Tiga Tantangan dalam Implementasi Pembangunan Hijau atau Ramah Lingkungan di Indonesia

Written by

in

 

7cloud.asia – Setidaknya ada tiga tantangan yang dihadapi dalam implementasi pembangunan hijau (ramah lingkungan) di Indonesia.

Hal ini diungkapkan Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam PPN/Bappenas Vivi Yulaswati di acara peluncuran inisiatif pengembangan Green Academy bertemakan “Building Environmental Planning Capacity in Achieving Indonesia’s Golden Vision 2045” Rabu (22/5/2024).

Tantangan pertama pembangunan ramah lingkungan adalah kurangnya kapasitas dan proses pengambilan keputusan untuk merencanakan serta melaksanakan kebijakan pembangunan hijau.

Dalam banyak kasus, kebutuhan untuk menerjemahkan kebijakan pembangunan ramah lingkungan ke tingkat praksis yang lebih rinci dan operasional tidak dilakukan.

Baca Juga: Mengarah ke Ekonomi Hijau Indonesia Membutuhkan Banyak Green Jobs

Akibatnya, perencanaan pembangunan ramah lingkungan masih berada pada tingkat makro dan gagal mengatasi permasalahan mendasar.

“Jadi, kita masih punya problem dalam konteks kapasitas dan tentunya pada mekanisme dan proses pengambilan keputusan,” ujarnya

Tantangan kedua adalah permintaan yang tinggi terhadap investasi ramah lingkungan dalam transisi menuju pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim.

Saat Indonesia bersiap untuk melakukan transisi dan menerapkan ekonomi ramah lingkungan dan rendah emisi, diperlukan praktik dan investasi yang mengarah pada pembangunan ramah lingkungan.

Baca Juga: PEPS: Temuan PPATK Jadi Bukti Bahwa Proyek Strategis Nasional Jadi Ajang Korupsi

Transisi ini, menurut Vivi, juga mencakup transisi keterampilan dan tenaga kerja untuk mengisi pekerjaan ramah lingkungan (green jobs).

“Kita perlu investasi yang cukup besar, sehingga berbagai inovasi financing, skema-skema kolaborasi, blended finance, dan sebagainya itu menjadi salah satu yang mungkin akan lebih sering terdengar ke depan,” ungkap dia.

Adapun tantangan terakhir pembangunan ramah lingkungan adalah kesenjangan dalam memperoleh teknologi dan inovasi ramah lingkungan guna mendukung penerapan pembangunan hijau yang berkelanjutan di masa depan.

Karena itu, diperlukan penelitian dan pengembangan teknologi, didorong oleh peraturan dan kelembagaan yang mendukung.

Baca Juga: Kiat Agar Transisi ke Ekonomi Hijau Berjalan Lebih Cepat

Pembangunan ramah lingkungan di Indonesia, ujar Vivi, dihadapkan pada persoalan kesenjangan penguasaan teknologi.

”Teknologi is out there, tapi mengakui akuisisinya tentunya butuh tangan-tangan dari (para akademisi), teman-teman perguruan tinggi untuk juga mengembangkan kapasitas di dalam konteks penguasaan teknologi dan inovasi,” kata Vivi.

Mengacu dari contoh penerapan pembangunan hijau di berbagai negara, ujar Vivi, faktor kunci yang memperlambat isu-isu lingkungan terletak pada aspek keahlian teknis dan kapasitas kelembagaan.

Keduanya harus optimal, termasuk kualitas penelitian, data, dan tata kelola.

Baca Juga: Ekonomi Hijau Justru Menjanjikan Lebih Banyak Pendapatan dan Berkelanjutan untuk Negara

Vivi melanjutkan, beberapa akademi di Asia dan Eropa membentuk apa yang disebut sebagai Sustainable Communities Leadership, Academy for Sustainable Communities, serta European Academy for Sustainable Development.

”Ini bisa menjadi contoh-contoh kita mengembangkan platform pertukaran pengetahuan dan juga tentunya solusi-solusi yang bisa mengkatalis berbagai problem yang kita hadapi saat ini,” ungkap Vivi.

Sumber:Antaranews.com

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *