7cloud.asia – Program makan bergizi gratis digadang-gadang Prabowo dan pendukungnya sebagai solusi masalah stunting di Indonesia
Program makan bergizi gratis yang awalnya ditujukan hanya untuk anak sekolah. Pemerintah belum lama ini menambahkan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai kelompok yang akan menerima makan bergizi gratis.
Tujuannya untuk memastikan anak dan ibu mendapatkan asupan nutrisi yang dibutuhkan demi mendukung tumbuh kembang anak yang optimal.
Program semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai negara, seperti India dan Brasil, program makan gratis di sekolah sudah lama diterapkan dan terbukti efektif meningkatkan status gizi anak, terutama di kalangan masyarakat miskin.
Namun, muncul pertanyaan seberapa efektif program makan bergizi gratis mengatasi masalah stunting yang sangat kompleks?
Dalam tulisan sebelumnya, diulas berbagai tantangan untuk mengatasi stunting. Bahwa stunting bukan melulu pemenuhan gizi anak, tetapi juga soal ekonomi dan lingkungan
Menyiasati sederet tantangan yang dihadapi, pemerintah perlu berpikir secara matang dan menyeluruh dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi program makan bergizi gratis untuk pengentasan masalah stunting.
Baca: Mampukah program makan bergizi gratis atasi masalah stunting
Sejumlah langkah strategis berikut bisa dipertimbangkan pemerintahan Prabowo-:
1. Prioritaskan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita
Program makan bergizi gratis berpotensi meningkatkan status gizi anak usia sekolah.
Namun, untuk mengatasi tengkes, pemerintah perlu memprioritaskan penyaluran bantuan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita berusia 1.000 hari pertama. Ini adalah masa kritis ketika asupan gizi berperan besar dalam pencegahan tengkes.
Pemerintah harus lebih gencar memberikan suplemen gizi, edukasi gizi bagi ibu hamil, serta pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan gizi balita di rumah.
2. Pembangunan, pengawasan, dan evaluasi ketat
Pemerintah harus memastikan bahwa makanan yang diberikan sesuai dengan standar gizi yang dibutuhkan ibu hamil, ibu menyusui, dan anak.
Variasi makanan bagi ibu hamil sangat diperlukan. Pemerintah perlu memastikan ibu hamil menerima makanan bergizi makro, seperti vitamin A dan D, folat, zat besi, zink, kalsium, dan iodium untuk mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah tengkes.
Adapun bagi ibu menyusui, perlu disediakan variasi makanan berupa sayuran hijau, biji-bijian, kacang-kacangan, buah alpukat, dan ikan.
Untuk anak, menu yang disajikan harus beragam dan memperhitungkan kebutuhan gizi spesifik sesuai usia dan kondisi mereka.
Menu makanan yang monoton dan kurang bervariasi dapat membuat asupan gizi anak tidak optimal. Contohnya, anak menerima makanan yang cukup kalori, tetapi minim kandungan zat gizi mikro (mikronutrien) penting, seperti zat besi, kalsium, atau vitamin A.
Baca: Infrastruktur, Layanan Air dan Sanitasi pengaruhi tingginya kasus stunting di Indonesia
Dalam jangka panjang, hal ini bisa membatasi dampak positif dari program makan bergizi gratis untuk mendukung pertumbuhan anak.
Agar proses distribusi makanan berjalan baik, pemerintah juga perlu membangun infrastruktur yang memadai hingga daerah terpencil.
Pemantauan dan evaluasi yang ketat juga harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kualitas makanan tetap terjaga dan tepat sasaran. Jika tidak, program ini bisa kehilangan fokus dan gagal memberikan dampak yang nyata terhadap penurunan angka stunting.
3. Edukasi yang menyeluruh
Selain memberikan makan bergizi gratis, pemerintah harus gencar mengedukasi masyarakat secara menyeluruh, termasuk mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang, kebiasaan makan sehat, serta menjaga kebersihan dan sanitasi di lingkungan keluarga.
Studi di sejumlah negara, termasuk yang diterbitkan pada Maternal and Child Nutrition, menunjukkan bahwa pemberian edukasi kepada orang tua dan komunitas sangat penting dalam mendukung keberhasilan program gizi dan pengentasan masalah stunting di masa depan.
4. Kerja sama lintas sektor
Pemerintahan Prabowo-Gibran harus serius dalam mewujudkan janjinya mengenai penanggulangan stunting, termasuk dalam meningkatkan kualitas sanitasi dan akses terhadap air bersih.
Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang buruk bisa memicu penyakit infeksi, seperti diare yang mengganggu tumbuh kembang anak dan berisiko menyebabkan tengkes.
Karena itu, kerja sama lintas sektor, seperti kesehatan, pendidikan, pertanian, dan sanitasi, sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai faktor masalah stunting.
Baca: Stunting di Indonesia bukan hanya masalah kesehatan
5. Penganggaran yang cermat
Pemerintahan Prabowo harus berhati-hati dalam menyeimbangkan pemenuhan manfaat program ini dengan risiko keuangan yang mungkin terjadi.
Bank Dunia dan berbagai pihak telah menyoroti potensi masalah anggaran, terutama jika program ini tidak direncanakan secara matang.
Mencari sumber pendanaan yang berkelanjutan melalui kerja sama internasional atau pengalihan anggaran dari program yang kurang mendesak dapat menjadi solusi agar program makan bergizi gratis dapat berlanjut tanpa membebani keuangan negara.
Sejumlah langkah strategis di atas bisa dipertimbangkan pemerintah untuk mendukung efektivitas program makan bergizi gratis dalam mengatasi masalah tengkes.
Selain itu butuh pendekatan yang menyeluruh–mulai dari memprioritaskan penerima manfaat, mendorong keterlibatan keluarga, edukasi menyeluruh, pengawasan gizi, pembangunan infrastruktur, serta pendanaan yang cukup– menyertai program makan bergizi gratis.
Jika tidak, program makan bergizi gratis mungkin tidak akan memberikan dampak yang nyata terhadap upaya pengentasan stunting di Indonesia.
Artikel ini masuk dalam edisi khusus #PantauPrabowo The Conversation yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran menjalankan tugasnya.

Leave a Reply