Menggali Potensi Pengembangan PLTB untuk Mendukung Transisi ke Energi Terbarukan

Written by

in

7cloud.asia – Indonesia telah menargetkan 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi nasional pada 2025, yang saat ini baru mencapai 14 persen.

Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto menjelaskan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) seperti yang dikembangkan di Jeneponto, Sulawesi Selatan dapat memainkan peran penting dalam mencapai target bauran ke energi terbarukan ini.

PLTB Jeneponto yang dikembangkan oleh investor Singapura yakni Vena Energy, meskipun harga jual ke PLN selisih sedikit lebih mahal daripada batubara, PLTB tidak memiliki dampak yang lebih kecil pada lingkungan.

Sehingga PLTB yang memanfaatkan tenaga angin dapat menjadi pilihan mengingat potensi energinya sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia.

Hal ini diungkapkan Sugeng saat memimpin kunjungan kerja reses Komisi XII DPR ke PLTB Tolo, Jeneponto, Sulawesi Selatan, Senin (9/12/2024).

PLTB Jeneponto terdiri dari 72 mega watt, dimana terdapat 20 turbin yang menghasilkan 3.6 Megawatt, dengan capacity factor di atas 40 persen, itu artinya luar biasa.

Baca: 13 PLTU Batubara di Indonesia akan dipensiunkan lebih cepat

Turbin PLTB ini dapat berputar hingga 24 jam, terutama di saat musim-musim panen di antara bulan Juni hingga Oktober

“Kita mendapatkan penjelasan yang luar biasa komprehensif dan harganya juga luar biasa ini bisa dikatakan best load yakni 0,11 dolar per kWh dibandingkan dengan batu bara 0,07 dolar per KWH, sudah dekat, tetapi batu bara kan kotor dan sebagainya,” jelas Sugeng.

Ia mengingatkan jika tenaga bayu di Indonesia sangat besar, baik untuk pembangunan PLTB onshore maupun offshore, terutama di wilayah pesisir.

Dibandingkan energi lain, PLTB memiliki waktu pembangunan relatif cepat, yaitu sekitar dua tahun dari tahap Engineering, Procurement, and Construction (EPC) hingga commissioning.

Karenanya, Sugeng mendorong pola kerja sama antara investor lokal dan asing untuk mendukung program transisi ke energi terbarukan

Kami, ujarnya, melihat langsung praktik terbaik di PLTB Jeneponto, yang menjadi contoh bagaimana transisi energi dapat berjalan cepat, efisien, dan berkelanjutan.

Baca: Target energi terbarukan Indonesia dinilai belum selaras dengan Perjanjian Paris

”Dengan kerja sama yang baik, ini akan membawa manfaat besar bagi masyarakat lokal dan ekonomi nasional,” tutup Sugeng.

Sugang menambahkan, pihaknya tengah berfokus untuk menuntaskan pembahasan RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EBET) untuk membangun ekosistem yang mampu mengembangkan EBET di Indonesia.

Ia menyoroti bahwa Indonesia membutuhkan sumber energi baru dan energi terbarukan, mengingat kondisi kebutuhan energi saat ini yang masih bergantung pada energi fosil, yang justru telah memberikan masalah baru, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

“Karena, selama ini indonesia masih bergantung pada energi fosil yang di batubara, memang tidak bisa kita biarkan begitu saja (tapi) harus kita siasati sedemikian rupa karena sudah menjadi masalah baik masalah ekonomi maupun masalah lingkungan,” jelasnya

Dalam kunjungan tersebut, Sugeng menyoroti pentingnya mempercepat transisi energi yang sejalan dengan tekad pemerintahan saat ini untuk membangun 100 GigaWatt (GW) energi listrik dalam 15 tahun ke depan.

Sebagaimana diketahui, pemerintah menargetkan 75 GW yang didapatkan dari energi terbarukan, di mana 25 GW di antaranya akan berfokus dari energi bayu (angin).

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *