk.

    Selain itu, kebijakan yang telah dilakukan Pemerintahan DKI Jakarta juga mendorong penurunan polusi udara di Jakarta, meskipun status DKI Jakarta saat ini masih masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

    Meski tidak signifikan, penerapan sistem ganjil genap dan WFH, juga mampu menurunkan tingkat polusi udara di Jakarta.

     

    Baca: jangan anggap remeh, 123.000 orang meninggal akibat polusi udara

    Pemerintah juga berupaya untuk mengurangi polusi udara di Jabodetabek (Jakarta Bohor Depok Tangerang Bekasi) dengan melakukan modifikasi cuaca.

    Di Jakarta, Pemprov DKI Jakarta juga melakukan spraying air di jalan protokol untuk menurunkan polusi udara ini.

    Meski kualitas udara membaik, warga Jakarta disarankan tetap melakukan langkahpencegahan, seperti menggunakan masker, penyaring udara dalam ruangan, menutup jendela, dan membatasi aktivitas di luar ruangan.

    Tujuan utamanya adalah untuk melindungi diri dari berbagai gangguan kesehatan yang disebabkan polusi udara. 

    Baca: WHO sebut polusi udara memicu 7 juta kematian dini per tahun

  • Tilang Uji Emisi Harus Konsisten dan Menyeluruh, Agar Polusi Udara di Jakarta Teratasi

    Tilang Uji Emisi Harus Konsisten dan Menyeluruh, Agar Polusi Udara di Jakarta Teratasi

    7cloud.asia – Pemprov DKI Jakarta mewacanakan tilang uji emisi untuk mengatasi polusi udara di Jakarta yang sudah mengkhawatirkan.

    Wakil Ketua Bidang Penguatan dan Pengembangan Kewilayahan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyambut baik rencana tilang uji emisi untuk atasi polusi udara di Jakarta ini.

    Menurutnya, tilang uji emisi ini harus dilakukan secara konsisten agar efektif untuk mengurangi polusi udara di Jakarta. 

    Djoko mengatakan, sebenarnya kebijakan yang mewajibkan adanya uji emisi pada kendaraan-kendaraan bermotor di Jakarta sudah ada sejak 2020, namun, penegakan hukumnya belum konsisten.

    Baca: Berbagai opsi solusi jangka pendek untuk atasi polusi udara di Jakarta

    “Hal yang penting itu konsistensi,” kata Djoko Sabtu (26/8/2023) seperti dikutip Antaranews.com.

    Djoko menyebutkan ada baiknya uji emisi juga dilakukan kepada kendaraan-kendaraan angkutan barang untuk mengurangi polusi udara di Jakarta.

    Menurut dia, tilang uji emisi yang saat ini dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta hanya satu bagian dari cara untuk mengurangi kadar polusi di perkotaan.

    Ia menegaskan, pemerintah harus menyiapkan solusi jangka panjang lainnya seperti penyediaan angkutan umum yang memadai.

    Baca: Greenpeace desak pemerintah tak berikan solusi palsu soal polusi udara

    Langkah ini tidak hanya untuk Pemprov DKI Jakarta, tapi juga untuk pemerintah daerah di wilayah penyangga Jakarta yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek).

    Ia mengatakan, banyaknya kendaraan pribadi yang digunakan oleh masyarakat dari daerah Bodetabek menuju Jakarta di hari kerja dan ikut berkontribusi pada kondisi polusi.

    “Perlu ada strategi push and pull, masyarakat didorong untuk tidak menggunakan angkutan pribadi (push) dan ditarik untuk memanfaatkan kendaraan umum untuk bermobilisasi (pull),” terangnya.

    Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah perumahan-perumahan di daerah Bodetabek menyediakan angkutan umum untuk para penghuninya. 

    Baca: Perlu langkah ekstrem untuk atasi polusi udara di Jakarta

    “Intinya Bodetabek ini atau daerah penyangga perlu lebih diperhatikan (angkutan umum-nya). Terkait uji emisi juga perlu dilakukan di sana. Kalau tidak dilakukan dan tidak konsisten, ya, tidak akan efektif (mengurangi polusi),” ujar Djoko.

    Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta bersama dengan Polri dan TNI menyiapkan Satuan tugas (Satgas) Uji Emisi DKI Jakarta yang bertugas merazia kendaraan bermotor yang tidak lolos uji emisi di Ibu Kota mulai 1 September 2023.

    Satgas tersebut terdiri dari personel Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, serta dibantu personel Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Komando Garnisun Tetap I/Jakarta.

    Tilang uji emisi merupakan salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengurangi polusi udara.

    Baca: Perumahan di Bodetabek tak dilengkapi sarana transportasi, orang berlomba beli kendaraan pribadi

     

  • Menkes Akui Penyemprotan Jalan Tidak Efektif Atasi Polusi Udara

    Menkes Akui Penyemprotan Jalan Tidak Efektif Atasi Polusi Udara


    7cloud.asia – Penyemprotan jalan di Jakarta beberapa hari terakhir ini kerap dilakukan. Hal ini sebagai upaya untuk mengurangi polusi udara.

    Tetapi penyemprotan ini dianggap tidak efektif dan hanya memindahkan polusi udara dari suatu tempat ke tempat lain.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, partikel PM2,5 lebih banyak beredar di udara, di atas dan bukan di bawah. Jadi, ujarnya, untuk mengurangi polusi udara, penyemprotan seharusnya dilakukan di atas, bukan di bawah.

    “Kegiatan penyemprotnya juga harus luas karena kalau sedikit itu hanya menggeser-geser saja malah bisa menyebarkan pindah ke tempat lain,” jelas Budi, seperti yang dilansir Antaranews, Minggu (27/08/2023).

    Baca: Berbagai opsi jangka pendek atasi polusi udara di Jakarta

    Mengutip Badan Kesehatan Dunia (WHO), Menkes mengatakan polusi udara dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu gas dan partikel.

    Polusi udara yang dipicu gas bersumber dari nitrogen monoksida, sulfur monoksida, dan karbon monoksida. Sedangkan, polusi udara yang disebabkan partikel berasal dari PM2,5 dan PM10.
     
    Nah, polusi udara berupa partikel PM2,5 dan sumber-sumber polutan lainnya ini
    menurut Budi dapat dihilangkan secara cepat jika ada hujan lebat atau angin
    kencang.

    Budi memaparkan tiga penyebab utama polusi udara, yaitu transportasi,  pembangkit listrik tenaga uap yang memakai bakar batu bara, dan industri-industri yang menggunakan batubara atau bahan bakar karbon lainnya.

    Baca: Greenpeace minta pemerintah tak beri solusi palsu tuk atasi polusi udara di Jakarta

    “Jadi kalau mau mengurangi PM2,5 itu yang biasanya dikurangi adalah transportasi, pembangkit listrik, dan industri. Inilah yang menyebabkan banyak PM2,5 berada di atas,” urainya.

    Sebelumnya, epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
    Indonesia (FKMUI), Pandu Riono juga menyoroti penyemprotan jalan yang ditujukan untuk mengurangi polusi udara di Jakarta ini.

    Menurutnya penyemprotan tersebut dapat membahayakan kesehatan.

    “Karena disemprot air malah memperburuk partikel udara (PM 2,5). Kalau disemprot dengan air bertekanan tinggi bisa terjadi aerolisasi, jadi partikular itu menguap dan bisa lebih dahsyat efeknya kalau dihirup masyarakat,” jelas Pandu.

    Baca: Tansisi ke kendaraan listrik dinilai tidak selesaikan akar masalah polusi udara di Jakarta

    Pandu menjelaskan polusi udara mengandung partikel kecil yang disebut PM 2,5
    atau yang lebih kecil lagi berukuran 10 mikron (PM10), serta polusi dari hasil
    pembakaran energi sulfur oksigen (SO2).

    Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan tak boleh dianggap remeh, sebab cemaran udara tidak hanya bersarang di paru-paru.

    Cemaran juga bisa memicu efek alergi, mudah sakit, mengganggu sistem kerja jantung dan susunan organ lain, karena menyebar ke semua sistem tubuh.

    Tekanan tinggi air bisa memecah partikel polusi jadi lebih halus dan masuk ke dalam pernapasan lebih mudah lagi tanpa kita sadari.

    “Aerolisasi itu seperti menyemprot ketiak kita dengan antibau badan, itu aerolisasi tingkat tinggi,” papar Pandu.

    Baca: ini yang terjaid jika Jakarta sukses batasi kendaraan bermotor

    Reporter: Nurakhmayani.

  • Hujan Buatan Tak Mampu Usir Polusi Udara di Jakarta

    Hujan Buatan Tak Mampu Usir Polusi Udara di Jakarta

    7cloud.asia – Pada Minggu (27/08/2023) dan Senin (28/8/2023) malam sejumlah wilayah di Jakarta sempat diguyur hujan selama sekitar 30 menit.

    Hujan di tengah musim kemarau ini merupakan hasil Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan oleh BMKG, sebagai upaya untuk mengatasi masalah polusi udara di Jakarta yang kian memburuk.

    TMC ini digunakan oleh BMKG untuk menciptakan hujan buatan dengan mengandalkan pertumbuhan awan dan arah angin.

    Namun pembersihan udara melalui hujan buatan itu tampaknya hasilnya tak terlalu signifikan.

    Baca: Warga Marunda tuntut pemerintah data perusahaan sumber polusi udara

    Kualitas udara Jakarta pada Selasa (29/8/2023) pagi kembali memburuk. Dipantau dari laman IQAir indeks kualitas udara Jakarta berada di angka 161 dengan polutan utama adalah PM 2,5.

    Konsentrasi PM2.5 di Jakarta tertinggi saat ini masuk kategori tidak sehat. Adapun kadar polutan tertinggi terpantau ada di kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

    Polusi udara di Jakarta hingga kini memang belum sepenuhnya teratasi. Berbagai upaya dilakukan, namun kondisi udara di Jakarta masih buruk.

    Sebelumnya, BNPB juga telah mengupayakan teknologi modifikasi cuaca selama tiga hari untuk membilas polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Baca: Terkait polusi udara, pemerintah diminta tak berikan solusi palsu

    Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefing yang diikuti daring di Jakarta, Senin (21/8/2023)
    mengatakan, TMC telah dilakukan di tanggal 19-21 Agustus.

    “Ada fase tertentu dimana minimal konsentrasi awan itu 30 persen, cukup untuk membuat hujan buatan. BNPB bersama BMKG, BRIN dan TNI-Polri, kita sudah
    mulai melakukan TMC” jelas Abdul seperti dilansir dari Antaranews.

    Dalam rapat gabungan membahas cara meredam polusi udara, pada Selasa (15/8/2023) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengungkapkan tiga opsi jangka pendek yang dapat ditempuh untuk menekan polusi udara di DKI Jakarta.

    Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji mengatakan, ketiga metode ini dapat menjadi alternatif pemerintah untuk mengatasi polusi udara yang kian parah.

    Baca: Polusi udara di Jakarta tak kunjung turun, pemerintah diminta tegas batasi kendaraan bermotor

    Pertama, teknologi modifikasi cuaca (TMC) Konvensional. TMC Konvensional itu bisa dilakukan tidak hanya di atas wilayah DKI Jakarta.

    Metode ini juga memungkinkan dilakukan di atas wilayah sekitar Jakarta, seperti di atas Bekasi, Kepulauan Seribu atau Tangerang untuk melindungi Jakarta dari polusi udara.

    Kedua, yakni dry ice yang sebelumnya pernah dilakukan di Thailand. Namun metode ini jarang dilakukan. Tapi, dry ice ini kemungkinan kecil dilakukan di Jakarta.

    “Itu seperti menyebarkan batu-batu es,” jelas Isnawa.

    Baca: DPR minta perusahaan pencemar ditindak tegas

    Ketiga, adalah dengan melakukan spraying atau penyemprotan seperti yang pernah diterapkan di Beijing. Metode ini dilakukan dengan pesawat kecil, drone atau dari atas gedung-gedung tinggi di Jakarta.

    “Tapi ini belum. Mungkin nanti mau kita usulkan, mungkin bangunan-bangunan tinggi boleh juga tuh ada teknologi spraying ya supaya polutan-polutan itu bisa diredam,” urai Isnawa.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Warga Marunda Tuntut Pemerintah Buka Data Industri Pemicu Polusi Udara di Jakarta

    Warga Marunda Tuntut Pemerintah Buka Data Industri Pemicu Polusi Udara di Jakarta

    7cloud.asia – Lambannya pemerintah dalam menangani kasus poluis udara akibat pencemaran batubara di Marunda, Jakarta Utara, menjadikan warga DKI Jakarta merasakan imbasnya.

    Meski KLHK telah menutup sejumlah perusahaan yang dinilai sebagai biang polusi udara di Jakarta, warga Marunda masih merasakan debu yang ditimbulkan batubara tersebut.

    Lebih dari itu kualitas udara di wilayah Jakarta akibat polusi udara juga tak kunjung membaik.

    Syahroni Fadhil dari WALHI Jakarta mengatakan, polusi udara terjadi karena adanya pembiaran hukum dan pemerintah mengabaikan daya dukung serta daya mutu DKI Jakarta.

    Baca: Warga Marnda keluhkan debu batubara

    Karena itu pemerintah diminta menerapkan monitoring ketat terhadap perusahaan yang menggunakan batubara.

    “Kami meminta pemerintah dan perusahaan memperbaiki tata kelola lingkungan agar usaha yang dijalankan sesuai dengan regulasi dan peraturan yang berlaku,” ujar Syahroni dalam konferensi pers Tim Advokasi Lawan Batubara Senin (28/8/2023) di Jakarta.

    Ia menambahkan, masalah polusi udara di Marunda, Jakarta Utara, maupun DKI Jakarta merupakan permasalahan struktural yang harus diselesaikan secara menyeluruh oleh pemerintah.

    Kasus di Marunda menunjukkan bahwa pemerintah DKI Jakarta hanya menggusur masyarakat dari kawasan Ancol dan memindahkan ke Rusunawa Marunda tanpa adanya informasi bahwa di lokasi tersebut merupakan kawasan tercemar.

    Baca: Koalisi sipil minta razia emisi juga dilakukan di kawasan industri

    “Buruknya penanganan kasus di Marunda menunjukkan bahwa pemerintah tidak memperhatikan ketimpangan sebagai faktor kerentanan,” tandasnya.

    Pencemaran udara dan air yang terjadi di Jakarta seharusnya membuat pemerintah berbenah dan menanganinya secara serius.

    Pasalnya, pencemaran telah mengakibatkan penurunan produktivitas masyarakat dan meningkatkan beban kesehatan.

    Ahmad Ashov Birry koordinator #BersihkanIndonesia mengatakan, perilaku pemerintah dan industri telah membunuh warga secara perlahan.

    Baca: PLTU batubara dna industri dituding sebagai biang polusi udara di Jakarta

    “Angka harapan hidup turun 5,5 tahun dengan 5500 kematian dini. Ini membunuh warga lebih cepat,” imbuh Ahmad Ashov Birry koordinator #BersihkanIndonesia.

    Selain status udara yang ditetapkan, pemerintah seharusnya juga menginventarisasi dan membuka ke publik, siapa saja pencemarnya dan  sebanyak apa pencemarannya.

    “Industri harus diawasi, jangan malah pemerintah melindungi industri dengan berbagai alasan.” tutup Ahmad Ashov Birry.

    Karena itu Tim Advokasi Lawan Batubara meminta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta untuk segera memberikan hasil verifikasi lapangan atas terjadinya pencemaran lingkungan yang berasal dari Industri pengguna Batubara dan Stockpile di wilayah Marunda. 

    Baca: KLHK segel empat perusahaan yang disebut biang polusi udara di jakarta

  • Atasi Polusi Udara, Pemprov DKI Jakarta Minta Gedung Tinggi Lakukan Water Mist

    Atasi Polusi Udara, Pemprov DKI Jakarta Minta Gedung Tinggi Lakukan Water Mist

    7cloud.asia – Polusi udara di Jakarta yang tak kunjung teratasi membuat Pemprov DKI Jakarta terus memutar otak.

    Berbagai upaya dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi polusi udara. Salah satunya penyemprotan air dari puncak gedung dengan pompa bertekanan tinggi (water mist generator).
     
    “Kemarin Pak Asep sampaikan mungkin saran-saran dari bapak-ibu sekalian
    gedung-gedung tinggi yang ada di Pemda DKI bersama-sama untuk belum
    melakukan istilahnya water mist,” ucap Heru dalam sambutannya di acara Diskusi
    Publik Quick Response Penanganan Kualitas Udara Jakarta pada Senin (28/08/2023).
     
    Selain itu, Heru mengajak para pelaku industri untuk ikut serta bersama-sama
    menurunkan polusi udara.

    Baca: Penyemprotan justru bisa bahayakan kesehatan

    Heru juga menginstruksikan  Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Asep Purwanto untuk menyiapkan konsep penyemprotan water mist tersebut.

    Sehingga, kata dia, arahan dan konsep pelaksanaan water mist sudah siap ketika
    pemilik gedung tinggi di DKI Jakarta dikumpulkan.
     
    Selanjutnya Heru memaparkan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk
    percepatan penurunan polusi udara di Jakarta.
     
    Pertama, Pemprov DKI berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan
    Kehutanan (KLHK) dalam memberikan peringatan hingga penegakan hukum bagi
    industri yang diduga mengeluarkan emisi di luar batas.

    Baca: Razia uji emisi untuk turunkan polusi udara
     
    Kedua, Pemprov DKI melaksanakan uji coba razia bagi kendaraan karena tidak lolos uji emisi di Ibu Kota yang dimulai Jumat (25/8/2023).

    Uji coba razia tilang uji emisi ini masih bersifat sosialisasi, polisi belum menerapkan sanksi denda terhadap kendaraan yang tidak lolos uji emisi. Sanksi baru akan diberikan pada periode 1 September hingga 30 November 2023.

    Ketiga, Heru juga akan membentuk satuan tugas (satgas) penanganan polusi untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta.
     
    “Terkait dengan aksi-aksi, tentu kita terus uji emisi. Aksi berikutnya adalah Pemda DKI mungkin nggak hari ini ya besok itu membuat Satgas Penanganan Polusi,” ujar Heru.

    Baca: Tilang uji emisi akan berlakukan denda pada 1 September 2023

    Upaya terkini adalah dengan penyemprotan dari gedung tinggi atau water mist.

    “Terus saya minta nanti ada beberapa pengelola gedung, terutama Pemda, Kementerian, dan BUMN untuk melakukan water mist,” jelas Heru.

    Selain itu, Heru juga mengajak pemerintah daerah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) menekan polusi udara.
     
    Upaya lain menurut Heru adalah dengan menambah ruang terbuka hijau (RTH) di
    seluruh Jabodetabek sebagaimana pihaknya yang sudah rutin menanam pohon
    dalam beberapa minggu terakhir.

    Baca: KLHK segel empat perusahaan biang polusi udara

    Di tempat yang berbeda Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengakui penyemprotan ini tidak efektif dan hanya memindahkan polusi dari satu tempat ke tempat lain.

    “Kegiatan penyemprotnya juga harus luas karena kalau sedikit itu hanya menggeser-geser saja malah bisa menyebarkan pindah ke tempat lain,” jelas Budi.

    Sebelumnya, epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI), Pandu Riono juga menyoroti penyemprotan jalan ini. Menurutnya penyemprotan tersebut dapat membahayakan kesehatan.

    “Karena disemprot air malah memperburuk partikel udara (PM 2,5). Kalau disemprot dengan air bertekanan tinggi bisa terjadi aerolisasi, jadi partikular itu menguap dan bisa lebih dahsyat efeknya kalau dihirup masyarakat,” jelas Pandu.

    Baca: Greenpeaace minta pemerintah tak beri solusi palsu soal polusi udara

    Pandu menjelaskan polusi udara mengandung partikel kecil yang disebut PM 2,5
    atau yang lebih kecil lagi berukuran 10 mikron (PM10), serta polusi dari hasil
    pembakaran energi sulfur oksigen (SO2).

    Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan tak bisa dianggap remeh. Sebab,
    cemaran udara tidak hanya bersarang di paru-paru, tapi juga memicu efek alergi,
    mudah sakit, mengganggu sistem kerja jantung dan susunan organ lain, karena
    menyebar ke semua sistem tubuh.

    Reporter: Nurakhmayani