Prinsip Alon-alon Waton Kelakon, Yogyakarta Layak Jadi Slow City

Written by

in

7cloud.asia – Slow city atau kota yang bergerak perlahan merupakan satu dari fenomena yang baru muncul di negara Eropa pada tahun 1999.

Gagasan slow city muncul guna menjawab keluhan warga di banyak kota di dunia yang merasa lelah dengan kondisi kota yang umumnya selalu sibuk dan hiruk pikuk tiada henti. Seolah tidak mengenal kata istirahat.

Gerakan slow city menginginkan kondisi kota yang lebih nyaman untuk didiami. Agenda yang dijalankan kota slow city menitikberatkan pada menjaga dan mempertahankan kondisi budaya lokal dan memajukan kekhasan di dalam kotanya.

Budaya perlahan menjadi tolok ukur dalam terbentuknya slow city. Waktu tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sekadar bernilai kuantitas melainkan kualitas. Itu sebabnya bisa dikatakan tujuan akhir dari gerakan slow city adalah mencapai kualitas hidup masyarakat kota yang lebih baik.

Baca: Mengenal konsep slow city

 

Seperti telah dipaparkan di tulisan sebelumnya, ide membangun slow city adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal dan bekerja di sana. 

Ide slow city meniru prinsip slow food, konsep yang dibuat Carlo Petrini, seorang jurnalis dan mantan walikota Bra, Italia yang terkenal setelah mengambil bagian dalam protes atas pembukaan McDonald’s di Roma pada 1980-an.

Carlo menentang makanan cepat saji dan bersikukuh mengenal budaya perlahan, di mana makanan disajikan dan dinikmati secara perlahan agar terasa nikmatnya.

Apakah  semua kota bisa otomatis mengubah dirinya menjadi sebuah slow city. Ataukah untuk menjadi slow city sebuah kota harus menjadi modern dan maju terlebih dahulu? 

Baca: Mengenal sumbu filosofi kota Yogyakarta

Dalam wawancaranya dengan 7cloud.asia, Perancang Kota yang juga Dosen Jurusan Teknik Arsitektur, FT Universitas Indonesia, Dita Trisnawan mengatakan sebuah kota bisa masuk dalam slow city jika masyarakatnya sudah sejahtera. 

Ia mencontohkan Singapura yang telah melalui proses pembangunan selama beberapa dekade untuk meletakkan dasar-dasar kecukupan dan prasyarat hidup layak hingga baik sekali.

“Setelah hal mendasar itu terpenuhi, maka lalu selanjutnya tata kota meningkat kepada level “menikmati hidup”,” terang Dita saat berbincang dengan ruangkota melalui sambungan telepon pada Minggu (2/7/2023).

Dita melanjutkan, ketika kebutuhan dasar warga kota telah dipenuhi kemudian dibangunlah banyak ruang kota spt amphitheater, concert hall, museum, taman kota, fasilitas olah raga dan lain sebagainya.

“Inilah tahap ‘pleasure’ sebagai ciri lanjut Negara Maju, setelah semua kebutuhan sandang pangan papan tercukupi, ga ada homeless, jaminan sosial cukup, sehingga prosperity digambarkan dengan banyaknya fasilitas pleasure and recreational,” imbuhnya.

Baca: Minimalisme, gaya hidup yang selaras dengan konsep slow city

Selaras dengan pemaparan Dita, Slow city berkembang di negara Eropa. Namun demikian, slow city kini juga banyak ditemukan di beberapa negara di Asia, seperti Singapura, Cina maupun Jepang.

Lantas, adakah kota di Indonesia yang bisa dikategorikan sebagai slow city? 

Jika mengacu pada kriteria slow city yakni jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, penghormatan kepada kearifan/produk lokal, penerapan ekonomi sirkular serta egaliterian, ada sejumlah kota yang layak diteliti sebagai slowcity.

Dalam diskusi kecil yang diikuti penulis, beberapa kota di Jawa yang layak dikaji tersebut adalah Ciamis, Malang, Yogyakarta, Solo, Temanggung, Wonosobo. Namun untuk itu perlu penelitian lebih lanjut.

Baca: Slow fashion, antitesis dari fast fashion yang merusak lingkungan

Sementara, skripsi yang ditulis Utami Widyaningsih, mahasiswi Teknik Arsitektur Universitas Indonesia menganalisis pendekatan kota Yogyakarta sebagai salah satu kota di negara timur yang memiliki akar budaya sama dengan gerakan slow city, dengan semboyan kota Yogya ‘alon-alon asal kelakon’.

Studi kasus pada kota Yogya selanjutnya menjawab apakah kota Yogyakarta memiliki potensi serta karakteristik untuk bisa menjadi kota slow city.

Utami menulis, Cittaslow adalah jaringan kota internasional tempat hidup bisa berlangsung lebih mudah dan perlahan, seperti yang dilaporkan di situs web mereka. Gerakan tersebut dimulai pada tahun 1999 oleh Paolo Saturnini, mantan Walikota Greve di Chianti, Italia.

Konsep slow city ingin mengembalikan masa lalu yang dimiliki sebuah tempat atau kota sebagai ruang tinggal bersama.

Baca: Empat kota ini memprioritaskan warganya yang berjalan kaki

Konsep slow city fokus pada warga kota setempat sehingga optimalisasi peran dan partisipasi warga setempat dalam membangun kota sangat menentukan kemajuan kotanya. 

Dari penelitian yang dilakukan Utami Widyaningsih, Kota Yogyakarta sedikit banyak memenuhi konsep slow city. 

Merujuk pada menifesto slow city yang salah satunya menyebut ‘enjoying life are central to the community, atau menikmati hidup jadi fokus komunitas. Utami menulis bahwa pernyataan itu sangat sesuai dengan komunitas warga Kota Yogyakarta yang gemar bersantai menikmati hidupnya meski hari sudah malam. 

“Keseimbangan hidup dicapai warga kota Yogyakarta sehingga dalam satu hari sempatkan berkumpul bersama teman atau kerabat,” tulis Utami. 

Baca: Bersepeda, cara mudah untuk menikmati kota

Dan semua itu ditemukan Utami saat meneliti kota Yogyakarta. Kualitas hidup yang ingin dicapai dari perkumpulan slow city diturunkan ke dalam konsep 3E yakni economy, environment, equity bisa ditemukan di Yogyakarta.

Konsep tersebut dijalankan melalui program yang berlandaskan pada good food, good environment dan good community yang semua ini bisa ditemukan dalam bentuk berbeda di Yogyakarta.

Istilah slow city bisa menggambarkan kota-kota seperti Amsterdam, Kopenhagen, atau Wina, di mana segala sesuatunya tampak sedikit lebih lambat daripada di tempat-tempat metropolitan yang gila seperti New York, London, atau Shanghai.

Warga slow city menjalani hidup mereka secara perlahan dan ceria sementara banyak warga kota lainnya terus bergegas dan berdesakan di jalanan ataupun kereta commuter. Dengan budaya perlahan ini, warga slow city bisa menikmati kota tempa tinggalnya dan terutama hidupnya secara lebih utuh. 

Baca: Jalan kakilah sebanyak mungkin untuk menikmati kotamu

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *