7cloud.asia – Uni Eropa telah membiayai sebuah penelitian atau laboratorium hidup yang memberikan kesempatan bagi petani untuk mengembangkan pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Laboratoriumi ini menempatkan petani sebagai inti dari uji coba penelitian membantu mengungkap jalan yang lebih jelas menuju pertanian berkelanjutan dan lebih ramah lingkungan.
Adapun laboratorium hidup pertanian berkelanjutan ini dilakukan dengan menguji teknik-teknik yang lebih ramah lingkungan dengan cara yang lebih masuk akal secara ekonomi.
‘Laboratorium hidup’ mengacu pada eksperimen yang memungkinkan petani menentukan persyaratan uji coba penelitian di lahan mereka sendiri.
Dalam waktu bersamaan para petani dapat menjalin kerja sama dengan mitra rantai pasokan untuk memastikan praktik pertanian baru layak secara ekonomi.
Baca: Degradasi tanah akibat penggunaan bahan kimia jadi masalah serius bagi lingkungan
Salah satu petani yang mengikuti laboratorium hidup ini adalah Jerry Alford. Ia adalah petani organik dan penasihat dari Soil Association, sebuah badan amal di Inggris yang mempromosikan pertanian berkelanjutan.
“Petani dapat melihat bagaimana pendekatan baru ini dibandingkan dengan apa yang biasanya mereka lakukan dan ini adalah langkah kecil namun sangat penting untuk menjadi lebih ramah lingkungan,” katanya dikutip earth.org.
Alford menjalankan 22 laboratorium hidup di seluruh Inggris tempat para petani menguji cara menanam campuran kacang-kacangan dan sereal di lahan yang sama dalam kondisi dunia nyata.
Petani memilih teknik dan tanaman yang paling relevan dengan wilayah mereka, dari campuran benih yang mereka tanam dengan teknik yang digunakan untuk memanen dan mengolah biji-bijian.
Baca: Pupuk kandang lebih disarankan ketimbang pupuk kimia
Selanjutnya, cara ini dianalisis oleh para peneliti untuk menentukan potensi manfaat, seperti hasil yang lebih tinggi, kesehatan tanah yang lebih baik, dan penggunaan bahan kimia pertanian yang lebih sedikit.
“Hasilnya lebih berarti bagi petani,” kata Alford.
Ia menjelaskan bahwa produsen pangan terkadang merasa terlepas dari penelitian pertanian yang menghasilkan laporan yang panjang dan rumit, namun kini mereka memiliki kepemilikan konvensional atas penelitian tersebut.
“Mereka juga bereksperimen dalam skala kecil, yang membantu mereka memutuskan apakah sesuatu yang mereka anggap berhasil dan membuatnya lebih mudah untuk diukur,” jelas Alford.
Laboratorium hidup ini merupakan bagian dari proyek Uni Eropa (UE) yang disebut LEGUMINOSE, yang mengorganisir 180 uji coba serupa di tujuh negara Eropa, Mesir, dan Pakistan.
Baca: Pertanian Indonesia disebut sebagai pengguna pestisida terbesar di dunia
Salah satu laboratorium hidup di Inggris telah memberikan wawasan mengenai janji tumpangsari untuk menanam gandum dan kacang-kacangan secara bersamaan.
Eksperimen ini melaporkan terjadi peningkatan hasil sebesar 27 peren pada lahan tumpangsari dibandingkan dengan lahan monokultur pada lahan yang sama.
“Kami juga memiliki bukti berdasarkan pengalaman bahwa terdapat lebih sedikit gulma di jalur tanaman sela dibandingkan dengan tanaman monokultur di sebelahnya,” kata Alford.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini berarti berkurangnya kebutuhan akan bahan kimia pertanian, dan juga menurunkan biaya yang dibutuhkan untuk membeli pestisida.
Manfaat lingkungan dan ekonomi dari pertanian yang ramah lingkungan ini membuat banyak petani ingin mencoba tanaman sela
Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan
Namun, sebagian lainnya masih menunda karena adanya perubahan praktik dan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari cara tanaman sela.
Saat ini, hanya 2 persen petani di Eropa yang menggunakan tanaman sela kacang-kacangan dan sereal.
Dougal Hosford, seorang petani penyewa generasi kedua asal Inggris di Bryanston Estate di Dorset yang mengelola laboratorium hidup LEGUMINOSE mencatat peningkatan hasil panen sebesar 27 persen di lahan tanaman sela.
Ia mengakui bahwa mereka masih menghadapi “kurva pembelajaran yang curam” dalam mencari cara untuk mengarusutamakan tanaman sela. di tanah mereka.
“Kita masih membutuhkan informasi yang kuat untuk membantu memutuskan apakah kita mengambil jalan yang benar atau tidak dan untuk membuktikan pada diri kita sendiri bahwa ada keuntungan menanam lebih dari satu tanaman secara bersamaan,” katanya.
Sumber; earth.org, baca artikel asli di sini

Leave a Reply