Tahukah Kamu, Ada 476 Juta Masyarakat Adat yang Berperan Penting dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Planet Bumi menjadi rumah bagi lebih dari 476 juta penduduk asli atau masyarakat adat yang tersebar di 90 negara.

Bersama-sama, masyarakat adat ini memiliki, mengelola, atau menempati sekitar seperempat lahan di dunia. Uniknya wilayah masyarakat adat ini secara konsisten memiliki kinerja lebih baik dibandingkan wilayah lain di dunia dalam hal kesehatan lingkungan.

Komunitas adat sering kali menjadi garda depan dalam upaya konservasi lingkungan di seluruh dunia.

Keterkaitannya yang mendalam dengan lahan menempatkan masyarakat adat secara unik dalam memberikan wawasan berharga mengenai keanekaragaman hayati lokal dan perubahan lingkungan.

Hal ini menjadikan masyarakat adat sebagai kontributor penting bagi tata kelola keanekaragaman hayati.

Dalam penyelenggaraan UNCCD COP16 beberapa waktu lalu, secara khusus menyoroti peran penting Masyarakat Adat dalam restorasi ekosistem.

Baca: Kearifan masyarakat adat Ngata Toro dalam menjaga kelestarian lingkungan

Hal ini juga berupaya untuk menekankan kepada para pembuat kebijakan dan Negara-negara Anggota mengenai perlunya keterwakilan yang berarti dan keterlibatan aktif Masyarakat Adat dalam agenda restorasi.

Laporan penting tahun 2019 dari Platform Kebijakan Sains Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES) yang didukung PBB menemukan bahwa kondisi alam mengalami penurunan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.

Sekitar tiga perempat lahan kering di bumi telah “diubah secara signifikan” oleh tindakan manusia, yang telah membahayakan ekosistem penting, termasuk hutan, sabana, dan lautan, serta mendorong 1 juta spesies menuju kepunahan.

Meskipun penurunan kualitas lingkungan hidup semakin cepat terjadi di banyak komunitas adat, namun kondisinya “tidak separah di wilayah lain di dunia,” demikian temuan laporan tersebut.

Para ahli mengatakan, hal ini disebabkan oleh pengetahuan tradisional selama berabad-abad dan, di banyak komunitas, adanya pandangan yang berlaku bahwa alam adalah sesuatu yang sakral.

Pejabat Program Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Lahan di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Siham Drissi mengatakan, pengetahuan masyarakat adat “mencakup cara-cara praktis untuk memastikan keseimbangan lingkungan tempat kita tinggal.

Baca: Upaya konservasi masyarakat adat Dalem Tamblingan terancam oleh kebijakan pemerintah

”Sehingga dapat terus menyediakan layanan penting seperti air, tanah subur, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan,” kata Drissi.

Pemimpin konservasi
Di banyak belahan dunia, masyarakat adat berada di garis depan dalam konservasi, menurut laporan terbaru yang sebagian didukung oleh UNEP.

Di Republik Demokratik Kongo, komunitas Bambuti-Babuluko membantu melindungi salah satu kawasan hutan tropis primer yang tersisa di Afrika Tengah.

Di Iran, Chahdegal Balouch yang semi-nomaden mengawasi 580.000 hektar semak belukar dan gurun yang rapuh. Dan di ujung utara Kanada, para pemimpin Inuit berupaya memulihkan kawanan karibu, yang jumlahnya telah menurun tajam.

Melibatkan masyarakat adat dan komunitas lokal dalam tata kelola lingkungan dan memanfaatkan pengetahuan mereka akan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Hal ini juga meningkatkan konservasi, restorasi, dan pemanfaatan alam secara berkelanjutan, sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Baca: Ingkar janji Jokowi kepada masyarakat adat

Kelompok masyarakat adat sering kali memiliki posisi yang lebih baik dibandingkan ilmuwan dalam memberikan informasi mengenai keanekaragaman hayati lokal dan perubahan lingkungan.

Mereka juga merupakan kontributor penting bagi tata kelola keanekaragaman hayati di tingkat lokal dan global, menurut laporan IPBES.

Meski begitu, kelompok masyarakat adat sering kali melihat tanah mereka dieksploitasi dan dirampas serta kesulitan untuk menentukan pendapat atas apa yang terjadi di wilayah mereka.

“Pemerintah perlu menyadari bahwa warisan budaya dan pengetahuan tradisional masyarakat adat dan komunitas lokal berkontribusi signifikan terhadap konservasi dan dapat meningkatkan aksi nasional dan global terhadap perubahan iklim,” kata Drissi.

Bagian penting dari proses tersebut, tambahnya, adalah mengakui klaim tanah adat dan menerapkan cara-cara tradisional dalam mengelola tanah.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *