Mengenal Apa Itu Brain Rot pada Anak dan Kiat Menghindarinya

Written by

in

7cloud.asia – Di era digital dan maraknya media sosial seperti sekarang, istilah-istilah baru terus bermunculan. Salah satunya adalah “brain rot” yang sering digunakan di kalangan anak muda.

Mungkin, di antara pembaca bertanya-tanya apa itu brain rot? Brain rot adalah istilah digunakan untuk merujuk pada situasi di mana seseorang terlalu terpaku pada hal tertentu akibat konsumsi konten digital yang berlebihan sehingga otaknya “membusuk”.

Brain rot ini diambil dari kata dalam bahasa Inggris, yakni brain yang berarti otak, dan rot yang berarti membusuk.

Meski terkesan konyol, istilah ini memiliki makna yang lebih dalam, terutama jika dikaitkan dengan perkembangan anak.

Menurut Psikolog, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., brain rot adalah istilah untuk suatu kondisi di mana otak terpaku dalam satu aktivitas yang monoton.

Baca: Usia minimal anak bisa mengakses media sosial adalah 13 Tahun

“Sehingga, akibatnya otak tidak tertantang untuk berkembang, berpikir kritis, dan sebagainya,” ujarnya dalam konferensi pers peluncuran kampanye #BanggaJadiBunda di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2024).

Salah satu aktivitas yang memicu brain rot adalah scrolling atau menggulir media sosial selama berjam-jam sehingga mengganggu produktivitas seseorang.

Hal ini bisa menyebabkan penurunan kemampuan otak dalam beradaptasi dengan hal baru, dan menghambat perkembangan kognitif secara keseluruhan. Menurut Vera, dampak psikologis dari kondisi ini besar sekali apalagi pada anak-anak.

”Dalam usia anak-anak, otak sedang berkembang serta mengasah kemampuan untuk berpikir kreatif dan kritis,” jelasnya.

Menggulirkan lini masa media sosial, ujarnya, berarti seseorang terlibat dalam komunikasi yang bersifat hanya satu arah dan berposisi sebagai penerima informasi.

Baca: Australia larang anak di bawah 16 tahun mengakses media sosial

Perubahan tampilannya pun juga sangat cepat, dari satu konten ke konten yang lain, dari satu isu ke isu lain.

“Ketika anak hanya menggulir di media sosial, belum selesai mencerna satu konten, tapi sudah muncul yang lain,” katanya.

Akibatnya, tidak ada kesempatan bagi otak anak untuk mengelola dan mengkritisi apa yang dilihat sehingga informasi yang didapat terus menumpuk.

Vera menegakan, orangtua perlu berupaya menghindarkan anak dari brain rot, salah satunya dengan mencegahnya menggulirkan lini masa media sosial terlalu berlebihan.

Ketimbang berkutat dengan gadget, alihkan anak pada aktivitas-aktivitas fisik lain yang lebih produktif dan bermanfaat bagi tumbuh kembangnya.

“Cara menghindarinya adalah dengan berhenti scrolling media sosial. Anak-anak butuh bantuan dari orangtua, jadi (penggunaan gadget) harus dibatasi,” jelasnya.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *