Meski Lebih Ramah Lingkungan, Masih Banyak Petani yang Ragu Terapkan Pertanian Regeneratif

Written by

in

7cloud.asia – Beberapa teknik baru pertanian regenaratif saat ini sedang dikembangkan yang dinilai akan semakin meningkatkan peluang.

Salah satunya adalah pemanfaatan serangga yang inovatif. Insect Biotech, sebuah perusahaan rintisan di bidang ini, menggunakan larva lalat tentara hitam untuk mengubah limbah zaitun dari penggilingan menjadi protein untuk pupuk regeneratif untuk perbaikan tanah.

Ini dapat digunakan untuk menggantikan tepung ikan dan pakan ternak lain yang tidak berkelanjutan, karena kitin merupakan faktor pendukung kesehatan tanah yang sangat baik.

“Anda memasukkan banyak mikrobiologi ke dalam tanah dan merangsang sistem kekebalan tanaman. Bisnis serangga merupakan faktor pendukung bagi pertanian regeneratif,” ujar Tobias Webb, Co-Founder dan Chief Sustainability Officer Insect Biotech, kepada Earth.Org.

Namun, praktik pertanian regeneratif masih menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah keengganan petani untuk mengadopsi sistem baru.

Baca: Prinsip pertanian regeneratif diperkirakan bakal jadi tren

Hal ini antara lain terjadi di Turki hingga Kanada, di mana petani tidak ingin menanggung risiko mengubah sesuatu (beralih ke pertanian regeneratif, red) dengan biaya sendiri.

“Namun hal ini perlahan berubah, karena mereka benar-benar merasakan dampak perubahan iklim yang lebih tinggi terhadap produksi mereka dari tahun ke tahun,” kata Dendena.

Selain itu, meskipun sebagian besar ahli sepakat bahwa pemantauan dan verifikasi penting, belum ada satu pun sistem sertifikasi yang diakui secara global untuk praktik pertanian regeneratif.

Peraturan Penghapusan Karbon dan Pertanian Karbon Uni Eropa, yang diterbitkan pada akhir 2024, menciptakan kerangka kerja sukarela pertama di seluruh Uni Eropa untuk sertifikasi penghapusan karbon.

Di Amerika Serikat, Aliansi Organik Regeneratif menggabungkan sertifikasi untuk pertanian organik dan regeneratif; dan di Australia, Global GreenTag menawarkan sertifikasi “Nature Positive”.

Baca: Pertanian regeneratif lebih tahan hadapi perubahan iklim

“Sertifikasi adalah jembatan yang membangun kepercayaan antara produsen dan pasar, produsen dan pelanggan,” kata David Baggs, CEO Global GreenTag.

Namun, David mengingatkan, analisis siklus hidup dan deklarasi produk jauh lebih kompleks daripada bentuk sertifikasi lainnya. Dia mencontohkan Nature Positive, yang perlu mengukur jasa ekosistem.

“Bisakah Anda memberi saya Analisis Siklus Hidup untuk sebuah pohon?” ujarnya kepada Earth.org

Meskipun banyak perusahaan agribisnis multinasional di Eropa, serta beberapa di Amerika Utara dan Asia, sedang menerapkan pertanian regeneratif, beberapa petani kecil diperkirakan akan kesulitan dalam transisi ini.

Undang-undang AS yang baru-baru ini disahkan akan semakin memperlebar kesenjangan, meningkatkan pendanaan untuk program dukungan komoditas pertanian skala besar sebesar 52 miliar dolar.

Baca: Pertanian regeneratif sukses mengubah daerah gersang jadi lahan pertanian yang subur

Namun, para ahli sepakat bahwa manfaat praktis pertanian regeneratif lebih besar daripada risikonya.

Manajer Proyek Senior di PUR, pelaksana proyek solusi berbasis alam, Bianca Dendena mengatakan, dari perspektif petani, yang dapat mereka harapkan adalah ketahanan yang lebih tinggi untuk menghadapi apa yang akan datang.

Dia menegaskan, dunia sedang menghadapi dampak perubahan iklim yang lebih besar, dan petani mengalami fluktuasi harga pasar yang sangat tinggi.

“Memberi mereka perangkat untuk menuju ke arah itu akan membuat mereka lebih kuat dalam menghadapi tantangan-tantangan ini. Dan dari sisi konsumen, kita akan memiliki produk yang lebih baik dan berkualitas lebih tinggi,” kata Dendena.

“Saya optimis. Kita bisa mencapainya, tetapi hanya jika setiap orang mengambil tanggung jawabnya masing-masing.” pungkasnya.

Baca: Perubahan iklim mendorong petani terapkan pertanian regeneratif

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *