7cloud.asia – Indonesia masih ketagihan batu bara, wajar jika emisi karbon Indonesia masuk 10 besar di dunia.
Pada 2023 Indonesia memecah rekor ketika awal Desember produksi batu bara telah mencapai 703,14 juta ton, melampaui target 694,5 juta ton.
Angka emisi karbon dari batu bara ini belum menimbang co-firing biomassa kayu, yang berdasarkan data Trend Asia dapat memperburuk 155,9 juta ton emisi dari deforestasi 240.622 ha hutan alam.
Sebanyak 43,59% angka emisi karbon Indonesia berasal dari hutan dan lahan, yang menandakan buruknya perlindungan hutan.
Akibatnya, dampak perubahan iklim yang dialami Indonesia akan semakin parah. Padahal Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim.
Baca: Emisi karbon Indonesia masuk 10 besar dunia
”Ini akan memperparah bencana hidrometeorologi yang saat ini saja sudah mendera kita,” ujar Novita Indri, juru kampanye energi Trend Asia.
Communication Specialist 350.org Indonesia, Firdaus Cahyadi mengatakan, melihat rencana umum energi nasional (RUEN) Indonesia setidaknya sampai pada tahun 2040 masih akan bergantung pada energi fosil terutama batu bara.
Bahkan parahnya diproyeksikan ekspor batu bara akan menurun, tetapi konsumsi batu bara dalam negeri akan terus naik.
Dengan kondisi ini konsumsi batu bara Indonesia semakin besar dari tahun ke tahun, Selain untuk produksi listrik pada jaringan listrik PLN, juga untuk pembangkit captive terutama industri mineral,” ujarnya.
Saat ini, KTT perubahan iklim terbesar sedunia, Conferences of the Parties ke-28 (COP 28) sedang berlangsung di Dubai, Uni Emirat Arab.
Baca: Polusi udara di Dubai memburuksaat COP 28 digelar
COP 28 ini akan menjadi pertemuan yang krusial untuk memastikan komitmen, pendanaan, penggunaan teknologi bersih lebih dari sebelumnya.
Namun, dalam sebuah diskusi She Changes Climate (21/11/2023), Presiden COP 28, Sultan Al Jaber menyatakan bahwa penghapusan bahan bakar fosil termasuk batu bara untuk pencapaian target iklim dunia “tidak berlandaskan sains”.
Ia bahkan menyatakan bahwa menghapus bahan bakar fosil akan mengirim dunia “kembali ke dalam gua”.
Penyangkalan Al Jaber, yang juga memimpin perusahaan minyak nasional Dubai, menuai kritik.
Baca: Sambut COP 28 masyarakat sipil serukan aksi nyata
Sikap Al Jaber dinilai menandai keengganan untuk meninggalkan batu baradan konflik kepentingan industri fosil yang dapat merintangi upaya penanggulangan perubahan iklim.
Temuan peneliti pada Laporan Sintesis IPCC AR6 yang dirilis Maret 2023 lalu menunjukkan bahwa dunia perlu mengurangi emisi CO2 sebesar 48% pada 2030 dan 99% pada 2050 untuk target 1,5oC demi mencegah dampak perubahan iklim yang parah.
“Emisi global pada tingkat saat ini dengan cepat meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfer kita, menyebabkan perubahan iklim tambahan dan dampak yang semakin serius dan meningkat,” kata Professor Corinne Le Quéré, Profesor Riset Royal Society di Sekolah Ilmu Lingkungan UEA.
Baca: Upaya untuk meninggalkan batu bara
“Semua negara perlu melakukan dekarbonisasi ekonomi mereka dengan lebih cepat dari yang sedang dilakukan saat ini untuk menghindari dampak-dampak terburuk dari perubahan iklim.”
“Presiden COP 28 Sultan Al Jaber, yang seharusnya berperan dalam upaya melawan perubahan iklim, justru melakukan penyangkalan sains ketika ia berkepentingan sebagai bagian dari industri fosil.
Indonesia, sebagai negara yang rentan akan dampak perubahan iklim, perlu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai landasan pengambilan keputusan.
”Indonesia mengurangi target produksi batu bara yang bombastis, bertekad bulat mengurangi emisi, dan segera menjalankan transisi energi yang berkeadilan,” pungkas Novita.
Baca: Daftar PLTU batu bara yang mangkrak

Leave a Reply