Kurangi Risiko Bencana di Jabodetabek, BMKG Kembali Lakukan Modifikasi Cuaca

Written by

in

7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 8 Maret mendatang.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang beberapa waktu lalu melanda wilayah Jabodetabek.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto dalam rilisnya mengatakan bahwa OMC dilakukan dengan menyesuaikan update prediksi cuaca terbaru.

Selanjutnya Seto menjelaskan pada OMC kali ini, pihaknya berfokus pada pengurangan curah hujan di daerah tangkapan air Sungai Ciliwung dan Cisadane, mulai dari Bogor sebagai hulu hingga Jakarta dan Bekasi sebagai hilir.

Baca: Cuaca ekstrem picu banjir dan longsor di sejumlah wilayah

“Awan-awan yang berpotensi membawa hujan deras dihujankan lebih awal di atas laut sebelum mencapai daratan. Sementara itu, awan yang berkembang di daratan disemai agar pertumbuhannya terganggu sehingga curah hujannya berkurang,” jelas Seto.

Berdasarkan pengalaman, lanjut Seto, OMC ini mampu mengurangi curah hujan sebesar 30-60% pada awan hujan yang cukup masif. Dengan demikian, pihaknya berharap risiko banjir di wilayah terdampak dapat ditekan.

Sementara itu, kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan dalam operasi ini, BMKG tidak hanya menyediakan data cuaca.

Tetapi juga merancang strategi operasi, menentukan lokasi penyemaian, serta memantau kondisi atmosfer secara real-time untuk memastikan efektivitas intervensi cuaca.

Baca: Cuaca ekstrem berpotensi terjadi hingga 10 Maret 2025

BMKG menurunkan tim dengan kekuatan penuh yang bekerja selama 24 jam guna mendukung kelancaran operasi ini.

“Operasi Modifikasi Cuaca bukan sekadar menyemai garam ke langit, tetapi memerlukan pemodelan atmosfer yang tepat agar intervensi yang dilakukan benar-benar efektif. BMKG memastikan bahwa setiap rekomendasi yang diberikan berbasis pada data meteorologi terbaru dan perhitungan ilmiah yang terukur,” jelas Dwikorita.

Menurutnya keberhasilan OMC tidak hanya bergantung pada pelaksanaannya di lapangan, tetapi juga pada koordinasi antar-lembaga yang solid dan transparan.

Baca: Pulau Jawa waspada bencana hingga April 2025

Pada kesempatan itu, BMKG juga mengajak masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Dengan koordinasi yang baik antar-lembaga dan kesiapsiagaan masyarakat, dampak dari bencana hidrometeorologi dapat ditekan semaksimal mungkin,” katanya.

OMC kali ini dikendalikan dari Pos Komando di Lanud Halim Perdanakusuma dan dilakukan oleh BMKG dan BNPB bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara.

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *