7cloud.asia – Rencana pemerintah membangun tol dalam kota Bandung atau Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR) dinilai sangat tidak tepat.
Menurut Pengamat Tata Kota dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Frans Ari Prasetyo, sejak awal Bandung tidak didesain sebagai kota besar yang dapat menampung mobilitas warga dan kendaraanya dalam jumlah besar.
Pembangunan BIUTR dengan ruas-ruas jalan di tengah kota justru hanya akan berdampak negatif pada lingkungan dan mengubah landscape Kota Bandung.
“Selain berada di wilayah cekungan, Bandung didesain sebagai kota dengan mobilitas pendek, mirip dengan kota-kota di Eropa. Jadi, keberadaan tol dalam kota ini sebenarnya tidak sesuai dengan karakter dasar Bandung,” ujar Frans, Rabu (3/12/2025) dikutip TribunJabar.
Rencana pembangunan BIUTR ini, kata dia, seolah pemerintah terus-menerus memfasilitasi kendaraan pribadi dan melupakan kewajibannya dalam menyediakan fasilitas transportasi publik yang layak bagi masyarakat.
“Proyek ini tampak dipaksakan dan keberadaan BIUTR ini jelas akan mengubah landscape Kota Bandung,” katanya.
Sebaiknya, kata Frans, pembangunan tol difokuskan untuk menghubungkan Kota Bandung dengan daerah lain di cekungan Bandung seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Bandung Barat dan Kota Cimahi.
“Menurut saya BIUTR ini akan berguna jika dibangun bukan membelah Kota Bandung, bukan di dalam kota. Sebaiknya BIUTR menghubungkan Bandung dengan kota-kota satelitnya, seperti Sumedang, Cicalengka, Padalarang, dan lainnya. Itu jauh lebih bermanfaat,” ucapnya.
Sementara mobilitas dalam kota, kata Frans, dapat diintegrasikan dengan transportasi publik yang sudah ada. Membangun jalan terus menerus pun, kata dia, justru hanya akan mendorong masyarakat untuk memakai kendaraan pribadi.
“Ini bukan solusi, solusinya adalah transportasi publik. Jadi, rencana ini tidak tepat jika berada di tengah kota atau di area cekungan Bandung,” katanya.
Selain itu, kata dia, membangun jalan layang di tengah kota juga merupakan pendekatan yang salah. Sebab, keberadaan infrastruktur berat seperti flyover dapat meningkatkan daya kompaksi tanah, sehingga kemampuan tanah di Kota Bandung untuk menyerap air semakin berkurang.
“Bandung yang seharusnya berfungsi seperti spons, nanti tidak lagi mampu menyerap air hujan, sehingga banjir akan semakin sering terjadi,” ucapnya.
“Kita juga harus ingat, bahwa rancangan Pemerintah Kolonial Belanda dulu menempatkan Bandung sebagai kota yang sangat memperhatikan unsur ekologisnya. Infrastruktur berat di berbagai titik justru merusak prinsip dasar itu,” tambahnya.
Pembangunan tol dalam kota dengan jembatan layang pun, kata dia, merupakan gaya pembangunan era 1960-an. Negara-negara seperti di Korea, Jepang dan negara di benua Amerika serta Eropa sudah melakukan.
Tapi mereka kemudian mengakui itu adalah kesalahan besar. Sejak tahun 1980-an, banyak kota menghancurkan flyover karena dianggap merusak tata ruang dan ekologi.
“Salah satu contoh di Sungai Cheonggyecheon Korea Selatan. Dulu di atasnya ada jalan tol layang yang kemudian dihancurkan, lalu dikembalikan menjadi sungai yang memiliki fungsi ekologis,” katanya.
“Celakanya, Indonesia. Termasuk Bandung, justru masih mengadopsi pola pembangunan lama itu,” katanya.
Sumber: Tribunnews

Leave a Reply