Indonesia Masuk 10 Besar Sumber Emisi Karbon Dunia

Written by

in

7cloud.asia – Laporan terbaru dari tim ilmuwan Global Carbon Project menunjukan bahwa Indonesia jadi salah satu negara sepuluh besar penghasil karbon di seluruh dunia.

Emisi karbon yang dihasilkan Indonesia meningkat sebesar 18.3% pada tahun 2022, dan ini merupakan peningkatan paling banyak dibandingkan negara-negara lainnya.

Kenaikan emisi karbon Indonesia antara lain disumbang dari penggunaan energi fosil (khususnya batu bara), alih fungsi lahan, dan deforestasi Indonesia yang tinggi.

Di sektor penggunaan lahan, Indonesia juga menempati posisi kedua sebagai negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia.

Selama 2013-2022, rata-rata emisi karbon dari penggunaan lahan Indonesia mencapai 930 juta ton, menyumbang 19.9% dari total emisi alih fungsi lahan dunia.

Baca: Sektor kehutanan didorong untuk imbangi emisi sektor energi

Bersama dengan Brasil dan Republik Demokratik Kongo, Indonesia menyumbang 55% dari total emisi karbon dari sektor lahan dunia.

Adapun, puncak emisi karbon di Indonesia pada tahun 1997 terjadi akibat kebakaran gambut di Indonesia.

Jika dipaparkan secera mendetil, bagian dari emisi global CO2 dari bahan bakar fosil pada tahun 2023 adalah batu bara (41%), minyak (32%), gas (21%), semen (4%), pencahayaan kilang dan lainnya (2%, tidak ditampilkan).

Temuan ini disampaikan pada Laporan Global Carbon Budget, yang disusun oleh lebih dari 120 ilmuwan internasional dan telah ditinjau oleh rekan sejawat (peer-reviewed).

Para ilmuwan menyatakan bahwa tindakan global untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil tidak berjalan dengan cepat dan cukup untuk mencegah perubahan iklim yang berbahaya.

Baca: Menilik aksi iklim yang dilakukan Indonesia di masa SBY

Juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik mengatakan, tanpa upaya serius mengurangi emisi, besar kemungkinan bahwa kenaikan suhu 1,5ºC di atas pra-industrialisasi akan ditembus dalam jangka waktu tujuh tahun.

Artinya ini beberapa tahun lebih cepat dari proyeksi Laporan IPCC.

“Posisi Indonesia sebagai salah satu sumber emisi karbon terbesar sedunia merupakan peringatan bahwa Indonesia perlu mengambil andil dalam mengurangi jumlah emisi karbon yang dikeluarkan khususnya dari sektor energi dan lahan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (5/12/2023). 

Iqbal menambahkan, sebagai salah salah satu negara yang paling rentan akan perubahan iklim, penting bagi Indonesia untuk berupaya mengurangi emisi karbon.

Langkah ini sekaligus menekan laju perubahan iklim serta mencegah dampak terburuknya demi kelangsungan hidup generasi selanjutnya.

Sementara Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad melaporkan Laporan Global Carbon Budget memperlihatkan bahwa adanya kontradiksi antara data pemerintah dan ilmuwan.

Baca: Aksi iklim di era Presiden Jokowi

“Oleh karena itu, perlu ada transparansi data pemerintah yang disandingkan dengan dara dari berbagian kajian global dan data yang dimiliki masyarakat sipil,” ujarnya.

Ia menambahkan, deforestasi masih terjadi mungkin juga karena Enhanced NDC masih memberikan “kuota” deforestasi sebesar 300 ribu ha per tahun hingga 2030.

Dari 128,7 ribu hektar deforestasi hutan alam yang terjadi pada 2020-2021, 62%-nya terjadi di wilayah izin dan konsesi. Penegakan hukum harus lebih tegas supaya angka deforestasi bisa lebih ditekan.

Selanjutnya, Indonesia harus memperkuat komitmennya dalam menghentikan dan mengembalikan (halting and reversing) laju kehilangan hutan Indonesia.

Ini sesuai yang telah dijanjikan Indonesia pada Glasgow’s Leaders Declaration on Forest and land Use”.

Baca: Komitmen Glasgow, cara dunia hentikan deforestasi 

Juru kampanye energi Trend Asia, Novita Indri mengatakan, ketidakmampuan Indonesia mengurangi ketergantungannya pada batubara menjadi penyebab utama emisi karbon kita 10 besar di dunia.

“Pada 2023 kita memecah rekor ketika awal Desember produksi batubara telah mencapai 703,14 juta ton, melampaui target 694,5 juta ton,” ujarnya.

Angka ini belum menimbang co-firing biomassa kayu, yang berdasarkan data Trend Asia dapat memperburuk 155,9 juta ton emisi dari deforestasi 240.622 hektare hutan alam.

Menurutnya, 43,59% angka emisi Indonesia berasal dari hutan dan lahan, yang menandakan buruknya perlindungan hutan.

“Akibatnya, dampak perubahan iklim yang dialami Indonesia akan semakin parah. Padahal Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim, yang akan memperparah bencana hidrometeorologi yang saat ini saja sudah mendera kita,” pungkasnya. 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *