7 Isu Krusial Membayangi Pasangan Prabowo-Gibran: Proyek Food Estate yang Gagal (3)

Written by

in

7cloud.asia – Paslon nomor urut 2, Prabowo-Gibran untuk sementara unggul dalam penghitungan cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei.

Dua paslon lain, yakni Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin masih akan menunggu hasil penghitungan resmi KPU, dan belum memberikan kata selamat kepada pasangan Prabowo-Gibran. 

Bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka akan menggugat hasil Pilprs 2024 menyusul ditemukan kecurangan masif sejak pencalonan, pendaftaran, kampanye, pencoblosan dan penghitungan suara

Namun demikian keunggulan sementara pasangan Prabowo-Gibran ini memunculkan sejumlah analisa trkait sederet isu krusial.

Baca: Penegakan HAM bayangi pasangan Prabowo-Gibran

Isu krusial ketiga yang akan kita bahas kali ini adalah program food estate yang pernah ditangani Kemenhan di bawah Prabowo yang oleh banyak pihak dinilai gagal total.

Dan, keunggulan sementara pasangan Prabowo-Gibran juga turut menaikkan peluang berlanjutnya proyek food estate ala Jokowi yang menuai polemik.

Soal food estate ini tim The Cpnversation mewawancarai pakar sosiologi pertanian Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, Angga Dwiartama.

Ia mengatakan food estate atau proyek pertanian massal yang marak sejak era Revolusi Hijau pada 1950-an ini memang menjanjikan produktivitas pangan yang menggiurkan.

Baca: Pembengkakan anggaran pembangunan IKN bayangi pasangan Prabowo-Gibran

Namun, di tengah iklim yang berubah dan risiko cuaca ekstrem seperti saat ini, proyek food estate tersebut berisiko tinggi mengalami kegagalan.

Angga mewanti-wanti, siapapun presiden yang terpilih nantinya harus menimbang dua-tiga kali untuk melanjutkan proyek food estate.

Indonesia, kata dia, sudah dua kali buntung akibat memaksakan diri menggenjot pertanian massal: proyek cetak sawah sejuta hektare era Suharto di Kalimantan Tengah dan proyek lumbung pangan di Merauke pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Dengan kondisi lingkungan sekarang dan perubahan iklim jadi rentan sekali (kegagalan) di pertanian,” ujar Angga seperti dilansir The Conversation.

Baca: Aksi Kamisan serukan penolakan terhadap pasangan Prabowo-Gibran

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa menyebut program food estate di Gunung Mas gagal karena tidak memperhatikan 4 pilar sebelum menjalankan program ini.

Dwi memaparkan sebenarnya proyek food estate jadi wacana lama sejak tahun 1996. Pelaksanannya sempat dihentikan kemudian dibuka lagi ketika rezim berganti hingga rezim Jokowi sekarang ini.

“Lalu kemudian di 2020 dikembangkan lagi food estate, salah satunya di Kalteng. Lalu dibuka lahan baru yang kita kenal sebagai Gunung Mas. Dan bagaimana ceritanya? Gagal total juga,” jelas Dwi seperti yang dilansir Kumparan.

Menurutnya hal ini menurutnya karena pemerintah mengabaikan 4 pilar kaidah ilmiah yang harus dilaksanakan sebelum melakukan program Food Estate.

Baca: Food estate dinilai program gagal saat debat cawapres

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *