INC-5 Gagal Hasilkan Kesepakatan untuk Batasi Produksi dan Polusi Plastik Global

Written by

in

7cloud.asia – Negosiasi di Konvensi Internasional Plastik ke-5 (Intergovernmental Negotiating Committee/INC-5) tentang pembatasan polusi plastik di Busan Korea Selatan, berlangsung alot.

Para perunding yang menginginkan perjanjian internasional untuk membatasi polusi plastik menghadapi perdebatan sengit pada hari terakhir perundingan yang dijadwalkan.

Lebih dari 100 negara yang mendukung perjanjian untuk membatasi produksi dan polusi plastik berhadapan dengan segelintir negara penghasil minyak yang ingin perjanjian tersebut hanya berfokus pada polusi plastik.

INC-5 yang juga dihadiri delegasi Indonesia diharapkan juga menghasilkan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum akan berakhir di Busan pada Minggu (1/12/2024).

Namun hingga Minggu (1/12/2024) pagi, sesi pleno terakhir belum ditetapkan. Buntutnya hingga Konvensi ditutup gagal hasilkan kesepakatan untuk membatasi produksi dan polusi plastik.

Perjanjian yang diharapkan dapat dihasilkan dari perundingan itu bisa menjadi perjanjian paling signifikan terkait perlindungan lingkungan dan emisi pemanasan iklim sejak Perjanjian Paris 2015.

Baca: Indonesia dipercaya jadi mediator di INC-5

Hingga Minggu, negara-negara masih berbeda pendapat mengenai cakupan dasar perjanjian tersebut.

Negara-negara belum sepakat memilih antara satu opsi yang diusulkan oleh Panama – dan didukung oleh lebih dari 100 negara – yang menciptakan jalur untuk mencapai target pengurangan produksi plastik global, dan opsi lainnya yang tidak menerapkan pembatasan produksi sama sekali..

Beberapa negosiator mengatakan negara-negara tertentu masih belum mengabulkan tuntutan mereka hingga Sabtu (30/11/2024) malam.

“Kita punya lebih dari 100 negara yang benar-benar ambisius. Di sisi lain, kita punya sekelompok kecil negara yang… pada dasarnya kehabisan waktu dan tidak bergerak maju,” kata Anthony Agotha, Utusan Khusus Uni Eropa (UE) untuk Perubahan Iklim dan Lingkungan.

“Kita benar-benar perlu menangani siklus hidup plastik secara penuh karena kita tidak bisa mendaur ulang untuk keluar dari krisis ini… Kita tidak bisa berjalan dengan satu kaki,” katanya.

Sejumlah kecil negara penghasil petrokimia, seperti Arab Saudi, sangat menentang upaya untuk menargetkan produksi plastik dan mencoba menggunakan taktik prosedural untuk menunda negosiasi.

Baca: KTT Plastik Ottawa tak hasilkan perjanjian pengurangan produksi plastik

Arab Saudi belum memberikan komentar.
China, Amerika Serikat, India, Korea Selatan, dan Arab Saudi adalah lima negara penghasil polimer utama pada 2023, menurut penyedia data Eunomia.

Dengan hanya beberapa jam tersisa untuk perundingan yang sudah dijadwalkan dan konsensus yang tampaknya tidak tercapai, beberapa negosiator dan pengamat khawatir perundingan tersebut akan gagal atau diperpanjang ke sesi lain.

“Kita berada di persimpangan jalan saat ini,” kata ketua delegasi Panama Juan Carlos Monterrey Gomez, Sabtu (30/11/2024).

“Menunda pertemuan ini akan berakibat fatal, tidak hanya bagi kesehatan bumi, tetapi juga bagi kesehatan manusia… kita harus mencapai hasil yang dapat mengangkat perjuangan ini.”

Produksi plastik akan meningkat tiga kali lipat pada 2050, dan mikroplastik telah ditemukan di udara, produk segar, dan bahkan ASI.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *