7cloud.asia – Provinsi Banten 4 Oktober kemarin merayakan hari jadinya ke 23. Provinsi banten tergolong muda karena baru dibentuk pada tahun 2000 berdasarkan UU No. 23 Tahun 2000 tertanggal 17 Oktober tahun 2000.
Banten yang sebelumnya masuk wilayah Jawa Barat, secara resmi menjadi provinsi ke 30 di Indonesia.
Saat itu puncak perayaan tanggal 4 Oktober 2000, puluhan ribu masyarakat Banten datang ke Gedung DPR di Senayan Jakarta, untuk ikut menyaksikan langsung Sidang Paripurna DPR mengesahkan RUU Provinsi Banten.
Meski resmi menjaid provinsi pada tahun 2000, Banten telah memiliki sejarah yang panjang.
Setidaknya ada tiga kisah yang menyebut asal usul nama nama Banten. Kisah pertama adalah asal usul nama Banten menyebut, Banten berasal dari istilah “katiban inten”, yang berarti kejatuhan intan.
Sejarah dari istilah “katiban inten” ini berawal dari sejarah Banten yang semula masyarakatnya menyembah berhala, kemudian memeluk agama Budha.
Kemudian ajaran Islam masuk ke Banten, dan masyarakat pun mulai mengenal dan memeluk agama Islam.
Masyarakat Banten yang memeluk Islam inilah yang digambarkan seolah-olah kejatuhan intan.
Kisah kedua adalah asal usul nama Banten dari istilah istilah “ban inten”. Kisah ini berasal dari cerita Sanghyang Batara Guru Jampang yang melakukan perjalanan dari timur ke barat.
Sanghyang Batara Guru Jampang kemudian sampai ke suatu tempat yang bernama Surasowan.
Baca: Mengenal sejarah Jawa Barat
Setibanya di Surasowan, Batara Guru Jampang duduk di atas batu yang kemudian dinamakan “watu gilang”.
Watu Gilang berasal dari penampakan batu yang disebut bercahaya, yang kemudian dihadiahkan kepada Raja Surasowan.
Surasowan dikelilingi sungai yang jernih airnya, seolah-olah negeri ini dikitari oleh bintang biduri.
Surasowan dilukiskan sebagai cincin yang diemban dengan intan atau dalam bahasa setempat disebut “ban inten” yang kemudian menjadi asal nama Banten.
Kisah ketiga nama Banten diambil dari istilah istilah kata “bantahan”. Cerita yang menyebutkan bahwa Banten berasal dari kata “bantahan”.
Baca: Perumahan di Bodetabek tak dilengkapi layanan transportasi umum
Berawal dari kisah tentang masyarakat yang waktu itu tidak mau tunduk pada peraturan yang telah ditetapkan. Aturan yang dimaksud adalah aturan yang dibuat oleh Belanda ketika tengah menjajah wilayah Banten.
Walau begitu, asal usul nama Banten diperkirakan muncul jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten.
Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai, yakni Cibanten. Dataran yang lebih tinggi di tepi Sungai Cibanten disebut dengan Cibanten Girang yang disingkat menjadi Banten Girang (Banten Atas).
Di usia yang masih sangat muda, Banten kaya peninggalan sejarah dari zaman megalitik sampai penjajah Jepang.
Peninggalan sejarah ini menunjukkan tingginya peradaban nenek moyang serta luasnya pergaulan masyarakat Banten hingga ke tingkat internasional.
Baca: Sejarah Jakarta, dari Jayakarta menjaid Batavia
Banten bukan hanya sosok Sultan Ageng Tirtayasa atau Jendral Daendels yang memaksa rakyat mengerjakan pembangunan jalan 1.000 kilometer dari Anyer hingga ke Panarukan di Jawa Timur.
Lebih dari itu, Banten sebagai sumber pengetahuan yang tak habis-habisnya digali.
Pada abad 16-17, Banten menjadi salah satu kota perdagangan rempah-rempah di kawasan Asia Tenggara dan dikenal sebagai pusat kerajaan Islam.
Banten juga sebagai pusat perdagangan nusantara di bawah kekuasaan Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Ageng Tirtayasa.
Peninggalan Sejarah dan Purbakala (PSP) Banten yang berada di Kawasan Keraton Banten. Diantaranya Keraton Surosowan.
Baca: Metamorfosa Jakarta dengan penataan transportasi publik
Pada tahun 1552, ketika keraton itu mulai dibangun, nenek moyang kita ternyata sudah mengembangkan teknologi penyaringan air bersih.
Pada bagian belakang istana-jika bagian depan istana diasumsikan bangunan yang ada tangganya-terdapat saluran air.
Di depannya ada enam keran (dulu terbuat dari besi berwarna kuning sehingga tempat itu disebut Pancuran Emas) untuk mengambil air bersih yang sudah disaring.
Air bersih bersumber dari mata air Tasik Ardi, berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Keraton Surasowan. Sebelum digunakan untuk minum, air itu harus melalui tiga penyaringan (peninggilan).
Sumber air Tasik Ardi hingga kini masih tetap asri dan menjadi salah satu tempat wisata dalam kawasan Banten Lama, walau debit air yang dikeluarkan jauh lebih kecil.
Baca: Sejarah Kota Bandung, dari Dayeuhkolot lantas ke Cikapundung
Sementara, pipa saluran air menuju keraton tetap terpelihara baik walau sebagian tertutup tanah dan jalan.
Situs dan peninggalan sejarah juga dapat dijumpai di dalam wilayah eks Karesidenan Banten.
Ada Banten Girang yang menyimpan situs zaman megalitik, ada Banten Lama di mana terdapat bekas Keraton Surasowan, Keraton Kaibon, Vihara Avalokitesvara.
Selain itu, ada pula bekas benteng Speelwijk yang dibangun VOC Belanda, terletak 10 km arah utara Kota Serang.
Dan masih banyak lagi bukti-bukti sejarah yang menceritakan kemajuan Banten pada masa lalu.
Kejayaan masa lalu Banten bukan hanya menjadi kenangan. Peninggalan berupa fisik dapat berfungsi untuk bahan kajian ilmiah dan sarana wisata.
Baca: UNESCO akui sumbu filosofi Jogja jadi warisan budaya dunia
Warisan berupa nilai-nilai agama maupun budaya menjadi pijakan bagi pembangunan Provinsi Banten.
Seiring bergulirnya reformasi berdampak pada perubahan sistem politik, salah satunya desentralisasi kekuasaan.
Momentum sangat fenomenal terbentuknya Provinsi Banten tanggal 4 Oktober 2000.
Terbentuknya Provinsi Banten bagaikan napak tilas kejayaan Banten masa lampau.
Provinsi Banten seluas 8.651,20 Km2 yang meliputi empat kota dan empat kabupaten memiliki potensi alam cukup tinggi.
Secara topografi terdiri atas dua bagian besar, yaitu, daerah perbukitan di sebelah selatan (Kabupaten Lebak dan Pandeglang) dan daerah dataran rendah di bagian lainnya.
Baca: Mengenal Palembang, kota tertua di Indonesia
Terdiri dari empat kota (Kota Serang, Tangerang, Cilegon, dan Kota Tangerang Selatan) dan empat kabupaten (Kabupaten Serang, Tangerang, Pandeglang, dan Kabupaten Lebak).
Kota Tangerang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Serang adalah daerah dengan aktivitas ekonomi cukup tinggi.
Hal ini karena daerah tersebut merupakan kawasan industri, terutama industri manufaktur.
Kabupaten Lebak dan Pandeglang merupakan daerah hijau, hutan dan perkebunan banyak terdapat di sana.
Sementara Kota Tangerang Selatan merupakan kota jasa, perdagangan, serta banyak lembaga pendidikan bergensi dan bertaraf internasional.
Baca: Salatiga, salah asatu kota tertua di Indonesia
Provinsi Banten juga memiliki Taman Nasional Ujung Kulon, di Kabupaten Pandeglang yang masih hidup populasi hewan langka yang di dunia hanya ada di Ujung Kulon.
Bandara internasional Soekarno-Hatta merupakan gerbang utama Indonesia berada di Kota Tangerang.
Sektor pariwisata, Porivinsi Banten yang ketiga sisinya dikelilingi laut, dari Cilegon hingga Labuhan jalan melingkar menyusur tepi pantai Selat Sunda merupakan kawasan wisata sangat kesohor.
Pelabuhan penyeberangan ke Sumatera menambah Provinsi di ujung barat Pulau Jawa ini sangat sibuk. Dihubungkan oleh ruas tol langsung sampai Jakarta.
Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

Leave a Reply