7cloud.asia – Tantangan sangat besar dihadapi Indonesia karena menjadi negara dalam daftar 30 negara paling rentan terkena dampak perubahan iklim.
Indonesia rentan terhadap berbagai bencana ekologis yang diakibatkan perubahan iklim seperti banjir, longsor, kekeringan, kenaikan air laut, misalnya kawasan Jakarta dan sekitarnya yang dekat dengan laut.
Banjir dampaknya besar untuk lingkungan dan manusia, tetapi sebenarnya dampak banjir sangat besar lagi ke ekonomi.
Di satu sisi, Indonesia memainkan peran penting dalam global transisi energi, karena Indonesia merupakan tempat penting untuk penyerapan karbon.
Hutan di Kalimantan dan Sumatera memiliki kapasitas yang tidak jauh berbeda dengan hutan Amazon. Di sisi lain, Indonesia juga produsen bahan bakar fosil terbesar.
Baca: Solusi kota untuk hadapi perubahan iklim
Hal ini diungkapkan Wakil Rektor Bidang Riset Monash University Indonesia Professor Alex Lechner pada virtual meeting dengan jurnalis di tiga provinsi yakni NTT, NTB dan Makassar (Sulsel), Kamis (8/8/2024).
Sebagai seorang peneliti di bidang ekologi lingkungan, Alex mengakui bahwa data tentang Indonesia sangat terbatas, padahal semua dampak perubahan iklim yang ekstrem bisa dilihat di Indonesia, mulai dari longsor, banjir, kekeringan, dan kebakaran.
Koneksi Monash University menjalin kolaborasi dengan jurnalis yang tergabung dalam The Society of Enviromental Journalists (SIEJ) Simpul Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur untuk diseminasi informasi terkait dampak perubahan iklim terhadap kelompok rentan.
“Kolaborasi ini penting untuk peneliti dan jurnalis dalam mengatasi perubahan iklim terhadap tiga kelompok rentan yakni perempuan, lansia dan disabilitas,” katanya.
Dia mengatakan penting dua profesi ini berkolaborasi dalam mendorong kebijakan pemerintah dan memberikan diseminasi informasi tentang perubahan iklim dan upaya melakukan pertahanan (resiliense),
Baca: Kerjasama antargenerasi untuk hadapi perubahan iklim
Hal tersebut mengingat mayoritas negara di dunia telah berkomitmen untuk menangani perubahan iklim dan mencapai target penurunan suhu 1,5 derajat Celcius.
Target ini sebenarnya masuk akal, namun menjadi menantang karena mesti segera dikejar dalam waktu yang terbatas.
Alex mengatakan, sejak tahun 1990-an sebenarnya sudah dikenali ini dan dunia gagal dalam mencegah perubahan iklim. Bahkan tahun 2023 merupakan tahun bumi mengalami suhu terpanas.
Upaya mengatasinya perlu kerja bersama tidak hanya dari pemerintah dan pebisnis, namun juga masyarakat.
“Kita butuh perubahan yang transformatif, mulai dari pakaian yang kita gunakan, pangan yang kita makan, hingga energi yang kita gunakan. Mau tidak mau, bisnis dan masyarakat mesti berubah,” ujarnya.

Leave a Reply