Keindahan Kota Paris Memudar Saat Gelombang Panas Melanda

Written by

in

7cloud.asia – Sophie Loran, kepala komunikasi dan advokasi aksi iklim di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) yang tinggal di Paris menceritakan bagaimana menjalani hari di tengah terpaan gelombang panas selama bulan Juni lalu.

Berikut kisah Sophie, bagaimana gelombang panas yang kian ganas telah mengubah perilaku warga dan perspektif pemerintah Kota Paris. Berikut tulisan Sophie sebagaimana dilansir di unep.org

Saya tinggal di salah satu kota terindah di dunia, Paris. Namun, selama gelombang panas, seperti yang melanda Prancis saat ini, Anda hampir tidak dapat memperhatikan keindahannya.

Setelah seharian lagi dengan suhu 35°C, Paris bukan lagi tentang kafe-kafe menawan dan bangunan-bangunan bergaya Haussmann.

Saat musim panas, Paris adalah tentang sisi jalan mana yang teduh, jalur metro mana yang harus dihindari, dan bagaimana mencegah apartemen Anda berubah menjadi oven.

Selama gelombang panas, warga Paris mendesain ulang hari-hari mereka berdasarkan matahari. Di musim panas, saya tidak lagi “memiliki jadwal” tapi hanya memiliki jendela panas.

Sebelum pukul 10 pagi, saya efisien dan optimis. Dari pukul 2 hingga 6 sore, saya hampir menghilang. Setelah pukul 9 malam: saya muncul kembali dengan perasaan “seperti manusia normal.”

Paris, selama gelombang panas, menjadi kota para bangun pagi dan pejalan kaki larut malam. Jika Anda mencoba melawan ritme ini, Anda akan kalah.

Baca: Peringatan di Balik Gelombang Panas Berkepanjangan di Eropa

Di kota yang terkenal dengan gayanya, kebanyakan orang mulai berpakaian untuk bertahan hidup. Pakaian yang terstruktur dan penampilan yang rapi telah hilang.

Sebaliknya, linen menjadi gaya hidup dan ukuran besar menjadi kebutuhan. Gelombang Panas akhirnya membuat semua orang tunduk.

Transportasi pun menjadi keputusan strategis.
Metro, di musim panas, sangat membosankan. Jadi, warga Paris beradaptasi: mengurangi perjalanan panjang di bawah tanah, lebih banyak berjalan kaki (dengan hati-hati, di tempat teduh) dan lebih banyak istirahat di tempat-tempat sejuk.

Anda mulai berpikir: apakah perjalanan ini sepadan dengan kepanasan? Terkadang, jawabannya adalah tidak.

Banyak orang, seperti saya, membuat peta mental tempat-tempat perlindungan yang sejuk. Ini mungkin keterampilan bertahan hidup yang paling penting.

Seiring waktu, Anda belajar ke mana harus pergi ketika terlalu panas: museum, taman yang dipenuhi pepohonan, supermarket acak untuk pendinginan selama 10 menit.

Kemudian, ada cara untuk mengatasinya. Di akhir pekan, banyak orang pergi. Pada saat Jumat tiba, tujuannya sederhana: melarikan diri.

Saya keluar dari kota dan mencari hutan, sungai, dan danau; secara harfiah tempat mana pun di mana udara bergerak dan air ada.

Baca: Otoritas Prancis Catat Hampir 9.000 Kematian Akibat Gelombang Panas Sepanjang Juni

Namun, kemampuan untuk pergi, mencari udara yang lebih sejuk, dan menyegarkan diri adalah sebuah hak istimewa. Kebanyakan orang tidak memiliki pilihan itu.

Dan di situlah menjadi jelas: bertahan hidup dari panas ekstrem secara individu tidak sama dengan menyelesaikan masalah secara kolektif.

Di sinilah pekerjaan saya mulai terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan saya. Saya memimpin komunikasi dan advokasi tentang perubahan iklim.

Sebagai bagian dari pekerjaan itu, saya membantu menyebarkan informasi tentang solusi untuk panas ekstrem, seperti pendinginan berkelanjutan dan bangunan yang tahan banting.

Pesan-pesan tersebut menjadi semakin penting seiring dengan pemanasan global. Peristiwa panas ekstrem, yang dulunya jarang terjadi, kini terjadi hampir tiga kali lebih sering.

Namun, kota-kota kita tidak harus selalu panas. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membuatnya lebih layak huni ketika suhu melonjak.

Kita dapat memperluas apa yang disebut pendinginan pasif dengan melakukan hal-hal seperti menanam pohon dan mengecat atap kita dengan warna putih reflektif.

Baca: 10 Tahun Perjanjian Paris, Dunia Masih Terbelah dalam Ketidakadilan

Kita dapat merancang bangunan kita agar tetap sejuk secara alami dengan memanfaatkan ventilasi silang, menggunakan bahan bangunan yang lebih mudah bernapas, dan membuat langit-langit kita lebih tinggi sehingga udara panas naik dan menjauh dari kita.

Menurut Global Cooling Pledge, kita dapat meningkatkan akses terhadap pendinginan berkelanjutan dengan memperluas pendinginan pasif dan membersihkan teknologi pendinginan sambil meningkatkan efisiensinya.

Namun, kita harus memastikan solusi ini dapat diakses oleh semua orang, bukan hanya mereka yang mampu membelinya.

Beberapa kota sudah mulai bergerak ke arah ini. Di Paris, itu berarti menanam hutan kota, menghijaukan sekolah berkat atap dan ruang hijau, serta merencanakan penanganan panas ekstrem.

Melalui latihan “Paris pada 50°C”, kota Paris telah mulai mengajukan pertanyaan sulit: apa yang terjadi jika suhu musim panas mencapai 50°C dan apakah kita siap menghadapi panas seperti itu?

Pemikiran itu sekarang menjadi bagian dari upaya global yang lebih luas, dengan inisiatif seperti Beat the Heat dari Kepresidenan COP 30 dan Cool Coalition yang dipimpin UNEP serta aktivasi 50@50-nya.

Karena pendinginan bukan hanya tentang kenyamanan lagi. Ini akan menentukan apakah kota-kota kita tetap layak huni di tahun-tahun mendatang.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *