7cloud.asia – “Kehidupan hanyalah sebuah momen, oleh karena itu, menjadi tugas kita untuk memanfaatkannya, bukan menyalahgunakannya.” —Plutarch
“Saya tidak akan pernah bisa menjadi seorang minimalis.” Ungkapan ini seringkali didengar praktisi minimalisme, Joshua Becker sejak memulai blognya becomingminimalist.com.
Setiap kali mendengar ungkapan itu, dua pemikiran muncul di benak Joshua yang sudah belasan tahun menjalani gaya hidup minimalis.
Pertama, dia bertanya-tanya kesalahpahaman apa yang mereka miliki tentang minimalis sehingga membuat menjalani minimalisme tampak begitu sulit.
Namun kedua, yang lebih penting, Joshua berpikir, “Mungkin orang itu sudah menjadi seorang minimalis, tapi dia belum menyadarinya.”
Baca: Tiga aliran dalam gaya hidup minimalis
Kenyataannya, disadari atau tidak, kita sering meremehkan sesuatu dalam hidup kita. Dan begitu kita memahami fakta itu, segala sesuatu tentang kita mulai berubah.
Setiap hari, kita membuat pilihan tentang di mana kita menghabiskan waktu, uang, energi, dan perhatian kita. Menurut definisinya, sumber daya ini terbatas.
Bahkan jika kita adalah orang terkaya di dunia sekalipun, uang dan waktu yang tersedia bagi kita hanya terbatas. Tidak mungkin, kita melakukan atau memiliki segalanya.
“Sepanjang kehidupan kita adalah perdagangan dan pengambilan keputusan,“ demikian Joshua mengingatkan.
Setiap menit setiap hari, kita menukar sesuatu. Dan jika kita tidak meminimalkan harta benda kita, kita meminimalkan hal lain.
Baca: Enam langkah sederhana agar konsisten jalani gaya hidup minimalis
Ketika pertama kali menganut gaya minimalis, Joshua berpikir dirinya hanya termotivasi untuk merapikan rumah agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anaknya.
Namun, tak lama setelah itu dia segera menyadari bahwa minimalisme lebih dari itu. Minimalisme adalah tentang menemukan lebih banyak intensionalitas dengan sumber daya saya.
“Ini bukan hanya tentang memindahkan barang-barang dari rumah kita. Itu tentang membuat pilihan yang lebih baik dalam hidup,“ imbuhnya.
Saat kita mulai memiliki lebih sedikit barang, kita punya lebih banyak waktu untuk hal-hal yang kita sukai. Lebih banyak energi untuk melakukan hal-hal yang penting.
Dan, kita bisa lebih fokus pada apa yang membawa makna nyata dalam kehidupan kita.
Juga lebih banyak uang untuk pelayanan dan kemurahan hati. Kita bahkan mungkin akan menemukan lebih banyak peluang untuk fokus pada pertumbuhan diri dan pengembangan pribadi.
Baca: Minimalisme bisa hindarkan kebiasaan yang memicu stres
Saat mulai meminimalkan harta benda, kita mulai memaksimalkan hal-hal yang lebih penting. Itu selalu terjadi!
Kita semua memperdagangkan sesuatu setiap hari. Kita menghabiskan uang untuk sesuatu, kita menghabiskan waktu di suatu tempat, kita memfokuskan energi dan kasih sayang kita pada arah tertentu.
Dan jika kita sibuk mengejar dan mengumpulkan benda yang tidak kita perlukan, kita meminimalkan sumber daya yang dapat digunakan untuk hal lain. Namun seringkali, kita bahkan tidak menyadarinya.
Ada korelasi langsung antara bertambahnya kepemilikan fisik kita dan berkurangnya sumber daya yang kita gunakan untuk hal lain.
“Jadi, semua orang hidup dengan versi minimalis. Pertanyaannya adalah, apakah kita meminimalkan hal yang benar?“ demikian Joshua mengakhiri tulisannya.

Leave a Reply