7cloud.asia – Pernahkan kamu coba meluangkan waktu untuk menikmati sudut di kotamu? Jika ternyata kota kamu belum menyediakan sudut yang bisa dinikmati dengan perlahan, coba simak tentang konsep slow city atau kota perlahan berikut ini
Slow city merupakan satu dari fenomena yang baru-baru ini muncul di Eropa yang mulai jenuh. Gagasan slow city muncul sejak 1999 guna menjawab dari sebagian masyarakat yang lelah dengan kondisi kota yang umumnya penuh dengan hiruk pikuk dan sibuk tiada henti.
Istilah slow city bukan hanya cara untuk menggambarkan kota-kota seperti Amsterdam, Kopenhagen, atau Wina di mana segala sesuatunya tampak sedikit lebih lambat daripada di tempat-tempat metropolitan yang gila seperti New York, London, atau Shanghai.
Slow city atau kota-kota yang lambat adalah hal yang nyata, dan telah berlangsung selama beberapa dekade. Warga slow city menjalani hidup mereka dengan perlahan dan ceria sementara kita bertumpuk di kereta komuter atau pun kereta bawah tanah.
Baca: Kota di dunia yang sangat mengutamakan pejalan kaki
Gerakan slow city kemudian bergabung dalam Cittaslow, jaringan kota internasional yang menjadikan kota menjadi tempat hidup yang mudah. Seperti yang dilaporkan di situs web mereka, gerakan slow city dimulai pada tahun 1999 d Italia.
Gagasan slow city itu dicetuskan Paolo Saturnini, mantan Walikota Greve di Chianti, sebuah kota kecil di Tuscany.
Jaringan slow city kemudian tumbuh secara eksponensial sejak Saturnini menyatakan bahwa dunia perlu melambat. Saat ini telah mencakup 276 kota di seluruh dunia, termasuk di Cina, Kolombia dan Australia.
Ide utama membangun slow city sendiri adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal dan bekerja di dalamnya.
Baca: Bersepeda, cara warga menikmati kotanya
Konsep slow city meniru prinsip makanan lambat yang dperkenalkan oleh Carlo Petrini, seorang jurnalis dan mantan walikota Bra, Italia yang terkenal setelah mengambil bagian dalam protes terhadap pembukaan McDonald’s di Roma pada 1980-an.
Tujuan utama slow city adalah untuk mewujudkan lingkungan yang tenteram dan tenang di mana seseorang dapat menjalani hidup sepenuhnya, jauh dari stres, kecemasan, dan berkejaran dengan beragam target.
Kota-kota yang terlibat dalam slow city berbagi ciri-ciri umum dan tujuan yang sama, yakni untuk menciptakan tempat tinggal yang baik.
Salah satu tujuan slow city adalah untuk melestarikan semangat komunitas dan berbagi pengetahuan tradisional dengan generasi berikutnya untuk melestarikan warisan budaya daerah setempat.
Baca: Sejarah Jakarta, dari Jayakarta menjadi Batavia lalu jadi Jakarta
Gerakan slow city ini ingin menjadi vaksin melawan gaya hidup serba cepat yang dipromosikan oleh masyarakat modern.
Manifesto Cittaslow yang disusun para penyuka slowcity menuliskan sebagai berikut:
“Kami mencari kota-kota di mana warganya masih penasaran dan ingin tahu tentang masa lalu, kota-kota yang kaya akan teater, alun-alun, kafe, bengkel, restoran, dan tempat-tempat spiritual, kota-kota dengan pemandangan yang tak tersentuh dan pengrajin yang menawan di mana orang masih dapat mengenali jalannya yang lambat. musim dan produk asli mereka yang menghormati selera, kesehatan, dan kebiasaan spontan”
Penyuka slow city melihat sisi positif sebuah kelambatan. Bagi pencipta gerakan Cittaslow atau slow city, hidup tidak akan menjadi baik jika tidak dijalani secara perlahan.
Mereka mengajak kita untuk memikirkan kembali perilaku kita, tidak hanya dengan mengubah gaya hidup dan rutinitas kita, tetapi juga mengubah cara kita memproduksi dan mengonsumsi.
“Mari kita mulai dengan mengambil kembali waktu untuk tumbuh, bersosialisasi, menghargai budaya, alam, dan makanan lokal yang sehat, mengingat bahwa setiap makhluk hidup berhak mengikuti ritme alaminya masing-masing,” kata mereka.
Baca: Peran sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta
Setiap kota, kota atau desa dapat mendaftar untuk menjadi bagian dari jaringan Cittaslow, tentu saja selama mereka memenuhi aturannya.
Sebuah slow city harus memenuhi lima pilar berikut ini:
Ekonomi sirkular
Kita semua tahu sekarang, ekonomi sirkular adalah tujuan akhir untuk planet yang sehat. Mendaur ulang, menggunakan kembali, dan mengonsumsi secara sadar adalah sebuah kewajiban di kota slow city, jadi bukan lagi pilihan.
Ketangguhan
“Meningkatkan diri kita dan apa yang kita miliki, tanpa menghancurkan diri kita sendiri” adalah salah satu tujuan utama Cittaslow atau slow city.
Keadilan sosial
Perpecahan dan prasangka tidak memiliki tempat dalam gerakan slow city: “Tidak ada kemakmuran jika tidak untuk semua orang, tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun.”
Baca: Kiat asyik wisata ramah lingkungan
Keberlanjutan dan budaya
Gerakan Cittaslow percaya bahwa untuk benar-benar menghentikan perubahan iklim, kita perlu melindungi budaya dan warisan lokal, bukan hanya lingkungan alam. Kota-kota slow city bagian dari Cittaslow dibangun di atas sekelompok ekonomi mikro tangguh yang berkomitmen pada keberlanjutan.
Jika kamu ingin mengunjungi atau bahkan pindah dan menetap ke kota, kota kecil atau desa yang menjadi bagian dari gerakan slow city – ada banyak kota lambat untuk dikunjungi di seluruh Eropa.
Di Inggris, kota-kota yang menjadi bagian dari gerakan tersebut adalah Aylsham (Norfolk), Berwick upon Tweed (Northumberland), Llangollen (Denbighshire), Mold (Flintshire) dan Perth (Scotlandia).
Lantas, adakah kota di Indonesia yang masuk dalam kategori ini? Ikuti tulisannya di 7cloud.asia edisi selanjutnya.
Sumber: prettyslow.life, baca artikel asli di sini

Leave a Reply