Peringati Hari Ibu, Aliansi Perempuan Indonesia Soroti Eksploitasi Lingkungan yang Meminggirkan Perempuan

Written by

in

7cloud.asia – Menyambut Hari Pergerakan Perempuan Indonesia atau Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember 2024, Aliansi Perempuan Indonesia (API) mendeklarasikan Manifesto Politik “Perempuan Menggugat Negara” yang menyoroti eksploitasi lingkungan oleh Negara.

Keputusan politik yang menggugat keterpurukan nasib perempuan pada dalam Kongres Perempuan Pertama di Indonesia pada 1928 di Yogyakarta, menginspirasi Aliansi Perempuan Indonesia untuk menyampaikan manifesto politiknya.

Dalam manifesto politiknya, Aliansi Perempuan Indonesia melihat, Kondisi saat ini memperlihatkan situasi kehidupan perempuan yang masih kuat terbelenggu oleh kekerasan dan diskriminasi.

Alih-alih melindungi hak asasi manusia, Negara justru menjadi pelaku kekerasan terhadap warganegara khususnya pada perempuan.

Proyek dan kebijakan yang mengeksploitasi alam, semakin meminggirkan perempuan dari tanah turun temurun yang menghidupi keluarga perempuan.

”Ruang politik yang direpresentasikan oleh orang-orang yang kosong pengetahuan berkeadilan sosial, menjadi pelaku korupsi, di tengah ekonomi oligarki yang terkonsolidasi dalam kultur patriarki, semakin memiskinkan perempuan,” demikian Aliansi Perempuan Indonesia dalam pernyataannya

Orientasi kebijakan rezim pemerintahan baru Prabowo yang tercermin dalam program Asta Cita dan prioritas kerja 100 hari tidak menyentuh kedaruratan situasi kekerasan terhadap perempuan.

Fokus terhadap industri ekstraksi, pembangunan infrastruktur dan investasi modal, tidak hanya menunjukkan bagaimana pemerintahan Prabowo adalah rezim baru yang melanjutkan agenda lama pemerintahan Jokowi, namun juga menunjukkan sebuah rezim baru yang akan memperparah situasi kekerasan terhadap perempuan.

Maka dengan situasi tersebut, Aliansi Perempuan Indonesia mengajak para perempuan dan masyarakat di seluruh Indonesia untuk tidak terpedaya dengan kondisi yang seolah baik-baik saja, sementara akar-akar konsolidasi oligarki kian menggeliat menghancurkan perempuan.

Menyikapi kondisi ini, Aliansi Perempuan Indonesia mendeklarasikan Manifesto Politik Perempuan Indonesia sebagai berikut :

Perempuan Indonesia menolak dan menuntut negara untuk segera menghentikan segala bentuk eksploitasi dan ekstraksi sumber daya alam yang mengusung agenda neoliberal dengan pendekatan militeristik yang masif sehingga menyebabkan kehancuran ekosistem dan perampasan ruang hidup masyarakat termasuk perampasan lahan yang masif terjadi di Sumatera hingga Papua.

Eksploitasi sumber daya alam tersebut juga secara bersamaan mengeksploitasi tenaga kerja dan melanggengkan kekerasan terhadap buruh perempuan termasuk perempuan buruh migran,

Perempuan Indonesia menolak segala bentuk pelanggengan politik dinasti oleh segelintir penguasa/ oligarki yang memundurkan capaian perjuangan keterwakilan perempuan dalam politik dan merendahkan perempuan hanya sebagai objek di berbagai ranah kehidupan ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Perempuan Indonesia juga menolak segala bentuk praktek politik pencitraan yang manipulatif untuk meminggirkan suara kritis masyarakat.

Perempuan Indonesia, menolak segala bentuk ide dan gaya pemerintahan militeristik yang mengedepankan pendekatan dan cara-cara kekerasan dalam merespon suara kritis masyarakat dan konflik sosial politik serta melanggengkan kontrol terhadap tubuh perempuan.

Perempuan Indonesia menuntut dihentikannya kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian, praktek kriminalisasi aktivis, pembubaran aksi-aksi protes masyarakat dan pembungkaman ekspresi serta kebebasan berpikir.

Perempuan Indonesia menolak impunitas yang dilanggengkan oleh negara, yang menyebabkan tidak tuntasnya kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu sehingga berdampak pada berulangnya pola kekerasan dan kejahatan HAM pada hari ini termasuk kekerasan dan pembunuhan perempuan (femisida).

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *