Film Dokumenter “Limbah Nikel dan Mimpi Energi Bersih”: Kerusakan di Balik Mimpi Transisi Energi

Written by

in

7cloud.asia – Di balik narasi indah hilirisasi nikel untuk transisi energi, ada ancaman besar yang luput dari sorotan mata masyarakat

Ancaman itu adalah buruknya kondisi kerja, ancaman limbah beracun industri nikel pada lingkungan dan kesehatan manusia, dan juga goyahnya kehidupan sosial masyarakat setempat.

Itulah yang digambarkan dalam film dokumenter “Limbah Nikel dan Mimpi Energi Bersih” yang dilaunching di kanal YouTube Tempo TV pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Film dokumenter hasil kerja bareng AEER (Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat), Tempo TV, dan Asia Research Centerini menampilkan daya rusak penambangan dan pengolahan nikel pada lingkungan dan tatanan sosial.

Tanpa banyak kata-kata, film dokumenter ini menyuguhkan bukti visual dampak yang dirasakan masyarakat setempat dan para pekerja. Suara serikat pekerja, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil juga dimunculkan di film dokumenter ini.

Air sungai yang memerah akibat kontaminasi logam berat, tumpukan tailing di darat yang rawan longsor, kondisi kerja yang berat sehingga memicu kecelakaan kerja, hingga analisis ahli terkait risiko bocornya limbah nikel ke ekosistem laut dan pesisir, tersaji lengkap dalam film berdurasi 24 menit.

Terungkap, bagaimana masyarakat setempat terpinggirkan dan dipaksa hidup berdampingan, hanya dengan pembatas pagar seng dan tanpa zona penyangga, dengan industri nikel di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang menghasilkan limbah berbahaya.

Bahkan ada sebagian masyarakat yang tanahnya kini terkurung bangunan industri nikel ini, dipaksa menghadapi risiko kerusakan lingkungan yang terus meningkat, mulai pencemaran air dan udara, deforestasi, rusaknya lahan pertanian dan habitat pesisir.

Baca: Polusi membuat sakit warga di daerah tambang nikel

Konflik agraria sampai kecelakaan kerja dalam pengelolaan tailing atau limbah sisa pemrosesan bijih nikel juga menjadi masalah di IMIP.

Hampir setiap hari, dilaporkan terjadi kecelakaan kerja. Dari yang teringan mengakibatkan luka ringan atau patah kaki, hingga yang terparah menyebabkan kematian.

Puncaknya pada Maret 2025, terjadi dua insiden besar mengancam kawasan IMIP. Pada 16 Maret, fasilitas milik PT Huayue Nickel Cobalt jebol dan mencemari Sungai Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah.

Enam hari kemudian, terjadi longsor di fasilitas PT QMB New Energy Material yang menewaskan tiga pekerja. Semua kecelakaan kerja ini dipicu oleh kondisi kerja yang mengabaikan keselamatan pekerja.

Ironinya, kondisi kerja yang berat ini justru diromantisasi dan dinormalkan dengan alasan, saat masyarakat sedang kesulitan mencari pekerjaan, pengolahan nikel ini setidaknya masih memberikan kesempatan kerja.

”Jika ingin hidup sejahtera, ya harus kerja keras.” Narasi inilah yang sering digelorakan di kalangan pekerja

Bermula dari HPAL
Semua kondisi di IMIP ini tak lepas dari penerapan metode High Pressure Acid Leaching (HPAL)

Tailing dari pengolahan limonite—bijih nikel kadar rendah (0,8 hingga 1,5 persen)—memakai metode HPAL untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan baku baterai listrik, diketahui mengandung logam berat berbahaya.

Baca: AS kaitkan nikel Indonesia dengan kerja paksa dan kerusakan lingkungan

Teknologi HPAL memang mengubah bijih rendah kadar menjadi bahan baterai, tapi dampak lingkungannya sangat besar dan memerlukan tata kelola jauh lebih ketat.

“Hanya sekitar 1 persen dari bijih limonite yang bisa diubah menjadi nikel bernilai ekonomi. Sisanya menjadi limbah tailing,” terang Pius Ginting, Direktur Eksekutif AEER dalam diskusi usai pemutaran film.

Menurutnya, tata kelola limbah ini harus menjadi perhatian publik. Steven H. Emerman, Ph.D, ahli Geofisika & Hidrologi Tambang dari Amerika Serikat mengungkapkan hal serupa

Dia menyebut bahwa teknologi filtered tailing di Indonesia masih berisiko tinggi.
Alasannya, tailing memiliki kandungan air hingga 35 persen.

“Struktur tanah vulkanik di Indonesia yang cenderung lembek menyebabkan bendungan penampung tailing rentan longsor, apalagi di kawasan rawan gempa dan hujan ekstrem seperti Sulawesi,” terangnya.

Sejumlah fasilitas filtered tailing sudah kolaps, mencemari sungai dan laut. Fakta global turut memperkuat kekhawatiran Emerman.

Baca: Hilirisasi nikel menurunkan rating pengurangan emisi Indonesia

Studi di jurnal Nature mencatat bahwa sejak 1915, telah terjadi 257 kegagalan bendungan tailing di dunia, menewaskan 2.650 orang.

Tren kegagalan semakin parah sejak tahun 2000, seiring meningkatnya penambangan bijih nikel berkadar rendah untuk memenuhi kebutuhan transisi energi.

Lantas, bagaimana film dokumenter ini dihasilkan? Tim Tempo TV melakukan produksi di lapangan selama sepekan. Namun, post produksi memakan waktu yanglebih lama, yakni lebih dari satu bulan.

“Kami melakukan peliputan selama sepekan di Morowali dan memverifikasi kedekatan narasumber dengan proyek tambang serta besarnya dampak yang mereka rasakan,” ujar Dony Herwanto dari Tempo TV saat launching dan diskusi film dokumenter ini pada Jumat (15/8/2025) di Kampus UI Depok.

Peluncuran film ini berdekatan dengan Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025 yang berlangsung 20–22 Agustus di JICC Jakarta, bertema “Mendorong Dekarbonisasi Industri melalui Ekosistem Industri Hijau.”

Di tengah diskusi strategi dekarbonisasi, film ini menjadi peringatan bahwa transisi energi hijau tak boleh mengorbankan kelompok rentan dan kelestarian ekosistem.

Film dokumenter ini diharapkan dapat mengajak publik, pembuat kebijakan, dan pelaku industri untuk melihat lebih dalam dan memastikan transisi energi Indonesia dibangun di atas prinsip keadilan ekologis dan sosial—bukan semata mengejar target ekonomi.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *