Ganjar Pranowo: Mahasiswa Selalu Memegang Peran Sentral dalam Sejarah Bangsa

Written by

in

7cloud.asia – Sejarah perjalanan bangsa Indonesia tidak pernah bisa dilepaskan dari peran sentral gerakan mahasiswa.

Dalam setiap sekuel perjalanan bangsa Indonesia, sejak pra kemerdekaan hingga pasca reformasi, mahasiswa hampir selalu menjadi pengawal utama denyut nadi demokrasi.

Hal ini diungkapkan mantan gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, saat jadi pembicara dalam diskusi publik bertema “Tantangan Demokrasi dan Masa Depan Gerakan Mahasiswa Indonesia” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).

Dalam diskusi yang digelar di Auditorium Mochtar Riady, Kampus FISIP UI, Depok tersebut Ganjar memaparkan tentang gerakan mahasiswa dari tahun ke tahun.

Ganjar yang juga alumni Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI, menyebutkan tiga peran utama mahasiswa dalam sejarah politik nasional maupun global.

Baca: Menebak arah gerakan mahasiswa jaman now

“Gerakan mahasiswa selalu memainkan tiga peran utama dalam sejarah politik global, yaitu pemicu perubahan, penjaga moral publik, ideologis, dan intelektual; serta hasilnya sangat beragam ada yang bisa menjatuhkan rezim, mengubah hukum, perubahan budaya sosial-politik atau bahkan gagal,” jelasnya.

Dalam diskusi tersebut, Ganjar menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi mahasiswa, yakni polarisasi ideologis dan fragmentasi gerakan.

Namun, dia menekankan bahwa perbedaan ideologi ini tidak seharusnya melemahkan gerakan mahasiswa, melainkan menjadi bahan baku untuk membangun tujuan bersama.

“Setiap mahasiswa membawa gagasan dan perspektif masing-masing. Keberagaman ini sehat. Jika kita menunggu sampai semua sama, persatuan tidak akan pernah terwujud. Justru karena berbeda, kita perlu berorganisasi,” jelasnya.

Ditambahkannya, organisasi merupakan instrumen yang mampu mengubah perbedaan menjadi kekuatan kolektif.

Baca: Mendorong aktivisme digital jadi penggerak perubahan sosial

Ganjar juga menyoroti perubahan bentuk gerakan sosial di era digital. Menurutnya, mahasiswa kini dapat berkolaborasi dengan berbagai gerakan sosial yang bersifat cepat dan fleksibel, termasuk micro-activism atau digital micro-movement

Istilah ini mengacu pada aksi sederhana, seperti share, like, atau repost yang dapat menyebar viral dengan cepat dan biaya rendah.

Ganjar menekan, gerakan mahasiswa dan kaum muda perlu mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif agar isu yang mereka angkat dapat tersampaikan secara efektif kepada publik.

Ganjar mencontohkan kampanye kreatif, seperti “Garuda Biru,” “Indonesia Gelap,” dan “Kabur Aja Dulu”, yang menurutnya berhasil menyampaikan pesan secara singkat dan kuat melalui pendekatan visual dan algoritma media sosial.

“Cara kreatif dan inovatif bisa muncul dari diskusi, membaca, dan mengikuti perkembangan. Namun, selain itu, cara kreatif dan menyampaikan informasi yang kredibel dilakukan dengan basis data,” ujarnya.

Baca: Viral peringatan #DaruratIndonesia, ini artinya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *