7cloud.asia – Kegagalan KTT G20 untuk memasukkan referensi langsung ke bahan bakar fosil membuat marah banyak pemimpin perundingan yang hadir Konferensi Iklim PBB atau COP 29.
Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP 29 selama dua minggu, yang berlangsung di negara petrostate Azerbaijan, akan berakhir pada hari Jumat (22/11/2024).
“[COP 29] adalah proses yang cukup rapuh,” kata salah satu negosiator G7 di Baku pada hari Selasa (19/11/2024) seperti dilaporkan Financial Times.
Dia menambahkan bahwa tidak adanya pernyataan eksplisit dari G20 terkait penggunaan bahan bakar fosil berarti “kemiringan kenaikan yang baru saja terjadi minggu ini akan lebih curam.”
Seperti diberitakan, KTT G20 mengirimkan sinyal positif mengenai pendanaan iklim, yang merupakan inti dari negosiasi COP 29 yang sedang berlangsung.
Namun, pemimpin negara-negara G20 dalam pertemuan di Rio De Janerio, Brasil gagal melahirkan kesepakatan terkait bahan bakar fosil.
Baca: KTT G20 gagal batasi penggunaan bahan bakar fosil
“Kami menantikan hasil Tujuan Kuantifikasi Kolektif Baru (NCQG) yang sukses di Baku,” kata perjanjian akhir tersebut, mengulangi pernyataan tentang perlunya “triliunan” dolar untuk pendanaan iklim global.
Laporan terbaru Stern-Songwe memperingatkan bahwa pada tahun 2035, negara-negara berkembang, kecuali China, akan membutuhkan 1,3 triliun dolar per tahun untuk pendanaan iklim.
Hal ini berarti, dibutuhkan peningkatan investasi sektor swasta – yang dapat dihasilkan oleh kredit karbon berintegritas tinggi.
Para pemimpin negara-negara G20 juga mengatakan bahwa mereka mendukung Presidensi COP 29 dan “berkomitmen untuk keberhasilan negosiasi di Baku.”
Ketua iklim PBB Simon Stiell, mengirimkan pesan yang jelas kepada para perunding mereka di COP 29, yakni “jangan tinggalkan Baku tanpa tujuan keuangan baru yang berhasil.”
Baca: Brasil desak G20 ambil tindakan nyata atasi pemanasan global
Stiell pekan lalu mengatakan para pemimpin G20 harus setuju untuk menyediakan pendanaan yang dibutuhkan oleh kelompok termiskin di dunia untuk mengatasi krisis iklim atau menghadapi “pembantaian ekonomi.”
Namun kegagalan KTT G20 terkait bahan bakar fosil dikhawatirkan akan mengancam pencapaian Perjanjian Paris. Ambang batas kritis 1,5°C ditetapkan pada KTT iklim COP21 tahun 2015.
Di mana, 196 pihak menandatangani Perjanjian Paris yang mengikat secara hukum, untuk terus membatasi pemanasan global hingga di bawah 1,5°C atau “jauh di bawah 2°C” di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini.
Para ahli memperingatkan, jika titik kritis ini dilanggar di luar batas ini, akan menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan
Kondisi ini selanjutnya berpotensi tidak dapat diubah lagi bagi beberapa sistem penting bumi yang mendukung kelestarian planet ini.
Dalam perjanjian tersebut, para pemimpin G20 mengatakan mereka “mendukung penerapan” target stok untuk meningkatkan energi terbarukan sebanyak tiga kali lipat dan meningkatkan tingkat peningkatan efisiensi energi sebanyak dua kali lipat pada tahun 2030.

Leave a Reply