7cloud.asia – Di tengah maraknya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, media sepatutnya berperan sebagai ruang diskusi berbagai pihak.
Peran ini dapat diwujudkan melalui pemberitaan yang mengangkat suara publik secara luas, seperti organisasi masyarakat sipil (OMS), akademisi, masyarakat adat, dan kelompok rentan—bukan cuma dari pihak pemerintah atau politisi.
Sayangnya, dalam pemberitaan media daring selama periode kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 lalu, analisis penulis menemukan bahwa media cenderung menyuarakan isu lingkungan dari sudut pandang pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden maupun para politikus semata.
Data penulis berasal dari serangkaian pemberitaan yang memuat kata kunci terkait isu dan kebijakan di sektor lingkungan.
Penulis menganalisis narasi terkait janji, visi-misi, program, serta beragam pesan yang dikemukakan oleh ketiga paslon dan tim pemenangan mereka di media daring.
Muatan isu lingkungan yang terbatas
Studi penuis menunjukkan bahwa pemberitaan terkait isu lingkungan pada paslon 02 Prabowo-Gibran jauh lebih banyak dibandingkan kandidat lain dengan 19.084 berita.
Baca: Aksi menuntut keadilan iklim
Sementara jumlah pemberitaan isu lingkungan terkait paslon 03 Ganjar Pranowo-Mahfud MD sebesar 12.314 berita, disusul paslon 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dengan 9.588 berita.
Hasil analisis penulis juga memperlihatkan bahwa substansi isu lingkungan pada pemberitaan terkadang tidak tergali secara optimal.
Kami menganalisis substansi isu lingkungan pada sampel acak berjumlah 2.848 artikel berita: 911 untuk paslon 01, 984 untuk paslon 02, dan 953 untuk paslon 03.
Isu lingkungan justru paling banyak diberitakan secara substansial pada paslon dengan jumlah pemberitaan terkecil yaitu paslon 01, sebesar 60,6 persen. Isu lingkungan yang substansial pada paslon 03 muncul sebesar 45,6%, sedangkan paslon 02 hanya 38,4%.
Hal ini menarik karena meskipun isu substansial lingkungan terkait paslon 02 paling minim, jumlah pemberitaan mereka jauh melampaui dua paslon lainnya.
Pemberitaan isu lingkungan di media daring tentu tak bisa lepas dari faktor teknologi, seperti algoritme dan penekanan pada trending topics.
Baca: Kontroversi penggunaan bahan bakar fosil
Faktor ini mendukung popularitas paslon 02, terutama lewat berbagai gimmick kampanye yang mereka lakukan maupun konsistensi penekanan jargon semacam “hilirisasi”.
Masih minimnya substansi isu lingkungan terjadi karena media cenderung sekadar mengambil pernyataan dari para paslon atau tim kampanye, seperti: “Mendukung program ekonomi hijau” atau “persoalan lingkungan disebabkan oleh pelaku usaha besar” tanpa ulasan mendalam.
Pemberitaan yang membebek
Bingkai (frame) pemberitaan terkait ketiga paslon, juga kami telaah menggunakan kategori generic frames dari Semetko dan Valkenburg.
Hasilnya, pemberitaan soal isu lingkungan dari ketiga paslon sering kali terkait dengan bingkai (attribution of responsibility) yang menyoroti atribusi tanggung jawab pihak-pihak tertentu terhadap sebuah peristiwa.
Sebagai paslon dengan jumlah pemberitaan tertinggi, isu lingkungan terkait paslon 02 banyak muncul dengan bingkai human interest dengan kisah-kisah kemanusiaan yang mudah dicerna pembaca, serta bingkai morality yang menekankan pada nilai-nilai moral dan religius.
Menariknya, dalam kedua bingkai tersebut, isu lingkungan sering kali diulas secara tidak substansial dan sekadar disebutkan atau ditempelkan dalam sebuah pemberitaan.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:
Detta Rahmawan (Lecturer in Communication Science, Universitas Padjadjaran)
Justito Adiprasetio (Lecturer, Universitas Padjadjaran)
Kunto Adi Wibowo (Associate professor, Universitas Padjadjaran)

Leave a Reply