KLHK Canangkan Sektor Kehutanan sebagai Penyeimbang Emisi Karbon

Written by

in

7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencanangkan sektor kehutanan sebagai penyeimbang emisi karbon yang dihasilkan oleh sektor energi.

Pengurangan emisi karbon dari sektor kehutanan ini ditargetkan mencapai emisi minus 140 juta ton setara karbondioksida pada tahun 2030.

Sektor kehutanan menjadi pemberi kontribusi terbesar dalam penurunan emisi karbon atau karbondioksida (CO2) untuk mencapai Nationally Determined Contribution (NDC).

Baca: Indonesia telah punya bursa karbon

Menurut perkiraan Kemenkeu sektor kehutanan berkontribusi mengurangi 497 juta ton CO2 untuk mencapai target 29 persen atau 692 juta ton untuk target 41 persen. 

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Laksmi Dhewanthi mengatakan emisi karbon di sektor energi masih diproyeksikan meningkat.

Peningkatan emisi karbon dari sektor energi ini karena untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri.

Baca: Bursa karbon Indonesia dikritik karena bisa memperparah ketidakadilan

Laksmi mengatakan, dari segi tingkat konsumsi energi Indonesia masih jauh dibanding rata-rata negara dengan middle income country.

“Saat kebutuhan energi dipenuhi, kita sudah bisa menyeimbangkan dari sektor kehutanan,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Antaranews.com Juni lalu.

Laksmi menuturkan upaya Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sudah mengikuti alur yang telah direncanakan dalam hal pengendalian perubahan iklim, terutama dari sektor kehutanan.

Baca: Bursa karbon diharapkan bisa mendorong ekonomi ramah lingkungan

KLHK mencanangkan kebijakan Indonesia’s Forestry and other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030.

Folu Net Sink adalah sebuah kondisi yang ingin dicapai dimana tingkat serapan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya akan seimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi karbon yang dilepas.

Sasaran implementasi kebijakan tersebut adalah tercapainya tingkat emisi karbon dan gas rumah kaca sebesar minus 140 juta ton setara karbondioksida.

Baca: Perdagangan karbon ditata untuk maksimalkan pendapatan negara, ada yang dirugikan?

Kebijakan penurunan emisi karbon melalui Program Folu Net Sink 2030 menggunakan empat strategi utama.

Yaitu, menghindari deforestasi, konservasi dan pengelolaan hutan lestari, perlindungan dan restorasi lahan gambut, serta peningkatan serapan karbon.

Laksmi mengungkapkan bila sektor energi masih menyumbang emisi karbon pada masa depan, maka sektor kehutanan bisa mengimbanginya.

Baca: Deforestasi salah satu pemicu emisi karbon

Atau bahkan sudah bisa lebih duluan mengurangi emisi karbon supaya ada keseimbangan antara beragam sektor di Indonesia.

“Karena kita harus tetap membangun dan kita berharap pembangunannya menjadi pembangunan yang berkelanjutan,” pungkasnya.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *