7cloud.asia – Tepat pada hari ini, 2 November 1885 Stasiun Tanjung Priok resmi dioperasikan untuk melayani transportasi warga Batavia.
Waktu itu, para pendatang dari luar negeri yang hendak berkunjung ke Batavia (Jakarta), kali pertama pasti menginjakkan kaki di Tanjung Priok.
Di sana terdapat pelabuhan Tanjung Priok yang terintegrasi dengan stasiun kereta api yang kini dikenal dengan Stasiun Tanjung Priok. Kini Stasiun Tanjung Priok terintegrasi dengan terminal bus baik bus dalam kota maupun antar kota.
Saat ini Stasiun Tanjung Priok berstatus sebagai cagar budaya, sesuai SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No: PM.13/PW.007/MKP/05.
Stasiun Tanjung Priok direnovasi pada tahun 2008-2009. Peresmian stasiun ini beserta pengoperasian jalur Tanjung Priok – Jakarta Kota dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Setelah itu , PT KAI bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang (kini BPK VIII) melaksanakan Ekskavasi Bunker di Stasiun Tanjung Priok tahun 2010 serta Identifikasi Kerusakan dan Studi Teknis Stasiun Tanjung Priok pada tahun 2015.
Baca: Sejarah Jakarta, dari Jayakarta menjadi Batavia lalu jadi Jakarta
Saat mengunjungi Stasiun Tanjung Priok pada Minggu (30/10/2023), 7cloud.asia dibuat takjub dengan kemegahan stasiun yang disebut sebagai salah satu yang paling maju di kala itu.
Semua elemen yang ada di Stasiun Tanjung Priok masih terawat dengan baik, dan dibiarkan sesuai kondisi aslinya saat stasiun ini dibangun menjelang akhir abad ke-20.
Dari luar, Stasiun Tanjung Priok tampil anggun dengan gaya art deco. Atap stasiun berbentuk pelana dengan kemiringan sekitar 30˚- 45˚ disertai ornamen list dari kayu. Dinding menggunakan batu bata dilapisi cat putih.
Bangunan stasiun terasa sentuhan gaya arsitektur neo classic dan art deco, hal ini ditunjukkan pada bagian pintu masuk memakai unsur lengkungan di atas pintu masuk.
Pintu tersebut berjumlah tiga buah yang bermaterial kayu kokoh dan kuat. Bukaan berupa jendela dan ventilasi dibuat tinggi dan lebar dengan tujuan memperlancar sirkulasi udara.
Mengingat lokasi Stasiun Tanjung Priok yang berada di daerah pesisir sehingga udara terasa lebih panas.
Baca: Mengenal Kotagede yang menjadi cikal bakal Kota Jogja
Bangunan Stasiun Tanjung Priok yang terbesar dan terindah di Hindia Belanda ini memiliki siluet simetris dengan gaya arsitektur modern awal berbentuk simpel dan geometris yang dipengaruhi aliran kubisme.
Secara dominan, bentuk bangunan Stasiun Tanjung Priok adalah persegi. Hal ini dapat dilihat dari bentuk bangunan secara keseluruhan maupun bukaan berupa pintu dan jendela.
Ornamen berlanggam art deco berupa garis-garis vertikal dan horizontal banyak menghiasi Stasiun Tanjung Priok.
Baiklah kita segera menengok sejarah Stasiun Tanjung Priok yang kini terintegrasi dengan terminal bus, baik TransJakarta maupun bus antar kota.
Dilansir laman resmi PT KAI, Stasiun Tanjung Priok dibangun untuk memfasilitasi kebutuhan Veerenigde Oost-Indie Company (VOC).
Saat itu Kota Batavia adalah pusat segala aktivitas VOC di Asia. Hampir seluruh kapal dari Belanda berlabuh di Batavia, pun sebaliknya komoditas yang hendak dikapalkan ke Balanda diberangkatkan melalui pelabuhan ini.
Baca: Asal muasal nama Kota Jogja
Guna memperlancar pengangkutan pemerintah kolonial Belanda membangun pelabuhan di pusat kota yang kini dikenal sebagai Pelabuhan Pasar Ikan. Tepatnya di Teluk Jakarta yang merupakan muara Sungai Ciliwung.
Namun pertengahan abad ke-19, Pelabuhan Pasar Ikan dirasa sudah tidak mumpuni lagi. Aktivitas pelabuhan yang kian meningkat terutama pasca dibukanya Terusan Seuz (1869).
Sehingga kapal dari Eropa ke Asia tidak perlu lagi mengitari Afrika. Selain itu Pelabuhan Sunda Kelapa sudah tidak dapat menampung kapal-kapal uap berukuran besar.
Oleh karena itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda van Lansberge membangun pelabuhan baru di Tanjung Priok yang dimulai pada tahun 1877.
Beberapa fasilitas penunjang pelabuhan turut dibangun yakni kanal penghubung antara pelabuhan-kota dan stasiun kereta api.
Stasiun Tanjung Priok dibangun persis di atas dermaga pelabuhan, dan dibuka untuk umum pada 2 November 1885 bersamaan peresmian jalur Tanjung Priok-Batavia.
Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta
Jalur sepanjang 9 kilometer yang menghubungkan Tanjung Priok dan Batavia (Kota Tua, red) tersebut dikelola oleh perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS).
Stasiun Tanjung Priok berperan sebagai penghubung antara transportasi laut (pelabuhan) dan transportasi darat (kereta dan mobil).
Kala itu para pelancong dari Eropa ataupun negeri lain yang berkunjung ke Batavia menggunakan kapal, berhenti di Pelabuhan Tangjung Priok. Selepasnya, mereka berganti moda transportasi kereta api daerah lain yang dituju.
Apabila hendak bepergian ke Bogor, penumpang turun di Stasiun Batavia NIS untuk melanjutkan perjalanan. Sedang perjalanan ke Bekasi-Karawang dilayani Stasiun Batavia BOS.
Tercatat pada tahun 1898 terdapat 19 keberangkatan kereta api dari Stasiun Tanjung Priok. Sembilan menuju Stasiun Batavia NIS dan sepuluh menuju Stasiun Batavia BOS.
Durasi perjalanan dari Stasiun Tanjung Prik ke Batavia NIS atau BOS ialah sekitar 18 menit.
Baca: Hari Kota Sedunia, mengungkap harapan warga marjinal kota
Sampai awal abad ke-20 aktivitas di pelabuhan kian meningkat. Setali tiga uang, hal ini juga berdampak positif bagi Stasiun Tanjung Priok yang selalu ramai penumpang.
Guna mempermudah dan menampung penumpang yang lebih banyak, diusulkan pembangunan stasiun baru.
Harian Soerabaijasch Handelsblad edisi 25 Mei 1907 dan Het Niews van den dag voor Nederlandsch Indie edisi 28 Mei 1907 mengabarkan bahwa pada tahun 1908 akan dibuat proposal pembangunan stasiun baru di Tanjung Priok.
Stasiun lama akan dialihfungsikan untuk keperluan layanan bangunan penyelidikan (recherche gebouw dienst).
Namun, baru tahun 1914 rencana tersebut terealisasi. SS membangun stasiun baru di sebelah Stopplaats Sungai Lagoa. Rancangan stasiun baru ini mengusung konsep pembangunan kota industri, didesain oleh C. W. Koch, Kepala Insinyur SS.
Stasiun dibangun di atas pondasi tiang pancang beton bertulang dengan kolom beton bertulang. Konstruksi tersebut dilaksanakan oleh Hollandsche Beton Maatschappij. Sedang pemasangan dinding dan finishing dilakukan di tempat.
Baca: Tantangan menerapkan infrastruktur hijau dalam tata kota
Salah satu hal menarik dalam pembangunan ialah pendirian sebuah pabrik batu bata. Pabrik batu bata semen ini dibangun khusus untuk menunjang kebutuhan pembangunan stasiun.
Hal ini disebabkan selama proses pembangunan pasokan batu bata tidak mencukupi. Selain itu semua harga bahan bangunan melonjak harganya.

Leave a Reply