Pemkot Yogyakarta Gandeng BRIN untuk Atasi Masalah Pengelolaan Sampah

Written by

in

7cloud.asia – Anggota Dewan Pengarah BRIN, Tri Mumpuni Wiyatno mengungkapkan pengelolaan sampah tidak semata terkait teknologi penanganannya, tetapi juga menyangkut budaya dan cara pandang masyarakat.

Mumpuni menyampaikan bahwa kebiasaan pengelolaan sampah perlu dibangun sejak dini agar menjadi karakter yang terbawa hingga dewasa.

Kurikulum pengelolaan sampah, ujarnya, harus mulai diperkenalkan sejak dini. Kalau sejak kecil sudah terbiasa menempatkan sampah pada tempatnya, maka itu akan menjadi perilaku yang melekat.

”Oleh karena itu, pendidikan lingkungan dan kebiasaan baik pengelolaan sampah dapat mulai diperkenalkan melalui pembelajaran di tingkat PAUD dan TK,” ungkapnya saat menyampaikan hasil riset terkait pengelolaan sampah dalam rangkaian acara Diseminasi Hasil Riset 2025, di Yogyakarta, Senin (27/10/2025)

Ditegaskannya, jika dilakukan dengan tepat, pengelolaan sampah memiliki potensi ekonomi yang tidak kecil.

Mumpuni mencontohkan bahwa teknologi Fast Pyrolisis memungkinkan sampah plastik kemasan seperti bungkus mie instan dan sabun cuci untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif sekaligus mengurangi volume sampah secara signifikan.

Baca: Pemerintah Kota Yogyakarta bagikan 5000 ember untuk olah sampah organik

“Di Semarang, melalui kolaborasi riset pusat dan daerah, dengan menggunakan teknologi yang namanya Pyrolisis, sampah residu yang ada di Semarang dapat diolah menjadi bahan bakar cair yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar kapal nelayan,” terangnya.

Lebih lanjut, Mumpuni mencontohkan penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas seperti yang berkembang di Kabupaten Ciamis.

Pengelolaan bank sampah dipadukan dengan budidaya maggot untuk pakan ternak. Dari sistem tersebut, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi yang cukup besar.

Pendapatan dari kegiatan ini bisa mencapai Rp 24 juta per siklus produksi. Jadi, pengelolaan sampah dapat menggerakkan ekonomi warga dari level rumah tangga. Sehingga pengelolaan sampah bisa menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat akar rumput.

“Dengan sirkular ekonomi dari bawah, ekonomi akan berputar yang dimulai dari rumah tangga dan komunitas,” jelasnya.

Ia mendorong penguatan kolaborasi dan perubahan pola pikir masyarakat dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, kesadaran bersama untuk bertanggung jawab terhadap sampah merupakan bagian dari proses rekonstruksi sosial.

Baca: Darurat pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya teratasi

“BRIN siap mendampingi, termasuk pelatihan operator. Dengan kerja sama yang baik, pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menyambut baik inisiatif BRIN dalam mendukung pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa kota Yogyakarta saat ini menghasilkan sekitar 300 ton sampah per hari, sementara lahan pengolahan sangat terbatas.

“Kita sudah tidak lagi bisa mengandalkan TPA Piyungan. Artinya, kita butuh jurus baru,” ujarnya.

Pemerintah Kota DIY pun telah mencanangkan gerakan MasJos (Masyarakat Jogja Olah Sampah) dengan slogan ‘Jogja Olah Sampah itu Jos!’ sebagai upaya rekonstruksi sosial menuju budaya bersih dan mandiri.

Hasto menambahkan bahwa perubahan perilaku masyarakat merupakan tantangan utama dalam pengelolaan sampah. “Sampah bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga budaya dan kepribadian. Rekonstruksi sosial harus berangkat dari kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Melalui gerakan MasJos, Pemkot DIY mendorong warga untuk memilah sampah dari rumah, memanfaatkan bank sampah, hingga mengolah sampah organik menjadi pupuk dan pakan ternak.

Ia juga memperkenalkan program Jurus Ember dan Tim Reaksi Cepat MasJos (TRC MasJos) untuk menangani sampah rumah tangga dan barang besar.

Baca: Sepertiga produksi sampah di Kota Yogyakarta belum tertangani

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *