7cloud.asia – Pemerintah dalam hal ii Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menargetkan pengelolaan sampah bisa diselesaikan di tapak.
Wamen LH/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono mengatakan, untuk itu pihaknya tengah menyiapkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri terkait pengaktifan kembali Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle (TPS3R).
KLH menargetkan agar 1.195 Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) dapat beroperasi di seluruh Indonesia untuk mendukung pengelolaan sampah.
Menurut data yang dia pegang, TPS3R banyak yang mangkrak atau non-aktif. Diaz memperkirakan sekitar 30 persen TPS3R yang ada tidak berfungsi, padahal instalasi ini memegang peran penting dalam pengelolaan sampah.
“Jadi kami di KLH sendiri sebenarnya sedang mendraf SKB 4 Menteri untuk mereaktivasi TPS3R,” kata Diaz dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah di Jakarta, Kamis (26/2/2026)
Baca: Mayoritas TPS3R di Indonesia tidak berfungsi optimal
“Jadi bapak-bapak, ibu-ibu, nanti mohon juga di daerah didorong supaya lebih banyak TPS3R,” tambahnya.
Pengaktifan kembali TPS3R diperlukan, katanya, karena pemerintah menargetkan pengelolaan sampah dapat mencapai 100 persen pada 2029.
Adapun volume sampah yang harus dikelola diperkirakan mencapai 146.780 ton per hari secara nasional pada 2029.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menargetkan pengolahan 38 persen dari total sampah secara efektif.
Upaya ini krusial guna mencegah terjadinya kelebihan kapasitas (over capacity) Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mengingat proyeksi volume sampah pada tahun 2045 diprediksi mencapai 82 juta ton per tahun.
Baca: Semua TPA dengan sistem open dumping akan ditutup pada 2028
Detail rencana
Diaz memaparkan, khusus untuk TPS3R dan Bank Sampah Induk ditargetkan dapat mengelola 29.124 ton per hari atau sekitar 19,84 persen di tingkat desa/kelurahan pada 2029.
Sedangkan pengelolaan dari sumber melalui biodigister dan kompos diharapkan dapat mencapai 12,40 persen dari total timbulan sampah per hari.
Sementara itu akan digunakan juga pengelolaan menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) untuk mengelola 25,29 persen dari sampah harian dan TPST Non-RDF untuk daerah yang tidak memiliki off taker RDF mengelola 19,98 persen.
Untuk skala besar, pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) diharapkan dapat menyelesaikan 33.000 ton sampah per hari atau 22,48 persen timbulan sampah pada 2029.
Sisanya atau 30 persen dari total timbulan sampah, lanjut dia, akan dikelola di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang hanya menyisakan residu.

Leave a Reply