UNEP: Dana untuk Konservasi Hutan Global Tidak Mencukupi dan Banyak Salah Sasaran

Written by

in

7cloud.asia – Baru-baru ini Program Lingkungan PBB/UNEP merilis laporan terbarunya, bertajuk “2025 State of Finance for Forests: Unlock. Unleash. Realizing forest potential requires tripling investment in forests by 2030,”.

Laporan ini mengkaji bagaimana mewujudkan potensi hutan yang membutuhkan investasi hutan tiga kali lipat pada tahun 2030.

Dalam laporan itu UNEP mengidentifikasi untuk pertama kalinya skala kesenjangan keuangan yang menghambat pengelolaan hutan lestari, meskipun terdapat komitmen yang dibuat berdasarkan perjanjian internasional seperti Konvensi Rio, Perjanjian Paris, dan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal.

Temuan utama laporan Keadaan Keuangan Hutan meliputi adanya Pendanaan tahunan saat ini (2023): Total sebesar 84 miliar dolar yang terdiri dari:
– 75 miliar dolar dari sumber publik domestik (88 persen)
– 3 miliar dolar dari sumber publik internasional (3 persen)
– 7,5 miliar dolar dari pendanaan swasta (9 persen)

Sedangkan pendanaan tahunan yang dibutuhkan dari sumber publik dan swasta:
– 300 miliar dolar pada tahun 2030
– 498 miliar dolar pada tahun 2050

Baca: UNEP dorong peningkatan investasi pelestarian hutan global

Laporan ini menemukan kesenjangan pendanaan hutan tahunan sebesar 216 miliar dolar antara arus keuangan saat ini dan investasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kehutanan global pada tahun 2030.

Laporan ini memperingatkan, modal yang ada yang diarahkan untuk konservasi, restorasi, dan pemanfaatan hutan berkelanjutan tidak hanya tidak mencukupi tetapi juga salah sasaran.

Lebih lanjut, insentif yang menyimpang mengerdilkan investasi positif: subsidi yang berpotensi merusak lingkungan di bidang pertanian melebihi 400 miliar dolar per tahun, berkontribusi pada hilangnya 2,2 juta hektare hutan setiap tahun

Angka ini setara dengan area yang lebih dari 30 kali luas Nairobi, kota tuan rumah kantor pusat UNEP.

Laporan tersebut menekankan bahwa menyelaraskan pembangunan ekonomi dengan perlindungan hutan akan membutuhkan pengalihan modal dari kegiatan yang berkaitan dengan deforestasi dan menyelaraskan kembali insentif fiskal dan kebijakan dengan tujuan ketahanan pangan dan keberlanjutan.

Baca: Bagaimana dunia seharusnya memahami dana ‘loss and damage’

Investasi masih minim
Sementara itu, meskipun ratusan perusahaan telah berjanji untuk mencapai nol deforestasi pada tahun 2030, investasi dalam rantai pasokan berkelanjutan masih minim.

Laporan tersebut menguraikan sumber-sumber potensial untuk mengisi kesenjangan pendanaan. Laporan tersebut juga merekomendasikan untuk memprioritaskan pendanaan untuk perlindungan hutan sebagai pendekatan yang sangat hemat biaya.

Dibandingkan dengan restorasi hutan atau kegiatan positif lainnya untuk hutan, perlindungan hutan hanya membutuhkan 32 miliar dolar dari total pendanaan tahunan tambahan yang dibutuhkan pada tahun 2030, sementara mencakup 80 persen dari total luas lahan yang dibutuhkan.

UNEP berkomitmen untuk mengintegrasikan aksi kehutanan ke dalam rencana nasional, termasuk strategi mitigasi dan adaptasi iklim, memberikan insentif bagi pengelolaan hutan oleh masyarakat lokal.

UNEP juga bekerja sama dengan pemerintah, bisnis, dan lembaga keuangan untuk menutup kesenjangan investasi kehutanan dan mengalihkan modal dari kegiatan terkait deforestasi.

Baca: Risiko besar di balik ‘gula-gula’ pasar karbon dunia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *