Upaya Negara-negara di Dunia Menjaga Kelestarian Keanekaragaman Hayati

Written by

in

7cloud.asia – Pada tahun 2022, 196 negara mengadopsi Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (Global Biodiversity Framework/GBF Kunming-Montreal), rencana paling ambisius di dunia untuk melindungi keanekaragaman hayati.

Di bawah Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal ini, negara-negara telah berkomitmen untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati pada tahun 2030 dan untuk hidup harmonis dengan alam pada tahun 2050.

Rencana ini menetapkan empat tujuan jangka panjang untuk tahun 2050 dan 23 target untuk tahun 2030, termasuk melindungi 30 persen lahan dan laut serta memulihkan ekosistem yang terdegradasi.

Oleh negaranegara penandatangan, Kerangka kerja ini dituangkan dalam dalam Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional, (National Biodiversity Strategies and Action Plans/NBSAP) atau rencana setiap negara untuk melindungi alam.

Di mana negara-negara penandatangan harus memperbarui dan menerapkan NBSAP yang mencerminkan tujuan dan target GBF.

NBSAP adalah peta jalan nasional yang memandu bagaimana negara-negara melestarikan tumbuhan, hewan, dan ekosistem, serta bagaimana mereka menggunakan sumber daya alam secara berkelanjutan dan adil.

Baca: Masyarakat dunia harus mempercepat upaya konservasi untuk menjaga keanekaragaman hayati

NBSAP penting karena semua orang bergantung pada alam untuk makanan, air, kesehatan, dan mata pencaharian. Namun, keanekaragaman hayati menurun dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Program Lingkungan PBB, UNEP mencatat, sekitar 40 persen lahan di dunia mengalami degradasi, hutan hilang setiap tahun, dan 1 juta spesies berisiko punah.

Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional membantu negara-negara merespons krisis ini dengan memperkuat hukum lingkungan, memandu kebijakan publik, dan memobilisasi pendanaan nasional dan internasional untuk alam.

“Tanpa NBSAP yang kuat, komitmen keanekaragaman hayati global tidak dapat dicapai,“ demikian pernyaaan yang dilansir di laman resmi UNEP

Semua penduduk Bumi, terutama yang paling rentan, akan merasakan manfaat perlindungan keanekaragaman hayati.

Pasalnya, hilangnya keanekaragaman hayati seringkali paling berdampak pada komunitas pedesaan, perempuan, masyarakat adat, dan kelompok marginal.

Baca: Sejuta species di planet Bumi terancam punah

Lahan yang terdegradasi dan penurunan kesuburan tanah mengurangi produksi pangan dan memicu kenaikan angka kemiskinan.

Dengan memulihkan ekosistem dan mempromosikan penggunaan lahan berkelanjutan, NBSAP dapat meningkatkan mata pencaharian, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi ketidaksetaraan.

NBSAP mendukung pembangunan berkelanjutan
Alam adalah fondasi pembangunan berkelanjutan. Lebih dari 75 persen tanaman pangan bergantung pada penyerbuk, ekosistem yang sehat menyediakan sebagian besar air tawar dunia, dan hampir setengah dari aktivitas ekonomi global bergantung pada alam.

NBSAP membantu melindungi sistem alam ini, mendukung kemajuan dalam bidang kesehatan, ketahanan pangan, air bersih, pengurangan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi—prioritas utama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

NBSAP juga berkontribusi pada aksi iklim. Ekosistem yang sehat membantu mengatur iklim dengan hutan menyerap 2,6 miliar ton karbon dioksida setiap tahun dan lahan basah serta tanah menyimpan karbon dan mengurangi dampak banjir dan kekeringan.

NBSAP membutuhkan pendekatan seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat. Ini berarti melibatkan semua kementerian pemerintah, serta Masyarakat Adat dan komunitas lokal, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta.

Keanekaragaman hayati harus diintegrasikan ke dalam perencanaan nasional di berbagai sektor seperti pertanian, kesehatan, energi, keuangan, pertambangan, dan infrastruktur.

Baca: Deforestasi hancurkan keanekaragaman hayati

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *