Makin Banyak Warga Beralih ke Transportasi Publik, Kemacetan di Jakarta Berkurang

Written by

in

7cloud.asia – Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo mengatakan angka kemacetan Jakarta pada 2024 menurun karena banyak masyarakat yang beralih menggunakan transportasi publik.

Hal ini tak lepas dari terbangunnya moda transportasi publik yang terintegrasi secara bertahap di Jakarta, baik itu MRT, LRT, commuter line, TransJakarta hingga MikroTrans.

“Kita tahu Transjakarta sempat mencapai 1,3 juta pelanggan per hari. Tertinggi selama tahun 2024, demikian pula halnya MRT. MRT sempat menyentuh angka 138 ribu pelanggannya, LRT Jabodebek juga,” kata Syafrin dikutip Antaranews.com Januari lalu.

Dia menilai, turunnya angka kemacetan Jakarta merupakan hasil kerja sama seluruh pihak, termasuk partisipasi dan peran aktif masyarakat untuk terus menggunakan layanan transportasi publik.

Syafrin berharap jumlah warga Jakarta yang menggunakan transportasi umum terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Baca: Keberadaan transportasi publik di Jakarta makin lengkap dan terintegrasi

Untuk menurunkan angka kemacetan Jakarta di tahun 2025 ini, kata dia, Dinas Perhubungan DKI juga akan memasifkan dan memperbaiki kinerja lalu lintas.

Menurut data yang diunggah melalui Instagram @dishubdkijakarta, berdasarkan TomTom Traffic Index 2024, Jakarta meraih peringkat 90 dalam Indeks Kemacetan Dunia dan membaik 60 peringkat dari tahun 2023.

Dari hasil rilis TomTom Traffic Index, peringkat Jakarta terkait dengan penanganan kemacetan selama tahun 2024 itu membaik 10 persen, tahun lalu 2023 di angka 53 persen kemacetan Jakarta.

“Kemudian terakhir pada 2024 banyak turun menjadi 43 persen tingkat kemacetan,” jelas Syafrin.

Untuk mencapai perubahan tersebut, Dishub DKI Jakarta telah melakukan beberapa upaya, seperti perluasan jangkauan angkutan umum, pemantauan arus lalu lintas, penertiban parkir liar

Baca: Pemprov DKI Jakarta targetkan 55 persen warganya gunakan transportasi publik

Dishub juga menyiagakan petugas di titik rentan kepadatan, penetapan tarif terintegrasi, dan penyediaan park and ride.

Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta menyebut transportasi publik yang nyaman dan terintegrasi mutlak dibutuhkan untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2024-2044 menargetkan 55 persen warga Jakarta menggunakan transportasi publik.

Jika 55 persen penduduk dapat menggunakan transportasi publik ketika bepergian atau beraktivitas akan membuat kemacetan dan polusi udara lebih mudah dikendalikan.

Pemprov DKI Jakarta juga mendorong agar 70 persen penduduk di Jakarta dapat berkegiatan di simpul transportasi publik.

Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *