7cloud.asia – Madani Berkelanjutan mengritisi penundaan pengajuan dokumen iklim Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) yang dilakukan pemerintah.
Dalam pernyataan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Rabu (18/6/2025) Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan Nadia Hadad menegaskan, di tengah krisis iklim global yang kian nyata, dunia membutuhkan kepemimpinan, bukan kehati-hatian yang berujung pada stagnasi.
Indonesia, sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia dan pusat keanekaragaman hayati global, memiliki tanggung jawab strategis untuk menjadi bagian dari solusi.
Namun, pemerintah lewat pernyataan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut bahwa dokumen Second NDC harus “realistis, inklusif, dan dapat dieksekusi”.
Menhut juga melempar wacana penyesuaian target FOLU Net Sink 2030 ke arah yang kurang ambisius dan mengirim sinyal yang bertolak belakang dengan harapan global terhadap Indonesia.
Baca: Proses penyusunan dokumen iklim Second NDC
“Justru saat inilah dunia memerlukan negara-negara yang berani memimpin dengan ambisi tinggi. Komitmen besar yang didukung kebijakan konkret jauh lebih dihargai daripada kehati-hatian yang akhirnya memundurkan langkah kolektif global,” tegas Nadia Hadad.
Rencana pemerintah menurunkan ambisi pada saat dunia sedang memperkuatnya, menurut Nadia, justru akan mencoreng wajah diplomasi Indonesia.
SNDC adalah versi terbaru dari kontribusi iklim nasional (NDC) yang wajib diperbarui setiap lima tahun sesuai amanat Perjanjian Paris.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting: seluruh negara harus mengajukan NDC baru yang ambisius, progresif dan sejalan dengan target untuk membatasi suhu global dibawah 1.5°C.
Namun, ambisi kolektif dari NDC yang ada saat ini masih akan membawa dunia ke jalur pemanasan 2.5–2.9°C—jauh dari batas aman 1.5°C. Tanpa peningkatan besar-besaran dalam SNDC tahun ini, dunia justru melaju menuju bencana.
Baca: Masyarakat sipil serahkan rekomendasi untuk penyusunan Second NDC
Dalam pernyataannya kepada publik pada 16 Juni 2025 lalu, Menhut mengatakan bahwa SNDC harus disusun secara realistis, inklusif, dan dapat dieksekusi.
Ia juga menyatakan bahwa target yang terlalu ambisius dapat merusak wajah diplomasi Indonesia jika pada akhirnya tidak tercapai.
“FOLU Net Sink 2030 adalah komitmen yang sudah mendapat pengakuan global. Melemahkannya hanya karena kekhawatiran tidak tercapai bukanlah bentuk kepemimpinan, melainkan kemunduran.”
Pernyataan Raja Juli bahwa target net sink harus dipertimbangkan secara realistis dengan memperhatikan berbagai dinamika pembangunan nasional, seperti ketahanan pangan dan pengembangan bioenergi, memperkuat kekuatiran bahwa Indonesia berpotensi mundur dari ambisi yang telah dijanjikan.
Padahal, menjaga hutan dan ekosistem adalah kunci utama dalam strategi mitigasi dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia.

Leave a Reply