7cloud.asia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta semua pihak untuk mewaspadai kelangkaan pasokan pangan yang disebabkan oleh perubahan iklim dan situasi geopolitik dunia.
Jokowi menyebut sejumlah fenomena seperti kenaikan suhu bumi yang memicu perubahan iklim, kekeringan, kemarau panjang dampak El Nino terjadi di mana-mana, sehingga menyebabkan gagal tanam yang mempengaruhi pasokan pangan.
“Ancaman perubahan iklim, dan yang kedua juga yang berkaitan dengan geopolitik dunia, yang juga berpengaruh pada pasokan pangan,” ungkap Presiden di sela pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), di JI-EXPO, Kemayoran, Jakarta, Jumat lalu.
Di sisi lain krisis geopolitik dunia yakni perang antara Rusia dan Ukraina juga menyebabkan kelangkaan pangan.
Baca: Diduga ada penyelewengan, PDIP sebut food estate layak dievaluasi
Perang dua negara penghasil gandum terbesar itu, ujar Jokowi, menyebabkan sebanyak 207 juta ton gandum tidak bisa diekspor karena alasan keamanan.
Kondisi ini mengganggu pasokan pangan di Afrika, Asia maupun di Eropa, sehingga membuat harga pangan naik secara drastis,
“Bahkan kemarin saya membaca sebuah berita, di satu negara maju di Eropa, anak-anak sekolah banyak yang sudah tidak sarapan pagi. Yang biasanya sarapan pagi, sekarang ini sudah tidak sarapan pagi karena kekurangan bahan pangan, karena mahalnya bahan pangan,” kata Jokowi.
Kelangkaan pangan yang terjadi di seluruh dunia tersebut, membuat sebanyak 22 negara menghentikan ekspor pangan, termasuk beras, untuk mengamankan pasokan di negaranya masing-masing.
“Ada Uganda, Rusia, India, Bangladesh, Pakistan, dan Myanmar terakhir juga akan masuk lagi tidak mengekspor bahan pangannya,” imbuhnya.
Baca: Kegagalan food estate dan dampaknya bagi lingkungan
Jokowi menegaskan, jika kondisi ini dibiarkan terus berlangsung maka semua harga bahan pokok pangan semuanya akan naik.
Oleh sebab itu, ia memandang perlunya visi taktis yang memuat rencana kerja detail dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan terkait program kedaulatan pangan.
Menurut Jokowi, kedaulatan pangan sangat diperlukan untuk menghadapi peningkatan jumlah penduduk yang terus bertambah.
Saat ini, lanjutnya, penduduk Indonesia sudah 278 juta, dan akan terus bertambah. Di tahun 2030 diperkirakan sudah mencapai 310 juta, karena pertumbuhan penduduk Indonesia kita 1,25 persen per tahun.
“Artinya sekali lagi, pangan menjadi kunci. Seperti yang disampaikan oleh Bung Karno, pangan merupakan mati hidupnya suatu bangsa, itu betul sekali, beliau sudah melihat kejadian yang sekarang ini kita alami,” tegasnya.
Baca: Empat kampung di Lebak ditenggelamkan demi Bendungan Karian
Ia menjelaskan, visi taktis yang memuat rencana kerja detail tersebut juga diperlukan untuk merencanakan jumlah pembangunan infrastruktur penunjang produksi pangan, seperti irigasi dan embung.
Jokowi juga menilai, jumlah infrastruktur penunjang produksi pangan di Indonesia masih sangat kurang dibandingkan dengan negara-negara lain.
Sampai tahun depan, Indonesia baru akan menambah kira-kira 61 waduk. Total waduk kita kurang lebih nanti plus 230 berarti kurang lebih 300-an waduk.
Angka ini, menurut Jokowi, masih sangat kecil jika dibanding dengan Korea atau China.
Baca: Jokowi minta Ganjar Pranowo susun rencanan pasokan pangan mulai sekarang
“Belum ada 10 persennya kita. Artinya, masih perlu kerja keras untuk menyelesaikan infrastruktur yang berkaitan dengan pangan yang kita miliki,” ujarnya.
Karena itu, Jokowi berpesan pada calon presiden yang akan datang untuk serius menangani masalah ini. Dan mulai menyusun rencana pemenuhan pangan sejak sekarang.
Sumber: Setkab

Leave a Reply